
Sesampainya di rumah, terlihat kakek dan neneknya duduk di bale-bale samping rumah. Posisinya tadi sebelum diganggu Ngatijo.
“Dari mana, Kas?” tanya Bagyo sambil melinting rokok klelobot. Tasbihnya tergeletak dekat silaan kaki.
“Ngejar Ngatijo,” jawab Akas, jujur.
“Lho, kenapa?” Surtiyah gantian nanya.
“Nggak, Mbah..., nyebelin saja dia.”
“Hehehe..., sudah gede tetap nggak berubah bocah itu,” gumam Bagyo. Istrinya ikut terkekeh.
Terpaksa Akas pun meringis. Hening setelah itu. Nur membakar rokok kelodot-nya, lalu diisap dalam-dalam. Asap pun mengebul tebal dari rokok tradisional itu. Tasbihnya berputar pelan di jemari tangan kanannya. Karena semua diam, Akas pun terbawa diam.Ee, Ngatijo nongol pas sedang syahdu begitu. Jalan mengendap-endap dari pohon ke pohon. Saat matanya kepentok mata Akas, langsung nyerengeh dia. Gemes betul Akas jadinya. Sayang posisinya sedang tidak bebas menerjang karena terhalang para sepuh. Terpaksa cucu aslinya Subagyo itu balas nyerengeh juga. Habis, mesti gimana? Melihat serengehan lawan, si tengil di sana merasa urusan mereka tadi sudah beres dengan sendirinya. Dia pun menampakkan diri, berjalan mendekat dengan terang-terangan.
“Lha, itu Ngatijo,” ujar Surtiyah. “Sini, Jo..,” ajaknya.
“Nggih, Mbah. Di sini saja,” jawab Ngatijo, lalu ambil posisi jongkok agak di sebelah sana.
“Sini lho,” Surtiyah mengajaknya lagi.
“Di sini saja, Mbah. Akasnya galak, hehehe....”
Akas mendelik. Sialan saudara angkatnya itu, berbakat trouble maker tampaknya. Tapi, Akas sayang kepadanya, sebab dia tahu kalau Ngatijo pun demikian. Maklum, sama-sama tanpa ayah dan ibu.
“Ada apa ini?” Bagyo bertanya, selepas terkekeh.
Wah, ketularan Ngatijo, Mbah Bagyo ini. Suka main “ada apa” juga.
“Nggak ada apa-apa, Mbah,” jawab Akas, pelan.
“Anu lho Mbah, ada yang mau jadi pater, hehehe. ..,” celetuk si tengil itu.
Akas mendelik lagi, tapi kakek neneknya malah terkekeh bareng Ngatijo. Oo, paham kini Akas, dari mana si tengil tahu....
“Kas, katanya kamu mau jadi pendeta?” tanya Bagyo. Matanya menatap teduh ke arah cucunya.
Walau sudah menduga, tetap saja Akas terkesiap, lalu menunduk.
“Mbah Surti cerita, katanya kamu mau jadi pendeta. Apa benar?” sang kakek bertanya lagi.
Akas masih diam, belum menjawab.
Hening sejenak.
“Kemarin, ketemu sama Pater Jo?” Bagyo nembak lagi.
“Nggak, Mbah. Pater sedang ke luar kota. Jadinya aku ngobrol sama Arabi. Sampai pulang, Pater Jo belum balik.”
“Arabi, anaknya Tuan Kasim?”
Akas mengangguk.
__ADS_1
“Hehehe..., piye kabare bocah Arab itu?”
“Baik,” jawab Akas. Lalu, tanpa diminta, dia mengulas perbincangannya dengan Arabi kemarin dulu. Semuanya, sampai ke pernyataan sang karib tentang Mbah Bagyonya.
Bagyo terkekeh. “Ada-ada saja bocah itu,” gumamnya kemudian. “Tapi, apa yang dia bilang benar. Dasarnya, ya itu. Nggak ada itu, jangan. Cuma, itu baru fondasinya. Kalau hanya segitu, belum jadi bangunan Kristen atau Islamnya. Ngerti, nggak?”
Akas menggeleng cepat.
Bagyo terkekeh lagi. “Nggak apa-apa kalau kamu belum ngerti. Balik ke pertanyaan tadi. Gimana? Kamu mau jadi pendeta?”
Akas pun kembali terdiam. Lama....
Kakek dan neneknya sabar menanti. Lain dengan Ngatijo yang sudah angop beberapa kali. Dia memang ngantukan kalau suasananya serius, sukanya yang haha-hehe. Pelan-pelan, si tengil itu beranjak masuk ke dalam rumah. Kayaknya mau tidur walau belum tembus tengah hari.
“Kalau kamu mau jadi pendeta, Mbah nggak akan menahan.” ujar Bagyo, setelah Ngatijo menghilang dari peredaran.
Akas mengangkat wajah, memandang lekat kakeknya.
“Ditahan-tahan juga percuma,” Bagyo bergumam, melanjutkan ucapannya tadi. Rokok kelobot diisap, asap tebal dihembus pelan. Tasbih terus terputar.
Akas kembali menunduk diam. Tampaknya benar dugaan bahwa kakeknya serupa dengan ayahnya dalam hal ini. Tidak memaksa keluarganya untuk menganut keyakinan agama yang sama dengannya. Terus terang, agak lain dengan pandangan kebanyakan orang. Demikianlah adanya.
Hanafi, walau akhirnya empat anaknya dibaptis, dia pasrah. Bukan artinya sebelum itu dia tidak pernah menyampaikan Islam kepada mereka. Sudah, banyak kali sudahnya walau kurang dapat respons dari audiensi. Saat kemudian anak-anaknya tidak memilih Islam, tidaklah juga sang ayah jadi marah-marah. Tenang-tenang saja bawaannya, pasrah. Seolah berkata, “Ini bukan urusanku,” begitu.
“Buyutmu Islam, mbahmu Islam, bapakmu Islam...,” Bagyo bergumam, sambil agak menerawang. “Kalau nanti kamu jadi pendeta, nasabku putus, ya? Tidak ada lagi yang melanjutkan Islam di keturunanku. Haryono jelas-jelas Petrus, mbakmu dibaptis semua. Habis, tinggal kamu. Tapi, terserah kamu, wong kamu yang mau menjalani. Bukan aku, bukan juga Mbah Surtimu.”
Akas menghela napas. Iya, putus. Habis....
Petrus adalah nama baptis Haryono. Petrus ing Haryono, disingkat “Ping” Haryono. Rahayu, Sulastri, dan Wijayanti pun sudah dibaptis. Tinggal Akas yang belum. Dia tidak tahu, kenapa belum. Mungkin ibunya belum sempat membawanya ke pembaptisan. Atau, memang demikian garisnya?
Akas mengangkat wajah. “Aku bingung, Mbah...,” ujarnya pelan.
“Lha, kok bingung? Di mana bingungnya?”
Akas pun membeberkan “kebingungannya” soal Tuhan; yang kemarin dulu dibahas bareng Arabi itu. Kakeknya menyimak, sesekali tampak tersenyum keriput. Neneknya juga, sambil mengunyah sirih.
“Keyakinan, memang soal hati. Berlaku untuk semua macam keyakinan. Apalagi keyakinan agama,” ujar Nur. “Kalau memegang agama tapi tidak bareng hatinya, ya pasti sia-sia sebab sudah salah dari depannya.”
“Caranya supaya bisa yakin gimana, Mbah?”
“Hehehe.... Untuk sementara ya itu tadi, pakai hatimu.”
“Nggak boleh pakai akal, Mbah?”
“Boleh, tapi akal itu sebenarnya bagaimana hati. Akal mestinya nurut sama hati. Kalau akal nggak patuh sama hati, berarti banyak nafsunya di situ.”
“Oo, jadi nafsu adanya di akal, Mbah?”
Subagyo terkekeh agak panjang. “Iya. Hati itu aslinya selalu suci, sebab ada penjaganya. Kalau akal, penjaganya ya hati. Ngerti?”
Akas langsung menggeleng. Apa penjaga-penjaga ini?
__ADS_1
Subagyo terkekeh lagi. “Sudah, segitu dulu. Pokoknya, keyakinan itu urusannya hati, bukan bagiannya akal. Apalagi, tentang keyakinan memeluk agama.”
Akas menghela napas, lalu menunduk.
“Sedih ya pasti sedih aku kalau kamu jadi pendeta. Tapi, Mbah, nggak kuasa apa-apa, wong keputusanmu sendiri. Islam itu nggak kenal aturan maksa-maksa orang soal keyakinan beragama. Lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Begitu dalilnya,” ujar Bagyo, pelan.
Surtiyah manggut-manggut. Sirihnya dibiarkan nyenclek di ujung bibir sebelah kanan.
Akas kembali terpekur....
“Jadi, Mbah, mestinya aku manut hati, ya?” dia bertanya, kemudian.
Kakeknya mengangguk, “Tapi, terserah kamu kalau memang maunya nurut sama yang selain hati.”
Akas mengangguk-angguk. “Kalau begitu, saya Islam,” desahnya pelan namun tegas, sambil memandang kedua sepuhnya.
“Alhamdulillah,” sambut Subagyo. Dia memejamkan mata sambil menghela napas dalam-dalam, lalu segera memeluk cucunya.
Surtiyah juga ikutan setelahnya....
Aahhh.... Akas merasa beban batinnya terlepas bebas. Tidak melayang-layang layangan lagi, yang seolah bebas namun terbelenggu itu, seolah tangguh padahal rapuh. Seberapa bebasnya atau seberapa tangguhnya layang-layang yang hanya bergantung pada seutas benang? Sekarang, inilah bebas. Terbang serupa elang, membelah angkasa bersama bayu....
“Nggak syahadatan lagi, Mas?” Surtiyah bertanya ke suaminya.
Subagyo menggeleng. “Akas ini Islam, sebab bapaknya Islam. Masih berlaku syahadat turunannya karena belum dibaptis. Tinggal lanjut berjalan saja, sampai ketemu dengan sejatining syahadat.”
Surtiyah manggut-manggut, mungkin paham.
Tapi, tidak dengan Akas. “Apa itu, Mbah?” dia bertanya.
“Apa?” Subagyo balik bertanya.
“Sejatining syahadat?”
Subagyo tersenyum keriput, “Sejatining syahadat itu syahadat yang sebenarnya. Yang bukan sekedar ucapan, hehehe....”
“Oo, yang kayak apa itu, Mbah? Yang begini...,” Akas melafalkan dua kalimat syahadat. Walau bernuansa campuran dan cenderung Kristen, dia hafal kalimat syahadat. Ayahnya yang dulu mengajarkan. Selama ini, kalimah itu dianggap sebagai bagian dari “mantra Islam” saja. Tidak lebih.
Subagyo tersenyum. “Betul, begitu ucapannya. Tapi, nantinya harus jadi tidak cuma ucapan saja.”
“Terus, jadi seperti apa?”
“Yaa, tadi. Jadi yang sejatining itu,” Subagyo memandang lekat cucunya.
Akas terdiam. Apa maksud kakeknya ini?
“Sudah, jangan kamu kebanyakan mikir dulu. Bagian sejatining ini memang bukan diajarkan, harus dirasakan sendiri. Insya Allah nanti kamu tahu.”
Akas manggut-mangegut, “Nanti aku bisa tahu ya, Mbah?”
Subagyo mengangguk, “Asal kamu teguh berjalan.”
__ADS_1
Akas menatap kakeknya. Apa lagi “teguh berjalan” ini? Tapi, karena terlihat sang kakek tersenyum keriput, cucu bungsu itu pun ketarik nyengir.
Sudahlah, nanti saja....