
Sore itu di Banjumari, Hanafi sedang jalan-jalan jomblo mengukur trotoar. Tanpa sengaja dia memergoki aksi pencopet menyabet dompet seorang gadis. Tidak pakai rame-rame, pemuda ini menyergap tersangka sekalian menghajarnya di gang kosong karena tidak mau mengembalikan jarahan. Lalu, dengan tulus, Hanafi memulangkan dompet itu ke pemiliknya. Sang gadis kaget ketika sadar bahwa sesaat lewat dompetnya sempat jalan-jalan. Dan, lanjut bergetar memandang tatapan tulus sang penolong. Jatuh cintalah dia, langsung menggunung pada pandangan pertama. Rupanya, sang jaka sama juga. Ceritanya, tidak bertepuk sebelah tangan.
Namun, bukan perkara mudah....
Haryati, dara Cina cantik, putri juragan toko emas besar di Banjumari, menjalin kasih dengan Hanafi, buruh pabrik tempe berdarah Jawa asli. Cina bersanding Jawa, nada-nadanya runyam. Dan, makin pelik karena Haryati Kristen, Hanafi Islam. Maka, upaya-upaya pencegahan pun gencar dilakukan pihak perempuan. Orang tua dan segenap saudara-saudara Haryati bersatu-padu menentang tanpa tedeng aling-aling. Tidak perlu banyak argumen. Hanya satu, “Tidak!”
Namun, Haryati yang sedang digulung badai asmara tidak kalah berkata tidak. Dia berikrar, “Kalau bukan Mas Nafi, tidak!” Titik. Teguh kukuh berlapis baja tekadnya. Keluarga pun terpana, tak ada yang mengira kalau dara secantik dan selembut dia mampu mengelas baja gara-gara disentuh cinta pribumi.
Sebenarnya, Hanafi tidak hendak memaksa. Tentulah dia tahu kalau dirinya pun mencintai Haryati, namun tidak hendak memaksa. Sekiranya sang dara berkehendak lanjut, dia akan mendampingi sebulat hati. Kalau tidak, oleh alasan apa pun, dia merelakannya. Begitu gaya perlawanan pemuda Jawa ini. Mungkin terinspirasi sedikit oleh gerakan Abimsa-nya Mahatma Gandhi.
Namun, gara-gara model begitu, Haryati malah semakin luluh mencintainya.
“Kalau kamu teruskan, putus hubungan!" ancam ayahnya, suatu ketika.
“Kapan?!” Haryati menyerang balik. Matanya yang jernih sipit itu menatap para tetua keluarga yang mengelilinginya.
Kaget lagi mereka semua.
“Haryati, aku serius ini!” bentak ayahnya lagi.
“Saya juga serius! Lebih serius dari semua yang ada di sini...!” sanggah sang gadis, suaranya bergetar. “Siapa yang lebih serius dari saya?” desahnya, dengan mata basah berkaca-kaca. “Siapa yang sedang disakiti?”
Terdiam semua, hening.
Gagal di dalam, mereka pun bergerak ke luar. Tapi, tidak mudah juga ternyata karena Hanafi bukan tipe pemuda mudah gentar. Dia menghadapi-kakak-kakaknya Haryati dengan berani. Untungnya, tidak sampai berkelahi karena kedua belah pihak masih bisa menahan diri. Namun, kesimpulannya mengambang karena Hanafi tegas berkata, “Terserah Haryati. Lanjut, saya siap. Tidak, saya rela. Tapi, kalian jangan mengganggu saya. Jangan caba-coba...!”
Balik gentar tampaknya keluarga Haryati. Bagaimanapun, mereka sadar berada pada posisi rawan kalau berbenturan dengan pribumi. Dalilnya jelas, “benar atau salah, yang salah Cina”. Sudah ada “ketentuan” ini sejak zaman Jan Pieterzoon Coen berkuasa di Batavia. Maka, supaya cantik permainannya, mereka ganti strategi. Tidak serbu langsung, melambung dulu lewat AMeng, pemilik pabrik tempe itu; yang modal perluasan pabrik ini enam puluh persennya pinjaman dari Ko Liow. Pinjaman lunak. Akibatnya, Hanafi dipanggil menghadap juragan.
“Ko AMeng mau memecat saya?” Hanafi bertanya setelah AMeng bercerita dengan berat hati.
AMeng menghela napas, “Tidak ada kata-kata itu, rugi aku memecat kamu. Masalahnya ada di situasi, bukan hal lain. Pahit memang, tapi aku harus minta kamu pergi dulu dari sini sampai situasinya reda. Sekali lagi, bukan memecat. Aku hanya minta kamu menghilang sementara waktu.”
__ADS_1
Hanafi menatap juragan, matanya berkejap-kejap.
“Kalau situasinya nggak mereda, gimana, Ko?” dia bertanya pelan.
“Nggak ada yang tahu bakal kejadian besok. Baiknya jangan terlalu dipikirkan. Aku juga nggak tahu bakal reda atau nggak, tapi nggak ada badai terus-terusan. Pasti ada sudahnya. Nah, kita lihat saja nanti kayak gimana sudahannya itu.”
Hanafi menunduk diam.
“Nafi, kamu paham situasinya, kan?” AMeng bercanya pelan.
“Iya, Ko, paham sekali. Ya sudah, kalau memang harusnya begini. Kapan saya harus pergi?” desah Hanafi, sambil memandang juragannya.
AMeng tersenyum miris. “Kamu nggak marah ke aku, kan?”
Hanafi membalas senyum, miris juga. “Siapa bisa marah ke Ko AMeng?”
AMeng tertawa pelan, rasa belimbing wuluh.
“Sama-sama, Nafi. Heemh, sedih juga kamu pergi, ya? Ingat, aku tidak memecatmu. Kalau nanti sudah reda, datanglah lagi ke sini. Jangan ragu.”
“Iya, Ko, saya akan ingat itu. Eem, boleh saya titip pesan buat Haryati kalau Engko ketemu dia? Kalau boleh....”
“Boleh, boleh. Apa?”
Hanafi mesem kecut. “Yang kemarin itu, Ko. Saya mencintainya, tapi tolong dibilangin agar dia jangan memaksakan diri. Seperti kata Engko, situasinya memang sulit. Kasihan Haryati kalau sampai gimana-gimana.”
AMeng menghela napas, lalu mengangguk-angguk.
“Ya sudah, Ko, saya pamit. Sekali lagi, terima kasih banyak,” ucap Hanafi.
“Iya, iya. Pulanglah dulu ke Batu Raden. Tenangkan diri di sana, ya?” Hanafi mengangguk, menyalami juragan baiknya, lalu beranjak pergi. AMeng menatap punggung salah seorang pekerja jujurnya yang harus pergi dari Banjumari, karena cinta....
__ADS_1
Hari pertama di Batu Raden, di rumah orang tuanya, Hanafi belum bercerita tentang cintanya yang terhalang “tembok Cina”. Bilangnya, dia terkena pengurangan pekerja di pabrik tempe itu. Ibunya percaya, tapi ayahnya kelihatan tidak, walau tidak berkomentar apa-apa
Besoknya masih sama, lusanya barulah Hanafi tidak tahan. Dia pun membuka kisah cinta “tembok Cina”-nya.
“Oalah, Nafi, Nafi..., jatuh cinta kok sama Cina...,” gumam Surtiyah, ibunya. Hanafi meringis asam. Subagyo, ayahnya, tertawa pelan.
“Apa sudah habis yang Jawa?” ibunya lanjut ngedumel.
“Hehehe...,” Subagyo makin terkekeh. “Tapi, bagus juga kayaknya itu, belum ada ceritanya di keluarga kita. Ayu ora?”
Ringisan asam Hanafi ketiban gula mendengar itu, jadi rada manis.
“Oalah, bapak sama anak sama saja. Bapaknya juga mau coba-coba?” Surtiyah melotot, bibirnya manyun sedikit. Ayah dan anak itu sama-sama tertawa.
“Ya, nggaklah, Sur. Ayune Cina sama ayumu kan lain, beda bahannya. Kalau dia itu ayu, kalau kamu ini wayu tenaan,? hehehe....”
Surtiyah ganti cemberut manja. Hanafi dan ayahnya pun lanjut tertawa.
“Terus, rencanamu gimana?” Subagyo bertanya, setelah tawa mereda.
“Tenang-tenang dululah, Pak. Nanti saya cari kerja lagi,” jawab Hanafi.
Subagyo manggut-manggut, “Lha, urusan pacarmu itu?”
Hanafi menggeleng pelan, “Belum tahu saya, Pak. Gimana nanti sajalah. Kata Ko AMeng, badai pasti berlalu....”
Ayah dan ibunya tersenyum.
“Ya sudah, tunggu badainya selesai. Cuma, kamu harus kuat, mesti tangguh menahannya. Badai memang pasti berlalu. Masalahnya, setelah badai kapalmu masih ada nggak? Kalau kapalnya hancur bareng badai, ya habis juga ceritanya,” Subagyo memberi semangat kepada anak tunggalnya itu.
Hanafi menghela napas berat.
__ADS_1
Tidak lama, setelah hening sejenak di situ, Hanafi undur diri. Sudah mengantuk, katanya. Memang sudah lewat jam sebelas malam. Dalam kamar, dia bengong menatap langit-langit....