
Akhirnya, setelah sekian waktu babak belur dihadang “tembok Cina”, Akas bin Hanafi pun menikah dengan Nyi Mas Asih Hayati binti Raden Haji Ahmad Sanusi. Tadinya, cucune elang menyangka Romo Kyai Sayuti Malik yang berperan di balik layar. Tidak salah, karena kabarnya beliau berbincang dengan Kiai Ahmad Sanusi bakda peristiwa Jati Alas. Namun, luluhnya hati sang kiai “adil sekali” ini ternyata oleh Kyai Kholil. Kabarnya, beliau berkata kepada Kyai Sanusi, “Haji, itu anak memang jodoh si bungsu. Biar disyariati kayak apa, tidak akan putus. Adanya malah makin kuat. Sudah, nikahkan saja.”
Demikianlah....
***
Setelah menikah, sebagaimana “mestinya”’, mereka menumpang dulu di perumahan “mertua indah”. Soalnya Akas belum punya penghasilan. Masih mencari pekerjaan yang kata Mbak Rani gampang kalau lulusan SMEA. Lagian, tidak apa-apa kok kata mertua. Kakak-kakaknya Asih dulu juga demikian sebelum mampu mandiri. Ya sudah, mereka terima ini dengan lapang dada....
Dan, yang jelas, prihatin. Walau rumahnya “tersedia”, tapi karena penghasilannya boleh dikata belum ada, prihatinlah kesimpulannya. Apalagi Asih keukeuh tidak mau terima pemberian kakak-kakaknya, pun dari ayahnya. Pokoknya, tidak. Makan nggak makan, tidak soal baginya. Dia maunya hasil kami sendiri, walau untuk sementara ini, itu berarti sama dengan mesti rajin-rajin puasa. Tentu Akas berusaha, apa yang bisa dikerjakan dia kerjakan. Tapi, memang belum berjumpa dengan pekerjaan yang mumpuni. Maka, “gajinya” pun kadang-kadang, kadang ada kadang tidak.
__ADS_1
Efek sampingnya jelas nyata, Asih jadi menerus langsingnya. Sudah paling muda, paling cantik, paling langsing pula. Maka bagaimana Akas tidak betah? Betahlah. Urusan bokek belakangan. Soalnya, kalau sedang dipandang sayang oleh sang istri langsing ini, Akas yang “kanker” alias kantong kering itu serasa menjelma Raden Rama. Asih jadi Putri Shintanya.
Namun, Letnan Sutomo ternyata berangkat duluan. Tidak sakit, tidak pula tertembak. Sedang olahraga, ambruk, dan langsung pulang. Terkejut semua. Bagaimana bisa? Mas Tomo kan begitu sehatnya? Namun, demikian kehendak Sang Maha, bahwa kakak yang ipar baik hati dan suka pura-pura melotot biar serem itu meninggal dunia jauh sebelum memasuki masa purnawirawan. Sepeninggal suaminya, Rani pindah ke Jogja. Diminta begitu oleh mertua. Rumah kenangan di Kampung Kaum sini dijual cepat, “Asih, Akas, kalian terus saling menyayangi, ya? Jalani bersama-sama. Pokoknya, selalu bersama,” begitu pesannya sebelum pergi. Selamat jalan Mas Tomo, selamat jalan Mbak Rani....
* * *
Demikianlah. Waktu tidak hendak kompromi, lanjut berputar mengiring derap keprihatinan ekonomi mikro pasangan Akas - Asih . Tampaknya, belum akan menguasai tekanan “kadang ada kadang tidak” ini. Namun, di halaman lain, berhubung kedekatan Rama dan Shinta tidak lagi terhalang “tembok Cina”, maka lahirlah produk perdana mereka. Laki-laki. Kata orang, tampan seperti ayahnya. Sang kakek berkenan memberinya nama Ibnu Atho’illah, “anak pemberian Allah”...
Melihat peluang ini, kakak-kakaknya pun ikutan kasak-kusuk. Eem, mungkin merasa ikut menyumbang kesalahan di masa lalu. Tapi, cerdik mereka, tidak tembak langsung. Kalau langsung, Asih pasti membenteng. Kayaknya, dendam lama belum habis nih, masih bersisa sedikit. Maka, para kakak bermanuver lewat ayah, biar nanti sang ayah yang bertindak menyalurkan bantuan. Akas tahu akal-akalan itu, tapi pura-pura tidak tahu. Masalahnya, rawan. Tahu sendiri kalau perempuan cantik marah, kan? Repot penanganannya. Didekati tidak bisa, dibuang sayang, hehehe....
__ADS_1
Dan, Allah Maha Pengatur. Masih di tahun yang sama dengan kelahiran anak pertamanya, Akas diterima bekerja di sebuah bank pemerintah. Syukur mereka melantun syahdu ke hadirat-Nya. Selanjutnya, dia ditempatkan pada kantor unit bank ini di Desa Kidangan, Rengganis, Magelang. Dengan penghasilan rutin yang ada, Akas bisa mengontrak ramah dan memboyong keluarganya tinggal di sana. Kehidupan mereka pun membaik, seiring laju perbaikan taraf ekonomi mikro yang ada. Beribu alhamdulillah....
***
Hari-hari indah lanjut berlalu. Sambil bekerja, Akas kembali aktif mencari sang guru. Guru hakikat yang diamanatkan Mbah Bagyo itu. Kebetulan Kidangan dikenal sebagai salah satu daerah kiai di Magelang, maka dia pun menyusur beliau-beliau yang ada. Mulai dari kiai jadug, sampai yang baru bakalan. Prinsipnya, siapa saja. Senior, junior, tua atau muda, dia tidak ambil peduli. Pokoknya siapa yang pas dengan “kunci” yang dipegangnya....
Namun, setelah sekian lama mencari, sekian banyak telah ditemui, belum juga berjumpa dengan beliau yang mengajarkan ilmu hakikat agama. Kebanyakan kiai di sini deleg mengupas fiqh. Sebagaimana halnya para kiai sepuh di kota Magelang. Malah ada sebagian yang mengajarkan ilmu kesaktian dengan amalan-amalan khusus yang kabarnya memakai kekuatan jin.
Menarik memang, tapi Akas tidak tertarik. Hatinya menolak tegas. “Bukan yang itu!” begitu bunyinya. Merujuk patokan Mbah Bagyo, yang dia cari adalah ilmu tauhid. Tapi, tauhid yang murni. Yang kata kakeknya berdasar amrun dzauqy, berlandaskan sejating rasa melebur kepada-Nya. Bukan “tauhid amal-amalan”, yang ujung-ujungnya sekadar berkutat pada sektor perjinan, demi sebongkah barang semu yang disebut kesaktian.
__ADS_1
Selain itu, diwejang juga oleh Mbah Bagyo, bahwa dasarnya dasar dari ketauhidan murni adalah dzikrullah, mengingat Allah. Sebab, dzikir adalah wajibul wajib, fardhunya fardhu. Nah, dzikir yang bagaimanakah itu yang dicari Akas, sebab kakeknya tidak bersedia membuka. Hanya berkata bahwa “dzikir yang itu” akan memancarkan sifat langgeng dalam mengingat-Nya. Istiqamah ingatannya, tidak berjeda, tidak butuh istirahat, bahkan tidak tidur. Dzikir seperti apakah? Bagaimana caranya? Sebab, bagi Akas pribadi, bentuk atau cara berdzikir yang dia kerjakan sekarang belum membawa dirinya ke arah ingatan langgeng. Terbukti dia masih banyak lupa kepada Allah, walau memutar tasbihnya terus-terusan....
Di antara sekian kiai yang dia simak petuahnya di Kidangan, Akas menaruh hormat kepada Kyai Misbah dan Kyai Sahlan. Walau pada akhirnya beliau berdua belum bisa memuaskan rasa ingin tahunya tentang hakikat agama, tapi apa-apa yang disampaikan lebih mengena dibanding yang lain. Ada nilai nyerempet-nyerempetnya.