
“Kita nggak boleh su'uzhan. Duitnya kan punya Haji Dodot, ya suka-suka dia mau dipakai apa,” Amir memberi nasihat adem. Namanya juga ustadz.
Namun, seperti sudah diberitakan tadi, kalau tidak ada “suhu” maka temperatur masing-masing kepala mereka cenderung tinggi. Soalnya merasa setara pengetahuannya, atau menyetarakan diri. Jarang ada yang mau ngalah. Maka, siraman adem Ustadz Amir itu disambut Aman pakai jurus api nyamber bensin....
“Bukan gitu, Tadz! Aku nggak ngomong soal duitnya punya siapa. Ini tentang malu-maluin. Masak haji kelakuannya kayak gitu?” sanggahnya, dengan urat leher mulai menonjol biru.
“Lho, pertamanya kan soal Haji Dodot mau naik haji lagi? Kenapa sekarang lebih ke kelakuan?” Amir tidak mau kalah gertak. Maklum anak kolong, bapaknya mantan polisi. Sekian tahun lalu, dia malang-melintang pegang stamplas. Hobinya memalak sopir-sopir bus Elf di terminal. Entah gimana ceritanya kini bergelar ustadz. Yang jelas, ditahun-tahun terakhir ini, sang jeger pindah malang-melintangnya ke mushala. Tidak terlihat kongko-kongko di stamplas lagi.
Selanjutnya, debat kudalah yang ada. Sudah lewat debat kusir. Selusinan peserta ini pun terpecah dua. Sebagian masuk golongan Aman, yang lain partisipan golongan Amir. Tiga abstain, Munhar, Echan, dan Akas. Sang tuan rumah geleng-geleng kepala. Echan ikutan menggeleng-geleng sambil terus memamah martabak, macam khawatir kehabisan. Akas mesam-mesem saja. Soalnya, tidak ada yang tahu kalau sejati dirinya sedang melarut. Pandang-memandang syahdu dengan maujud teman-temannya itu....
“Iya kan, Pak Kas?” tanya Aman, agak merah wajahnya.
“Hem?” Akas tersadar dari kesyahduannya.
“Urusan ini, gimana?” Aman mengulang pertanyaannya.
Akas tersenyum, “Urusan apa?”
“Ini, urusan Haji Dodot...,” Aman agak melotot.
“Oo, hehehe.... Kalau aku nggak ada urusan. Urus masing-masing saja, wong nanti balik kampung juga manggul karungnya sendiri-sendiri.”
Jep, langsung hening suasana. Semua pasang mata memandang murid Kyai Khalil ini. Apa maksudnya karung-karungan tadi? Segala balik kampung pula....
Sadar kalau dirinya sedang jadi pusat perhatian, Akas malah nyerengeh. Tidak ngomong, meringis doang. Lama juga 'setan lewat ini’, ada sekitar dua puluh detikan. Sampai kemudian Munhar memecah, “Mana terusannya?”
Dan, tertawalah semua entah mengapa. Mungkin memang harusnya begitu kalau “setannya sudah lewat”. Wajah Aman dan Amir pun perlahan mulai kembali menguning, dibanding sebelumnya yang sempat beureum. Urat leher masing-masing juga tampak mengendur.
“Oke. Sekarang jelaskan,” pinta Munhar, sesaat kemudian.
“Apa yang harus dijelaskan?” Akas kembali tertawa.
“Ee, jangan ketawa lagi. Kita minta penjelasannya,” Munhar mendelik.
Maka, tertawa lagilah mereka. Maklum, bukan tentara. Mana komandan Aji Bugel sedang berhalangan pula. Namun, usai terkekeh babak kedua ini, Akas menjelaskan apa yang dia maksud tadi. Soalnya, dipaksa terus....
“Pergi haji bagi yang mampu itu jelas-jelas perintah agama. Tidak ada yang perlu diperdebatkan di bagian ini,” ujarnya, memulai.
Tampak Aman sudah akan nyerang balik, tapi ditahan Munhar.
“Sabar, Man. Orang sabar, subur,” celetuk Amir. Soalnya, perasaan Akas segolongan dengannya nih.
Akas mesem saja. “Gimana? Teruskan nggak?"
__ADS_1
“Lanjut,” sambar Munhar.
Akas manggut-manggut, “Cuma, harus bareng ilmunya....”
“Ilmu apa?” kejar Munhar.
“Ya ilmunya pergi haji dong. Masak ilmu sulap?” Akas meringis.
“Ee, malah main-main. Serius ini, ilmu apa?” Munhar melotot.
“Kalem, Pak Haji. Masak haji nggak tenang bawaannya? Nanti jadi gosip baru lho,” Akas merespons positif, sambil terus nyengir.
“Hahaha...,” Echan tertawa sendirian.
“Apa kamu ketawa?" Munhar balik melotot ke bujang lapuak itu.
“Apaan? Cabe kegigit...," ujar Echan, lanjut pura-pura ber-hah huh ria.
Yang lain jadi cengengesan. Tapi, Akas cepat-cepat melanjutkan “ilmu-nya”, sebab Haji Munhar dikenal temperamental. Maklum pensiunan, sementara dua buntut terakhir masih kencang butuh biaya kuliah. Mana sekolahnya di universitas swasta ternama di Jakarta sana. Mahal men.
“Pergi berhaji itu jelas wajib bagi mereka yang mampu," Akas berujar pelan. “Persoalannya, banyak yang meninjau aspek kemampuan ini sekedar luarnya saja. Punya duit, badan sehat, dan sejenisnya. Padahal, ya itu tadi, harus juga mampu ilmunya."
“Ilmunya, ilmunya..., maksudnya apa? Manasik?” kejar Munhar.
Terpaksalah Munhar tidak bisa marah. Malah ikutan meringis. Soalnya, jalur marah sudah diblok duluan oleh cucune elang.
“Oke. Terus, gimana?” Munhar minta tambahan info. Sebab, terus terang dia memang belum jelas yang dimaksud “ilmu dalam” oleh juragan roti itu.
“Shalat ada rukunnya, kan?” Akas memancing.
Munhar dan yang lain mengangguk.
“Berurutan nggak?”
“Apanya?”
“Rukun shalat itu?”
“Oo iya dong. Nggak sah kalau tidak berurutan.”
Akas tersenyum, “Nah, Islam juga ada rukunnya, kan?”
Terdiam lagi semua, tampak agak mikir. Kemudian, hampir serempak, mereka mengangguk mengiyakan. Muter-muter juga sih Akas ini. Bilang saja langsung Rukun Islam, gitu. Kan jelas....
__ADS_1
“Terus, gimana tuh?” suami Asih ini kembali memancing.
“Gimana apanya, Mas?” tanya Echan.
“Rukun, Islam tadi. Mesti berurutan nggak?”
Hening lagi. Berurutan gimana maksudnya? Rukun Islam ya memang berurutan. Syahadat, shalat, puasa, zakat, haji. Tapi, apa maksudnya?
“Gimana?” Akas kembali bertanya.
“Semua orang Islam juga tahu kalau Rukun Islam berurutan. Terus, apa pertanyaannya, nih?” Munhar balik bertanya.
“Hehehe..., berarti mesti dilaksanakan sesuai urutannya, ya? Kan, tadi katanya rukun shalat mesti begitu? Salah kalau takbiratul ihram dan mengucap salam ditukar tempatnya. Iya, kan?”
Munhar terkesiap, Amir tercekat, yang lain pun sama, kecuali Echan. Sebab dia sedang sibuk mengaduk saus acar untuk potongan martabak.
“Sebentar, Pak Kas.... Maksudnya, urutan Rukun Islam itu juga bermakna berurutan?” tanya Munhar, setelah sesaat hening.
Akas mengangguk, “Pada pelaksanaannya, demikian. Zakat fitrah adanya di ujung masa Ramadhan. Tidak disebut zakat fitrah yang dilunasi sebulan sebelum Ramadhan misalnya. Betul, tidak?”
Mengangguk-angguk semua.
“Nah, secara hakikat, yang lain juga mestinya begitu. Kalau mau loncat-loncat silakan, tapi tanggung sendiri resikonya. Itulah, naik haji tanpa bekal benar empat lainnya, ya runyam. Judulnya boleh haji, kelakuan...? Tentu tidak semua begitu, yang mabrur pasti ada. Namun, kenyataan lapangan jangan dikesampingkan, sebab justru pada kenyataan itulah kebenarannya. Kebenaran tidak bertempat pada angan-angan atau bayangan. Aslinya, pada kenyataannya. Kalau tidak sesuai harapan, berarti ada yang mesti ditinjau ulang. Begitu garisnya, Kang.”
Hening lagi agak lama setelah itu.
“Aku pulang ah, nggak rame. Pada diem-dieman begini," celetuk Akas, tersenyum wajahnya.
“Ee, jangan dulu. Belum puas, nih,” sahut Munhar.
Akas yang sedang mesem itu, lanjut tertawa pelan, “Urusan puas nggak puas bukan bagian saya, Kang.”
“Bagiannya siapa?”
“Echanlah. Siapa lagi?”
Bujang lapuak yang sesaat masih terpekur itu langsung mendelik.
“Kok aku?”
“Kan, katanya kamu yang paling pintar mengurus kepuasan? Beli rokok mesti kamu, beli martabak mesti kamu, lain-lainnya juga harus kamu.”
“Termasuk menghabiskannya,” timpal Aman. Baru sadar dia kalau martabak telur itu sudah ludes. Benar-benar bersih.
__ADS_1
Echan tertawa, yang lain juga. Untung masih tersedia gorengan dan bandrek. Amanlah. Lagian sudah dimaklumi kalau Echan memang tongkat berusus panjang. Pantas semangat seniornya besar. Ogah junioran.