Selamat Jalan

Selamat Jalan
54. jasad dan ruh


__ADS_3

“Tapi, sudahlah, bagian ini jangan terlalu dipikirkan. Kalau kelak diberi hak, kamu akan bisa. Kalau tidak pun tidak apa-apa, sebab ini bukanlah perkara pokok. Haknya ada di Allah. La ya'lamuma fi us-samawati wal ardhi-ul ghaibii ilallah. Di langit dan di bumi, yang tahu urusan gaib hanyalah Allah,” ujar beliau.


Akas mengangguk-angguk.


“Hakikat 'adam asmaning Allah. Ya, inilah yang tadi dikata kakekmu. Bahwa, dibalik segala ‘adam ternyata asma-Nya.”


“Eem, 'adam itu apa, Kyai? Nabi Adam?”


Kyai Khalil tersenyum, “Istilah lain untuk yang maujud. Semua yang maujud ini adalah para 'adam, hehehe....”


Akas mendelik sekejap, lalu meringis. Kalau demikian, hakikat 'adam asmaning Allah ini jelas baginya. Tidak terbantahkan. Mau dibantah bagaimana jika nyata semua yang terlihat ini terasakan melantun asma-Nya?


“Tapi, masih ada yang ketinggalan kayaknya," gumam Kyai Khalil.


"Apa, Kyai?"


“Yang lebih dekat...."


Akas diam, menunggu penjelasan. Tapi, Kyai Khalil malah tenang-tenang saja meneguk susunya. Selain kopi, beliau memang suka mimik susu. Maklum, sudah sepuh. Kan, katanya yang sepuh harusnya kembali “membayi” hehehe....


Namun, hanya seteguk ternyata. Selebihnya di gelas, disodorkan ke Akas. “Minumlah,” ujarnya sambil mesem.


Akas nyerengeh, “Buat saya, Kyai?”


“Iya, habiskan.”


Hohoho, Akas tertawa riang dalam hati. Bukan soal susunya, di rumah juga tersedia kalau susu. Ini, pemberian model begini, perasaan belum pernah terjadi di kalangan para murid Kyai Khalil. Maksudnya, yang secara langsung disodorkan oleh beliau. Adanya, para “kuncen” berebut apa yang tidak dihabiskan beliau. Termasuk bid'ah itu, tidak ada contohnya dari Kyai, hehehe....


Lalu, sang murid pun meneguk jatahnya. Akas tidak sadar, kalau pada setiap tegukan yang dia lakukan, Kyai Khalil mengejapkan matanya. Seperti “mengirimkan sesuatu” ke dalam diri sang murid lewat minumannya. Terhitung lima kali tegukan, berarti lima kali “pengiriman” juga. Apakah itu, wallahu a'lam. Yang pasti, usai tuntas, Akas langsung merasakan tubuhnya segar. Semua tahu kalau susu bergizi tinggi. Tapi, segar ini bukan karena itu. Sebab, setinggi-tingginya gizi susu, tidak ada yang mampu menyegarkan seketika.


“Ini susu apa, Kyai?" dia pun bertanya, sambil memandangi gelas susunya yang telah kosong.


“Susu bubuk biasa. Kenapa?”


“Enak banget rasanya ke badan....”


Kyai Khalil tersenyum, tidak berkomentar.


“Coba, sekarang kamu pandang semua ini. Jangan difokuskan pada satu, sebar pandanganmu. Lepaskan, bebaskan. Lalu, pelan-pelan pindahkan posisi rasamu pada mereka. Rasakan bahwa mereka pun memandangmu,” ujar beliau.


Akas mikir terdiam, lalu bertanya, “Bagaimana caranya memindahkan posisi rasa itu, Kyai?”


“Caranya, jangan dipikirkan. Pindahkan saja."

__ADS_1


Akas terdiam lagi. Justru ini pertanyaannya, kan?


“Anakku, tidak semua perkara bisa diajarkan dengan kata-kata. Ini termasuk yang tidak bisa dikata-katakan. Perkataan memindahkan rasa, hanyalah isyarat saja. Pindahkan rasa itu, bukan seperti kamu pindah-pindah duduk. Ini, hanya bisa kamu pahami pada kenyataannya dan saat kenyataannya. Tidak ada kata-katanya, tidak ada bahasanya. Adanya segumpal rasa. Sekarang kerjakan, jangan berpikir. Kalau ternyata rasamu telah cukup, maka dia akan berpindah sesuai maumu.”


Akas mengangguk. Paham tidak paham, itulah.


“Gimana, siap?” tanya Kyai Khalil.


“Siap.”


“Supaya lebih memudahkan, anggap saja saya tidak ada di sini sekarang. Ceritanya, kamu sedang berduaan saja, hehehe...”


Akas memandang gurunya sejenak, lalu tersenyum. Paham yang dimaksud beliau dengan “berduaan saja” tadi.


“Nah, mulailah....”


Maka, satu saat, dua saat, tiga saat..., Akas pun melebur dalam Cahaya. Sesuai pengarahan sang guru, dia memandang semua maujud yang ada dalam ruangan ini. Bukan dipandang bergantian, tapi disebar. Semua yang tertangkap dalam satu saat pandangannya, masuk. Saat pandangannya bergeser ke arah lain pun demikian. Semua yang tertangkap saat itu, masuk. Terus begitu. Atas nama-Nya, riuh terdengar gemuruh tasbih para ‘adam ini.


Hingga pada suatu timing, tek, Akas meminta rasanya bergeser ke sana. Dan, ser, berpindahlah rasanya itu dengan serta-merta. Tanpa kata-kata, tanpa bahasa. Lalu, terkejutlah dia mendapati “dirinya memandang dirinya”. Dengan ungkapan lain, “Akas melihat Akas"...


Plak...! Tepukan tangan Kyai Khalil menyadarkan Akas yang sedang kesengsem “nonton Akas" itu. Dalam duduk silanya, sang murid terhuyung oleh hentakan kesadaran diri yang kembali merasuk ke dalam dirinya. “Astaghfirullah, innahu kaana ghaffaar," ujarnya, sambil agak terengah.


Kyai Khalil mesam-mesem saja. Beliau memberi waktu kepada muridnya, yang barusan “pulang jalan-jalan” itu, untuk menenang. kan diri.


Beberapa saat kemudian....


“Sudah, Kyai,” jawab Akas. Rasanya, masih seperti mimpi.


“Nah, apa yang kamu rasakan tadi?”


Akas memandang gurunya, “Saya melihat diri saya..."


Kyai Khalil mengangguk-angguk. “Innallaha mukhrijul bayya minal mayyitti wa mukhrijul mayyiti minal hayyi, Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Yang melihat dirimu tadi adalah yang hidup. Sebab, yang hiduplah yang mampu melihat, mendengar, dan merasa."


“Apakah yang hidup itu?"


“Yang membuat yang mati bisa dikatakan hidup....”


Akas merenung sekejap, “Ruh?”


Kyai Khalil mengangguk pelan.


“Oo? Jadi, yang keluar tadi ruh saya?”

__ADS_1


Sang guru mengangguk lagi sambil tersenyum, “Tapi, kata keluar ini jangan lantas dimaknai macam ayam kampung keluar dari kandang terus keluyuran di pekarangan, ya? Bahasa manusiawi memang terbatas kemampuannya untuk menerjemahkan makna-makna spiritual.”


Akas mengangguk-angguk.


“Yang sebenarnya, ruhmu tadi tidak ke mana-mana, tetap di posisinya. Hanya, dia memperlihatkan ketinggian martabatnya atas martabat maujud. Maka, tampak seolah keluar. Kalau keluar beneran, ya entek riwayatnya....”


Akas terkekeh. Entek kata Kyai.


Maka, guru dan murid itu pun tertawa-tawa sejenak.


“Ayo, balik ke awal lagi. Sudah hampir tembus jam sepuluh malam. Cemburu nanti istrimu,” Kyai Khalil berujar kemudian.


Akas yang sudah mereda pun kembali terkekeh. Ada-ada saja Kyai Khalil ini. Pakai acara istri cemburuan segala. Nggak ada ah, Asih kan pengertian....


“Jadi, dengan karunia-Nya atas rasamu tadi, tentu sekarang kamu sudah lebih paham bahwa benar dalam dirimu ada bagian yang hidup dan ada bagian yang mati. Mudahnya, ada ruh dan ada jasad. Iya, kan?”


Akas mengangguk.


“Yakin nggak ini?”


“Yakin, Kyai. Haqqul yaqin.”


“Kok bisa?”


“Kan sudah dikasih tahu rasanya tadi,” Akas nyengir.


Kyai Khalil mesem, “Berbeda tidak dengan sebelumnya?”


“Oo, jelas. Sekarang nyata, yang lalu cuma katanya.”


“Hehehe...,” Kyai Khalil terkekeh. “Famustaqarru wa mustauda'u, bagimu ada bagian tetap dan bagian simpanan. Bagian tetap adalah ruh, bagian simpanan adalah jasad. Ruh tersimpan dalam jasad, begitu kabarnya. Kalau aslinya nggak begitulah. Jauh langit dari bumi. Sejagat alam pun kekecilan, hehehe....”


“Wuh? Kayak gimana itu, Kyai?” Akas antusias.


Kyai Khalil menggeleng, “Kelak, jika ada hak dari-Nya, kamu akan tahu.”


Akas menghela napas, lalu mengangguk-angguk.


“Nah, sekarang..., dengan rasamu yang haqqul yaqin tadi, dengan ruhmu, dengan imanmu..., pandanglah jasadmu, ujar Kyai Khalil, memberi perintah.


Akas terdiam. Maksudnya?


“Pandanglah...,” kembali Kyai Khalil berujar.

__ADS_1


Maka, Akas pun memandang jasadnya sendiri. Tersorot bagian tangan kanan. Lalu, terperanjatlah dia mendapati kenyataan rasa bahwa tangannya bertasbih juga. Kulitnya, warnanya bulu-bulunya, dan semua di situ, terdengar “mendengungkan" asma-Nya. Nyata sekali dengungannya.


Dan, semua ternyata...!


__ADS_2