Selamat Jalan

Selamat Jalan
53. 'Adam


__ADS_3

Dua bulan berlalu, tampaknya perkara Alin sudah benar-benar lenyap dari bumi Magelang. Tidak terdengar upaya-upaya dari keluarga bekas suaminya untuk mengungkit-ungkit perkara itu. Mereka sudah takluk. Kabar dari mantan pengacara Alin pun demikian. “Nggak mungkin,” katanya.


Dari Palembang juga diterima kabar gembira. AMing mulai sembuh beneran, tidak bolak-balik anfaal lagi. Alin juga sudah jumpa ide bisnis. Masih sekitar terigu, gula, dan mentega. Dia mau bikin usaha toko kue tart dan kue-kue basah. Lebih cocok mungkin baginya yang wanita, daripada memimpin sebuah pabrik roti skala kemarin. Tidak gampang itu, karyawannya 95% batangan. Mesti mampu main raja tega seperti mamanya dulu. Tega di jalur yang benar, gitu. Kalau tidak, bisa-bisa dikelomotin oleh mereka. Macam “perawan di sarang penyamun”....


Sore ini, beres bubaran pabrik, Akas duduk sendirian di halaman belakang tempat tinggalnya. Dekat pohon sukun besar yang kata Kyai Sanusi sudah ada di situ sejak akhir zaman Jepang. Di depannya terlihat kaleng bekas biskuit berisi sedikit minyak tanah. Sementara, tangan kanannya mengetuk-ketukkan kaset suara tikus ke gagang kursi rotan. Tampaknya, sesaat itu dia sedang merenung.


Lalu, Blup.... Api membumbung sebatas kaleng, setelah sebatang korek api menyala dilemparkan ke sana. Akas menghela napas, “Bismillah...,” ucapnya pelan. Rekaman suara tikus itu pun dilemparkan ke kaleng api. Warna kobarannya membiru karena kemasukan bahan bakar lain. Akas memandangnya, sebagaimana memandang yang setengah tahun terakhir dia lakoni. Bagian dari yang maujud itu terus dipandang dengan syahdu, seiring alunan dzikir Cahaya dan Qolbi.


Tek tek tek... Byar...! Akas pun tersentak “melihat” api tertasbih. Kobar kecil api itu melantunkan asma-Nya. Bukan hanya liukan, warnanya yang kuning kebiruan itu juga. Lalu, kalengnya! Kalengnya yang mulai meletot dan mengelupas pun demikian. Dan, semua ternyata! Semua bagian dalam satu geluntungan benda terbakar itu menyebut asma-Nya. “Allah Allah Allah...,” nyata sekali terdengarnya. Sangat jelas gaungnya bagi Akas. Ini semua, dalam hakikat rasa tentu, bukan suara harfiah atau keadaan lahiriah. Tasbih ini berkumandang di balik yang ternyatakan. Yang Wujud “di balik” maujud. Itulah kuncinya.


“Allah,” Akas mendesah, lalu memejamkan mata. Dzikir terus melantun di kedalaman rasanya. Syahdu nian, serasa semua di situ ikut berdzikir bersamanya. Lalu, pelan-pelan dia membuka mata. Dan, syukur pun kembali melantun ke hadirat-Nya, saat mendapati kaleng tadi, yang apinya sudah mulai mengecil, masih bertasbih. Nadanya saja yang berubah, sesuai keadaan lahiriah apinya. Kalengnya, karena keadaannya begitu, ya tetap begitu tekanan nadanya. Akas tersenyum. Api yang mengecil itu, terus dipandanginya sampai habis. Begitu habis, ganti asap yang kini bertasbih. Allahu Akbar, demikianlah kebenarannya.


Setelah asap itu habis, sambil terus tersenyum dan tanpa bermaksud apa-apa, Akas mengalihkan pandangannya ke seonggok batu yang dijadikan Asih sebagai penghias taman kecil di situ. Dan, tersentak lagilah dia saat mendapati bahwa batu itu pun bertasbih. Lalu..., bunganya, rumputnya, pohonnya, kerikilnya, tanahnya, air kolamnya, ayam pelungnya mertua yang nyelonong pun sama. Bagaimana ini? Lalu, semakin mencengangkan karena ternyata gerak daun, riak air kolam, liukan ikan berenang, kokok pelung, desiran angin, derum knalpot, dan riuh tawa anak-anak di sebelah sana, juga bertasbih kepada-Nya. Bahkan, sekadar bau bekas bakaran tadi pun demikian. Allahu Akbar! Engkau segalanya!


“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” sayup-sayup menyusup adzan maghrib dari Masjid Agung.


Akas menghela napas, mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu bergegas ke masjid. Dari awal tadi dia memang sudah bersiap untuk itu. Bajunya sudah takwa, sekalian berkupluk haji. Tinggal wudhu saja.


Di masjid, suasana yang serupa dengan saat di halaman belakang rumah tadi, kembali terulang nyata. Lebih kental rasanya. Semua yang dia pandang di sini, semua yang dia dengar di sini, dan semua nuansa yang terpampang di sini, bertasbih kepada-Nya. Jangan kata ayat-ayat suci yang dilantun sang imam, bahkan suara bersin makmum di sampingnya pun bertasbih. “Allah!” begitu....


Usai shalat, Akas mencari Kyai Khalil di antara para sepuh. Namun, tidak ada. Lalu, dia mendatangi Kang Iyung yang sedang leyeh-leyeh ngadem di dekat kipas angin. “Assalamu'alaikum,” sapanya.


“Wa'alaikum salam,” sahut Iyung.


“Kyai Khalil nggak ke sini, Kang?” tanya Akas.


“Nggak. Katanya mau nunggu tamu, jadi jamaah di masjid sana.”


Akas manggut-manggut.


“Kenapa? Mau ke sana?”


“Iya”

__ADS_1


“Kalau gitu cepetan, nanti keburu datang tamunya. Kayaknya tamu penting ini. Soalnya, tumben Kyai bilang mau nunggu segala."


“Siapa sih, Kang?”


Iyung menggeleng tidak tahu. “Sudah, sana cepetan...” ujarnya.


Akas mengangguk. Usai beruluk salam, dia pun bergegas ke sana. Jalan kaki, kagok pulang ke rumah ambil Vespa. Sekalian menikmati bebunyian dan segala rupa ini. Ramai terdengar tasbih jalanan....


Tiba di rumah Kyai Khalil, sudah masuk isya. Adzan mengalun dari masjid kecil sebelah sana. Usai beruluk salam, Kyai Khalil yang terlihat memang sedang menunggu tamu itu mengajak muridnya shalat Isya. Berdua saja mereka menunaikan kewajiban syariat ini di rumah. Usai itu, beliau langsung meminta Akas membeberkan apa yang dia alami hari ini. Seperti, sudah tahu duluan....


Maka, sang murid pun menceritakan kisahnya. Edisi lengkap, mulai dari cari kaleng bekas biskuit sampai bau sisa bakaran yang bermakna rasa melantun asma-Nya. Kyai Khalil tersenyum-senyum mendengar kisah ajaib ini. Lalu, beliau mengambil bungkus rokoknya, “Coba, katakan apa yang kamu rasa di sini,” ujarnya.


Akas balas tersenyum sambil menerima bungkus rokok yang dijadikan bahan praktikum itu. Dipandang sekejap, “Allah,” ujarnya tanpa ragu. Memang iya, bungkus rokok itu bermakna rasa demikian baginya.


“Hehehe. ..,” Kyai Khalil tertawa pelan. “Pandang terus selaraskan,....”


Akas pun melaksanakan perintah sang guru. Hati dan dzikir menyelaras syahdu. Pandang dan terus dipandang..., sampai kemudian dia mendapati kenyataan yang serupa dengan kaleng bakaran tadi sore. Bahwa, setiap apa yang terpampang pada bungkus rokok itu bertasbih. Kotaknya, agak penyoknya di sudut, warna-warninya, tulisannya, bahkan pada setiap lekuk hurufnya. Semua menyeru asma-Nya. Serentak bertasbih kepada-Nya. Riuh terdengar, seolah dengung rombongan lebah sedang merubung sekuntum kembang madu.


“Gimana?” tanya Kyai Khalil.


Kyai Khalil tersenyum, “Berapa banyak?”


“Semuanya. Maksud saya, tidak ada batasnya....”


“Alhamdulillah,” Kyai Khalil berucap, sambil mengangguk-angguk. “Apa yang kamu rasa ini, teramat sulit dinalar awam. Apalagi bagi mereka yang belum berjumpa khusyuk dalam hatinya, kecuali sekedar akuan diri. Simpanlah untukmu dan bagi siapa kelak yang membutuhkan. Sebab, ini memang bukan bagiannya awam, hanya untuk mereka yang berketetapan. Tanpa ketetapan, tidak akan paham. Allah segalanya. La tadri kuhul absharu, tidak tercapai penglihatan mata. Wa huwa yudrikul abshara, namun Dia melihat segalanya. Wa huwal lathiful khabir, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui....”


Akas manggut-manggut. Rasanya, dia pernah membaca ayat ini.


Kyai Khalil mesem, “Kamu tahu ayat itu?”


“Pernah terbaca, Kyai. Kalau tidak salah di surat al-An'aam, ya?”


Sang guru mengangguk. “Ayat seratus tiga. Coba, apa maknanya 'tidak tercapai oleh penglihatan mata' itu?" beliau lanjut ngetes.

__ADS_1


Akas meringis, “Jangan pakai sepasang mata bola. Nggak bakalan tembus, biar melotot pol-polan dua-duanya.”


“Oh, ya? Jadi gimana?”


“Pakai mata hati.”


“Apa itu?”


“Iman.”


"Yang bagaimana?"


"Yang hakiki. Sudahnya, yang iman-imanan digebukin habis."


Kyai Khalil tertawa pelan. Akas pun ikutan.


“Ada bahasa Jawanya...,” Kyai Khalil kembali berujar, setelah tawa sejenak itu. “Seperti dibilang kakekmu barusan....”


Akas terkejut, “Mbah Bagyo?"


Ama Khalil mengangguk, biasa-biasa saja.


"Kok barusan, Kyai?" Akas menatap gurunya, minta penjelasan.


“Iya, kenapa?”


“Mbah Bagyo kan sudah wafat?"


“Oo, hehehe.... Iya, lupa saya."


Akas berkerut kening. Apa lagi artinya “hehehe” ini?


“Maksud Kyai, Mbah Bagyo barusan hadir?” dia pun bertanya.

__ADS_1


Kyai Khalil menatap muridnya, lalu mengangguk pelan.


__ADS_2