
“ Assalamu'alaikum, Kas! Assalamu’alaikum...!” terdengar seruan nyaring dari arah depan.
Akas yang sedang mengawasi proses produksi di pabrik rotinya, agak terperanjat. Perasaan dia kenal dengan suara cempreng garing itu.
“Kas! Woei..., Assalamu’alaikum!” terdengar lagi.
Maka, Akas pun nyengir dengar “Woei” barusan. Yayang itu, tidak lebih tidak kurang. “Wa'alaikum salam,” dia menyahut sambil beranjak ke depan.
Begitu jumpa, “Hahaha...,” Yayang ngakak. “Masih ada ternyata teman seperjuangan. Aku kira sudah tulang-tulang berserakan.”
Akas balas tertawa. Sialan.
Kedua teman lama itu berpelukan kangen. Di pojok sana, Edi yang sedang memasukkan roti ke kantong motornya terlihat melirik-lirik. Kalau kepentok juragan, cepat-cepat menunduk. Pura-pura tidak terlibat masalah. Modelnya seperti juragannya ini saat “sejuta topan badai” ke Ama Sanusi dulu....
Usai tanya-tanyaan sikon masing-masing, sekalian sikon para gengster mereka dulu, Yayang langsung nembak, “Terus terang, aku ke sini bawa misi penting. Dan, jelas aku tidak terima segala bentuk penolakan.”
Akas tertawa. “Ada apa, Yang?” dia lanjut bertanya, pura-pura belum paham. Padahal, sudahlah. Apalagi kalau bukan tentang yang dikabarkan ngampaser Edi kemarin dulu itu.
“Sialan, punyamu ternyata pabrik ini. Anak-anakku suka sekali rotimu, emaknya juga. Mereka suka yang nanas, kalau aku yang cokelat,” Yayang melambung dulu. Biasa, pemanasan sedikit.
“Bilang saja langsung misi pentingmu itu apa. Pakai bawa-bawa kambing hitam rasa nanas sama cokelat segala,” Akas nyengir.
“Hahaha...,” Yayang tertawa, lanjut bertutur misi pentingnya.
Akas menyimak walau sudah maklum adanya. Benar, urusan itu.
“Begitulah, Kas. Pasti kamu paham, kan? Sampai sekarang, dana kredit yang harus disalurkan masih banyak. Semua kepala seksi dikejar target. Bagian kredit atau bukan, sama-sama disuruh jualan. Karena kamu temanku, maka aku tak sudi ditolak,” Yayang nyengir buaya.
Akas balas nyengir melihat style crocodile teman lama , itu. “Ceritanya, masih tinggal di Secang, nih?” dia balik tanya.
Ngajak muter-muter rawa dulu, biar pusing buayanya.
“He-eh.”
“Rumah yang dulu?”
“Betul sekali, Magelang Secang pergi pulang setiap hari....”
“Kenapa,nggak cari rumah di sini? Kan capek bolak-balik gitu?”
“Males aku, nanti kayak dulu lagi. Barusan pindah, sebulan dipindahin lagi. Untung baru bayar DP-nya itu rumah,” ujar Yayang, lanjut berkisah tentang perjalanan kariernya. Rupanya, sebelum nyangkut di kantor cabang sebagai kepala seksi, dia ditawafkan dulu ke semua wilayah kerja bank ini se-Kabupaten Magelang. Lumayan jauh-jauh lokasinya itu, mencar. Magelang kan “seluas sawah memandang”.
Lalu, mereka pun lanjut saling berkisah masa lalu dan masa kini yang tidak ada hubungannya dengan misi penting itu. Pokoknya, seru. Sampai-sampai Edi ikut mesam-mesem di pojokan sana. Kayaknya lancar nih, mudah-mudahan. Kemarin, dia sudah sempat tanya-tanya harga meubel dan motor bebek baru. Tinggal dipilih nanti, mana yang baiknya duluan “dimaujudkan”.
“Eh, Asih mana?” tanya Yayang. Saking asyiknya, sampai lupa dia bertanya kabar istri teman lama ini.
“Sedang ke Jogja. Ada acara keluarga di sana.”
“Kamu nggak ikut?”
“Diwakili sajalah. Sudah penuh yang pergi. Lagian, kalau aku pergi nggak jumpa kamu dong. Nanti nangis kamunya, hehehe....”
__ADS_1
“Sialan, masak kepala seksi nangis?” Yayang meringis. “Emangnya sekarang masih zaman Secang?”
Tertawa-tawalah mereka. Sejenak teringat zaman Secang yang penuh keluh kesah itu. Maklum, selisih satu setengah tingkat saja dari levelan terbawah. Yayang yang banyak menggerundel, kalau Akas jujur-jujuran tidak.
“Mau minum apa, Yang?” tanya tuan rumah, sesaat kemudian.
“Di kulkas apa ada?” Yayang menunjuk lemari es dekat situ.
“Lawannya hot-lah. Mau yang adem saja?”
Yayang mengangguk, agak nyengir. Mungkin kesambar hot barusan.
Akas mengambilkan minuman dingin dari kulkas yang memang sengaja disediakan untuk beverages para tamu bisnis. Sambil menenteng empat teh botol dingin, Akas meminta bantuan ke seorang pekerja yang kebetulan melintas, “Tolong ambilkan roti, banyakin yang cokelat.”
Yayang nyengir, untung nggak ngibul soal cokelat di awal tadi.
Obrolan pun berlanjut. Akas tersenyum melihat teman lamanya beneran doyan roti coklat. Kelihatan alami lahapnya, atau sedang lapar?Namun, selang sesaat Yayang sadar kalau dirinya sengaja dibawa muter-muter oleh Akas. Langsung ngerem dia, balik lagi ke misi pentingnya itu.
“Jadi, gimana tawaranku? Diterima, kan?”
Akas mesem lagi, “Pertanyaannya sederhana, Yang. Buat apa?”
“Buat apa? Apanya yang buat apa? Yang juragan roti kan kamu? Masak aku yang harus jawab?” Yayang mendelik, tahu kalau Akas sedang menggodanya lagi. Mana ada usahawan tidak tahu kegunaan kredit bank?”
“Bantu mikirinnya dong. Bingung, nih....”
“Haah, capek debat sama kamu. Pantasan dulu dibuang sama bos.”
Yayang meringis. Mungkin iya enakan punya usaha sendiri. Tapi, kalau nggak ada bakat, gimana? Lagian, kepala seksi Iho ini. Bukan posisi sembarangan di cabang. Kalau skala negara, berarti setara dirjen. Anggap kepala cabang sebagai presiden, berarti kepala bagian adalah menteri. Maka, kepala seksi setingkat direktur jenderal. Iya, kan? Nah, apa kurang seksi? Seksi sekalilah....
“Begini, Yang..., terus terang aku sudah cukup dengan yang ada. Dengan ini, anak istriku sudah bisa makan. Mau apa lagi?"
Yayang geleng-geleng kepala, “Sejak kapan adanya cukup itu? Ini bukan tentang cukup nggak cukup, Kas. Kamu kan bisnismen, wajar dong kalau membesarkan usahamu. Sekolah saja ada naik kelasnya, masak bisnis nggak?”
“Lha, ini kan sudah naik kelas? Dulu tertindas sekarang menindas,” Akas nyengir. “Bayangkan, Pak ‘kepala seksi’ Yayang saja rela bersusah payah datang ke sini tanpa diwakilkan. Hebat, nggak? Hehehe....”
“Ah, sialan kamu,” Yayang balas nyerengeh. Soalnya mereka dulu sering diskusi soal tindas-menindas. Padahal, dia yang kala itu ngotot berkesimpulan bahwa mereka yang seperti robot mengerjakan rutinitas pagawean adalah “kaum tertindas", sementara para atasan jadi “bangsa penindasnya”. Sekarang, ceritanya dia sudah termasuk “bangsa penindas", tapi kok rasanya masih kena “ditindas” juragan roti? Masak iya juragan roti lebih seksi dari kepala seksi?
“Sudah. Pokoknya, atas nama bank kita, aku mau kasih kamu utangan dan ini harus diterima dengan lapang dada,” sambung Yayang, lanjut ke jumlah dana pinjaman yang ditawarkan itu.
Akas kaget juga, “Besar amat? Nggak salah sebut kamu?"
“Nah, ini..., ini penyakit lamanya. Kurang pergaulan modern, maunya ngobrol sama golongan Kyai melulu, sih. Masih begitu sekarang?”
Akas nyerengeh.
“Masih nggak?" kejar Yayang.
“Apaan?”
“Bermesra-mesraan dengan Kyai-Kyai tua....”
__ADS_1
“Hehehe..., memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma, gimana ceritanya ada juragan roti sampai nggak tahu kisaran kredit masa kini? Apa dikiranya masih zaman Secang?"
Maka, mereka kembali tertawa-tawa. Soalnya, kesambat Secang lagi.
“Gimana? Terima, ya?” Yayang nembak, usai tawa.
“Aku nggak punya jaminannya.”
“Ini?” telunjuk Yayang nunjuk-nunjuk.
“Pabriknya memang punyaku, tapi tanahnya bukan. Pinjaman mertua.”
“Nggak masalah. Asal dapat dukungan dari bapaknya Asih.”
Akas nyerengeh dapat persiapan alasan untuk menolak. Namun, Yayang sigap melihat perubahan wajah teman lamanya itu. Tahu dia kalau Akas punya ide untuk mengelak.
“Misalnya mertua nggak bersedia, pakai personal bisa. Malah lebih gampang urusannya,” celetuk Yayang, sambil agak melotot ke teman lama yang dulu meja kerjanya berhadap-hadapan.
Akas yang sedang nyerengeh, ganti agak mendelik.
“Memangnya sekarang kepala seksi bisa kasih personal guarantee?” dia bertanya. Setahunya, dulu tidak bisa.
Yayang menggeleng, “Tapi, urusan gampang itu. Tinggal ngomong yang lezat ke kepala cabang. Siram pakai bumbu saus tiram, beres dah.”
Akas garuk-garuk kepala. Yang barusan dibilang Yayang banyak benarnya. Waduh, jadi rada-rada suram ide cemerlang tadi.
“Sudah, terima saja. Percuma menghindar. Heran aku, zaman sekarang masih ada orang yang menghindar mau dikasih duit," gerutu Yayang.
“Dikasih apaan? Beban iya...,” Akas balas menggerutu.
“Hehehe...,” Yayang terkekeh senang. “Pokoknya aku kasih duit, selanjutnya terserah kamu mau diapakan. Yang penting bayar angsurannya tepat waktu, sekalian kembang, hehehe....”
Akas garuk-garuk kepala lagi. Yayang pun lanjut tertawa.
Itulah kesimpulan sementaranya. Sebab, Akas tetap harus berkonfirmasi dulu ke mertuanya. Yayang tidak bisa neken lagi di sini, tapi terus-terusan bilang soal personal guarantee tadi. Biasa, bentuk penekenan lain. Iyalah, Akas paham kalau teman lama yang masih ber-serepet jebret ini sedang dikejar target. Jelas tidak nyaman rasanya diuber-uber begituan. Sebab, target macam ini selalu disertai ancaman senyap, “Kalau gagal, awas lu...!” begitu kira-kira bunyinya. Siap-siaplah dimutasi ke ujungnya Magelang yang tidak tampak di peta kabupaten. Atau, jika dianggap berlebihan gagalnya, bisa-bisa di-cut off langsung sekalian.
Perbincangan ini masih berlangsung beberapa saat, hingga akhirnya Yayang pamit. Masih ada calon debitur lain yang mesti dirayu katanya.
Beres Yayang, Akas menghampiri Edi yang belum beres juga acara masuk-masukin rotinya. Dia yang biasanya cekatan itu, sekarang lelet permainannya. Pakai gaya menerawang segala, sambil mesam-mesem sendiri.
“Ed, kok belum berangkat?”
Edi yang sedang agak melamun itu kaget, lalu nyerengeh. “Motornya masuk angin, Pak, nggak mau distater,” kilahnya.
“Kapan kamu starter? Dari tadi nggak kedengaran suaranya?”
Edi makin nyerengeh, lalu menstarter motor bebeknya. Bruum...! Langsung nyamber. “Lho, sembuh? Hehehe...,” dia terkekeh. “Mari, Pak...,” Edi mengangguk kecil. Bebek bermesin 70cc yang katanya masuk angin itu pun melesat giras, ditunggangi ' joki yang kembali cengengesan penuh arti.
Akas tersenyum....
__ADS_1