Selamat Jalan

Selamat Jalan
29. keras kepala


__ADS_3

Selang tiga mingguan sang jaka bergulung resah, datang kabar dari Arkam. Katanya, nanti malam Asih dijemput pulang. Sebab, kabarnya di sana sang dara juga melakukan aksi perlawanan yang lumayan menggegerkan keluarga. Akas pun bingung. Dia harusnya gembira atau tambah resah mendengar ini. Entahlah.


Namun, resah ternyata. Perlakuan yang dulu, kembali berlaku. Asih, yang kini kalau berjalan selalu menunduk itu, tampak mengurus, pucat, dan pias. Pengawal di sebelahnya begitu tega mengemban amanat tugas. Hati Akas serasa porak-poranda. Luluh lantak bagai gedung pencakar langit dirubuhkan. Puing berhamburan, gulungan debunya seolah tak hendak tuntas mereda. “Ya Tuhan, haruskah ini kubiarkan?” dia merenung lama Lalu, “Tidak!”


Maka, Akas pun mulai mempertontonkan perlawanan terang-terangan. Tidak main underground lagi. Setiap menjelang maghrib dan subuh, dia sengaja menunggu Asih dan pengawalnya melintas. Saat bertemu, Akas menatap tajam pengawal kekasihnya. Model tatapan elang Batu Raden yang mendelik polpolan itu. Siapa pun bodyguard-nya, sang jaka tidak peduli. Laki atau perempuan, kandung atau bukan, sama saja. Dia pentelengi sampai menyerah. Maksudnya, sampai sang lawan mengalihkan pandangan. Asih tidak tahu acara pandang-memandang ini, karena dia sekarang kalau berjalan selalu menunduk pilu.


Tidak cuma itu. Kepalang tanggung, Akas kini tidak mau memakmum kalau Kyai Sanusi yang jadi imam shalat. Cuek saja, duduk di pelataran luar masjid. Nanti, saat jamaahan telah usai, barulah dia shalat sendirian. Berdiri terang-terangan di sela mereka yang sedang berdoa. Tentu, teguran ramai berdatangan kepadanya atas sikap kurang adab ini. Dari teman-temannya, termasuk Kang Idung dan Arkam. Tapi, Akas hanya meringis kuda. Sahabat sekalian tidak tahu rasanya, kan? Maka, sang jaka pun lanjut nekat bercuek ria....


Masih ada. Kalau Kyai Sanusi memberi pengajian, Akas ikut. Tapi, duduknya di belakang, misah dari kerumunan. Sudah gitu, bukannya menyimak, malah sibuk menatap ayahnya Asih yang sedang membimbing umat. Kalau Kyai Sanusi melirik, cepat-cepat sang jaka menunduk. Kalau sudah aman, kembali melotot. Terus begitu main incar-incaran, seperti Tom and Jerry.


Suatu ketika, di tengah acara incar-incaran itu, Akas melihat Kyai Khalil tersenyum kepadanya. Uniknya, sang jaka balas mesem. Dalam pikirannya, dia merasa Kyai Khalil tahu kasus beratnya ini. Biarinlah, semua orang juga sudah pada tahu. Lalu, saat bubaran majelis, Akas ikut rebutan salaman dan cium tangan. Tapi, tidak ke Kyai Sanusi, ke para sepuh yang lain saja. Maka, Kyai Khalil kembali senyum-senyum menerima ciuman sang jaka. Kelihatannya, Kyai Sanusi tidak tahu akal bulus pengganggu putri bungsunya itu. Soalnya, untel-untelan orang berebut salaman dengannya. Dikiranya, si bujang “nyebelin” Jawa ini juga sudah tadi. Hehehe....


Terus berulang sekian lama. Sampai hari ini, Akas berhadapan dengan tiga serangkai saudara non-kandung Asih di sektor belakang masjid. Di sepetak hamparan tanah pekuburan yang masih kosong. Apa urusan? Persiapan tarung. Mereka kesal dengan sikap perlawanan si bujang Jawa yang tidak bergeming. Sementara, Akas juga kesal dengan gaya mereka yang sok saudaranya Asih. “Hah! Kalian baru saudara! Aku kekasihnya!” bentak sang jaka, saat mereka terlibat debat kusir soal Asih dekat tempat wudhu dua hari lalu.


Sebenarnya, mereka berkawan. Sebelum “kasus berat” ini merebak, ceritanya mereka se-genk. Bercanda bareng, ngaji bareng, dan sebagainya bersama-sama. Lalu, gara-gara “Laksamana Cheng Ho”, kebersamaan itu menegang, lanjut merenggang. Sekarang, tampaknya siap pegatan benaran. Tentu, aslinya Akas tidak berharap begini. Mungkin mereka juga. Tapi, inilah adanya. Setelah debat kusir dua hari lalu, hari ini Akas dapat kabar, katanya mereka sesumbar bilang bahwa kalau dia bukan adiknya PM, sudah dari kemarin-kemarin diberi. Sialan! Pengen kenal sambaran elang Batu Raden?! Ayo...!


“He! He! Apa ini! Ada apa ini!” Idung muncul di kuburan sambil membawa tongkat. Tidak tanggung, tongkatnya diayun kiri kanan macam aparat tramtib.


“Akas, ke sana kamu!” serunya lagi.


Akas diam saja, terus menatap tajam ke arah tiga calon lawannya. Arkam dan beberapa masjiders senior datang membantu Kang Idung. Kayaknya, ada intel yang melapor. Lalu, tanpa basa-basi, Arkam mengapit dan menarik Akas menjauhi arena. Kekasih Asih itu meronta, beneran meronta. Arkam kewalahan. Datang dua rekannya membantu, bertiga mereka memiting sang elang. KO-lah, Akas nurut diseret keluar dari lahan kuburan. Di sana, tiga calon lawannya tadi pun digiring menjauh oleh Kang Idung pakai tongkat saktinya. Langsung patuh mereka, macam bebek di-angon gembalanya.


Ya sudah. Tidak jadi acara gladiator hari itu.


Cuma, terus terang, besok-besoknya Akas jadi enggan di masjid. Maksudnya, malas kumpul-kumpul di sana. Datang maghrib, shalat, terus pulang. Datang lagi subuh, shalat, pulang. Wis, sekadar begitu saja. Rani dan Sutomo yang dapat kabar kisah pertarungan gagal di arena kuburan itu pun geleng-geleng kepala. Bandel ternyata cucune elang....


Hingga pada suatu hari, Arkam datang menemui Akas di rumahnya, bakda ashar. Si bandel tidak ke masjid, shalat di rumah saja. Ceritanya kan sedang males. Duduklah mereka di teras depan. Diem-dieman dulu sebentar....

__ADS_1


“Kas, Kas..., sayang betul kayaknya kamu sama Asih, ya?” Arkam bikin pembukaan. Pakai sedikit variasi nyerengeh.


Akas diam saja. Pakai nanya lagi? Apa kurang jelas?


“lyalah, aku tahu kamu sayang sama adikku. Tapi, kenyataan kan juga harus dipertimbangkan,” gumam Mas-nya Asih ini.


Apa maksudnya kenyataan-kenyataan? Maka, Akas pun tetap diam.


“Begini, Kas...,” lalu, Arkam pun bertutur tentang duka lara yang dialami Asih di balik tembok besar Cina itu.


Dalam diam Akas menyimak, lalu pelan-pelan hanyut melarut. Lebih berat ternyata yang sekarang ditanggung Asih daripada sebelumnya. Jelas lebih berat karena sempat terselang ceria saat di Randu Alas terakhir. Ketika surat-surat “Nyi Mas Badriyah” menjenguknya setiap minggu.


“Tinggal sakit parahnya saja yang belum. Kalau panas demam, sudah keseringan...,” Arkam menuntaskan sesi pertama tuturannya.


Akas menatap Arkam: Benarkah kabar ini?


Akas kembali menunduk. Terasa bahwa kedua bola matanya menghangat, lalu pelan-pelan bersaput bening kaca-kaca.


Hening agak lama.


“Kas, jangan murung terus. Jadi nggak enak nih. Aku datang ke sini, bukan utusan siapa-siapa. Mauku sendiri, karena kamu temanku. Kehitung adikku kalau dilihat umurnya. Adikku yang lain, banyak Kas...,” Arkam mendesah, tapi agak-agak aneh nada terakhirnya. Serasa mengandung hil yang mustahal-nya Pak Asmuni.


Akas pun mendongak. Apa maksudnya?


Arkam nyerengeh, belum hendak memberi penjelasan.


“Maksudnya apa, Kang?” akhirnya Akas bertanya.

__ADS_1


Penasaran juga sih. “Yaa, gitu. Adikku banyak. Laki ada, perempuan ada, hehehe...”


Terpaksa Akas ikut meringis. Jelaslah sudah udang di balik peyek. Namun, mana bisa? Emangnya ada yang “mengalahkan” Asih? Bukan cuma soal ayune, aspek lainnya juga. Terutama keteguhan hatinya itu. Jadi, setelah meringis sebentar, Akas melanjutkannya dengan melotot.


“Waduh, jangan main bulat-bulatan gitu dong matanya, hehehe.... Niatku baik, Kas. Kamu jangan salah sangka. Dengarkan, kenyataan itu tidak selalu sama dengan yang kita inginkan. Keinginan ke sini kenyataan ke sana, bisa saja terjadi. Sangat bisa malahan. Banyak contohnya. Nah, kamu lihat sendiri kenyataanmu ini. Mau terus begini? Kalau mau, silakan. Hak masing-masing.”


“Ah, Kang Arkam ini. Terus berjuang dong. Masak nyerah?”


“Ah, Adikku ini. Beda nyerah dengan pintar. Emang kamu mau bablas kecemplung sumur walau sebenarnya bisa menghindar? Terus saja berjuang sampai kelelep masuk sumur, gitu? Itu bukan berjuang, namanya konyol. Makanya, bermainlah yang pintar. Lihat, sadari, lalu ambil keputusan tepat. Begitu caranya, Dik....”


Akas menghela napas. Sekilas, meresap juga penyampaian sekutu ini. Dikejar pakai akal, benar kelihatannya. Katakanlah, tidak ada harapan. Tapi, cinta kan memang bukan urusan akal? Cinta itu urasane hati. Kalau pakai akal, mestinya dari awal jangan bikin gara-gara. Seperti dulu sudah diingatkan Kang Idung. Kan ada yang kerudung kuning, kerudung hijau, kerudung putih? Yang tanpa kerudung pun tersedia. Lalu, mengapa tetap keukeh mau yang kerudung merah muda? Padahal, jelas-jelas dikabarkan bahwa yang itu putri bungsu Kyai Ahmad Sanusi. Yang tidak kenal beliau, berarti bukan warga Kaum sini. Jadi, gimana? Urusan hati? Iya!


Maka, dalilnya Arkam pun patah.... Arkam geleng-geleng kepala melihat kekerasan kepala bujang Jawa ini. Teuas babatok, kalau bahasa Sunda. Akas tidak peduli. Pokoknya, sekali Asih tetap Asih. Hidup Asih ...!


“Sudah, gini saja. Ayo kita ke masjid sekarang. Sambil menunggu maghrib,” ajak Arkam, memaksa. Nadanya, terus terang ada-rada putus asa.


“Nantilah, Kang. Masih lama.”


“Sekarang...!” gantian Arkam yang mendelik kini.


Akas nyerengah, “Kenapa sih, Kang?”


“Sudah, jangan tanya-tanya!” Arkam makin mendelik.


Ya sudah, terpaksa Akas patuh. Ganti baju, ambil sarung dan kopiah, lalu cabut ke masjid. Sepanjang langkah ke sana, Arkam merengut terus. Entah kenapa. Mungkin masih kesal karena dalil akal andalannya tadi patah jadi dua.


Ee, tahu-tahunya tersedia dua adiknya Arkam di pelataran masjid. Kurang jelas, adiknya yang dari mana ini. Pokoknya dua, dan cantik semua. Arkam pun bisa nyerengeh kuda lagi sekarang. Senang dia melihat bujang Jawa kelimpungan. Pakai main kedipkedipan mata segala sang kakak yang nyebelin itu. Busyet.... Sesaat, Akas mengakui bahwa dalil akalnya Arkam tadi serasa utuh kembali. Kayaknya benar begitu, harusnya dia bermain pintar. Main akal dalam cinta.

__ADS_1


Namun, usai jamaah shalat Maghrib, set set set..., Asih menari-nari di pelupuk mata sang jaka. Bukan cuma di situ, nembus kepala dan di hati sekalian. Uuh, ayu tenan euy. Seolah - tersusun dari original genuine parts-nya bidadari surga. Maaf, lewat dua adik cantik tadi. Maka, Akas kembali terbanting telak. “Tidaakk!” jawabnya, saat Arkam minta kesimpulan. Sekutu baik itu pun terpana. Apanya yang tidak? Sudah gila apa Akas? Ampun paralun....


__ADS_2