Selamat Jalan

Selamat Jalan
43. pusing


__ADS_3

Demikianlah. Akhirnya, Akas berjumpa dengan sang guru yang sangat dirindu itu. Dicari ke mana-mana, sekian lama, bermacam cara, Kyai Kholil ternyata. Bukan siapa-siapa, begitu dekatnya. Sejak awal-awal dia tiba di Magelang, beliau ini sudah kelihatan. Bahkan, beliaulah yang syariatnya membuat Kyai Sanusi memasrahkan Asih kepadanya. Kalau dihitung, berarti butuh waktu tujuh belas tahun baginya untuk menemukan Syekhuna Kyai Abdul Kholil “dalam selimut”.


Maka, terbukti bahwa apa yang disampaikan Mbah Bagyo dulu, benar adanya. Ada “kunci”, ada pula “pintunya”. Sekarang tinggal membuka “pintu terkunci” ini agar dia bisa masuk ke dalam “ruangan rasa”. Namun, sedari awal Akas sudah punya kesadaran bahwa ini tidak akan mudah. Tidak mungkin sesederhana memutar kunci pintu rumah biasa.


Akas tidak tahu apa dan bagaimana selanjutnya. Namun, jelas baginya, bahwa tugasnya dalam hal ini adalah patuh kepada sang guru. Sebagaimana dulu telah diwejangkan Mbah Bagyo. Kyai Kholil tegas berkata, “Istiqamahkan dzikir cahaya.” Maka, inilah yang dia kerjakan sekarang. Mendzikirkan ruhnya, menempatkan sejati dirinya untuk kembali ingat kepadaNya. Sejati diri, bukan yang lain.


Selang beberapa hari setelah pembaiatannya, Kyai Sanusi memanggil. “Kata Iyung, kamu baiat ke Kyai Kholil, ya?” beliau langsung nembak.


Akas nyengir, “Iya, Pak.”


“Kenapa nggak bilang sama Bapak?”


“Nggak kenapa-kenapa sih, Pak. Cuma, kalau bilang, kayaknya nggak bakal boleh sama Bapak. Iya, kan?” Akas meringis lagi.


Kyai Sanusi yang semula agak berkerut kening itu, ikut nyerengeh.


“Terus, gimana rasanya dzikir Cahaya?" dia bertanya, pelan.


“Pusing,” jawab Akas. Bukan bohong, memang pusing terasa kepalanya gara-gara menjalankan dzikir ini.


“Hehehe...,” Kyai Sanusi terkekeh. “Ya Allah, menantuku mau belajar hakikat, hehehe.... Arab gundul saja nggak bisa..."


Lho? Kok si gundul dibawa-bawa lagi? Itu kan lagu lama. Harusnya sudah kedaluwarsa. Maka, walau rada kecut, Akas balas terkekeh. Sekalian ngedumel dalam hati, “Yang penting dapat Asihnya, Pak....” Iya, kan?


“Jadi, kamu sudah tahu dzikir Cahaya?” Kyai Sanusi bertanya ulang.


Akas mengangguk.


“Sedang dijalankan sekarang ini?”


Akas mengangguk lagi.

__ADS_1


“Pusing?”


Akas kembali mengangguk.


“Rasain, hahaha...,” mertuanya terbahak, lalu ngeloyor sambil terus tertawa. Riang banget nadanya.


Akas mendelik sebentar, lalu ikut terkekeh. Sialan....


Seminggu kemudian, Akas menghadap ke Kyai Kholil. Soalnya, pening di kepalanya, makin menjadi. Tidak mempan dihantam berbutir-butir obat pusing. Padahal, dulu kalau dia pusing, obat itu manjur sekali. Dan, yang sekarang ini, nggak ngefek sama sekali. Malah perutnya melilit perih gara-gara kebanyakan menelannya mungkin.


Kyai Kholil tersenyum. “Tidak apa-apa,” ujarnya kalem.


Akas menghela napas. Tidak apa-apa? Iyakah? Soalnya, pening ini menyengat nian rasanya. Kepala seolah dipenyet-penyet “tangan raksasa”.


“Tidak apa-apa, memang begitu prosesnya. Sekian lama ruh tidak berdzikir, sekarang didzikirkan. Kaget, dan itulah salah satu efeknya. Nanti akan datang yang lebih asyik lagi, hehehe...,” Kyai Kholil tertawa pelan.


Akas manggut-manggut meringis.


“Jadi, nggak usah diobatin, Kyai?”


“Maksudnya gimana?”


Kyai Kholil menatap lembut, “Maksudnya, jangan bertanya maksud-Nya. Teruskan saja dzikirmu, ya?!”


Akas menghela napas, lalu mengangguk takzim.


Kyai Kholil pun kembali tersenyum...


***


Waktu terus bergerak maju. Pusing itu masih manteng dalam batok kepala Akas, belum hendak mereda. Malah, tambah hari tambah nyut-nyutan. Lalu, dia pun sadar sepenuhnya dalam rasa bahwa pusing ini memang bukan sakit kepala biasa yang disebabkan beban pikiran atau efek dari penyakit lain. Seperti kata Kyai Kholil, “Pusingmu ini bukan urusan zhahir.” Unik juga, pusing ya pusing, tapi otaknya tetap bisa berfungsi normal. Maksudnya, dia tidak terganggu oleh kepusingan itu. Bekerja jalan terus, pusing juga jalan terus. Jalan sendiri-sendiri, seperti punya jalur masing-masing. Tidak lantas jadi untel-untelan.

__ADS_1


Lama-lama, Akas jadi terbiasa dengan keadaan yang lazimnya tidak biasa ini. Habis, gimana? Sedang apa pun dia, nyut-nyutannya tetap ada. Ya sudah, dibetot sekalian dzikir itu dengan tekanan dalam. Nyut nyut nyut nyut nyut..., denyut kepalanya pun deras mengencang. Akas terkekeh sendirian, sambil meringis-meringis. Rasanya leng-lengan, seperti mabuk kepayang.


Hanya saja, ternyata Akas yang termuda di antara para murid senior Kyai Kholil yang biasa ngumpul di rumah beliau. Sekilas, dia seperti anak bawang di kelilingi bawang bombay. Soalnya, yang Jain terhitung seangkatan mertua, atau di bawahnya Satu strip. Rata-rata telah menyentuh “usia Nabi”. Kyai Sanusi sendiri, sudah tembus tujuh puluh. Akas, akil baligh bapak-bapak yang kabarnya empat puluh tahun pun belum. Baru tiga tujuhan....


Namun, beda mungkin aromanya si anak bawang. Entah mengapa, Kyai Kholil demen benget memanggil Akas. Kangen terus kayaknya beliau sama murid bungsu berdarah elang ini. Hampir setiap hari, bakda zhuhur, datang orang suruhan untuk memanggil Akas menghadap ke sana. Mesti cepetan pula, pakai dihuya-hayu. Padahal, di sananya nanti nggak ngapa-ngapain. Ngobrol ringan saja, sambil Akas memijati kaki sang guru. Enak barangkali pijatannya.


Sampai-sampai, mertua kesayangan pun tidak percaya. Katanya, mulai dia kenal beliau sejak zamann Sinyo Belanda masih berkeliaran di Magelang, boleh dikata Kyai Kholil sangat jarang panggil-panggil orang. Gayanya, ya cuek saja begitu, model senyap bin hening itu. Katanya lagi, dulu Tuan Residen Belanda pun bingung menghadapi beliau yang kabarnya sejak zaman itu sudah ditokohkan di Magelang ini. Anu, dikenal sebagai jawara. Datuknya “jawara putih”. Maklum, kala itu yang bukan jawara berarti bukan selebriti. Terserah, mau jawara biasa atau kiai jawara, pokoknya mesti jagoan. Dan, Kyai Kholil adalah jagoannya jagoan. Hitam putih, takluk semua. Masih ada saksi-saksi hidup yang membenarkan kisah-kisah beliau yang bernuansa “percaya nggak percaya" itu. Terus terang, susah dicerna akal, tapi ada saksinya. Dan, mereka berani bersumpah atas kebenarannya. Termasuk Kyai Sanusi sendiri.


“Masak nggak ngapa-ngapain? Bagi-bagi ilmu, ya?” desak sang mertua.


“Nggak, Pak. Cuma ngobrol, saya mijitin. Sudah,” jawab Akas.


Namun, ayahnya Asih tetap belum percaya, hingga memaksa ikut saat panggilan selanjutnya. Tentu Akas tidak keberatan. Beliau ,ini kan mertua, satu seperguruan, sekaligus kakak ipar sang guru.


Sesampainya di sana, Kyai Kholil tersenyum. “Ada apa, Haji?” sapanya.


“Nggak ada apa-apa, Kang,” sahut Kyai Sanusi. “Cuma aku pengen tahu, ini Akas ngapain saja kalau bakda zhuhur?”


“Di sini, ngobrol sama aku. Cerita Jawa, hehehe....”


Sang mertua manggut-manggut, Akas mesem. Lalu, mereka pun terlibat obrolan ringan, sambil Akas memijati kaki sang guru seperti biasa. Tidak ada bincang-bincang ilmu. Ilmu apa? Wong mereka membahas kisah lama, kisah perjuangan joko Jowo demi Nyi Mas Asih Hayati dulu.


Kyai Kholil yang iseng buka tembang lawas itu duluan. Jadilah kedua sepuh kompak terkekeh. Terpaksa Akas nyengir. Soalnya, Kyai Sanusi mengaku melihat dirinya di Terminal kala itu. Tentu, mantan siswa SMEA “badung” ini tidak langsung percaya. Tapi, sang mertua mampu menyebutkan dengan benar warna topi dan jaket yang dikenakan joko Jowo. Malah, beliau mengaku nonton Akas saat dadah-dadah sendu ke bus yang mulai beranjak. Mendeliklah sang elang. Malu juga euy. Kirain selama ini hanya dia dan Asih yang tahu. Tahu-tahunya, semua tahu. Pantas kakak-kakaknya dulu pada sepet hawanya. Halah, halah....


“Kyai, tentang pelintas barzakh, apa maksudnya?” Akas nekat bertanya. Dia tahu, Kyai Kholil telah berpesan agar jangan tanya lain-lain dulu, kecuali menyangkut perjalanan ruhaniahnya. Tentang apa-apa yang dia rasakan selama menjalankan dzikir Cahaya. Misalnya, pusing itu. Tapi, urusan “nembus barzakh” mengganjal juga. Dari dulu itu, sejak zaman Mbah Bagyo. Kali-kali sekarang dapat dispensasi. Sekalian mengalihkan obrolan dari topik perpisahan di terminal bus yang rada ngerakeun ini, agak malu-maluin gitu.


“Kenapa?” Kyai Kholil bertanya.


“Dulu Mbah Bagyo pernah bilang begitu, pelintas barzakh. Terus, Kyai juga bilang begitu sesaat sebelum saya berbaiat. Apa maksudnya? Melintasi alam barzakh, yang alam penantian setelah mati itukah?”


Kyai Kholil tersenyum, Kyai Sanusi terlihat agak meringis.

__ADS_1


“Haji, menantumu ini bahaya, hehehe...,” Kyai Kholil terkekeh.


Kyai Sanusi ikut tertawa pelan. Akas nyerengeh saja. Syukurlah, kelihatannya dapat dispensasi nih.


__ADS_2