Selamat Jalan

Selamat Jalan
52. wanita dan berlian


__ADS_3

“Ini ada surat dari Koko buat Pak Kas,” Alin menyerahkan map plastik yang sedari awal sudah terlihat di atas meja.


Akas menerima, membacanya, dan paham. Ada dua lembar surat dari AMing. Yang satu surat biasa, dia minta bantuan Akas untuk bersedia menemani Alin dalam urusan ini. Yang satu lagi, surat kuasa. AMing memberi kuasa penuh kepada Akas untuk mewakilinya, kalau-kalau dibutuhkan. Surat kuasa itu ditandatangani di atas meterai, sah berkekuatan hukum.


Itulah intinya. Lusanya, Akas pun terlibat dalam kerusuhan....


Tidak mudah. Keluarga jagoan neon berusaha mati-matian mempertahankan keutuhan rumah tangga anak mereka yang sudah dedel-duel itu. Harus dipertahankan, karena mereka jelas-jelas punya kepentingan di situ. Ada udang di balik batu, di balik peyek juga ada, tapi yang ini jelas telek lencung di bawah sandal. Tidak butuh terlalu pintar untuk bisa mencium busuknya.


Tentu, awalnya mereka menyerang Akas secara pribadi. Mempertanyakan kapasitasnya dalam kerusuhan ini. Tapi, cetek. Setelah babak-belur di-kick balik oleh Akas, barulah tikus-tikus itu sadar kalau mereka berhadapan dengan elang Jawa-Cina, yang sekarang jadi murid kesayangan mantan jawara Magelang paling tersohor pada masanya. Jawara tauhid....


Sadar posisi, mereka sigap ganti strategi. Tidak menyerang lagi, malah justru mendekat. Tahu kalau kekuatan Alin lebih ada pada elang Jawa-Cina ini daripada pengacaranya. Akas sadar kalau lawan sedang menggali lubang. Namanya juga tikus. Maka, iseng-iseng dia membawa tape recorder kecil saat mereka minta ketemu pribadi. Nyontek kelakuan Dede Mc. Call, partnernya Sersan Rick Hunter, dalam film serial detektif populer “Hunter” yang ditayangkan TVRI. Kala itu, belum terbit stasiun televisi swasta. TVRI satu-satunya, yang “Menjalin Persatuan dan Kesatuan”.


Dan, itulah awal titik balik dalam perlawanan mereka. Akas berhasil mendapatkan rekaman suara tikus yang merayunya agar ikut bergabung menyabot lumbung Alin. “Sialnya”, sang elang lumayan cerdik, pakai acara pura-pura minat pula. Maka, suara-suara tikus itu merdu terekamnya. Jelas terdengar, sampai ke soal bagi-bagi hasilnya kelak. Busyet....


Besoknya, tanpa diundang, Akas balik ke sana. Santai saja dia menyerahkan copy rekaman kasetnya yang tadi malam. “Ini untuk kalian. Aslinya dipegang pengacara Alin,” ujarnya. lalu, ngeloyor pergi sambil nyerengeh. Padahal, aslinya ada di Saku, belum dikasihkan pengacara Alin. Baru mau.


Dari situ, langsung ke tempat Alin. Menangislah putri Cina Ini mendengar rekaman tikus. Pengacaranya geram, geram-geram senang. Bayangkan, tersedia bukti segamblang ini. Dia bergegas merayu kliennya agar menuntut balik dan mengajukan permintaan ganti rugi immaterial yang nilainya suka-suka itu, tidak ada batasannya. “Ci, kita bisa kuras habis mereka. Sampai benar-benar ludes,” ujarnya bersemangat. Langsung disambung “kuliah hukum” yang kesimpulannya menjamin bahwa mereka akan memperoleh kemenangan gilang gemilang.


Tapi, Alin tidak mau....


“Pak, tolong diurus agar perceraian ini cepat terlaksana. Itu Saja," pintanya.


“Tentu, tapi yang ini juga layak diurus. Posisi kita secara hukum bagus sekali, sayang kalau disia-siakan,” pengacara itu masih mencoba meyakinkan.


Alin menggeleng dengan berlinang air mata, “Tidak ada lagi yang pantas dibanggakan. Saya hanya ingin urusan ini cepat selesai, dia cepat pergi dari kehidupan saya. Sudah, itu sudah cukup,”


Sang pengacara geleng-geleng kepala. Lalu, tambah menggeleng-geleng setelah melihat gelengan Akas yang bermakna mendukung Alin. Ampun, duit di depan mata kenapa dilepas. Tapi, dia sadar bahwa posisinya sekadar pembela, bukan pengambil keputusan. Ya sudah, ini mau kliennya.


Bincang-bincang strategi hukum ini pun berlanjur. Kata sang pengacara, kalau sekadar itu maunya Alin, prinsipnya sudah kelar. Dia menjamin pihak lawan akan loyo pada persidangan selanjutnya. Besok atau lusa sebelum sidang, dia akan bicara kepada pengacara lawan yang juga temannya itu. Teman seprofesi maksudnya, saling mengenal. “Tinggal ditekan sedikit, beres," ujarnya meyakinkan.


Akas tersenyum. Sama Asih ternyata. Suka neken, hehehe....


Alin mengangguk-angguk dengan wajah lelah.


“Pak Kas, ada berapa copy kaset ini?” dia bertanya pelan.

__ADS_1


“Satu, yang di mereka itu. Ini aslinya.”


“Saya mohon fakta ini disimpan untuk kita saja. Jangan dibuka, jangan bilang-bilang ke Ko AMing sama Ko AKim. Mereka tidak perlu tahu, kan?” Alin bertanya ke pengacaranya.


Pengacara itu mengangguk. “Sepanjang pihak lawan mengendur seperti saya perkirakan. Lain cerita kalau mereka terus menantang. Tapi, kayaknya nggaklah, pasti mundur. Bodoh mereka kalau mau lanjut perang dengan posisi hukum selemah ini. Cuma, kenapa kakak-kakak Ci Alin tidak perlu diberi tahu?”


Alin terdiam sejenak. “Saya malu...,” desahnya pelan.


Sebelum pengacara itu bicara lagi, Akas masuk duluan. “Saya kira alasan Ci Alin ini sudah jelas sekali. Tidak usah dipertanyakan lagi," ujarnya.


Pengacara itu manggut-manggut paham.


Hening menyergap di situ....


“Pak Kas, boleh saya minta tolong lagi?” Alin memecah senyap.


Akas mengangguk.


“Tolong kaset ini disimpan sama Pak Kas. Nanti, kalau perkara sudah selesai, tolong dimusnahkan sampai benar-benar musnah,” pinta Alin. Dua bola mata sipitnya yang bening itu membasah berkejap-kejap.


Alin balas tersenyum, bersamaan jatuhnya sebutir bening. Tapi, cepat-cepat dihapus pakai tisu yang tersedia di atas meja.


Tinggallah sang pengacara yang masih rada puyeng. Soalnya duit bola panas itu kemungkinan besar akan benar-benar ditendang lenyap ke luar lapangan. Padahal, langka jumpa peluang gol semulus ini. Tinggal digocek sedikit, kebetot semua harta lawan. Dijamin sisa kolor doang....


Dan, tidak salah apa yang diperkirakan pengacara Alin itu. Hanya perlu dua sidang lagi untuk sampai pada keputusan pengadilan yang “membebaskan” putri Cina ini dari penderitaannya. Loyo perlawanan gerombolan jagoan neon, tidak ada tuntutan apa-apa lagi. Mereka malah seperti ingin cepat-cepat kabur dari perkara yang digara-garainya ini. Tidak berani bahkan untuk sekadar minta jatah uang lelah suami, boro-boro gono-gini. Sebab, seperti disemprot pengacara Alin ke pihak lawan, “Gono-gini, moyangmu! Bagus kalian tidak disisakan kolor doang!” Beneran ini, dia nyemprot begitu. Di luar sidang tentu.


Usai prahara perceraian itu, proses jual beli pabrik roti dan lainnya warisan Enci berjalan lancar karena memang pembelinya sudah siap. Satu koma tujuh miliar tidak pakai ditawar lagi. Mungkin, murah bagi mereka nilai itu. Apa pun, intinya alhamdulillah. Akas melantun syukur kepada-Nya.


AMing tidak pernah bisa hadir selama proses persidangan cerai adiknya hingga akad jual-beli pabrik ini karena sakitnya itu, yang kata Alin dulu sedang masa penyembuhan, ternyata bolak-balik anfaal. Mungkin karena beban pikiran. Namun, dia selalu memberi dukungan moril per telepon. AKim hadir saat akad jual-beli aset warisan tantenya. Gagah dia, pakai tongkat penyangga yang dijepit ketiak. Kesannya, macam pahlawan perang Vietnam....


Tentu, sebagaimana juga kebaikan ibunya dulu, Alin tidak lupa menyisihkan bagian untuk Akas. Tapi, ditolak halus nan tegas oleh sang elang. Dipaksa pun dia tetap tidak mau menerima itu. “Ci Alin, ada hal dalam hidup ini yang tidak bisa diukur kecuali dengan hati,” ujarnya tersenyum.


Alin menatap bening kakak setengah Cinanya ini, lalu balas tersenyum tulus. “Terima kasih, Pak Kas,” desahnya.


Akas terus tersenyum mengangguk-angguk.

__ADS_1


“Saya juga, Pak Kas, atas nama pribadi, istri saya, dan anak-anak saya. Sekalian atas nama AMing, istrinya, sama anak-anaknya. Pokoknya, dapat surgalah Pak Kas ini. Nanti saya reguest ke Tuhan Alah, hehehe. .,” AKim menimpali.


Dan, tertawalah mereka gara-gara gaya Om AKim ini. Dimaklumi saja, namanya juga AKim, yang patah kaki kirinya, atas nama Sapi nyebrang.


Tidak lama kemudian, Alin dan AKim pamit. Mereka akan ke Palembang menjenguk AMing , sekalian kemudian Alin akan tinggal di sana. Katanya, dia akan membuat bisnisnya sendiri di Palembang. Belum tahu mau usaha apa. Pokoknya sekarang dekat dulu dengan kakak kandung satu-satunya itu.


Saat pamitan tadi, Alin menyusupkan kado mungil buat Asih sesaat sebelum mereka lepas berpelukan. Tidak sempat Asih untuk menolak, karena Alin memberikannya tepat pada detik-detik terakhir. Beres itu, langsung beranjak masuk mobil. Dari dalam mobil pun dia mengirim kode ke Asih agar jangan menolak pemberiannya. Asih pun diam untuk menghargai. Lalu, berangkatlah mobil itu diiringi saling melambai di antara mereka.


Beberapa saat setelah keberangkatan Alin dan AKim, Akas dan Asih masih stand by di kursi teras depan. Sesaat, Akas merenung. Bagaimana bisa usaha yang dirintis dan dikembangkan selama berpuluh tahun oleh Enci dan suaminya itu berujung begini? Bagaimana pernikahan Alin yang belum genap tiga tahun ternyata bubar berantakan? Rasanya baru kemarin dia dan Asih menghadiri resepsi pernikahan gede-gedean di aula hotel terbesar di Magelang. Ketika itu, Alin tampil cantik. Suami yang terbukti kemudian sekadar jagoan neon itu pun tampan. Namun, porak-poranda apa yang disangka banyak orang bakal langgeng bahagia. Singkat pula waktunya, kurang dari 36 bulan. “Kehendak-Mu, ya Allah. Bukan hanya pada akhirnya, Engkau yang mencipta dari awal...,” desah batin Akas. “Demikian padaku, pun pada semua yang lain. Di langit dan di bumi.”


“Mas,” Asih membuyarkan lamunan suaminya.


“Hem?” Akas menoleh.


“Tadi Ci Alin ngasih ini,” Asih memperlihatkan kotak mungilnya.


“Apa itu?”


“Nggak tahu. Belum saya buka,” Asih lanjut menceritakan bagaimana Alin menyusupkan kado itu kepadanya.


Akas tertawa pelan, “Berarti memang bagianmu. Bukalah.”


Asih membuka kadonya, ternyata seuntai kalung berlian. Langsung berbinar mamanya Wulan. Sebab, mustahil Alin mengado imitasian. Dari kualitas kotaknya saja sudah tercium aroma keasliannya.


“Boleh nggak ini, Mas?” tanya Asih. Jadi rada-rada bingung nih.


Akas tertawa lagi. “Ya bolehlah. Siapa yang melarang? Memang bagianmu, faktanya bersamamu. Kalau cek tadi, yakin bukan bagian kita.”


“Kenapa?” tanya Asih, sekalian nebus penasaran.


“Kenyataannya sekarang nggak ada di kita, kan? Tetap saja balik yang berhak atasnya. Tidak terganggu gugat, hehehe...” Akas nyerengeh.


Kening Asih berkerut sebentar, lalu ikutan meringis manis. Entahlah, yang penting bagiannya ada. Uuh, kilaunya cling banget nih....


Akas tertawa lagi, agak keras sekarang. Rasanya, dia tahu yang barusan melintas dalam benak istri tersayangnya.

__ADS_1


Wanita dan berlian, sama-sama berkilau. Namun, yang kedua sungguh hanyalah kilau-kilauan. Sedangkan yang pertama mampu membobol barzakh, asalkan kilaunya disertai iman hakiki. Jamil malaikati muqarrabin pun segan, sebagaimana halnya kepada Sayyidah Rabiah al-Adawiyah Ra.


__ADS_2