Selamat Jalan

Selamat Jalan
65. murid sunan Kalijaga


__ADS_3

Itulah pertamanya. Segala kehendak adalah kehendak-Nya, maka Dia-lah juga yang berkehendak atas kenyataan bahwa “Laksamana Cheng Ho” from Batu Raden ini ber-haqullah mursyid. Akas “diserahi” tugas membimbing umat dalam tataran hakikat. Sebuah tataran untuk mampu mengenal diri, agar mengenal Tuhan. Sebagaimana hadits Nabi Saw., man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu, yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.


Beberapa waktu kemudian, datang Dores. Namanya memang itu walau dia pemuda lokal. Mungkin ayahnya fans musisi Dedi Dores. Dia temannya Dayat, kasusnya pun sama, ingin tenang. Dulu, mereka mengaku sering berdiskusi tentang bagaimana caranya supaya bisa tenang ini. Pakai nyasar-nyasar juga ke dunia pergaiban sebagaimana halnya sang guru. Padahal, kalau mencari ketenangan diri di luar diri, ya nggak bakal ketemu sampai kapan pun. Salah rutenya. Bukankah keterangan hadits Nabi di atas telah demikian jelas?


Lalu, datang lagi seorang pemuda langsing yang pendiam. Pendiam sekali, tapi pemberontak. Tidak pakai ngomong, langsung nenggak. Bisanya ngomong kalau lagi teler. Kalau sedang mabuk, kabarnya dia sering ngoceh, “Di mana Allah? Di mana Allah?" begitu. Namanya Bail, anak teman lama Akas yang bekerja di Kantor Pajak. Jujur sekali ayahnya itu, walau bekerja di tempat yang katanya basah. Dialah yang menitipkan Bail kepada Akas. Sebab, kalau dinasihati ayahnya, si anak teguh melawan. Kalau diomongin Om Kas, baru patuh. Padahal, kala itu belum berbaiat. Setelah punya baiat, ya tambah patuh. Patuh banget.


Selanjutnya muncul “pendekar” Soleh. Yang ini terus terang lumayan gawat. Dia adiknya Dores, kandung, tapi beda performance dengan kakaknya yang cenderung kalem. Mungkin karena si kakak “berdarah musisi”. Wajah mereka serupa, model jagoan pasar. Tapi, Dores rapi, kalau Soleh garang. Matanya mencorong tajam, berbakat berewokan pula. Kalau ngomong main ceprot saja, tersinggung tidak tersinggung silakan. Soalnya dia pemberani, berani bicara berani juga berkelahinya. Kata orang-orang, terbalik bapaknya kasih nama mereka. Harusnya Dores yang Soleh, Soleh yang Dores. Entahlah....


“Gimana, Pak?” tanya Dores pada suatu hari. Barusan dia minta izin gurunya untuk mengajak adiknya masuk majelis ini.


Akas mesem saja, “Haknya bukan di kita, Res. Sabar saja.”


“Tapi, si Soleh makin nggak karuan....”


“Yaa, itu tadi. Kita tidak berhak menghukumi. Sebelum kamu begini, kira-kira begitu juga, kan? Walau mungkin tidak sampai Seperti adikmu.”


Dores menghela napas, lalu terpekur.


“Sudahlah, Res. Kita beresin saja dulu yang kita. Masing-masing orang punya perannya. Kalau memang adikmu itu ada hak, tidak akan jauh-jauh ke mana."


Dores menatap gurunya, lalu mengangguk-angguk.


Akas pun kembali tersenyum....


Dia Yang Punya Cerita. Setelah bincang-bincang dengan Dores itu, ceritanya Akas jadi lebih memperhatikan pemuda berangasan yang rajin ke masjid ini. Berangasan, tapi demen shalat. Cuma ya gitu, suka iseng melecehkan orang lain. Berarti belum kena shalatnya, masih sekadar jasadi, belum bareng ruhaninya. Sebab, mereka yang shalatnya lahir-batin, haqqul yaqin tidak akan berlaku demikian.


Seperti kejadian sore itu. Bakda ashar, dengan cueknya, Soleh menyambangi sekelompok pemuda yang sedang membahas kitab. Boro-boro sopan ikutan duduk, dia berdiri saja cengengesan dengan tangan bergaya istirahat di tempat. Satu kakinya nyengsol ke depan. Pokoknya, menyebalkan. Kelihatan kalau kelompok pemuda itu tidak suka atas kehadirannya, tapi tidak ada yang protes. Soalnya mereka kenal Soleh, malas berurusan dengannya. Main tonjok saja sih.


Akas lanjut memperhatikan....


Kurang jelas topik yang sedang dikaji kelompok pemuda itu, Akas tidak bisa mendengarkan dari jaraknya. Yang jelas, tidak lama berselang, terdengar Soleh tertawa lumayan keras. “Nih, aku kasih tahu, percuma ngaji macam begini. Kalau mau, ngaji Allah. Itu yang bener!” katanya, lalu nyeloyor pergi tanpa salam. Para pemuda itu mendelik, tapi tetap tidak ada yang berani komplain.


Di sana, Akas geleng-geleng kepala sambil nyengir dikit. Busyer, ngaji Allah katanya. Yang tahu ngaji Allah, tidak bakal bergaya begitu, Leh. Ono-ono wae, ah....


Tapi, dengan ciri itu Akas menangkap pesan bahwa ada kemungkinan adiknya Dores ini adalah korban “hakikat tanggung”. Tampaknya dia belajar hakikat, tapi hanya dalil-dalilnya saja, tanpa perjalanan ruhaniah.


“Kamu tahu gurunya, Res?” Akas bertanya ke Dores, besoknya.


Dores memberi tahu guru adiknya, sekalian sedikit ulasan.


Akas menghela napas. Kemungkinan besar demikian adanya, bahwa Soleh ini korban “hakikat tanggung”. Akas kenal gurunya, walau tidak akrab. Dan dulu dia memang termasuk jajaran tukang ngibul. Ngoceh hakikat tanpa rasanya, tanpa ilmunya, tanpa imannya. Persis seperti burung beo. Pandai menjiplak tanpa paham yang diucapkan.

__ADS_1


Yang seperti ini, kebanyakan nyasar parah ke dunia pergaiban. Bahkan, tidak sedikit yang melenceng keluar dari ajaran Islam. Syariat bukan, hakikat pun bukan. Sekilas seperti Islam, tapi jelas-jelas bukan. Ada yang mengaku dirinya nabi setelah Nabi Muhammad Saw., ada yang membuat “Islam baru", mengubah kalimat syahadat, dan sejenisnya. Apakah itu? Lagu lama, sudah dikenal sejak zaman khalifah baheula. Islam ya ini, syariat dan hakikat. Kerjakan syariatnya, temukan hakikatnya. Kuncinya, iman tauhid hakiki. Sudah, jangan susah-susah membuat pengarangan. Sabda Nabi Muhammad Saw., “Sesungguhnya aku diutus dengan syariat dan hakikat. Semua nabi yang lain, diutus hanya dengan syariat.” Bukankah telah jelas?


Kira-kira tiga atau empat bari berselang, Soleh kembali beraksi. Kali ini dia sesumbar mengaku kalau gurunya adalah “Sunan Kalijaga”. Tuh, benar kan? Mungkin karena sudah terlalu kesal, para masjiders muda yang dilecehkan terus itu pun bangkit melawan. Bergotong royong hendak mengeroyoknya. Sialnya, Soleh tidak kenal kata gentar. Murid “Sunan Kalijaga” itu menggulung sarungnya. Siap bertarung....


Beberapa masjiders yang lebih senior bergerak sigap menghalang terjadinya perang saudara, tapi kurang sukses tampaknya karena kedua belah pihak telah sama-sama panas. Maka, sebagai masjiders abad lalu, Akas pun bergegas ke sana untuk melera ketegangan adik-adiknya. Diingat-ingat, kayak kang Idung zaman lewat, tapi tanpa tongkat angon bebek. Akas menangkap tangan murid "Sunan Kalijaga” itu, tep, langsung hening Soleh yang tadinya meronta. Banyak yang heran, kok bisa? Soalnya, pemuda ini kalau sedang marah dikenal anti sopan santun. Tua muda, dilabrak sama. Namun, itulah kejadiannya.


Akas membawa pemuda berangasan yang ujug-ujug patuh itu menjauh dari kerumunan lawannya. Diajak ke tempat favoritnya dulu, saat resah memikirkan Asih. Itu, tapal batas kuburan. Para lawan pun dihalau seniornya, diminta kembali mengaji ke tempat semula. Patuh mereka, namanya juga pemuda masjid. Kalau tidak patuh, silakan nongkrong di stamplas sana. Walau tidak tertulis, peraturan ini berlaku untuk semua. Mestinya Soleh juga, tapi dia kasus khusus. Soalnya lain dari yang lain sablengnya, nekatan pula adatnya.


“Kamu ngaji di mana, Leh?” tanya Akas, setelah suasana menenang.


“Di Wa Ustadz...,” jawab Soleh, menyebut nama gurunya.


Akas mengangguk-angguk sudah tahu.


“Ngaji apaan, sih?”


“Ilmu hakikat!”


Akas mesem. Mantap banget adiknya Dores ini menyebut jawaban tadi. Kesannya, ‘Jangan macam-macam! Aku pendekar hakikat!’ Hehehe....


“Wuh, seperti apa itu, Leh?” Akas lanjut mengoreknya.


Maka, dengan nada bangga sekalian sukarela, Soleh membeberkan ilmu yang dia pelajari dari Wa Ustadz. “Itu yang gampang-gampangnya. Belum semuanya ini, belum masuk yang susah-susahnya...,” dia menjeda sambil manggut-manggut.


“Iya, itu yang benar. Buat apa ngaji anak-anak tadi?”


Busyet, Akas ganti nyengir. Ngaji anak-anak, katanya.


“Berarti, yang sudah tahu ngaji Allah, harusnya nggak merendahkan orang lain dong? Iya nggak, Leh? Kan, dia sudah tahu kalau Allah adalah segalanya?”


Soleh menatap Akas, lalu melengos ke arah lain.


“Iya, nggak?” Akas neken sedikit.


“Menurut Wa guru, kita sudah di atas, tinggal ngejitakin yang di bawah," jawab Soleh ketus.


Akas pun terkekeh. Walah, benar salahnya. Inilah jadinya ketika seseorang yang tidak punya rasa, tapi bicara tentang rasa. Pakai acara membimbing orang lain pula tanpa hak. Runyam kuadratlah judulnya, yang mengajar runyam, yang diajar apalagi.


“Tadi saya dengar, kamu bilang diajar Sunan Kalijaga. Apa iya?”


Soleh mengangguk, “Kata Wa Ustadz begitu....”

__ADS_1


“Gimana ceritanya?”


“Kata Wa Ustadz, Sunan Kalijaga selalu hadir kasih pengajaran."


Akas manggut-manggut, tersenyum dalam hati. Dalam hati saja, soalnya Soleh masih kelihatan kesal gara-gara disentil ngaji Allah tadi.


“Lha, caranya? Beliau kan sudah wafat?”


“Masuk ke Wa Usradz. Bisa langsung nyusup, bisa lewat wangsit.”


Akas tersenyum lagi, masih dalam hari.


“Kamu ketemu sama Sunan Kalijaga?”


“Ya nggak lah, kan sudah meninggal. Wa Ustadz yang bisa lihat.”


“Oo,” Akas mengangguk-angguk. Kali ini mesem beneran, walau tipis. Kanjeng Sunan Kalijaga pun “menyusup” katanya. Ampun paralun.


“Terus, apa yang diajarkan?”


“Banyak. Sekarang ini kita sedang belajar bahasa pohon....”


Wuih? Akas mendelik sayang. Bahasa pohon, katanya, “Kayak gimana itu, Leh? Kamu bisa ngomong sama pohon?”


Mendengar ini, Soleh nanjak lagi PD-nya. Pakai gaya manggut-manggut yang melecehkan itu. Bibirnya dipelintir maju supaya menunjang.


“Gimana? Bisa nggak?”


“Belum khatam sih, tapi bisalah sedikit-sedikit.”


“Oh ya? Coba, pohon ini barusan bilang apa?” Akas menunjuk sekerumun pohon pisang-pisangan di sebelah mereka.


Murid “Sunan Kalijaga” yang sesaat masih bergaya melehkan itu pun tersentak menatap Akas. Manggut-manggutnya langsung lenyap, namun bibir melintingnya masih. Malah tambah maju.


“Hayo, bilang apa? Pohon-pohon yang lain juga boleh. sama kok....”


Sesaat, Soleh masih diam.


“Gimana, Leh? Apa nggak kedengaran? Kan, jelas banget ini?"


Maka, Soleh pun mendengus kesal, berdiri, dan langsung ngeloyor pergi membawa dongkol hati. Akas tersenyum memandang punggung murid “Sunan Kalijaga” yang sedang murung itu. Namun, sekejap lewat senyumnya berganti gelengan melihat Soleh sengaja menabrakkan kakinya ke punggung salah seorang calon lawannya tadi sambil berjalan. Untung acara tidak kembali membara.

__ADS_1


Ampun, adiknya Dores....


__ADS_2