
Besok sorenya, bakda ashar seperti biasa, pelan-pelan Akas merayap ke posisi strategisnya itu. Di sana, Asih dan reman-temannya sudah berkumpul, sedang menunggu Mbak pembimbingnya datang. Lalu, seperti biasa juga, Akas mulai curi-curi pandang. Tampaknya, Kang Idung belum beraksi karena Asih biasa-biasa saja, belum sadar ada elang Batu Raden mengincarnya. Maka, asyiklah Akas melirik-lirik, sementara Asih dan teman-temannya mengaji.
Di tengah keasyikannya, Akas kaget melihat putri bungsu Kiai Ahmad Sanusi itu tiba-tiba menoleh dan tersenyum manis ke arahnya. Elang Batu Raden yang sedang terbang di awang-awang ini gelagapan. Untuk siapakah senyum itu, Adinda? Akas celingak-celinguk, kali-kali ada ajengan muda lulusan Mesir di sekitarnya. Nihil ternyata. Maka, jelaslah kini bahwa itu untuknya. Akas pun bergegas mengirim senyum balasan termanis yang dia punya. Manis sekali, pokoknya semua gula hatinya dicemplungin ke situ.
Selanjutnya, lirik-lirikanlah mereka. Tentu dengan bunga senyum-senyuman. Indah nian sore ini....
Besoknya lagi, bakda ashar, Idung menghampiri. “Nih,” ujarnya, menyerahkan surat bersampul merah muda.
Hati Akas bersorak riang. “Dari siapa, Kang?” Biasa, basa-basi.
“Ah, tanya-tanya lagi,” gerutu Idung, nyengir kuda. “Asal jangan lupa saja sama aku, kalau sudah berhasil nanti, hehehe....”
Akas nyerengeh. “Makasih, Kang.”
Idung mengangguk, lalu beranjak ke luar dipanggil Pak Husni, salah seorang pengurus DKM. Sambil deg-deg seer, Akas membuka dan membaca surat itu. Intinya, Asih bilang mau kenalan langsung. “Habis maghrib, saya tunggu di tikungan jalan dekat rumah saya, ya?” Begitu antara lain tertulis. Akas meringis. Waduh, milih tempatnya kok di situ, cah ayu? Agak-agak bahaya di sana. Tapi, nggak apa-apalah. Yang penting bisa kenalan, dan semoga keterusan, hehehe....
Dari dalam masjid, Akas melihat Asih dan teman, temannya mulai mengumpul di pelataran luar seperti biasa. Lalu adindanya itu melirik-lirik terus ke arah posisi strategis di mana sang kangmas biasa berada. Sambil tersenyum, Akas lanjut memandanginya. Karena di dalam lebih gelap daripada di luar maka kaca-kaca jendela masjid besar ini berefek serupa rayband. Dari dalam ke luar jelas, dari luar ke dalam samar. Maka, leluasalah sang elang menikmati wajah cantik yang sedang risau itu, Heemh.... ayu tenan.
Tapi, lama-lama khawatir juga. Masak gadis cantik dibiarkan risau terus? Nanti kalau jadi nggak mau, gimana? Kan, ruginya dalem.... Maka, Akas pun ke luar, duduk di posisi strategisnya dengan wajah tanpa dosa. Begitu duduk, langsung tebar pesona. Dia melihat Asih menunduk tersipu, kedua sahabatnya terkikik pelan. Gara-gara itu mereka dapat teguran ringan dari sang Mbak. Akas meringis, Asih dan para sohib juga meringis manis di tempatnya.
Bakda jamaah maghrib, sang elang bersiap menunaikan tugas selanjutnya itu. Tahan sebentar, kasih waktu dikit buat Asih untuk jalan duluan. Biar berkesan tidak sengaja ketemuannya. Setelah dirasa cukup, dia beranjak menyusul. Di depan, tampak Asih dan kedua teman sudah hampir tiba di titik pertemuan. Akas bergegas mempercepat langkah....
__ADS_1
“Assalamu’alaikum,” sapanya.
“Wa’alaikum salam,” sahut mereka bertiga.
Lalu, diem-dieman. Kedua temannya diam senyum-senyum, Asih menunduk sipu-sipu. Akas pun bingung mesti ngomong apa. Wuih, kok jadi begini? Jelas tidak sehat situasinya kalau dibiarkan kelamaan. Jangan lupa, ini di tikungan jalan samping rumah tokoh garis keras men. Kalau kepergok beliau, bisa-bisa layu sebelum berkokok. Maka, sang elang nekat mengenalkan dirinya. “Akas,” dia berujar, suaranya disetel syahdu seperti penyanyi pop.
Asih mengangkat wajahnya, memandang Akas. “Asih,” desahnya, tak kalah merdunya dengan cuitan burung.
Selanjutnya, mereka pun sekadar berbalas senyum....
Sudah, segitu saja acaranya. Tidak pakai yang lain-lain seperti kegiatan zaman sekarang. Putri bungsu tokoh garis keras ini segera undur diri. Sudah waktunya bagi gadis baik kembali masuk pingitan. Kedua temannya pun sama mohon diri. Di batas pagar rumahnya, Asih kembali mendesah, “Mas, besok ketemu lagi di masjid, ya?”
Hoho, Akas langsung mengangguk. Sebab, guoblok banget kalau menggeleng. Iya nggak, tuh?
Namun, segitu pun indah terasa. Apalagi, Asih memenuhi permintaan kekasih agar tidak menukar kerudungnya dengan yang lain. Akas ingin terus menatap yang merah muda. Entahlah, rasanya yang merah muda lebih nyecep di hati. Asih tersenyum, tidak menjawab, tapi memenuhinya. Haduh biyung....
Sayangnya, saat keindahan ini sedang seru-serunya, Asih mesti balik ke Randu Alas. Izin cutinya yang dua minggu itu habis. Berat terasa bagi Akas, tapi tidak apa-apa, memang harusnya begitu. Yang penting dia punya alamat lengkap Asih di sana sampai nomor kobong-nya, nomor kamar asramanya. Asih juga pegang alamat Akas yang rumah kakak iparnya itu. Jadi, nantinya mereka bisa “SMS”-an lewat surat. Maklum, zaman itu belum ada HP. Jangan kata HP wartel pun belum terdengar istilahnya. Masih jauh.
Namanya juga Akas, cucune Mbah Bagyo dari lembah Gunung Slamet, maka dia nekat bolos sekolah pada hari sang putri merah muda diiring keluarganya ke terminal bus. Ogah dia kehilangan momen yang memeras dadanya ini. Terserah kalau besok harus disetrap Pak BP, gara-gara melenyap dari lingkungan sekolah hari ini. Rela dia, beneran. Soalnya, Asih terus.... Asih Asih, dan Asih yang berputar di kepalanya sejak semalam.
Di sana, Akas terpana melihat Asihnya mengenakan selendang merah muda. Cantik semerbak di tengah kerumunan keluarga. Sekiranya bisa, ingin rasanya dia berlari ke sana gaya slow motion. Terbayang, Asih balas menghambur ke arahnya dengan gerak lambat juga. Selanjutnya, mereka berputar-put mesra seperti di film-film India. Namun, ini jelas khayalan, Termasuk, “Hil yang mustahal,” kata Asmuni. Soalnya, Kiai Ahmad Sanusi nyata-nyata ada di sana. Duduk diam penuh wibawa. Tidak bicara, tidak pula tertawa. Di terminal bus pun, surban beliau tetap seperti surbannya Pangeran Diponegoro. Maka, “tewaslah” mereka yang berani coba-coba jadi Amitha Bachan, seniornya Shahrukh Khan. Dijamin....
__ADS_1
Jadinya, Akas hanya mampu memandang dari sebelah sini. Asihnya di sebelah sana. Tidak hendak bermacam harap, sekadar semoga kekasih sempat melihat kehadirannya di sini. Lalu, tiba-tiba Asih benar-benar menoleh ke arahnya. Sang putri terkejut, elangnya juga. Namun, sekejap lewat, mereka telah terlibat skandal senyap kirim-kiriman senyum. Rasanya, rindu menyengat sumsum. Padahal, kemarin maghrib masih sempat jumpa. Maka, lanjutlah mereka bermain lirik-lirikan bertabur bunga-bunga senyuman. Sejauh ini, aman terkendali. Ayah dan para kakaknya belum sadar “bahaya”. Mereka belum mendengar gemuruh hati si bungsu merah muda yang riuh menyenandungkan cinta.
Namun, bus memang tidak punya perasaan, dia menerobos masuk terminal. Saat diharap telat, malah tepat. Kapan diharap tepat, mulur berjam-jam. Jengkel banget Akas ke kendaraan besi itu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena memang harusnya begitu. Salah sendiri segan ke “Pangeran Diponegoro”. Coba tidak, sekarang saatnya berpelukan.
Usai berpamitan kepada keluarga, Asih berjalan menuju bus yang lagi direm tangan itu. Diam, tapi mesinnya tetap menyala. Di pintu, dia menoleh, melambai kepada keluarga. Lalu, pelan-pelan lambaian bergeser ke pengantar gelapnya. Hoho, Akas sigap membalas gagah. Namun, sekejap saja karena “Pangeran Diponegoro” dan para kakak serentak menoleh. Mencari tahu ke mana arah lambaian aneh si bungsu.
Hup! Kepala Akas nyungsep cepat di level bawah pundak orang-orang, seperti kura-kura kaget. Untung masyarakat sekitar cuek bebek saja, tidak ada yang latah bikin gerakan-gerakan mencurigakan. “Uuh...,” keluhnya pelan. Lalu, lanjut ngintip-ngintip, mengamati perkembangan situasi. Setelah yakin aman, baru kepalanya berani nongol terang-terangan kembali. Asih sudah tidak tampak, tapi jelas ada dalam.
Tidak lama, setelah dipastikan semua penumpang naik bus segera merayap lagi. Bersamaan itu, Kiai Ahmad Sanusi beserta keluarga beranjak meninggalkan terminal. Mungkin beliau ada keperluan lain. Akas masih manteng di sini. Walau Nyi Mas Asih Hayati entah di mana di dalam sana, dia akan tetap di sini sampai kendaraan besi pencuri kekasihnya merayap pergi.
Berhubung “ancaman” telah berlalu, Akas pun mendekat ke seberang jalan. Berjalan pelan, menyusur jendela demi jendela. Siapa tahu saja. Tahu-tahu, sepasang mata berbulu lentik, mendelik manis dari balik salah satu jendela. Akas terperanjat, terus terang dia tidak terlalu tinggi berharap tadinya. Ee, kejadian....
Asih memperlebar bukaan jendela. “Mas, kirim surat, ya? Jangan nggak. Nanti saya nangis lho di sana,” desahnya manja.
Wuaduuh, melayanglah sang elang. Terbang ke taman firdaus yang entah di mana adanya.
“Ya, Mas?” Asih menuntut jawaban tegas.
“Iya, iya. Pasti. Nanti aku kirimi surat yang banyak. Tapi, Asih juga...,” pinta Akas, dengan nada serak-serak yang serak beneran.
Asih mengangguk, terus menebar senyum madunya.
__ADS_1
Sedang syahdu begitu, bus tetap melaju. “Dasar woi!” kutuk Akas dalam hati. Namun apa boleh buat, sang elang pun menghela napas panjang. Lalu, perlahan mulai merayap maju meninggalkan kandangnya. Asih melambai, Akas membalas sepenuh rasa. Ee, tak disangka, si bungsu ayu nekat ber-kiss by ria. Lambaian mesra yang distempel ke bibir dulu sebelum dikirim itu. Maka, sang elang nyerengeh sayang seawang. awang. Untung ayahnya sudah pulang....