
Hingga pada suatu titik, Akas merasa jenuh. Jenuh yang benar-benar pol penuhnya. Sesak bin padat rasanya. Dis berpikir, mungkin perlu istirahat sejenak dari pencarian ini. Bukan disudahi, sebab baginya tidak mungkin disudahi. Harinya pasti akan menuntut kembali. Sekadar diistirahatkan. Soalnya, telah sekian tahun dia mencari. Dan, tidak ada petunjuk sKyai sekali....
Dalam masa reses ini, Akas banyak tafakkur di masjid. Lebih banyak dari biasanya. Merenungi diri, merenungi apa yang telah dilalui, sambil sesekali mengenang masa-masa “berburu” Asih dulu. Biasa, ditemani Kang Idung yang telah semakin tua, giginya tinggal dua. Kang Arkam sudah tidak di sini, pindah ke Jogja, mengajar di sebuah pesantren di sana. Ajakan dunia pergaiban dari para sohib, dia tolak. Tentu mereka memaksa, tapi Akas keukeuh menolak. Pokoknya, nggak. Bahasa gaulnya, “Sorry men, gue lagi bete....”
Sore itu, bakda ashar, Akas duduk mendengar telaah fiqh yang disampaikan salah seorang sepuh. Kyai Sanusi, Kyai Kholil, dan beberapa sepuh yang lain tampak hadir di sini. Sambil menyimak ulasan yang serupa dengan yang lalu-lalu itu, dia berdzikir. Tasbih kesayangannya terputar syahdu di jemari tangan kanan. Kalimat tauhid la ilaha illallah, ditekan masuk ke dalam hati.
Pelan-pelan, kenangannya melanglang ke Batu Raden, menyambangi almarhum kakeknya. “Mbah, piye iki? Mana gurunya?” setengah iseng, batinnya bertanya. Lalu, “Jangan tanya Mbah, tanya sKyai Yang Punya,” seketika sebentuk jawaban terasa menghunjam hatinya. Akas terperanjat. Luar biasa, nyata sekali rasanya itu. “Mbah, Mbah...,” dia berusaha mengontak lagi, namun tidak ada jawaban. Dicoba beberapa kali, tetap tidak terhubung. Duh....
Sejenak, Akas menenangkan diri. Setelah lebih tenang, dia mengingat-ingat pesan “Mbah Bagyo” barusan. “Tanya sKyai Yang Punya? Apa maksudnya?” Akas merenung. Lalu, “Allah,” ujarnya tersadar, seiring air mata yang tiba-tiba terasa mengumpul di kelopak. “Allah...,” dia mendesah lagi. Itulah Dia menurutnya, itulah yang dimaksud oleh sang kakek. Bertanya langsung kepada Allah. Bukankah, Dia Sang Maha Pemilik? Dia yang punya segalanya?
Maka, Akas pun “bertanya” kepada-Nya. Namun setelah sekian banyak tanya terkirim saat itu, tidak datang jawaban dari-Nya. Maksudnya, tidak ada jawaban menghunjam hati seperti “SMS" Mbah Bagyo tadi. Akas menghela napas panjang “Ya Allah, mengapa? Belum pantaskah aku? Terlalu tebalkah dosaku?" rintihnya dalam hati. Lalu, dia pun terus bertanya...
“Sekian cerKyaih dari saya, wassalamu'alaikum,” ujar sang sepuh, menutup majelisnya. “Wa'alaikumsalam,” sahut semua, termasuk Akas yang sesaat itu masih menunduk. Lalu, di mengangkat wajah, tampak para cowok seusianya dulu berebut menyalami jajaran sepuh. Akas menghela napas lagi. Rasanya, seperti baru kemarin.
Bagi yang sudah termasuk angkaran lalu, sabar menunggu giliran salaman. Belakangan saja, tidak main kebut-kebutan seperti dulu. Soalnya, buntut sudah empat. Sambil memutar kaset kenangannya, Akas memandang untel-untelan generasi penerus di depan sana. Lalu, tanpa sengaja, pandangannya kepentok dengan tatapan Kyai Kholil. Beliau tersenyum, cepat-cepat Akas membalas sambil mengangguk. Kemudian, saat tiba gilirannya menyalami para sepuh, Kyai Kholil tersenyum lagi kepadanya. Dan, Akas pun kembali menyahut. Senyum-senyumanlah mereka, seperti berbalas pantun tanpa kata-kata.
__ADS_1
Lanjut maghrib, sampai isya. Bakda isya, Kyai Sanusi menghampiri menantu kesayangannya. “Kas, tolong pintu, ya? Bapak mau langsung ke rumah Kyai Kholil. Kalau kamu ngantuk, kasih tahu Asih," ujarnya.
“Iya, Pak,” jawab sang menantu. Paham maksudnya.
Tidak selang lama, tampak sebagian sepuh pergi ke rumah Kyai Kholil, bareng Kyai Kholilnya sekalian. Memang rutin begitu setiap malam Senin. Dulu Akas sudah bertanya perihal ini ke Kang Idung, katanya di sana beliau-beliau mengaji lagi. Semacam pengajian khusus sepuh, gitulah. Bayangan Akas, pasti kajian fiqh juga untuk “tingkatan profesor”. Kesimpulannya, nggak kena.
Maka, Akas pun manteng di pelataran Masjid Agung, memutar tasbih. Rasanya, lagi pengen dzikir, sedang lebih ingin daripada biasanya. Lagian tanggung, nanti saja baliknya menjelang mertua pulang dari pengajian sepuh. Biasanya sekitar pukul sebelas malam. Maka, sang elang yang sedang resah ini lanjut melantun Ia ilaha illallah di dalam hati, sambil terus mengirim tanya kepada Yang Punya. Siapa tahu datang jawaban dari-Nya. Namun, hingga akhirnya dia pulang, yang diharap itu tak jua menjelang.
***
Paginya, bakda shalat Subuh, Akas berbincang dengan mertua di ruang tamu. Obrolan pagi yang ngalor-ngidul itu, ditemani kopi panas seduhan Asih. Lalu, iseng dia bertanya, “Pak, kalau di Kyai Kholil, ngaji apa sih?”
“Susahnya gimana?”
“Yaa, susah saja ilmunya Kyai Kholil. Bapak juga nggak sanggup.”
__ADS_1
“Gimana itu, Pak?” kejar Akas, penasaran.
“Alaah, kamu nggak bakal bisa,” sanggah mertua kesayangan ini.
Akas meringis, “Bisa nggak bisa, kan mesti tahu dulu, Pak. Gimana bisa tahu susah apa nggak susah, kalau nggak tahu?”
“Ah, kamu ini. Ilmunya Kyai Kholil itu sepertinya gampang tapi susah. Beneran susahnya. Bapak sudah coba dari dulu, sampai sekarang nggak bisa-bisa.”
“Oo, kayak apa itu, Pak?” Akas terus mengejar. Soalnya, makin penasaran. Kok bisa mertuanya yang hafizh, hafal alOur'an, dan jago kitab gundul berkata susah? Susah yang seperti apa ini?
“Gimana, ya? Intinya, ilmu Kyai Kholil itu adalah kita nggak boleh lupa kepada Allah sekejap pun. Harus ingat Allah terus. Langgeng ingatannya, dalam keadaan apa pun. Seperti bunyi “ngeeenggg. ..” yang nggak terputus, kalau dibunyikan. Tapi, nggak ada bunyinya begitu Iho. Sekedar ibarat.”
Hah?! Akas tersentak kaget, kaget sekali! Tapi, dia masih punya sadar untuk tidak memperlihatkan keterkejutan yang menyengat ini. Sambil terus mendengarkan penjelasan mertua tentang ilmunya Kyai Kholil itu, sekuatnya dia menenangkan diri. Tampaknya berhasil, sang mertua tidak menyadari keterpanaan menantunya. Padahal, tubuh Akas nyata bergetar pelan, keringat dingin terasa merembes di sekitar tengkuk, dan napasnya pun ngos-ngosan seolah usai lari pagi.
“Seperti itulah. Ilmunya Kyai Kholil itu ilmu tua, tauhid murni. Untuk itu, orang harus dibaiat dulu, harus disumpah atas nama Allah. Nggak boleh sembarangan, sebab jelas ini bukan ilmu sembarangan dan bukan untuk sembarang orang. Hanya pewarisnya yang sanggup menembus. Yang bukan, mungkin sekedar sampai kulitnya saja. Kulitnya pun sudah ampun-ampunan itu. Kalau bisa sampai segitu, sudah terhitung bagus,” ujar Kyai Sanusi, pelan.
__ADS_1
Akas mengangguk-angguk diam, terus mengendalikan diri. Susah nian rasanya membuka mulut. Seolah bibirnya direkat dengan lem keras. Untungnya, muncul si bungsu Wulan yang sudah cantik. Sudah dimandikan dan didandani kuncir dua oleh mamanya. Biasa, mau dioper sebentar ke kakeknya untuk diajak jalan-jalan pagi keliling kampung. Mamanya juga perlu waktu untuk berdandan, bukan?
Maka, tanpa babibu lagi, sang kakek segera menyambar cucunya yang sudah siap tempur. Jalan-jalan pagi bareng cucu, memang salah satu kegiatan yang disukai Kyai Sanusi. Apalagi, album keempat ini kan ayu seperti mamanya. Layak dipamerkan kepada mereka yang dijumpainya di jalan. Atau, diadu dengan cucu teman-temannya, cucu para kakek warga Kaum yang lain. Biasa, aduan nyanyi, aduan joged, atau sekadar dijajarkan untuk dinilai cakep-cantiknya. Mungkin orang memang sukanya begitu kalau sudah kakek-kakek.