
“Jadi, gimana cerita aslinya ini?” tanya si Arab putih, usai jeda makan bakso.
Karena dipaksa terus, akhirnya Akas menceritakan apa yang terjadi di rumah kakeknya lima hari lalu. Sekalian yang di rasakan setelah itu.
“Oo, jadi ceritanya kamu sekarang mau jadi Kristen pol-polan, gitu?” tembak anaknya Tuan Kasim ini.
Akas nyengir. Istilahnya itu Iho, pakai pol-polan segala.
“Iya?” Arabi menuntut jawab.
“Yaa, gitulah. Habis, mau gimana lagi?”
“Oo, begitu? Musuhan kita?” tanya Arabi, nada suaranya meninggi.
Akas langsung menatap karibnya, terus terang terkesiap juga. Soalnya terdengar seperti marah. Ternyata tidak, Arabi malah nyengir kuda. Berarti sekadar bercanda soal musuhan barusan, kirain beneran ngajak perang.
“Sama sajalah, Rab. Sana sini, gitu-gitu juga,” jawab Akas.
“Tahan, tahan, sama katamu? Sebelah mana samanya?”
“Sama-sama agama, kan? Sama-sama ngajarin berbuat baik.”
“Yee, kamu ini. Semua agama, ceritanya pasti ngajarin yang baik-baik. Mana ada yang ngajarin buruk-buruk. Nggak usah pakai agamalah, komunis juga ceritanya baik, enak didengar. Nggak percaya? Tanya orang Soviet sana.”
“Gayamu..., Soviet-sovietan. Emang tahu di mana?”
“Tahu,” jawab Arabi, nyengir kuda.
“Di mana?” Akas mendelik.
“Ya di sanalah. Pokoknya ada di sana. Jauh, hehehe....”
Akas ikut terkekeh. Sialan, jauh katanya.
Perbincangan dua sahabat ini pun berlanjut, soal agama. Akas aktif menyanggah argumen-argumen Arabi.
Niatnya iseng saja, biar kelihatannya pinteran gitu. Masak kalah sama si Arab putih? Kalah juga nggak apa-apa sih, asal jangan telak dong. Malu-maluin....
“Begitu, Kas. Agama itu luas, bukan cuma soal mengajarkan baik-buruk saja. Agama itu berdasarkan keimanan. Keimanan itu sesuatu yang harus benar-benar diyakini, nggak bisa setengah-setengah.”
Akas manggut-mangegut. Perasaan tadi berbalas pantun mereka sudah jauh. Entah gimana kok bisa balik lagi ke soal “sama-sama mengajarkan kebaikan” itu. Mengait pula dengan soal “sesuatu yang benar-benar diyakini” tadi.
“Terus, gimana?” kejar si bungsu, nadanya nantang. Maksudnya biar Arabi ketiban bingung sendiri dengan pernyataannya barusan. Seperti teknik bela diri Judo, membanting dengan tenaga lawan, hehehe....
“Ya, gitu. Kamu yakin nggak sama pilihanmu ini?”
“Oo, yakin dong.”
“Beneran?”
Akas mengangguk, mantap gerakannya.
“Jadi, kamu yakin bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?”
Mestinya, Akas tidak perlu kaget. Apa yang dikagetkan? Bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, demikian adanya menurut keimanan Kristen, tidak terbantahkan. Namun, kenyataannya dia tersentak. Bukan dibuat-buat, benar-benar terperanjat. Seolah, Jebret! Seutas cambuk petir menyambarnya di siang yang cerah ini....
__ADS_1
“He? Kok malah bengong?” tanya Arabi.
Akas memandang karibnya dengan tatapan bengong. Bagaimana bisa? Mengapa yang tidak terbantahkan itu kini tiba-tiba kerasa hambar? Serasa kehilangan tenaga. Padahal, sebelumnya tidak pernah begini, walau bukan juga artinya meluap-luap. Biasa-biasa saja. Katanya begitu, ya sudah..., Akas menerimanya. Sekarang, kenapa jadi susah diterima? Kenapa suara hatinya menentang? Demi kebenaran, bukan sengaja dimunculkan penentangan ini. Muncul sendiri, lalu bergumul dalam keraguannya yang sekonyong-konyong menggunung. Benarkah Yesus Kristus adalah Tuhan? Benarkah keberadaan Tuhan yang dianakkan oleh manusia? Benarkah ayahnya Allah? Semacam pangeran?
Maka, Akas pun menunduk sambil menggeleng-geleng pelan....
“Hoi, Kas? Kenapa kamu? Kok malah geleng-geleng? Wah nggak bener ini. Nggak bener, nggak bener,” Arabi menggeleng. geleng juga.
Akas mengangkat wajah, kembali menatap kosong ke arah karibnya.
“Apa lihat-lihat? Kamu nggak yakin, ya? Iya, kan?” tembak si Arab putih sambil agak nyerengeh.
Akas menghela napas, lalu menunduk lagi.
“Kas, kalau kamu nggak bisa yakin itu, jangan diteruskan. Nggak bakal benar Kristenmu juga. Kasihan Pater Jo,” ujar Arabi, pelan.
“Terus, aku mesti gimana?”
“Nggak tahu aku. Pokoknya kalau Kristen, nggak bakal benar Kristenmu. Lha kamu nggak yakin sama dasarnya. Orang Kristen itu harus yakin penuh bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Titik, nggak pakai koma-komaan.”
“Tapi, kan bisa saja munculnya nanti?”
“Apanya?”
“Keyakinan itu....”
“Hehehe..., nggak ada dari sananya. Nanti itu pembagusannya, bukan adanya. Adanya sudah harus di depan dong. Sudah ada bahannya, baru digosok sampai mengkilat. Jadilah intan yang berkilau. Kalau bahannya saya nggak ada, apa yang mau digosok? Berharap nemu yang sudah jadi di jalan, gitu? Ora ono, Mas...?
“Terus, gimana?”
“Apanya?”
“Iya apanya, Kas? Aku gimana aku gimana itu, maksudmu apa?”
Akas meringis kecut, sadar kalau pertanyaannya kurang jelas.
“Maksudku, kalau Islam gimana?” dia memperjelas gimananya.
“Ya, terserah kamu. Kamu kan dulu kadang-kadang Islam,” Arabi nyengir. “Wong Jum’atan bareng aku. Lebaran juga ikut, sambung Natalan, hehehe....”
Terpaksa Akas ikut meringis, masih berasa kecut tentu.
“Kamu enak, Rab...,” gumamnya.
“Enak apanya?”
“Bapakmu Arab, ibumu Arab. Lahir kamu, mancung juga. Langsung blegedeg Islam, wong nggak ada pilihan lain.”
“Hahaha...,” Arabi ngakak. “Lha, kamu kan sama?”
“Di mana samanya?”
“Bapakmu Islam, mbahmu Islam. Lahir kamu, bingung jadinya. Soalnya, Bulik Haryati Kristen, hahaha...,” Arabi melanjutkan tawanya.
Akas nyerengeh. “Sialan, ibuku yang cantik dibawa-bawa,” ucapnya dalam hati. Dulu, keluarga Tuan Salim, termasuk jajaran paman dan tantenya Arabi yang seabreg itu, adalah pelanggan Haryati untuk urusan perkainan.
__ADS_1
Selanjutnya, perbincangan mereka pun merambah “dunia Islam”. Arabi yang ceramah, Akas menyimak. Sesekali dia bertanya atau mendebat, supaya hidup diskusinya. Terus terang, inilah perbincangan Islam paling mendalam yang pertama dilakukan Akas. Sebelumnya, tidak atau tepatnya belum sempat. Baik dengan ayahnya, kakeknya, maupun orang lain. Maka, dia banyak melongo sekarang. Sebab, walau belum jelas sepenuhnya, konsep Islam yang dikabarkan Arabi ternyata lebih bisa diterima akalnya, tidak menabrak logika. Karenanya, meresap pula ke dalam hatinya. Seperti air sejuk mengaliri ladang gersang....
“Sebentar, Rab. Jadi, Nabi Muhammad itu bukan Tuhan?” tanya Akas. Soalnya, menurutnya “kasus” ini mirip dengan Yesus Kristus. Yang kata Arabi tadi Nabi Isa kalau di ajaran Islam.
“Bukan. Nabi Muhammad itu Rasulullah, utusan Allah. Sama seperti Nabi Isa alaihi salam,” jawab si Arab putih.
“Lha, terus Tuhannya siapa?” Akas mengejar.
“Hehehe..., ya Allah. Sama seperti Tuhannya Nabi Isa.”
“Di Kristen kan juga ada Tuhan Allah?” sanggah si bungsu, dengan pengucapan Allah yang Alah, sebagaimana lazimnya umat Nasrani.
“Iya,” jawab Arabi santai.
“Sama, kan?”
Arabi menggeleng sambil meringis. “Kalau Allah, satu. Tunggal, Esa, Ahad. Tidak beranak dan tidak diperanakkan,” jawabnya tegas.
Akas menghela napas. Jelas banget bedanya di sini.
“Jadi, orang Islam nyembahnya ke Alah saja?” dia bertanya lagi.
Arabi mengangguk. “Allah,” ujarnya, membenarkan pengucapan sahabat.
“He-eh, maksudku Allah. ..,” Akas mendesah. Bergetar terasa hatinya menyebut kata Allah. Mungkin karena biasa Alah selama ini.
Hening pun menyergap agak lama....
“Itu dasarnya,” Arabi membuka forum lagi. “Yang mau Islam, harus punya yakin dulu bahwa Tuhan itu Allah. Satu, Esa, Tunggal, Ahad. Siji, kalau boso Jowo. Tidak ada duanya, apalagi tiga atau empat. Dan, Nabi Muhammad adalah Rasulullah, utusan Allah. Nah, modal yakin ini harus ada dulu, walau mungkin belum mengkilat. Nanti digosok sambil jalan. Kalau nggak ada itu, nggak usah Islam-islamanlah. Sama juga di Kristen, harus punya yakin dulu bahwa Yesus Kristus itu Tuhan. Ada Tuhan Alah, ada Tuhan Yesus, dan ada Roh Kudus. Kalau nggak puny yakin ini, jangan jadi Kristen. Percuma....”
Akas menghela napas panjang, lalu menunduk dalam.
“Kas, jangan kusut gitu dong. Aku jadi nggak enak nih,” ujar Arabi.
Akas mengangkat wajah, meringis kecut, lalu garuk-garuk kepala.
“Ada pertanyaan lagi, nggak?” tanya si Arab putih.
“Katamu tadi, Yesus Kristus juga utusan Allah, kan?” Akas mengeluarkan unek-uneknya.
Arabi mengangguk.
“Terus, apa bedanya dengan Nabi Muhammad?”
Arabi meringis sekarang, “Sama. Sama-sama manusia, hehehe...”
“Ah, kamu ini. Serius aku...,” si bungsu protes.
“Oke, oke. Tapi, apa pertanyaannya?”
“Begini, kalau sama-sama utusan Allah, sama juga dong ajarannya? Iya, kan? Wong sumbernya sama....”
“Hehehe..., mulai pintar kamu. Benar itu, ajaran agama memang bukan karangan nabi. Tugas nabi adalah menyampaikan, bukan menciptakan. Agama itu sepenuhnya milik Allah. Bukan hak manusia dan segala makhluk lainnya. Sampai di sini, bisa ketangkap nggak?” tanya Arabi.
Akas diam sejenak, lalu mengangguk. Ngertilah sedikit-sedikit.
__ADS_1
“Mau diterusin?” pancing Arabi.
Akas mengangguk.