
Surat-menyurat jurusan Magelang-Solo PP jalan terus. Tidak soal kalau ceritanya siaran ulangan, itu-itu lagi. Yang penting, di pojok kanan bawah lembar kertasnya tertera “love always” sebelum tanda tangan. Asih yang pertama bikin gara-gara ini, lalu Akas ketularan. Lama-lama jadi fardhu, harus selalu ada stempel mesra itu. Pernah Akas kelupaan, langsung protes keras sang putri di surat balasan. Khawatir mungkin kalau cucune elang Batu Radennya mabur....
Akas memang tidak bercerita ihwal “kemungkinan buruk” itu kepada Asih. Tidak cukup tega. Soalnya, lewat nada indah surat-suratnya, Akas tahu bahwa gadis kerudung merahnya belum menyadari ini. Mungkin karena Asih belum mengenal Rani. Tahu, tapi belum sempat kenal dekat karena dua tahunan terakhir dia banyak berada di Solo.
Entahlah. Akas tidak tahu pasti, apakah tindakan pengaburan ini termasuk perbuatan benar atau salah. Yang dia tahu, dirinya mencintai putri bungsu Kiai Ahmad Sanusi. Sudah, itulah. Asih adalah cinta pertamanya. Belum pernah ada cinta-cintaan macam ini dalam diri Akas sebelumnya. Monyet-monyetan pun tidak, apalagi yang langsung gorila seperti sekarang. Dan, Akas yakin sepenuh hati bahwa Asih pun seimbang mencintainya. Sama besar gorilanya. Seperti mottonya yang love always itu.
Jadi, sementara ini biarlah begitu....
Namun, Akas tidak tinggal diam. Seperti kata kakak iparnya, “Maju terus!” Maka, dia pun “mendekat” ke Kyai Sanusi. Pokoknya, kalau sang kiai tampil mengajar pengajian, Akas selalu hadir. Duduknya di barisan depan, kalau bisa ambil posisi berhadap-hadapan. Teman-temannya, anak-anak Masjid Agung tidak ada yang tahu urusan udang di balik peyek ini. Paling Kang Idung yang cengengesan di sebelah sana. Tapi, aman. Akas sudah “mengancam” paman Masjid Agungnya itu dengan kepalan tangan menempel di bibir yang sengaja disetel bengis. Pesan senyapnya, “Awas...!”
Namun, sekian waktu berlalu, ternyata hasilnya datar-datar saja. Repot juga karena Kyai Sanusi tidak tahu segala udang dan peyek, sementara Akas juga tidak mungkin blak-blakan. Jadinya, dengan itu joko Jowo ini berharap bisa menarik perhatian lebih dari sang kyai. Sedikit juga nggak apa-apa, asal ada lebihannya buat tambahan modal. Kan, dia sudah berjuang “mati-matian” duduk di barisan depan kalau beliau sedang bermajelis? Aktif bertanya pula. Pokoknya, ngacung terus telunjuknya. Kyai Sanusi menjawab pertanyaan udang itu dengan baik dan benar; perhatiannya adil sekali. Rata. Yang ngacung yang nyungsep, sama saja. Tidak ada yang sudahnya dikasih bonus. Beres cium tangan bubar jalan. Entek ceritane. Paling Kang Idung lagi yang terkekeh di sana melihat tingkah sang udang.
Asih, Asih....
__ADS_1
Sore ini, bakda ashar, entah yang ke berapa kali, Akas kembali mengikuti majelisnya Kyai Sanusi. Jujur, harapan pendekatannya lewat jalur ini sudah menguap. Kiai Ahmad Sanusi, demikianlah adanya. Adil buanget. Maka, Akas sudah tidak ngacung-ngacung lagi. Mendengarkan saja ulasan fiqh dari beliau sambil memutar tasbih kesayangannya. La ilaha ilallah, melantun dalam hati.
Sambil berdzikir, Akas menyimak. Masih sama yang lalu. Belum juga terbit sepatah dua patah kata beliau yang nyangkut dengan patokan kunci hakikat warisan Mbah Bagyo jtu. Ulasan Kyai Sanusi kental fiqhnya. Hukum, peraturan, dan tata cara. Apa yang disampaikan beliau adalah benar, tidak ada salah secara syariat. Namun, untuknya pribadi, Akas diwejang mencari “cinta” oleh sang kakek. Menyusur “dalaman”, menyibak “sirr”. Maka, dia pun menggeleng-geleng pelan untuk dirinya sendiri. Melintas di hati, alangkah indah seandainya beliau adalah guru yang dimaksud itu. Ya ilmunya, ya Asihnya....
Sesaat lewat, Akas mengangkat wajah yang dari tadi agak menunduk. Begitu lurus, pandangannya kepentok dengan tatapan Kyai Abdul Khalil yang duduk di sebelah kanan Kyai Sanusi. Buru-buru Akas mengangguk hormat. Kyai Khalil membalas dengan anggukan kecil, lalu kembali berdzikir. Akas pun lanjut memutar tasbih.
Kyai Abdul Khalil adalah salah seorang sepuh di sini. Sejak awal Akas datang, beliau sudah kelihatan. Tampaknya para sepuh yang lain menaruh hormat kepadanya, termasuk Kyai Sanusi. Tapi, beliau tidak pernah mengajar, tidak memberi pengajian seperti para sepuh yang lain. Di masjid, yang terlihat hanya berdzikir. Jadi imam shalat jamaah pun jarang, kecuali tidak ada sepuh yang lain. Kalau ada yang sedang bermajelis, seperti Kyai Sanusi sekarang, beliau ikut mendengarkan. Hanya mendengarkan, tidak pernah urun petuah. Seperti biasa, manggut-manggut memutar tasbih saja. Kalau “sekadar” begitu, para sepuh yang lain pun sama, bertasbih semua. Punya Kyai Sanusi malah paling panjang karena bijinya besar-besar, satunya hampir seukuran kelereng.
Penampilan Kyai Khalil, menurut Akas, terus terang “kurang kiai” juga. Paling pakai baju komprang putih, bersarung, dan berkopiah hitam. Kadang-kadang pakai kupluk haji yang putih itu. Sesekali malah pakai celana panjang, bukan sarung. Sudah gitu, suka bawa handuk kecil yang disampirkan melingkar leher. Akas belum pernah melihat Kyai Khalil bersurban “Pangeran Diponegoro”, atau mengenakan perlengkapan lain selazimnya para kiai sepuh.
Setelah menyalami dan mencium tangan Kyai Sanusi usai majelis, Akas berjalan ke luar masjid dengan kepala menunduk. Waktu maghrib masih sejam seperempat lagi, mau pulang dulu. Hari ini perasaannya sedang suntuk. Selain merindukan guru yang belum kunjung ketemu, memimpikan Asih, sekalian memikirkan persiapan ujian akhir sekolahnya pula. Lengkap bete-nya. Lalu, tanpa sengaja dia menabrak seseorang dalam langkahnya yang gontai itu. Kyai Khalil ternyata...
“Maaf, Kyai,” Akas buru-buru minta maaf, sekalian meraih dan mencium tangan Kyai Khalil yang lembut seperti tangan priyayi itu.
__ADS_1
Kyai Khalil tersenyum. “Kamu Akas?” beliau membuka tanya.
“lnggeh, Kyai” jawab Akas.
“Hmm...,” Ama Khalil manggut-manggut. Lalu, diam.
Beberapa saat ditunggu, langgeng hening di situ walau mereka masih berhadapan. Namanya juga Kyai Khalil yang memang bawaannya senyap. Ya sudah, Akas pun mohon diri. Habis, mau ngapain lagi?
“Silakan,” jawab Kyai Khalil, kembali tersenyum.
Akas balas tersenyum, “Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikum salam,” balas beliau.
__ADS_1
Sang elang pun lanjut pulang. Tanpa senyuman....