Selamat Jalan

Selamat Jalan
27. balada cinta cina


__ADS_3

Gerbang benteng telah tertutup, kukuh dan tebal nian. Akas terpekur sendirian, terbayang Asihnya yang terkungkung di balik tembok besar Cina. Sedang apa, Sayang? Rindukah dikau kepadaku? Kapan kita sempat berbincang lagi? Kapan kembali bisa kutatap senyum manismu? Beritahukan kepadaku, apa yang mesti aku lakukan? Katakan, Sayang, katakan....


Penyebabnya, walau tidak tersuarakan, jelas tersadap oleh Akas. Tidak jauh-jauh, itulah. Pertama, menyangkut unsur kecinaan yang mengalir dalam dirinya. Kedua, disambung-sambungkan ke kekristenan sekalian kecinaan kakaknya. Walau sudah sadar sejak jauh-jauh hari, tak urung Akas terhenyak juga. Sejujurnya, dia tidak menyangka sampai sebegitu pandangan mereka tentang beginian. “Katakan, sebelah mana salahnya Mbak Rani? Apa hubungannya dengan perasaan tulus cintaku kepada Asih?” rintih hati sang jaka.


Kalau mengenai keturunan, demikianlah adanya. Akas tidak hendak menafikan itu, sebab ibunya jelas-jelas Cina. Kakek nenek dari ibunya, sepasang Cina. Namun, mengapa begitu mudah mengabaikan secuil fakta bahwa dirinya kini seorang muslim? Sama seperti mereka. Mengapa? Tentang apa sesungguhnya ini?


Memang, sesekali Akas mengantar kakaknya ke gereja atau menjemputnya, kalau Mas Tomo sedang terhalang tugas. Tapi, sumpahnya demi Allah, tidaklah lantas dia menjadi Nasrani karena itu. Sekadar mengantar-jemput kakaknya saja. Seorang adik yang ikut tinggal di rumah kakaknya, makan minum dan sekolah dibiayai kakaknya, lantas dia membantu sang kakak. Salahkah? Kalau memang ini salah, tolong katakan, yang benarnya seperti apa?


Soal kecinaan Rani, Akas geleng-geleng kepala. “Lihatlah sejenak kakakku, pandang baik-baik, cantik apa jelek? Jahat apa tidak? Kalau ada yang berani sesumbar bilang Mbak Rani macam nenek sihir, kusikat kau di tempat! Sebelah mana jahatnya? Sebelah mana culasnya? Ayo, tunjukkan! Aku tantang kalian!” geramnya dalam hati. Lalu, lanjut menggeleng-geleng.


Ada apa dengan Cina? Padahal, riwayat para Wali jelas-jelas mengabarkan bahwa beliau-beliau banyak yang berdarah Cina, selain Arab. Termasuk Wali Songo. Jangan lupa atau pura-pura lupa kalau Laksamana Cheng Ho pun Cina. Bukan Jawa, bukan Sunda, bukan pula sekadar turunan. Asli Cinanya.


“He, bujang Jawa, kesambat kamu nanti. Berani-beraninya bengong sendirian di sini...,” Idung menghampiri Akas, yang sedang duduk bergulung resah.


Bujang Jawa itu meringis pahit.


“Lagi ngapain?” tanya Idung.


“Bengong. Biar kesambat,” jawab Akas, elek-elekan.


“Hah, ayo pindah. Kejadian bener, baru tahu rasa kamu,"


Idung menarik tangan Akas. Dari tadi keponakan ketemu gedenya ini melongo sendirian di batas areal tanah kuburan belakang Masjid Agung. Memandang deretan makam di situ.


Tapi, Akas bertahan. “Di sini sajalah, Kang. Enak...”


“Apanya yang enak?” Idung mendelik.


“Enak ngebayangin yang sudah mati. Nggak punya masalah.”


“Huah? Kata siapa nggak punya masalah? Ayo pindah-pindah....”


Idung membetotnya lagi, kenceng yang sekarang. Main paksa. Terpaksalah Akas nurut. Sambil menggerutu, tertangkap dengar oleh sang jaka, pamannya itu berkata bahwa Asih juga menderita....


“Kenapa Asih, Kang?”


“Hem?”

__ADS_1


“Asih, kenapa?”


“Oo, sangat menderita dia. Gara-gara si bujang Jawa, hehehe...”


Sialan, pakai terkekeh segala Kang Idung yang élek ini. Terpaksa Akas jadi ikutan nyerengeh kecut. “Ceritanya gimana?”


“Punya rokok, nggak?” Idung balik nanya.


“Ada.”


“Nah, kalau gitu, kita ke alun-alun. Ngomongnya di sana.”


“Kenapa?” tanya Akas, berlagak bloon.


“Mau kedengaran Kyai Sanusi?”


Akas nyengir. “Biarin kan Kang Idung yang ngomong, bukan aku...”


Idung mendelik lagi, “Ya sudah. Nggak jadilah.”


Lalu, duduklah mereka di salah satu bangku taman alun-alun yang lokasinya di depan Masjid Agung. Rokok dikeluarkan. Pas juga, tinggal dua batang dari sebungkus yang dikasih Mas Tomo kemarin dulu itu. Tidak apa-apa, yang penting Dji Sam Soe, walau sudah gepeng kedudukan. Koreknya punya Kang Idung, selalu siap dia kalau bagian ini. Rokoknya yang payah. Kemudian, melantunlah tembang sedih itu. Akas menyimak penuh perasaan....


“Begitulah, Kas. Di rumah, yang aku tahu, Asih melawan. Jadinya sampai sekarang dikerem terus,” Idung berujar pelan.


Akas menunduk, mengejap-ngejap matanya yang terasa menghangat. Ternyata, Asih melakukan pemberontakan juga di balik tembok besar Cina. Menentang “kesewenangan” yang sedang dikenakan kepada dirinya. Tidak tinggal diam dia, sama berjuang. Seperti Kartini atau Nurbaya, mungkin....


“Kenapa Kang Idung baru cerita? Ini kan sudah lama?” Akas protes. Soalnya, baru sekarang dia mendengar kisah itu. Sejak hubungannya dengan Asih direcokin keluarganya hampir enam bulan terakhir, seolah tidak ada yang tahu apa-apa kejadian di rumah Kyai Sanusi. Orang-orang masjid diam mengenai urusan ini, padahal hampir semua tahu karena kabarnya telah menyebar. Sementara, Akas tidak punya akses ke dalam.


“Yaa, aku minta maaf, Kas. Masalahnya menyangkut Kyai, seganlah. Kamu tahulah. Sekarang ini juga, boleh dibilang aku nekat. Iya, kan?”


Akas menghela napas. Bisa dipahami alasannya. Memang iya sih.


“Terus apa lagi, Kang?” kejarnya, mumpung ada informan nekat.


“Yaa, sekitar itu saja sih. Intinya, Asih keukeuh menolak. Aku pernah dengar dia nangis teriak-teriak, nggak mau! Pokoknya Mas Akas! Begitu....”


Akas menatap pamannya, “Beneran ini, Kang?”

__ADS_1


Idung mengangguk-angguk. Meyakinkan sekali gayanya.


Akas pun menunduk lagi. Soalnya, mata terasa semakin hangat berkaca-kaca. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan.


“Oo iya, nggak semua saudaranya Asih tidak suka kamu. Ada juga yang nge-fans, hehehe...,” Idung terkekeh nyerengeh.


Akas mendongak, “Siapa?”


Idung menyebutkan beberapa nama. Di antaranya, dirinya sendiri dan kakak sepupu Asih bernama Arkam. Kang Idung memang masih kerabat Kyai Sanusi, Asih terhitung keponakannya walau tidak langsung. Kalau Arkam lebih dekat, bolehlah dikata termasuk orang dalam istana. Pantas dia tidak pernah pasang wajah sepet kepada Akas, macam lainnya, walau tidak juga berakrab-akrab. Mungkin karena situasi sekarang sedang sejuta topan badai. Sebelumnya, Akas dan Arkam memang belum sempat kenal akrab karena kakak sepupu Asih ini baru balik dari mesantren, menjelang serbuan topan badai. Kenal-kenal biasa saja, perkenalan sebagai sesama masjiders, “calon-calon penghuni surga”. Katanya.


Begitulah....


Besoknya, Akas dapat kisah lebih mendalam dari orang dalam istana. Garis besar plotnya sama dengan yang dikabarkan Kang Idung kemarin, tapi yang sekarang terasa lebih mengiris hati. Arkam pandai menggambarkan situasinya. Dia berkisah dengan menyertakan rasanya sebagai kakak.


“Ya Allah..., Asihku sendirian di dalam sana, tersiksa dan merana. Apa yang bisa kulakukan untuk membantunya? Bagaimana caranya? Sungguh, siapa pun yang tahu, tolong kabarkan kepadaku...,” hati sang jaka merintih dalam hening.


Kesedihannya ini, rasanya telah sampai di puncak onak. Apa yang dulu dikhawatirkan kakaknya, ternyata benar terjadi. Akas tahu “salahnya”, tapi tidak paham mengapa. “Apa salahku? Apa salah Asihku? Apa karena kecinaanku? Apa karena kekristenan kakakku? Apa karena kegagalanku melantun Arab gundul? Atau, jangan-jangan karena keislamanku? Apa...? katakan!” hatinya menjerit nyaring.


Maka, lusanya, Akas mendatangi rumah ayahnya Asih. Dua hari dua malam, wajah cantik putri merah mudanya yang sedang merana itu seolah melekat kuat di pelupuk mata. Menghunjam dalam ke relung hati. “Sialan! Aku sungguh mencintainya, kenapa yang lain malah menyiksa? Tidak sadarkah bahwa pasti sakit rasanya itu? Kalau tidak percaya, tanya Mbak Rani...!”


Namun, berapa banyak salam dia kirim lewat tekanan urat leher, tidak datang tanggapan. Akas mencoba lagi beberapa kali, tetap sama. Sang jaka pun menggeleng-geleng sambil menatap nanar. Luar biasa..., luar biasa mengesalkan dan menjengkelkannya. Api amarah pun mulai agresif menjilati ubun-ubun. Akas sudah tidak peduli atas tatapan warga yang menonton aksi kurang ajarnya itu. Ibarat kata, kalau dia harus disambar Kopkamtib gara-gara ini, sambarlah! Tapi, hati-hati, dia pasti mengamuk dulu. Dijamin!


Sesaat sebelum kakinya benar-benar mendobrak jebol pintu pagar ini, tiba-tiba setetes embun menyadarkan, “Kas, sedang apa?” sapa Rani, dengan desah khasnya yang lembut mendayu itu. Akas terkejut, sesaat terpana menatap wajah keibuan sang kakak kedua....


“Sedang apa?” Rani mendesah lagi.


“Nunggu teman, Mbak,” jawab sang adik, setelah menghela napas.


Rani mesem, “Nggak datang temannya, ya? Pulang yuk...”


Lalu, tanpa meminta persetujuan lebih dulu, Rani langsung menggandeng lengan Akas dan membawa sang adik yang sedang digulung panas neraka itu menjauh dari batas pagar. Ajaibnya, Akas keseret pula walau jelas kakaknya tidak main betot seperti Kang Idung kemarin dulu.


Malamnya, sekitar pukul setengah tiga dini hari, sayup-sayup Akas mendengar kakaknya melapor ke suaminya soal tingkah sang adik kemarin siang. Mungkin disangka adik bungsu sudah atau masih tidur. Siapa yang bisa?


Maka, Akas pun menyimak. Intinya, Rani sedih bahwa kesakitannya yang dulu, kini menimpa adiknya dan Asih. Seperti juga berlaku pada kisah asmara ayah-ibunya. Lalu, dengan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan, sang suami menenangkan “Dewi Kwan Im” yang sedang terisak itu. “Tenang Ran. Akas kan mengaku cacune elang? Elang pasti mampu mengatasi beginian. Kalau nggak kuat, emprit namanya. Lagian belum sampai minta nyawa kok, masih sekitar korban perasaan,” ujarnya, rada nyebelin.


Terpaksa Akas meringis kecut. Sialan Mas Tomo. Tapi dia tidak marah karena tahu kakak iparnya itu bermaksud baik. Cuma, ngomong-ngomong boleh pinjam pistolnya nggak, Mas? Sebentar saja. Sekalian pelurunya yang banyak....

__ADS_1


__ADS_2