Selamat Jalan

Selamat Jalan
62. tafsir cahaya


__ADS_3

Lalu, dia pun membacanya dalam hati. Mulai dari terjemahan atas ayat tersebut. “Allah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca yang sakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya, Allah membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Usai membaca ini, Akas tersenyum. Sambil melintas tadi, sekalian langsung maknanya mengiring masuk. Jelas sekali terpampang. Demi kebenaran, tidak ada dusta di sini.


Namun, dia ganti terkesiap saat menelaah uraian tafsir atas ayat Cahaya yang ada di kitab ini. Kok begitu? Dikatakan bahwa, yang dimaksud “Allah Cahaya langit dan bumi" adalah adanya matahari. Beliau berpegang pada kalimat ayatnya, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sesuai kaidah yang baik dan benar, maka mestinya (atau diharapkan?) berbunyi, “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”. Ada sisipan kata “pemberi” dan “kepada” di situ. Jadilah “C”-nya Cahaya pun ditulis huruf kecil karena sekadar dipandang cahaya matahari. Waduh.... Padahal, telah nyata bahwa Allah-lah Cahaya langit dan bumi. Apakah kurang jelas yang sedemikian terangnya? Bukanlah di dekat penghujung ayat ini tercantum kalimat Nur alaa Nuurin? Bagaimana mengenakan martabat “Cahaya di atas Cahaya” bagi sekadar cahaya matahari?


Lalu, Akas mendelik saat menelaah uraian selanjutnya, “Perumpamaan Cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca yang seakan akan bintang seperti mutiara....” Tafsirannya, itu adalah isyarat dari adanya cahaya yang dihasilkan dari aliran listrik, yang kalau dimasukkan ke dalam ruang hampa, maka ia akan menghasilkan cahaya yang terlihat bagaikan bintang gemerlap layaknya mutiara.


Wuuihh...


Tiba tafsir kalimat, “... yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon Zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di sebelah barat...” Akas tambah mendelik. Soalnya, dikatakan bahwa itu menunjukkan adanya cahaya yang dihasilkan dari minyak bumi, yang banyak terdapat di tanah yang banyak ditumbuhi pohon zaitun, dari ujung timur sampai baratnya. Jadi, tanah yang banyak pohon zaitunnya ini adalah negara-negara Timur Tengah. Busyet, sama persis dengan akal-akalan si “penjahat” dulu, zaman belum taslim.


Lanjut, “... yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api....” Kabarnya, siloka ini menunjukkan adanya cahaya yang ditimbulkan dari gas bumi yang tidak memerlukan api untuk menyalakannya.


“Allahu Akbar,” Akas mendesah. “Api-Mu seperti korek api saja....”


Kyai Khalil tersenyum, tapi belum berkomentar.


Akas membalik halaman, mencari terusannya. Ternyata tidak ada, habis segitu saja. Yang “Nuurun alaa Nuurin” dan seterusnya tidak ditafsirkan. Entah mengapa. Mungkin kalau ini “berhasil” ditafsirkan, bubar semua yang tadi.


Hening sejenak. Akas menutup kitab, lalu memandangi hard cover-nya yang berhias indah itu sambil menggeleng-geleng.


Kyai Khalil lanjut tersenyum, “Janganlah merasa tinggi, jangan pula merasa rendah, di hadapan makhluk. Manusia adalah yang paling Mulia. Sama martabat kesucian azalinya,” beliau mendesah pelan.


Akas memandang gurunya, lalu mengangguk-angguk. Terucap permohonan maafnya kepada Kiai Haji yang menulis tafsir itu, lewat hati.


Sesaat, senyum Kyai Khalil kembali mengembang. Seakan tahu apa yang diucap hati muridnya barusan. Atau, entah karena alasan apa.


“Apa yang disampaikan beliau dalam kitabnya, tetap punya nilai kebenaran. Sebab, segala yang diniatkan untuk taqarrub ilallah adalah benar. Hanya, seberapa tinggi nilai kebenarannya, tergantung derajat kedekatannya kepada Sang Maha Benar. Allah memandang hati, maka manusia adalah hum darajaatun 'indallaah pada martabat manusiawinya. Bertingkat-tingkat...,” beliau lanjut berujar.


Akas menghela napas, lalu mengangguk-angguk.


Hum darajaatun 'indallaah, wallaahu bashiirun bimaa ya 'maluun. Kedudukan mereka bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan (QS. Ali Imran: 163).


“Baiklah. Sekarang, apa menurutmu 'lubang yang tak tembus' itu?” Kyai Khalil bertanya, sekalian menguji.


“Sejati hati. Qalbu,” jawab Akas, tanpa ragu.


Kyai Khalil tersenyum, “Apakah 'pelita besar’?”


“Sejati diri. Ruh.”


“Apakah 'kaca yang seakan gemerlap bintang’?”


“Rasa sejati diri. Rasa ruh.”


“Apakah 'pohon zaitun yang tidak di timur dan tidak di barat’?”


“Iman tauhid. Setunggalnya Tunggal.”


“Apakah 'minyak yang terang walau tidak disentuh api’?"

__ADS_1


“Keagungan-Nya,” Akas tersenyum. Melihat ini, Kyai Khalil pun ikutan. Sama-sama tahu rasanya “Maha Minyak" tersebut.


“Apakah ‘Nuurun alaa Nuurin'?"


“Huwa, Anta, Ana...,” Akas meringis manis. Entah mengapa Kyai Khalil ikutan pula. Padahal terjemahannya “sekadar” Dia, Engkau, Aku.


“Terakhir, apakah 'perumpamaan'?”


“Senda gurau-Nya. Wamal hayaatud dunyaa illaa la'ibuw walahwu. Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan sekedar senda gurau belaka. Surat al-An'aam ayat tiga satu,” Akas kembali tersenyum.


Kyai Khalil juga....


“Alhamdulillah. Maka, benarlah apa yang dituduhkan Kyai Zarkasih kepadamu. Pada hakikatnya, kamu sudah membimbing. Jika dikehendaki-Nya,” beliau menatap sang murid, lalu beranjak memeluknya.


Mereka pun saling berpelukan erat.


Sesaat kemudian....


“Sebelumnya, adakah yang hendak kamu tanyakan?" ujar Kyai Khalil, usai mereka saling memeluk.


Akas mengangguk, “Apakah dengungan ini?”


Kyai Khalil tersenyum, “Tadi sudah kamu jawab. Apakah kaca yang seakan gemerlap bintang?”


“Rasa sejati diri?”


“Iya, nurani. Di batas pengertian, nurani adalah rasa sejati diri. Ketahuilah, ada tiga tingkatan rasa. Yang terluar adalah rasa jasadi, lalu rasa ruhani, masuk ke dalam lagi jumpa rasa nurani. Panas atau dingin adalah contoh rasa jasadi. Kalau rasa ruhani, misalnya sedih atau gembira. Rasa nurani, wujudnya seperti dengungmu itu. Bagaimanakah rasanya?”


“Hehehe..., rasa jasadi saja tidak bisa digambarkan, apalagi ini. Namun, benar katamu. Di batas kata, rasa nurani ya seperti itu. Kalau kata para wali tanah Jawa, apa yang kamu rasakan secara nurani ini disebut Rasaning Allah.”


Akas mengangguk-angguk paham.


“Dengungmu ini, karena kamu sudah sampai pada rasanya, maka tidak akan hilang barang sekejap pun. Sedang apa pun kamu, dalam keadaan apa pun kamu, tetap ada. Tasbih Tunggal ini menempatkanmu pada keadaan tidak mampu melupakan-Nya. Kenapa? Sebab, bukan lagi kamu yang berupaya mengingat-Nya, melainkan Dia yang mengingatmu. Kalau Dia mengingatmu, bagaimana akan terlepas? Tidak akan, terus ber-Dengung Agung hingga akhir masamu kelak. Inilah adzkurkum dalam taraf kesejatiannya, diingat oleh-Nya. Sekarang ini, dengungmu ada, kan?”


“Iya, Kyai. Terasa sekali....”


“Saat sakaratul maut pun, ia tetap ada. Terus mengingatkanmu akan martabat kesucian azalimu, membawamu melebur bersama Rasaning Allah, yang dengan itu sampailah kamu kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam sekian banyak ayat suci al-Qur'an, “Kembalilah kepada-Ku.” Kepada-Ku, kata Allah. Bukan kepada yang lain, apa pun yang lain itu.”


Akas menghela napas panjang.


“Kalau tidak salah, dulu kita sudah pernah membahas Asmaning Allah, kan?” Kyai Khalil kembali bertanya.


Akas mengangguk, “Hakikat ‘adam Asmaning Allah."


“Nah, yang ini adalah hakikatnya hakikat ‘adam Asmaning Allah tadi.”


“Lebih dalam ya, Kyai?”


Kyai Khalil mengangguk, “Martabat rasa melebihi martabat nama. Martabat rasa setingkat martabat sifat. Misalkan dirimu sebagai zat, maka adakah sifatmu?”

__ADS_1


“Iya, Kyai.”


“Ada namamu juga, kan?”


“Iya, Kyai.”


“Nah, ditinjau dari dirimu sebagai zat, dekat mana sifat dengan nama?”


“Sifat....”


“Itulah. Sifat tidak lepas dari zatnya. Di mana ada zat, dengan sifatnya. Kalau nama, bisa saja namamu terdengar di sana, namun zatmu tidak sedang di sana. Tapi, ini sekedar gambaran. Bukan keadaan yang sebenarnya bagi Dzatullah. Sebab, segalanya Dia. Semua ini hanyalah Dzat-Nya, Sifat-Nya, Asma-Nya, dan Afal-Nya. Habis sudah semua cerita. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'un. Datang dari-Nya, kembali kepada-Nya. Kesimpulannya, Dia. Ya hulu, ya muaranya.”


Akas mengangguk-angguk.


“Adakah lain yang hendak kamu tanyakan?” Kyai Khalil mulai lagi.


“Sudah habis ceritanya, Kyai...,” jawab sang murid.


“Hehehe...,” sang guru pun tertawa pelan.


“Tapi, satu lagi deh. Terakhir....”


Kyai Khalil pun kembali tertawa, “Silakan.”


“Apa maksudnya pesan Kyai Khalil?” Akas menatap gurunya. Yakin ini hanya istilah, tapi apa maknanya? Daripada penasaran. ...


“Wah, berat ini, hehehe..., harus dengan rasa juga. Di batas pengertian, setiap ulama, orang yang berilmu, pada hakikatnya diberi tanggungan untuk menjaga amanah dunia. Itulah mengapa mereka ditinggikan beberapa derajat dari yang lain, dengan ilmunya. Maka, ilmu atau pengetahuan itu bukanlah barang gratisan, hehehe.... Ada pertanggungjawabannya kelak kepada Yang Memberi. Semua ilmu, pada dasarnya harus bisa membawa dunia dan seisinya ini kembali kepada-Nya. Begitu gambaran sederhananya.”


“Semua ilmu? Kalau ilmu yang lain-lain itu?”


“Tidak ada ilmu yang lain-lain. Pada hakikatnya, semua ilmu adalah satu. Seolahnya saja yang terpecah-pecah. Pengetahuan apa pun itu, jika dibaca dengan iman, maka akan kembali 'satu' kepada-Nya. Sebab, Dia-lah Sang Maha Ilmu, Maha Berpengetahuan. Semua ilmu ini, yang lurus maupun bengkok, milik-Nya. Kata siapa milik malaikat? Kara siapa milik iblis? Kata siapa milik kita? Bagaimana bisa dikata milik mereka, kalau bahkan mereka itu pun milik-Nya, bukan?"


Akas tercekat. Benar!


“Tapi, Kyai, kan ada ilmu yang menyesatkan?”


“Nah ini dia, bukan salah ilmunya. Pengetahuan tidak kena salah. Yang salah, orangnya. Yang disebut ilmu agama sekalipun, kalau salah orang, katakanlah kurang imannya, jadinya menyesatkan juga. Baik bagi dirinya maupun bagi orang lain yang mengikutinya. Walaa tasytaruu bi’ahdillaahi syamanan qaliila. Bukankah telah jelas? Silakan dilihat kejadiannya di sekitar kita.”


Akas terpekur....


Walaa tasytaruu bi'ahdillaahi syamanan qaliila, innamaa 'indallaahi huwa khairul lakum inkuntum ta'lamuun. Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang murah, Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS. an-Nahl: 95).


“Setiap percikan ilmu, turun dengan harganya. Dengan perjanjiannya. Jangan pongah menerimanya, merasa itu miliknya, semata-mata hasil upaya kerasnya, lalu merasa berhak mempergunakan sekehendaknya. Ingat, ada perjanjiannya, ada bentuk pertanggungjawabannya kelak. Alaisallaahu bi-ahkamil haakimiin. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? Tidak luput sebiji dzarrah pun....”


Akas mengangkat wajah, memandang gurunya.


Kyai Khalil tersenyum, “Jangan khawatir dan jangan bersedih hati. Hanya diminta mengembalikan semua akuan diri kepada-Nya. Itu saja, hehehe....”


Akas mengangguk-angguk tegang.

__ADS_1


“Ayo senyum lagi, hehehe.... Dikasih ilmu sama Allah kok malah pucat,” Kyai Khalil mencandai muridnya, menenangkannya.


Maka, Akas pun mesem sambil garuk-garuk kepala.


__ADS_2