
“Boleh. Lengkap kok surat-suratnya,” ujar Kyai Sanusi.
Walau harapan Akas dalam urusan ini terus terang antara iya dan tidak, namun terpana juga dia mendengar mertuanya enteng berkata boleh. “Tapi, apa nggak termasuk riba, Pak”
Kyai Sanusi nyengir, “Sistemnya saat ini memang Yahudi. Kalau duitnya dari rentenir malah lebih Yahudi lagi, sama aslinya. Kamu yang butuh duit, terserah kamu. Putuskanlah sendiri. Kamu dulu juga kerja di bank, kan?”
Akas ganti meringis. Kena deh....
“Kembalikan ke niatnya saja. Tanya dirimu, Yahudi apa bukan kamu ini. Kita paham, Allah memandang hati, bukan semata-mata luarnya. Yahudi yang dipuji oleh Rasulullah juga ada Iho, walau cuma segelintir.”
Akas manggut-manggut. Niatnya membantu Yayang. Seberapa pun ini pasti bernilai bantuan baginya yang sedang diburu target.
“Menurut Bapak, memang sudah waktunya usahamu ini dibesarkan. Kalau lebih besar, mungkin lebih banyak orang bisa ikut kerja di sini, kan? Bagus itu,” Kyai Sanusi berkomentar positif.
Akas lanjut mengangguk-angguk. “Kalau pakai duit tabungan gimana, Sih?” dia iseng bertanya.
“Nggak boleh. Itu untuk beli rumah,” sambar Asih, tegas nian.
Suaminya meringis. Ayahnya pura-pura tidak dengar, nengok ke jurusan lain sambil meringis juga. Asih tersenyum memandang dua dari lima pria kesayangannya meringis kuadrat. Yang tiga, para Power Rangers jagoan pedang itu.
Ya sudah. Rezekinya Yayang ini....
Maka, tidak sampai dua minggu berselang, dana talangan “berkembang” itu pun mengucur dari langit. Pak “kepala seksi" Yayang mengucap banyak terima kasih. Serepet jebret-nya pas hari akad kredit, mantap sekali.
Tapi, Edi tidak ambil pusing dengan kesalahan ini. Yang penting kesemprot dua arah. Dari bank dan dari juragan. Maka, tidak berlaku lagi skala prioritas. Embat serentak, ya meubel ya motor. Lalu, di bagian spakbor belakang bebek anyarnya itu ditempeli stiker kuning menyala bertulis, “Bukan Hasil Korupsi Babe Gue!” Nyebelin juga, entah nemu di mana dia. Ngakunya sih karya sendiri, bikin di tempat temannya yang punya usaha bikin-bikin stiker.
Ono-ono wae....
***
Di balik keriuhan dunia luar itu, dimensi spiritual Akas semakin melarut bersama dzikirnya. Dzikir Cahaya dan dzikit Qolbi itu terus mengalun syahdu dalam hakikat rasa. Keduanya tidak terhalang oleh aktivitas lahiriah. Luarnya jalan, dalamnya pun jalan. Saat tertawa-tawa bareng Yayang beberapa waktu lalu itu, ingatannya kepada Allah terus melantun. Entah kalau sang kawan....
Ayat-ayat suci al-Qur’anul karim semakin banyak yang membuka. Untuk sementara, petunjuk-petunjuk ini disimpan bagi dirinya sendiri. Sesuai amanat sang guru, “Janganlah merasa berhak memberi tahu tanpa hak-Nya. Kelak kamu akan tahu kapan haknya menyampaikan. Sekarang, diamlah dulu. Semakin mampu menyimpan rahasia-Nya, semakin baik. Dan, semakin banyak datang.” Kala menerima amanat ini, Akas langsung paham. Sebab, mulut memang serasa terkunci rapat. Segan betul dia ngecap koar tentang ini. Segan yang luar biasa segannya.
Namun, yang maujud dari Yang Wujud itu belum berkenan menyapa. Kalau sedang dipandang oleh Akas, rasanya mereka nyamber-nyamber, tapi belum jelas maknanya. Sekelebat-sekelebat saja begitu. Namun, Akas tidak jemu memandang. Sebab, memandangnya dengan “cinta”. Pakai hati. Maka, pandang tak jemu yang ada. Seperti lagunya, yang hitam manis itu....
Pagi menjelang siang ini, “Mas, ada Ci Alin,” Asih berbisik pelan.
Akas yang sedang syahdu memandang para “hitam manis” bagian dari pembangunan sarana fisik perluasan usahanya itu menoleh, “Alin ke sini?”
__ADS_1
Asih mengangguk, “Kasihan, Mas, kusut sekali wajahnya.”
Akas pun segera beranjak ke ruang tamu. Kata Asih, Alin menunggu di sana. Sendirian, tidak bareng suaminya....
“Selamat siang, Ci. Apa kabar?” sapanya, tersenyum.
Alin mengangkat wajah, balas tersenyum miris, “Beginilah, Pak Kas. Kalau saya bilang baik, jelas bohong.”
Akas mengangguk-angguk paham. Dia menyalami Alin, lalu duduk di kursi situ. Asih juga turut.
“Pak Kas, saya mengganggu nggak?" tanya adiknya AMing ini.
“Tidak ada kata terganggu buat saya, bagi keluarganya Enci. Jangan sungkan. Ada apa? Mungkin ada yang bisa saya bantu?”
Alin tersenyum kecut, lalu terdiam agak lama.
“Ci, ada apa?” tanya Akas, pelan.
Alin menatap mantan “manajer” pabrik rotinya zaman mama masih ada, lalu mulai bertutur. Kisah sedih ternyata sebagaimana telah diduga. Intinya, Alin bilang bahwa pernikahannya sudah sulit dipertahankan. Sebab, kelakuan si jagoan neon telah sangat keterlaluan. “Dia berani bawa perempuan ke rumah,” desahnya, lalu menangis sesenggukan.
Akas menghela napas panjang. Asih beranjak mendekap Alin. Makin tumpahlah tangis putri Cina ini dalam dekapan Asih. Akas menatap adegan ini dengan perasaan yang terbawa serta.
“Seperti itulah, Pak Kas, Mbak Asih. Sudah saya bicarakan panjang lebar sama Koko di Palembang, kami sepakat akan menjual pabrik ini,” ujarnya, pelan.
Akas kaget juga, “Mau dijual?”
“Iya, daripada keburu diambil alih keluarga pencoleng itu. Seperti dua ruko yang di Cikampek.”
“Diambil alih?” Akas terkejut lagi.
Alin mengangguk, “Toko itu sekarang atas nama mereka.”
“Kok bisa?”
Alin terdiam, air matanya mengembang lagi, “Nggak tahu, Pak Kas. Kayaknya saya memang nggak mampu menjaganya. Tadinya, surat-surat ruko itu dipinjam untuk jaminan kredit. Tapi, kongkalikong adanya. Kredit itu sengaja dibikin macet. Pasti macet karena uangnya memang tidak diputar. Rukonya disita, terus ceritanya dibeli oleh keluarga mereka pakai duit kreditan itu sendiri. Dibolak-balik saja aliran duitnya. Murah banget, macam obral loakan. Nggak ada pengumuman lelangnya juga, tahu-tahu sudah jadi milik mereka. Seperti itu garis besarnya. Akal-akalan detilnya, saya nggak terlalu paham.”
Akas geleng-geleng kepala. Macam kisah kanibal saja ini, “Cina makan Cina”. Seperti jeruk makan jeruk, atau susu minum susu....
“Sudah ada yang siap beli pabrik itu, tapi Koko minta supaya ditawarkan dulu ke Pak Kas. Kalau Pak Kas mau, biarlah buat Pak Kas. Kalau tidak, tidak apa-apa,” Alin melanjutkan keterangannya.
__ADS_1
Akas menghela napas. “Kalau tentang mau, siapa yang tidak mau? Tapi, berapa harganya?” dia bertanya.
Alin mesem sedih, “Sudah dihitung-hitung sama yang tahu caranya menghitung, tanah sekalian bangunan pabrik dan rumah jatuhnya satu koma tujuh miliar. Kami buka harga di situ.”
Akas narik napas lagi. Satu koma tujuh miliar..., berapa karung duit itu? Misalnya semua aset Kyai Sanusi plus perkakas pabrik roti ini digulung, yakin tidak tembus seperlimanya. Pun setelah ditambah semua tabungan Asih.
“Berat ya, Pak Kas?” Alin mesem, sedihnya masih menggantung.
“Itulah, Ci. Terus terang nggak kebayang ini.”
Alin tertawa pelan, “Jangan dipaksakan, Pak Kas. Si Koko juga ada-ada saja sih. Tapi, dia memang pengagum beratnya Pak Kas lho. Nggak tahu tuh, kayak jatuh cinta gitu. Dia bilang, seandainya punya kakak, maunya yang kayak Pak Kas.”
Akas ikut tertawa. Ono-ono wae AMing.
Asih yang tadi masuk ke dalam, muncul membawa suguhan. Sejenak mereka menikmati suguhan yang tersedia, lalu Alin lanjut bertutur....
“Masih sehubungan dengan ini semua, sebenarnya kami mau minta bantuan ke Pak Kas. Sebab kami, saya khususnya, tidak tahu mesti minta ke siapa,” ujarnya.
“Sepanjang bisa, akan saya bantu,” sahut Akas.
Alin tersenyum, “Begini, Pak Kas. Koko sedang sakit....”
“Ko AMing sakit?” Akas menyela.
“Iya, sudah hampir sebulan diopname di rumah sakit. Kata dokter, ada masalah di ginjalnya. Tapi, sudah ditangani, tinggal masa penyembuhan.”
Akas manggut-manggut.
“Ko AKim juga sakit,” Alin melanjutkan.
“Lah, sakit juga jagoan itu? Katanya anti sakit? Sakit apa?" Alin tersenyum.
Dulu, AKim memang sering sesumbar bilang kalau dirinya anti sakit. Faktanya ketika itu memang jarang sakit. Paling cuma masuk angin.
“Tabrakan, kakinya patah. Sudah ditangani juga. Sama seperti Ko AMing, sedang masa penyembuhan. Tapi, kakinya masih digips,” ujar Alin.
Akas geleng-geleng kepala, “Tabrakan gimana?"
“Sedang kebut-kebutan, nabrak sapi nyebrang. Motor sama sapinya sih nggak apa-apa, Ko AKimnya yang mental ke selokan. Patahlah kakinya.”
__ADS_1
Akas menggeleng-geleng lagi. Tidak banyak berubah si AKim di Sidoarjo sana. Masih kekanak-kanakan juga. Ampun, ampun....