
“Agak sebelah sini, Kas,” pinta Rani.
Akas mengangguk, lalu menggeser kursi ini ke posisi terpilih....
Sudah seminggu mereka pindah ke “rumah baru”. Rumah yang dibeli Sutomo dan Rani itu. Sederhana saja rumahnya lazimnya rumah-rumah di lingkungan situ. Luas tanahnya sekita seratus lima puluh meteran. Hari ini, kebetulan tanggal merah, Rani membeli seperangkat sofa, bufet, dan beberapa perkakas rumah tangga lainnya. Akas membantu mengatur-atur. Tadinya bareng Sutomo juga, tapi kemudian sang letnan kena jadwal piket di markasnya.
Beres gesar-geser, Akas duduk di sofa anyar itu sambil mengusap peluh. Enak juga, lumayan mentul-mentul walau bukan termasuk sofa mahal. Rani menghampiri, membawa minuman ringan ber-es batu. Barusan beli di warung depan.
“Makasih, Mbak,” ucap Akas, menerima sodoran kakaknya
“Capek?” tanya Rani.
Akas menggeleng.
“Sekolahmu, gimana?” tanya Rani, sesaat kemudian.
“Aman terkendali,” jawab Akas, meniru gaya kakak iparnya.
“Aman terkendali, aman terkendali..., gimana?”
“Aman, Mbak, aman. Dijamin.”
“Beneran ini?”
Akas mengangguk.
* * *
Akas merasa nyaman tinggal di Kampung Kaum ini bareng kakaknya. Walau beda agama, sepasang kakaknya itu damai-damai saja. Seperti ayah ibunya dulu. Unik juga, Akas sering mendengar Rani membangunkan suaminya untuk shalat Subuh, atau mengingatkan waktu shalat fardhu lainnya. Kalau hari Minggu, gantian Sutomo mengantarkan istrinya ke gereja. Nanti pulangnya dijemput lagi. Itulah adanya.
Sebagaimana lazim kampung bernama Kaum atau Kauman di tanah Jawa, yang lokasinya selalu dekat dengan masjid besar setempat, demikian pun Kampung Kaum ini. Lokasinya berada di seputaran belakang Masjid Agung Magelang. Tentu mayoritas warganya muslim, alim-alim sarungan. Kalau waktu shalat tiba, terutama maghrib dan subuh, berbondonglah mereka pergi ke masjid. Dan, Akas tidak hendak ketinggalan, nyelip dia di antaranya. Jadilah si Jawa ini sering terlihat di sana, di Masjid Agung. Lalu, mulai berkenalan dengan para “calon penghuni surga” yang ada. Tambah hari, semakin membaur....
Sambil itu, terus terang dia mulai mencari guru “urusan hati” yang dipesankan Mbah Bagyo. Siapa tahu beliau ada di sini. Maka, satu per satu tokoh Masjid Agung dia selidiki. Wejangan beliau-beliau saat memberikan ceramah pengajian atau pada kesempatan lain, dia simak sungguh-sungguh. Berharap-harap terlontar sepatah dua patah kata yang nyangkut dengan patokannya. Patokan guru hakikat yang dibukakan oleh kakeknya itu.
Namun, setelah sekian waktu berlalu, belum juga ada yang nyangkut. Rasanya sudah semua tokoh Masjid Agung dia selidiki. Mulai dari yang ber-style garis keras, sampai yang aliran moderat. Beliau semua membeber fiqh, ilmu tata cara pelaksanaan Islam. Hukum, dalil, peraturan, ketentuan, dan semacamnya yang bersifat syariat lahiriah. Tidak ada yang membahas urusan batiniah, kecuali sekadar pahala-dosa, surga-neraka. Tanpa maksud merendahkan, namun bukan itu yang dicari Akas. Dia mencari “hati”. Kalau kata Syekh Junaid, “Aku mencari cinta...”
***
Waktu terus berputar. Tidak terasa, hampir dua tahun sudah dia menetap di Magelang. Urusan sekolahnya baik-baik saja. Kehidupan rumah tangga kakaknya pun damai selalu, aman sentosa. Sekarang Rani malah sedang isi lagi yang kedua, yang pertama sudah lahir lebih setahun lewat.
Namun, “urusan cinta” di Masjid Agung belum kelar juga. Jangan kata kelar, mulai saja belum. Yang ada, masih berkutat sekitar peraturan-peraturan, pahala-dosa, dan surga-neraka. Di manakah wahai hati dan rasa? “Cinta” ini, seolah masih terbenam di palung samudra kehidupan. Belum hendak muncul untuk sekadar menyapa. Inilah adanya, dan Akas tidak hendak menyalahkan siapa-siapa....
Sore itu, menjelang maghrib, dia duduk menyandar di salah satu pilar pelataran luar Masjid Agung. Menghadap ke arah alun-alun, memandang keramaian di sana. Seuntai tasbih kayu stigi terputar pelan di jemari tangan kanannya. Menemani Iantunan “La ilaha illallah” dalam hati, sebagaimana diwejangkan kakeknya. Kata Mbah Bagyo waktu itu, “Untuk sementara, kamu dawam-kan dzikir ini sampai ada penjelasan lebih lanjut dari gurumu. Demikian teramanatkan.
Lalu, serombongan demi serombongan atau sendiri-sendiri, warga Kaum dan orang-orang lainnya mulai berdatangan ke masjid, saat waktu shalat Maghrib semakin dekat. Sambil agak menerawang karena sedang melarut dzikir, Akas memandang para “calon penghuni surga” yang bermunculan itu.
Tadinya, tidak ada yang istimewa. Maksudnya, pemandangan seperti itu sudah biasa pada setiap menjelang tiba waktu shalat maghrib. Sampai kemudian, tatapannya terbentur pada tiga orang gadis yang berjalan beriringan menuju masjid. Uuh, siapakah bidadari yang paling kanan itu? Cantik nian....
Apa boleh buat, kesadarannya yang sedang setengah melayang ini langsung pulih kembali. Tasbih masih terputar, tapi pikiran Akas sudah nancap ke putri berkerudung merah muda di sana. Hampir dua tahun dia nongkrong di sini, perasaan belum pernah lihat yang itu. Kalau dua temannya, dia tahu walau tidak kenal nama. Mereka warga Kaum dan sering terlihat di masjid. Namun, wahai putri berkerudung merah, siapakah dikau?
Dug...! Durug dug dug dug dug dug... Dug!
“Waduh, Kang Idung cepat benar menabuh beduknya, sih? Apa nggak tahu ada hati yang sedang kesetrum?” Akas menggerutu dalam hati. Terpaksa pasrah dia melihat si merah muda melenyap ditelan masjid, masuk ke sektor perempuan yang berbatas tabir kain. Setelah garuk-garuk kepala sebentar, Akas pun turut melenyap. Shalat Maghrib berjamaah.
Besok-besoknya, putri merah muda itu hadir terus. Bahkan, sudah hadir sejak bakda ashar, ikut pengajian gadis-gadis yang dibimbing seorang Mbak berkerudung panjang. Tentu, diam-diam Akas bersukacita. Dari posisi strategis di sebelah sana, sepasang mata elangnya mencuri-curi pandang. Yang tercuri tampaknya belum sadar. Karena belum sadar, sikapnya alami. Karena alami, makin hari makin cantik terlihatnya. Maka, sang elang pun mendesah panjang....
Sejujurnya, baru kali ini Akas merasakan getaran seperti sekarang. Dia mengakui, gadis berkerudung merah itu cantik, tapi yakin bukan karena sekadar itu dirinya jadi kelenger begini. Kalau sebatas cantik, teman-teman SMEA-nya banyak yang geulis. Selain jadi salah satu lumbung padi nasional, Magelang kan dikenal juga sebagai “bulog”-nya nu geulis. Akeh yang ehem, gitu. Dulu, sinyo-sinyo Belanda pun demen banget main ke sini.
__ADS_1
Jadi, apakah ini? Cinta? Rasanya..., iya.
“He! Bengong saja,” terdengar sapaan mengagetkan.
Akas yang sedang melamun merah muda sekalian mencuri jatah elang itu menoleh. Kang Idung nyerengeh sebelahnya.
“Apa sih, Kang?” sahutnya, agak mendelik.
“Hehehe..., kamu ini kenapa? Dari kemarin aku lihat melong, terus?”
“Siapa yang melongo? Orang sedang dzikir...,” sanggah Akas, sambil mengangkat tasbih di tangan kanan.
“Alaah, kamu pikir aku nggak tahu, apa?”
“Apa coba?”
“Itu...,” Idung menunjuk kerumunan gadis-gadis manis yang sedang pengajian. “Yang mana nih, yang mana? Sebut saja....”
Akas meringis, “Sebut apaan?”
“Aku apa kamu yang bloon, sih?” Idung mendelik.
Akas lanjut meringis, tidak menjawab.
Lalu, tanpa diminta, Idung menyebutkan satu per satu nama para gadis di sana itu. Busyet, hafal ternyata paman yang baik ini...
“Nah, yang mana?” dia bertanya lagi.
Ringisan Akas melebar, tapi tetap belum sanggup menjawab.
“Yang merah muda...,” desah sang elang. Terus, kaget sendiri karena ucapan ini tidak direncanakan. Terceplos begitu saja.
Idung nyerengeh, memandang lagi ke arah kerumunan para gadis, lalu balik menatap Akas sambil geleng-geleng kepala. “Berat, berat...,” gumamnya.
“Berat gimana, Kang?” kening Akas langsung berkerut.
“Yang lain sajalah. Tuh, yang kerudung kuning....”
Akas nyengir. Tapi, “Nggak, pokoknya yang merah muda. Tidak lebih, tidak kurang,” tuntut sang elang.
Idung kembali geleng-geleng kepala, “Kamu beneran nggak kenal dia?”
Akas menggeleng, menatap “paman Masjid Agung”nya ini.
“Wah, payah bujang Jawa,” gerutu Idung. “Namanya Nyi Mas Asih Rahayu, putri bungsu Raden Haji Ahmad Sanusi....”
Akas langsung menepuk jidat. Duh! Putri bungsu Kyai Sanusi ternyata, tokoh garis keras di komunitas Kaum sini. Salah seorang ulama fiqh yang disegani di Magelang. Orangnya galak, tegas bin lurus permainannya.
“Gimana? Berani, nggak?” Idung menantang.
Akas meringis pahit.
“Berani, nggak?” tantangnya lagi.
Akas menatap pamannya yang nyerengeh nyebelin itu.
“Berani,” jawabnya kemudian. Habis, ditantang terus sih....
__ADS_1
“Hehehe..., boleh juga bujang Jawa ini. Aku pengen lihat, kuat berapa ronde kamu lawan Kyai Sanusi, hehehe...,” Idung terkekeh meleceh.
Akas jadi ikut terkekeh, tapi sepet juga euy.
“Oke, nanti aku kasih tahu Asih,” ujar Idung.
“Ee, tunggu dulu Kang, sabar...,” Akas cepat-cepat menangkis.
“Kenapa? Katanya berani?” Idung kembali terkekeh.
Akas garuk-garuk kepala. “Berani ya berani, Kang. Tapi, ada strateginya dong. Masak main tembak langsung begitu?”
“Alaah, banyak alasan. Sudah, tegas-tegasan, berani nggak?”
“Berani, Kang..., tapi....”
“Kalau berani, nggak pakai tapi-tapian,” Idung memotong, dan langsung ngeloyor pergi sambil cengengesan.
“Hoei, Kang, Kang.... Mau ke mana?” Akas berusaha menahan pamannya. Namun, sang paman cuek berlalu sambil terus cengengesan. Terpaksa dikejar, baru mau berhenti. Berbincang lagi mereka, pelan-pelan tentu. Lumayan, dapat tambah, an info. Kata Mang Idung, adik cantik berkerudung merah muda itu selama ini mesantren di Pesantren Randu Alas, Solo. Sekarang sedang pulang dalam rangka haulan wafat ibundanya.
“Tapi, Kang, jangan rame dulu, ya?” pinta Akas “Kalem saja, gitu.”
Idung terkekeh. “Apa? Alon-alon asal kelakon?” ujarnya berlogak Jawa.
Akas nyengir. “Bukan gitu, Kang. Pakai teknik, supaya halus....”
“Alaah, halus-halus segala. Yang mau sama Asih itu banyak. Telat, ya sudah, hilang. Mau kamu?”
“Oo, banyak yang naksir, ya?”
“Hehehe..., Akas, Akas.... Kamu kira cuma kamu sendirian yang meriang? Sainganmu berat-berat, potongan ajengan muda semua. Lulusan Mesir juga ada. Lha kalau bukan nekat, andalanmu apa? Hehehe....”
Akas melongo. Busyet, kirain single fiqhter.
“Terus gimana, Kang?”
“Kamu kan modalnya nekat? Ya sudah, nekat saja terus, tabrak semua. Kalau mau.... Kalau nggak, berhenti sekarang. Percuma diterusin.”
Akas menatap pamannya....
“Gimana?” sang paman balik menatap nantang.
Akas masih menatapnya sesaat, lalu mengangguk. Benar, “bonek” sajalah, bondo nekat. Habis, mau pakai modal apa lagi?
Idung terkekeh. “Bagus, bagus. Nanti aku kirimin salam. Ditetima apa nggak, bukan urusanku. Berdoa saja yang panjang, ya? Hehehe....”
Akas meringis kecut.
Secuil kopi
Filosofi jawa alon-alon waton kelakon biasanya digunakan untuk mengingatkan jangan terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu, tetapi harus dipikirkan matang-matang. Entah dari sisi baik buruknya, atau ketelitian dan kerapiannya.
Mbah-mbah jaman dulu selalu mengutamakan hasil yang maksimal, bukan asal-asalan. Atau biasa dibilang waton dadi atau waton rampung.
Untuk menerapkan filosofi jawa alon-alon waton kelakon ini dibutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kehati-hatian. Tentu bukan bermaksud agar lelet atau lambat dalam mengerjakan sesuatu. Diulur-ulur pekerjaannya, biar awet, bukan begitu ya
__ADS_1