Selamat Jalan

Selamat Jalan
69. setelah urusan bank selesai


__ADS_3

Maka, besoknya mereka menjumpai Raden Said Jubair, kakak kandung Asih yang berhak atas setengah bagian lainnya dari warisan Kyai Sanusi ini. Dulu dia termasuk musuh besarnya elang, rapi sekarang tidak lagilah. Malah paling kompak dengan Akas di antara kakak-kakak Asih lainnya. Terlebih setelah dia terkena diabetes mellitus, kencing manis. Orang yang punya penyakit ini memang cenderung suka “aneh-aneh”, seperti sudah segan hidup. Tidak semuanya tentu, kebetulan Said termasuk yang demikian. Makanya dia demen banget “ngobrol mati” dengan Akas. Mungkin pandangan-pandangannya dirasa mengena. Maklum, sang kakak tidak tahu kalau adiknya berdengung....


“Kenapa dijual?” tanya Said, usai Asih menyampaikan maksudnya.


“Sebab, ini yang paling mungkin,” jawab Asih.


Said diam sejenak mendengar jawaban itu, lalu melihat Akas. Adik iparnya mengangguk, membenarkan jawaban sang istri.


“Kalian butuh berapa, sih?” Said kembali bertanya.


“Banyak, Kang. Itu makanya harus dijual....”


“Berapa?” Said memaksa tahu.


Maka, Asih pun menyebutkan jumlahnya, yang jelas tidak sedikit itu menurut standar mereka. “Banyak, kan? Akang sih pakai tanya-tanya,” Asih nyengir.


Said menggeleng-geleng melihat gaya sableng adik bungsu tercantiknya.


“Segitu? Ada aku, pakai saja...,” timpal sang kakak, mungkin terpancing oleh gaya sableng adiknya.


“Terus, cuci darah pakai apa?” istri Said menyambar dari samping.


Sontak, semua mata memandang ke arahnya. Akas dan Asih langsung maklum kalau kakak ipar perempuan ini tidak sepaham dengan suaminya soal “pakai saja” tadi. Tapi, alasannya bisa dipahami, dan itu hak dia.


Hening sejenak. Said terlihat menahan kesal kepada istrinya....


“Eem, begini, Kang...,” Akas memecah hening. “Kami datang ke sini karena merasa harusnya memang ke sini dulu, sebelum ke yang lain. Suka atau tidak, rumah itu harus dijual, Secara akal, tinggal ini harapan untuk bisa melunasi urang bank. Saya sependapat dengan Asih, daripada disita bank, lebih baik diambil Akang. Maksudnya, supaya tidak jatuh ke rangan orang lain, masih ada di lingkungan keluarga sendiri karena itu warisan Bapak. Tapi, kami juga mengerti bahwa tidak ada paksaan ke Akang dan Teteh dalam hal ini. Gambarannya demikian." “Gimana kalau pinjam saja?” tanya Said. “Jangan dijual...."


Asih menggeleng. “Saya nggak mau bikin utang lagi. Soalnya, belum ketahuan cara mengembalikannya. Kalau memang ada kemampuan, nanti mungkin bisa kami beli lagi. Sekarang, tetap akan dijual,” ujarnya tegas.


Akas mengangguk-angguk sambil menghela napas pelan.

__ADS_1


Said juga menghela napas. Istrinya terlihat cemberut di sebelah sana....


“Kalau dijual, minta berapa?” dia bertanya.


“Akang lebih tahu. Berapa pantasnya saja menurut Akang,” jawab Asih.


Akas mengangguk setuju.


Said memandang adik-adiknya, lalu mengangguk sambil mesem sedikit. Asih membalas senyum kakaknya. Akas diam saja. Soalnya nggak enak sama istri Said makin merengut di sebelah sana...


Empat hari berselang, transaksi jual-beli itu terlaksana. Entah bagaimana Said bicara dengan istrinya, pokoknya jadi. Dia membeli dengan harga yang pantas, sesuai pasarannya. Dengan tambahan dana ini, Akas bisa melunasi utangnya ke bank. Ada lebihannya sedikit. Said juga mempersilakan keluarga adiknya tinggal di rumah ini, sepanjang mau dan memungkinkan. Alhamdulillah.


Saat Akas dan Asih menyerahkan sertifikat rumah yang telah diambil dari bank, Said bertanya, “Kas, kapan kita ngobrol mari lagi? Rindu aku....”


Akas tertawa pelan, “Kapan Akang ada waktu?"


“Besok bisa?”


“Oke. Besok aku tunggu di sini, ya? Bakda isya.”


Maka, kakak adik ipar-iparan itu sama-sama tersenyum. Asih juga tersenyum. Istri kakaknya pun demikian, tapi kelihatan dipaksakannya....


xxx


Kisah tadi, di dalam rumah. Tidak meluber ke luar. Murid-murid Akas tidak dengar inside story yang sedang berlaku pada keluarga gurunya. Tentu mereka tahu kalau pabrik roti itu bubar, sebagaimana banyak usaha-usaha lain yang gulung tikar dihantam badai krisis moneter. Namun, karena terlihatnya sang guru tenang-tenang saja, maka para murid pun tenang-tenang juga. Dalam pikiran mereka, pasti sang guru masih punya cadangan walau pabriknya bangkrut. Masak nggak ada, sih? Padahal, di atas kertas, apakah yang masih tersisa? “Gilanya”, orang-orang yang ingin mengenal Allah malah semakin banyak berdatangan. Dalam waktu tidak lama, jumlah para tifli itu sudah menembus angka dua puluhan.


Dengan peningkatan ini, terus terang Akas mulai kepikiran perlunya tempat khusus untuk membimbing murid-muridnya. Dulu, Kyai Khalil pun punya tempat untuk maksud itu. Tidak butuh bagus, sekadar tempat yang “enak” untuk membimbing mereka. Gubuk pun tak apa. Pembimbing ruhaniah memang beda dengan mubaligh atau ustadz lazimnya. Mursyid tidak sekadar datang mengajar, lalu sudahan. Dia bertanggung jawab atas perjalanan ruhaniah murid-muridnya, dan ini jelas bukan kisah “jalan-jalan”. Sangat-sangat kritis, melintasi apa yang diibaratkan “titian serambut dibelah tujuh”. Lengah sedikit, bukan tidak mungkin terjerumus musyrik. Maka, harus senantiasa dipantau, hingga datang haknya untuk dilepas. Allah yang mengaruniakan hak itu. Mursyid hanya mengantarkan mereka hingga tiba di gerbang makrifat pertama. Selanjutnya, terserah Dia.


Namun, soal tempat ini masih di batas keinginan. Pada kenyataannya sekarang belum dimungkinkan, sebab belum ada biayanya. Uang sisa penjualan rumah yang tidak seberapa jumlahnya itu, sudah pontang-panting diatur Asih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara, Akas pun menghadapi kenyataan rasa bahwa dirinya “tidak lagi diizinkan bekerja” oleh-Nya...


Bagaimanakah itu?

__ADS_1


Ceritanya, setelah urusan dengan bank selesai, Akas pun kembali berusaha mencari penghasilan. Bahasa “ilmiahnya”, walau situasi sedang sulit, anak dan istri kan tetap perlu makan? Iyalah. Untuk kembali berbisnis, tampaknya belum bisa karena tidak ada modal. Sekarang, yang penting bertahan dulu. Misalnya, jadi karyawan lagi pun tidak mengapa. Mungkin ada di antara kolega bisnisnya, yang mampu bertahan dari terpaan badai ini, berkenan membantunya.


Namun, jangan kata sempat terlaksana, karena bahkan ketika masih berwujud niat pun, muncul “suara” dalam hatinya yang melarang itu. Tentu tidak ada suaranya, adanya rasa. Sekiranya rasa ini disuarakan, “Diam!” demikian terdengarnya. Muncul niat, “Diam!” Muncul lagi, “Diam!” Begitu berulang. Dan, bukan hanya segitu karena pada kenyataannya, Akas pun “diam”. Tidak mampu melawan. Benar-benar tak mampu melawan. Pasrah sepasrah-pasrahnya.


Jangan dihukumi malas, karena Akas jelas-jelas bukan pemalas. Jangan pula dikata mengada-ada, karena Akas dalam keadaan “ingatan yang langgeng”. Firman-Nya dalam hadits Qudsi, “Aku bersama mereka yang mengingat-Ku." Maka, segalanya Dia. Tak terkecuali yang ini.


Dikenal dua istilah, tajrid dan kasab. Tajrid adalah suatu tingkatan ruhaniah seseorang di mana dia “tidak lagi terikat" pada duniawi. Sedangkan kasab adalah tingkatan ruhaniah seseorang di mana dia “masih memerlukan dunia”, dalam pengertian yang baik. Dalam kitab al-Hikam, Syekh Atha'illah berkata, “Manakala engkau ingin bertajrid, padahal Allah masih menempatkanmu dalam golongan yang mencari penghidupan, maka keinginanmu itu merupakan hawa nafsu. Sebaliknya, manakala engkau ingin berkasab, padahal Allah telah menempatkanmu dalam golongan yang bertajrid, maka keinginanmu mengejar duniawi merupakan kemunduran nyata dari cita-cita luhur.” Demikianlah.


Maka, lewat tanda-tanda dan pesan-pesan hati yang diterimanya, Akas pun menyadari bahwa Sang Maha Pengatur telah menempatkannya dalam golongan tajrid. Mereka yang “diam” dalam kepasrahan hakiki. Pasrah yang sebenar-benarnya pasrah, bukan sekadar pasrah-pasrahan. Sebagaimana disampaikan Syekh Atha'illah, tajrid dan kasab bukan hal “memaksa diri”. Pura-pura kasab, tidak bakal kuat. Pura-pura tajrid, apalagi. Dijamin dan mengeluh melulu adanya....


“Terus, rencana makannya anak-anak, gimana?" tanya Asih, usai mendengar paparan suaminya tentang pesan hati berjudul tajrid tadi.


Akas tersenyum, “Jangan khawatir. Sudah dijamin.”


“Siapa yang jamin?”


“Yang Punyalah....”


Asih diam sejenak. “Allah?”


"Ada yang lain?” Akas kembali mesem. “Kan, waman yattaqillaaha yaj'allaahu makhraja? Masak lupa?"


Asih meringis. Sebagai jebolan pondok, tentulah dia hafal dalil “umum” itu. Di pengajian ibu-ibu sini pun rajin dikutip oleh ustadzah panggilan.


Waman yattaqillaaha yaj'allaahu makhraja. Wayarzuqhu min haitsu laa yahtasih, waman yatawakkal 'alallaahi fahuwa hasbuh, innallaaha baalighu amrih, qad ja'alallaahu likulli syai'in qadra, Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS. ath-Thalaaq:2-3)


“Gimana? Cuma diminta bertakwa, kan?” tanya Akas.


Asih mengangguk-angguk.


Akas menghela napas pelan. “Semua urusan itu, sejatinya urusan Allah. Jangan berkhayal mampu mengambil alih urusan-Nya. Dia yang mengatur, Dia juga yang mengadakan ketentuannya. Kita hanya diminta bertawakkal kepada-Nya. Itu saja, tidak pakai sajen."

__ADS_1


Maka, Asih mengulum senyum gara-gara tertiup sajen. Akas pun ikut tersenyum. Soalnya, uh banget cetakan terakhir Kyai Sanusi ini kalau sedang begitu, sama seperti kalau sedang manyun....


__ADS_2