Selamat Jalan

Selamat Jalan
55. kull jasad


__ADS_3

Semua bagian dari jasadnya, yang bisa dilihat langsung maupun yang tersembunyi di balik kulit, serentak bertasbih. Riuh, tak terbatas tasbih menggema dalam dirinya. Maka, sesaat lewat, dengan kesadarannya ini Akas pun bergetar, jasadnya bergetar keras. Terguncang-guncang, macam dilanda gempa....


Sigap, Kyai Khalil memegang pundak kanan muridnya. Gempa itu pun langsung mereda. Terus dipegang hingga lanjut mereda. “Bacalah doamu,” ujar beliau, sambil masih memegang pundak muridnya.


Seraya terengah, Akas mengangguk, lalu melantun doa khusus itu. Disebut khusus, karena doa ini hanya terdengar di “kalangan Kyai Khalil”. Itu pun tidak diwariskan kepada semua murid. “Hanya yang bertanda, yang mampu...,” ujar beliau kapan waktu dulu, saat Akas menanyakannya. Wallahu a'lam. Tapi, kabarnya pernah ada murid yang terbanting pingsan gara-gara melantun bait pertama doa itu tanpa hak. Baru bait pertamanya.


Usai doa, usai pula guncangan ini. Kyai Khalil melepaskan pegangan tangannya, dari pundak sang murid. Akas menghela napas panjang, lalu terpekur. Meresapi apa yang barusan dia alami, sambil memandangi tasbih jasadnya.


Hening sesaat.


“Kull-Jasad, jasad semesta. ..,” Kyai Khalil berujar pelan. “Dalam Qur'an, Allah berfirman bahwa segala yang di langit dan di bumi, berikut yang di antaranya, bertasbih kepada-Nya. Mereka semua memuji-Nya tanpa ada kecuali. Maka, termasuk juga bagian ‘adam-mu ini berikut aspek-aspeknya.”


Akas menghela napas lagi, lalu mengangguk-angguk.


“Memang banyak yang tidak sadar ini,” lanjut Kyai Khalil.


“Biasa, kalau dekat suka kelupaan. Kata pepatah, semut di seberang lautan tampak, gajah nempel di badan malah tidak kelihatan. Baunya pun tidak tercium.”


Akas nyerengeh. Habisnya Kyai Khalil juga nyengir.


“Alhamdulillah, bahwa ternyata kamu diberi hak oleh-Nya sampai ke sini. Terus terang, walau mungkin banyak yang tahu pengertiannya, jarang sekali yang bisa sampai ketemu rasanya jasad semesta bertasbih. Pahami, jasadmu dan jasad semesta berunsur sama. Api, angin, air, dan tanah. Itulah maka ada sebutan jasad shagir dan jasad kabir, jasad kecil dan jasad besar. Jasadmu adalah shagir, bagian dari kabir. Bayangkan, kini kamu telah mendapat rasa jasadmu bertasbih selaras dengan Kull-Jasad atau masih jasad semesta. Jelas, bukan bagiannya sembarangan ini. Coba, ke mana pun kamu menghadap sekarang, apa yang kamu lihat?”

__ADS_1


“Allah,” Akas menjawab mantap, semantap kebenaran-Nya. Kyai Khalil pun tersenyum....


Wa lillahil masyriqu wal maghribu, fa-ainamaa tuwalluu fatsamma wajhullah, innallaha wasi'un 'aliim. Dan kepunyaan Allah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. al-Bagarah: 115).


“Sekarang, coba hentikan dzikir Cahayamu,” pinta Kyai Khalil.


Akas yang sesaat sedang asyik memandang-mandang, kaget.


“Dihentikan, Kyai?”


“Iya. Coba hentikan....”


Maka, sang murid pun bermaksud menghentikan dzikirnya, Lalu, kaget lagi dia karena ternyata tidak bisa berhenti. Dicoba lagi, gagal. Coba lagi, kembali gagal. Hingga sekian kali. Cuek saja dzikir sejati itu mengalun syahdu. Sedikit pun tidak terpengaruh oleh upaya pemaksaan penghentian yang sedang dilakukan oleh menantu kesayangan Kiai Ahmad Sanusi ini.


“Nggak mau berhenti, Kyai....”


“Hehehe...,” Kyai Khalil tertawa pelan.


Lalu, Akas pun tersenyum paham. Rupanya, memang ini yang diharapkan oleh sang guru. Kirain tadi beneran disuruh disudahi....


Thalabul ilmi ini masih berlangsung beberapa saat lagi. Kyai Khalil menjelaskan bahwa dzikir Kull-Jasad yang barusan “turun” kepada Akas adalah bagian dari dzikir Cahaya, sebagaimana juga dzikir Qolbi. “Benar kata kakekmu, urutannya batin-lahir. Bukan lahir-batin,” beliau tersenyum.

__ADS_1


Terus terang, Akas kembali tercekat mendengar Kyai Khalil nyerempet Mbah Bagyo lagi. Tapi, sudahlah. Soalnya memang benar, mesti batinnya dulu yang diberesin baru kemudian lahirnya terbawa baik. Tidak bisa dibalik sebab dari sananya sudah disetel begitu. Bukankah baik dan buruk tergantung “segumpal daging”? Bukan sabda sembarang orang ini....


“Untuk selanjutnya, teruskan dzikirmu. Dzikir Cahaya, Qolbi, dan Kull-Jasad itu jalankan serentak. Tidak bakal tubrukan, ketiganya akan seiring dan saling menguatkan karena hakikatnya memang satu bagian. Bukan terpisah-pisah. Lapangkan hatimu, pandang semuanya ini seluas-luasnya. Lalu, rasakan bahwa mereka pun memandangmu. Begitu dimujahadahkan, ya?”


“Baik, Kyai.”


“Oh ya, sekarang boleh kamu ajak penjahat itu. Kasihan, sudah ampun-ampunan dia. Sudah takluk sepenuhnya, hehehe.. .."


Akas mikir sekejap, lalu ikut tertawa. Pahamlah.


Tidak lama kemudian, Akas pun mohon diri. Ngomong-ngomong, sampai dia pulang, tidak datang tamu penting yang dikabarkan Kang Iyung tadi. Mungkin terhadang macet di jalan tol, hehehe.... Mlaku timik-trimik-lah Akas ke rumah. Sekarang bukan cuma luaran yang berbunyi, “segumpal” dirinnya pun sama. Syahdu meresapi langkah timik-timik berasa “Allah, Allah, Allah,” itu. Percaya nggak percaya. Demi Allah..


“Dari mana, Mas? ” sambut Asih. Biasa, pakai gaya manja.


Akas tersenyum. “Dari Kyai Khalil,” jawabnya kalem.


Asih diam sebentar. “Beneran?” lanjut nembak.


“Emang ada pangkalan lain?”


“Oo, ya sudah. Nggak apa-apa sih kalau ke Kyai Khalil.”

__ADS_1


Akas meringis. Tepat terawangan Kyai Khalil soal “istrimu cemburu” tadi. Perasaan, jadi belum mau sudahan nih. Masih bisa diterusin.... ()


__ADS_2