
Syukurlah, di batas-batas akhir waktu seminggu itu, Akas berhasil mendapatkan rumah kontrakan yang murah. Sebenarnya, banyak rumah yang dikontrakkan di sini, tapi sesuai harga pasaran. Katakanlah, mahal dalam keterpepetan mereka sekarang. Yang murah, ya itu satu-satunya. Dan, faktanya rumah kontrakan murah ini adalah rumah yang dulu dikontrak Hanafi dan Haryati saat pengantin baru. Murah karena lebih dua puluh tahun rumah ini boleh dibilang tidak diapa-apakan oleh pemiliknya. Masih seperti yang dulu, hanya dipoles-poles ala kadarnya.
Dan, Hanafi pun menangis. Memang tidak langsung di depan anak-anaknya, tapi malam itu Akas menyaksikan ayahnya menangis sesenggukan. Sang ayah tidak sadar kalau si bungsu tekun menemaninya dari luar kamar. Namun, besoknya Hanafi setuju mengontrak kembali rumah kenangan bersama Diajengnya itu. Sebab, pemilik rumah ini sudah bolak-balik menanyakan kapan pergi, walau jatah seminggu itu belum habis. Macam khawatir kalau Hanafi dan anak-anaknya tidak hendak angkat kaki. Ampun, benar-benar mati hati dia....
Tidak susah proses pindahnya karena boleh dikata tidak ada perabotan berat. Sudah tuntas dijual, tinggal tempat tidur dan beberapa perkakas dapur. Beres hari itu juga. Akas yang diutus ayahnya mengantarkan kunci mantan rumah mereka ke sang pemilik baru yang ngeden kemaruknya itu.
“Sudah pergi?” dia bertanya, dengan nada kurang bersahabat.
“Sudah,” jawab si bungsu, lancang bin sebal.
“Oo, ya sudah...,” tukasnya.
“Ya sudah juga!” balas Akas, lalu ngeloyor pergi tanpa menoleh lagi. Dalam hati, kalau misalnya seumuran, terus terang pengen dia menonjoknya sekali saja. Atau, dua kalilah. Biar plong....
Demikian. Maka, putaran waktu terus berlanjut, seiring rintih keprihatinan yang belum hendak menyurut. Tambah hari, sakit Hanafi semakin parah. Mumpung sedang ada uang, anak-anaknya membawa sang ayah untuk diperiksa dengan lebih benar oleh dokter yang dianggap lebih cepat. Soalnya, dokter yang sebelumnya terus terang rada kurang meyakinkan. Semodel dokter ibunya dulu. Masak kelelahan bisa mematikan dalam waktu kurang dari seminggu?
Namun, usai diperiksa oleh dokter cepat itu, bingunglah mereka. Ternyata, bertumpuk empat penyakit sang, ayah. “Komplikasi,” kata dokter. Dan, bukan kelas sembarangan pula, yahud semua. Jenis penyakit yang barangkali cocoknya untuk kalangan mafioso. Jelas tidak mungkin ditangani lebih lanjut karena sekiranya uang yang ada ini dipakai semua pun, tidak ketutup biayanya. Sudah gitu, kata dokter, tidak ada jaminan sembuh total. Duh...
Walau tidak terlontar lewat ucapan, tapi mereka heran dengan penyakit sang ayah. Bagaimana bisa ayah yang dulu sehat walafiat sebelum ibu meninggal ini, tiba-tiba ketahuan mengandung segitu penyakit papan atas. Apa karena lebih dari tiga perempat hasrat hidupnya telah ikut mengiring kepergian sang istri? Tidak ada yang tahu pasti jawabannya. Namun, anak-anaknya percaya bahwa ikatan cinta ayah-ibu mereka ini termasuk jenis yang sehidup-semati. Barang langka.
“Sudahlah, jangan terlalu memaksa diri mengurus Bapak,” ujar Hanafi. “Rani, cepat balik ke Jogja. Nanti juraganmu marah kalau kamu kelamaan nggak masuk. Kasih tahu Haryono, bapak baik-baik saja. Sulis, Wati, sama kamu Bungsu, bertahanlah. Urus diri kalian dulu. Soal Bapak, gampang belakangan.”
Diam semua anak-anaknya. Hening pun menyergap sejenak.
“Sudah, jangan diam begini. Kapan kamu mau balik, Rani?” tanya Hanafi, untuk menghidupkan suasana yang meredup.
“Sore ini masih sempat, kan?”
“Besok sajalah, Pak. Pagi-pagi,” jawab Rani.
“Ya sudah. Tapi, beneran berangkat, ya?”
Rani mengangguk berat....
Hanafi tersenyum. “Diajeng, anak-anak kita ini lucu-lucu, ya?” dia bergumam seperti tanpa sadar, lalu terkekeh pelan bernada rindu.
__ADS_1
Mendengar itu, keempat anaknya meringis semua. Perih...
* * *
Hampir sebelas bulan pun terlampaui. Babak belur keluarga Hanafi bertahan selama itu. Sungguh bukan perkara mudah. Walau Hanafi telah meminta agar jangan memaksa diri, tapi bagaimana anak-anaknya bisa tenang melihat derita sang ayah yang tambah hari semakin runyam? Maka, lebih tiga perempat dana yang ada itu pun tersedot untuk biaya pengobatan. Serba salah memang, maju kena mundur kena. Tapi, kelima anaknya sepakat bahwa mundur lebih salah.
Hingga pada suatu hari, Subagyo kembali datang ke Sedayu. Ini bukan kali pertama sang kakek bertandang ke sana sejak menantunya wafat. Kalau tidak salah yang ketiga atau keempat.
“Gimana? Apa kamu masih menolak?” Nur bertanya ke anaknya.
Sama seperti yang lalu, kali ini pun Nur mengajak anak beserta cucu-cucunya untuk tinggal di Baturaden. Daripada memaksa diri tetap di sini, dalam situasi dan kondisi seperti ini. Sebelumnya, Hanafi menolak.
“Terserah kamu, Nafi. Tapi, ingat anak-anakmu.. ,” lanjut sang ayah.
Hanafi masih diam, lalu terbatuk-batuk serak.
“Apa tidak merepotkan Bapak nantinya?” dia bertanya.
“Kamu ini, kenapa baru sekarang tanya-tanya? Memangnya tidak ada kerepotanku dari dulu gara-gara kamu?” ayahnya nyerengeh sedikit.
Hanafi ikut mesem, lalu terbatuk-batuk lagi.
“Kalau kamu tidak mau, ya tidak apa-apa. Tapi, aku mau bawa cucu-cucuku,” lanjutnya mengancam.
Wah, susah kalau sudah begini. Setelah berbincang beberapa saat lagi, Hanafi pun mengangguk. Soalnya, kontrak rumah yang hanya setahun ini tinggal sebulanan lagi. Sementara, uang boleh dikata sudah tidak ada.
Akhirnya, Hanafi dan ketiga anaknya boyongan pindah ke Baturaden, balik ke kampung asalnya. Haryono dan Rani yang bekerja di Jogjakarta, dikabari tentang ini lewat surat yang dikirim menyusul dari Baturaden.
Baru beberapa hari di sana, kakak perempuan Haryati yang tinggal di Purwokerto datang menjenguk. Terus cerang aneh, karena semenjak Haryati meninggal dunia, belum pernah ada keluarganya yang datang menjenguk. Kalau tentang wafatnya sang dara pembangkang, pasti mereka tahu karena Hanafi mengabari lewat surat.
Teguh nian keluarga Haryati menjaga amanat putus hubungan. Bahkan, setelah Liow Chou berpulang tujuh tahunan silam. Benar-benar atos batunya. Keluarganya keras, Haryatinya sama. Tapi, saat ayahnya wafat, Haryati datang ke Banjumari diantar suaminya. Di sana, mereka dicuekin. Luar biasa, tidak seorang pun saudaranya yang bersedia walau sekadar menyapa.
Jadi, ada apa ini? Entahlah....
Yang jelas, sang kakak perempuan itu menangis melihat keadaan suami almarhum adiknya. Bagaimana tidak, Hanafi yang terakhir tujuh tahun silam berbadan sehat itu, kini tinggal tulang berbalut sedikit daging dan kulit. “Maafkan saya, Haryati, maafkan saya...,” desahnya di sela isak.
__ADS_1
Lalu, dia pun berkisah. Katanya, Haryati hadir lewat mimpi dan menegurnya. Dia meminta sang kakak bersedia mengurus anak-anaknya. Uniknya, dalam mimpi itu Haryati tampil bersama ayahnya. Sang ayah diam, tidak berkata apa-apa, tapi bercucuran air mata. Wow, Liow Chou menangis di alam sana....
Mendengar ini, Hanafi pun menangis lewat dua butir air matanya yang tumpah tanpa suara. Demikian pun Surtiyah. Subagyo mengangguk-angguk pelan dengan mata membasah kaca-kaca, tapi tidak sampai menangis.
“Tadi saya ke Sedayu. Kata tetangga di sana, sudah pindah ke sini. Jadi, saya langsung susul ke sini,” ujar sang kakak. “Nafi, lewat, mimpi itu Haryati berpesan, katanya dia baik-baik saja. Dan, selalu mencintaimu...,” lanjutnya, sambil tersenyum haru di sela isakan.
Maka, butir-butir air mata Hanafi kembali merembes ke luar, bergulir perlahan melintasi lekuk wajah rindunya. Demikian pun ibunya. Juga ayahnya, walau hanya sebutir dua butir saja.
Begitulah....
Kesimpulannya, sang bude yang baik ini akan membawa ketiga keponakannya ke Purwokerto. Di sana akan disekolahkan, atau diajak berdagang. Pokoknya, dikasih kegiatan positif yang bermanfaat. Awalnya, Sulis dan Wati ragu-ragu. Tapi, setelah diberi pengertian oleh ayahnya, didukung kakek neneknya, akhirnya mereka bersedia. Akas yang teguh menolak, “Terima kasih, Bude. Biarlah saya di sini menemani Bapak,” ujarnya mantap, tidak kena digoyang-goyang.
Ya sudah, Sulis dan Wati ikut budenya ke Purwokerto. Sementara si bungsu Akas stand by di sini seperti maunya. Menemani sang ayah yang belum juga hendak menyembuh itu.
Selang semingguan, datanglah Liow Han Kim alias AKin, adik laki-laki Haryati dari Kutoarjo. Katanya, dia diminta oleh kakak perempuannya untuk menangani Akas. Mungkin si bungsu mau kalau yang mengajak paman, bukan bude. Biasa, kesesuaian gender. Laki sama laki, perempuan sama perempuan.
“Terima kasih, Paklik. Tapi, saya mau menemani Bapak di sini,” ujar Akas, tidak berubah. Memang ini alasan yang sesungguhnya, bukan basa-basi.
“Sayang kalau sekolahmu putus, nanti kamu susah dapat pekerjaan. Yang punya ijazah saja susah, apalagi yang nggak sekolah,” AKim menimpali.
Si bungsu terdiam. Benar juga, tapi bagaimana dengan Bapak?
“Akas, ikutlah ke sana. Sekolahmu lebih penting daripada menunggu Bapak di sini. Ayo siap-siap,” ujar Hanafi.
“Tapi, Pak....”
“Sudah, jangan kebanyakan dipikirin. Wong Bapak nggak apa-apa kok,” tukas Hanafi. “Uhuuk uhuk uhuk...,” disambung batuk.
Akas menggeleng-geleng. Nggak apa-apa, apanya?
“Terserah kamu, Le. Tapi, paklikmu benar, sekolah itu penting karena kamu ini ceritanya masih panjang. Jangan sampai besok-besok susah dapat kerja. Biar bapakmu di sini bareng Mbah,” Subagyo ikut memberi pendapat.
Surtiyah mengangguk-angguk sambil mengunyah sirih.
Akas menghela napas, mendengar ayahnya batuk-batuk terus. Lalu, melirik kakek neneknya yang sudah sepuh. Duh....
__ADS_1
“Ayo, kamu siap-siap,” Hanafi mengulang perintahnya. “Paklikmu ini orang sibuk, nggak bisa nunggu lama-lama lagi.”
Ya sudah, Akas pun bersiap-siap karena jelas kalah suara. Selanjutnya, berangkatlah mereka ke Kutoarjo. Di sana, sang paman menepati janji. Keponakannya itu disekolahkan lagi.