
Besok paginya Akas menemui Enci, lalu mereka bersama-sama menuju pabrik roti yang berlokasi tidak jauh dari rumah sang pemilik. Di sana, Akas diperkenalkan kepada beberapa pekerja utama. Sekalian diberi gambaran tugasnya, sod description. Tidak asing, serupa dengan tugasnya di bank dulu.
Selanjutnya, Akas nyengir melihat model catatan keuangan pabrik roti ini. Bagaimana bisa di awal tahun ‘80-an, masih ada pabrik skala segini yang memakai akuntansi model “nomor, tanggal, uraian, debet, kredit”? Tidak salah, cuma telat banget teknologinya. Itu sih mode pencatatan zaman sebelum Sumpah Pemuda. Catatan inventory bahan produksi juga runyam. Tidak ada metode reorder level-nya sama sekali. Berarti, main perkiraan. Dikira-kira saja, begitu....
Maka, setelah yakin perlu adanya peremajaan di sektor ini, Akas mengusulkannya kepada Enci. Akuntansi keuangan dulu, inventory-nya menyusul.
“Apa perlu, Pak Kas?” tanya Enci.
“Perlu atau tidaknya, tergantung sudut pandang Enci. Yang jelas, sistem pencatatan sekarang ini banyak kelemahannya. Antara lain, tidak bisa memberi gambaran situasi keuangan per satuan waktu. Apalagi untuk waktu yang pendek dan mendadak. Misalnya, tiba-tiba Enci perlu tahu status keuangan pada jam ini, maka sistem yang sekarang tidak bisa bicara karena mesti direkap dulu semuanya.”
Enci manggut-manggut, lalu minta penjelasan lanjut.
Akas memberi penjelasan yang dipandang perlu. Sampai sang pemilik pabrik punya gambaran garis besar kemanfaatannya.
"Ya sudah, Pak Kas, segera diterapkan,” ujarnya, memberi perintah.
Akas mengangguk. Senang karena atasan menerima usul perbaikan ini. Dibuka kesempatan untuk coba dilaksanakan. Di tempat kerja yang dulu, terus terang tidak selalu mudah mengusung usul perbaikan. “Janganlah, ngapain nambah-nambah kerjaan?” begitu kata para atasan. Ya sudah, urusan bapak.
Selanjutnya, Akas pun bergerak. Dibantu seorang karyawati bagian administrasi, Akas menata ulang sistem keuangan yang ada. Tidak sulit, delapan tahun di Kidangan, seperti inilah sebagian besar kerjanya. Tentu tidak semua sistem bank itu diterapkan ke pabrik roti ini, yang perlu-perlu saja. Kalau semua diadopsi, nanti malah jadi seperti bank. Kaku permainannya.
Maka, di akhir bulan, Enci kaget melihat Akas hanya membawa selembar kertas balance sheet sebagai laporan keuangan bulan ini. Dia terkejut karena yang lalu-lalu, biasanya disodori buku tebal kumal itu-itu saja yang diaku oleh pelaksana tugas sebelumnya sebagai general ledger. Belum termasuk setumpuk formulir berantakan, katanya.
Suami tersayangnya Asih itu tersenyum saja....
“Jadi, duit ada segini?” Enci bertanya.
“Iya. Di bank segini, di kas segini,” Akas menunjuk angka-angka pada balance sheet itu. Sekalian penjelasan singkatnya.
“Beneran nih, Pak Kas?” tanya Enci, belum yakin mungkin.
Akas mengangguk, “Kecuali kalau ada transaksi keuangan yang tidak dilaporkan ke saya.”
Enci manggut-manggut. Setelah mengamati lagi teraan angka-angka itu, dia mengembalikan kertasnya kepada Akas.
“Ini buat Enci, salinannya. Saya pegang aslinya,” ujar sang akuntan.
“Oo, yang ini buat saya?” sang pemilik terlihat kaget lagi.
Akas mengangguk sambil ikutan terkejut. Emangnya yang lalu pakai gaya gimana, sih?
“Terima kasih, Pak Kas. Barusan ini lho, saya dikasih laporan keuangan yang gampang dimengerti begini,” ujar Enci, tulus.
“Emangnya, yang dulu gimana, Ci?” Akas bertanya sekalian.
“Dengar ceritanya saja, gitu. Kalau sudah diceritain, bukunya dibawa balik. Nggak ada yang disisakan buat saya.”
Akas kembali mesem, “Lha, ngecek uangnya gimana?"
Si Enci meringis, “Yaa, dihitung biasa, selembar-selembar. Nggak pernah pas, selalu ada selisihnya. Seringnya, selisih kurang. Katanya memang harus begitu, tidak bisa pas. Nggak tahu saya juga....”
Akas tertawa pelan, tanpa komentar.
Lalu, sang pemilik pabrik roti ini jadi ikutan terkekeh. Mungkin barusan sadar ada kadal berkeliaran. Atau, entah apa....
***
Tiga bulan berlalu. Tampaknya, Enci puas dengan hasil kerja akuntannya. Dia senang melihat duitnya bisa diketahui keberadaannya dengan pasti. Tidak pakai acara selisih-selisih lagi. Segitu tertulis, segitu faktanya. Maka, sama seperti pengangkatan Akas yang tanpa SK, kenaikan upahnya pun tak ber-SK. Tahu-tahu nanjak sendiri tanpa halo-halo. Alhamdulillah. Benar kata Arkam, antik memang atasan yang sekarang. Cina, tapi njawani sekali. Seperti Jawa.
__ADS_1
“Oo, begitu ya, Pak Kas?” Enci antusias mendengar cerita Akas tentang perlunya perbaikan sistem inventory bahan produksi.
Akas mengangguk. “Biaya variabel terbesarnya ada di situ. Yang lain, boleh dibilang biaya tetap. Yang sudah tetap, biarlah tetap. Tapi, yang sifatnya variabel harus selalu dikendalikan,” ujarnya.
Enci manggut-manggut, “Kok Pak Kas tahu, sih?”
“Ah, Enci ini. Pasti Enci juga tahulah. Sekedar ngetes saya gitu...”
“Ee, beneran ini, nggak ada ngetes-ngetesan. Saya tahu harus beli bahan, tapi nggak ngerti variabel-variabel tadi,” sanggahnya.
Akas mesem. “Variabel itu cuma istilah, Ci. Maksudnya, biaya untuk ini nilainya naik turun, tapi totalnya tetap besar. Nih, coba Enci lihat,” dia memperlihatkan catatan keuangan untuk pengadaan barang produksi. “Besar, kan?”
Enci mengangguk-angguk.
“Karena besar dan tidak tetap, menurut saya perlu dibuatkan prosedur yang baik untuk ini. Supaya kontrolnya juga jadi bagus. Sebab, pengaruhnya terasa banget di cashflow. Kalau jebol, bisa-bisa bobol semuanya,” sambung Akas.
Enci terus mengangguk-angguk.
“Pak Kas bisa bikin caranya itu?” dia bertanya.
“Prinsipnya sama seperti akuntansi. Cuma, yang dicatat barang, bukan uang. Nantinya, orang gudang bahan harus bisa menjawab kalau ditanya sisa berapa banyak bahan apa di gudang, atau kapan harus belanja bahan lagi, dan semacamnya. Kayak kalau Enci tanya urusan keuangan ke saya.”
“Oo, bisa sampai gitu, ya?” Enci terlihat antusias.
“lya, kalau prosedurnya diterapkan dengan benar.”
“Ya sudah, laksanakan...,” ujarnya.
Akas tersenyum, “Tapi, Ko AKim harus diajak, sebab dia yang pegang pembelian sama penyimpanan bahan.”
Akas mengangguk. Enci menyuruh seorang karyawan memanggil keponakannya itu. Tidak lama, datanglah sang keponakan yang barusan tembus dua puluh dua tahun usianya. Namun, sudah punya anak dua.
Enci meminta Akas menjelaskan gagasan perbaikan sistem inventory tadi. Akas pun menguraikannya dengan bahasa yang mudah, supaya gampang dimengerti. Tampaknya AKim paham sedikit, tapi iseng menentang dula seperti biasa. “Bagus sih bagus. Cuma, buat apa diubah-ubah lagi? Memenuhin kerjaan saja. Yang sekarang kan sudah jalan, sudah bisa menguntungkan,” kilahnya.
Akas mesem saya mendapat penentangan itu. Jalan bulan kelima bekerja di sini, tentu dia sudah paham gaya tuan muda ini. Baik orangnya, cuma muda darahnya. Teuas babatok gaya kepala entok. Mesti digetok dulu, baru nurut. Tetap ada hal baru, dia pasti membuka debat. Kalah menang bukan soal. Pokoknya jangan langsung menyerah, gitu. Biar rame, hehehe...
“Kim, berapa banyak terigu di gudang sekarang” tanya Enci.
AKim kaget ditanya begitu oleh tantenya. “Ada di catatan, mesti dilihat dulu,” kilahnya lagi.
“Sana ambil catatannya, terus kamu ke sini lagi,” ujar Enci.
“Buat apa sih, Tante?”
“Kok buat apa? Kata kamu tadi mesti lihat cacatan, kan”
“lya, sih. Tapi, buat apa Tante tanya-tanya terigu?”
“Eee, kamu ini..., Ambil cacatanmu! Aku mau tahu berapa banyak terigu sama yang lainnya di gudang sekarang,” ujar Enci, agak keras.
AKim nyerengeh, “Kalau aku nggak mau?”
“Kupecat kamu,” sembur sang tante.
Akas tertawa. AKim juga, sebelum beranjak. Enci geleng-geleng kepala melihat warisan kakak laki-lakinya yang sudah meninggal dunia itu.
“Si AKim, dari bocah sampai sekarang punya dua bocah, nggak ada berubahnya. Dasar protesan,” gerutu Enci, sembari menunggu keponakannya balik.
__ADS_1
Akas terkekeh lagi, “Apa protesan, Ci?”
“Tukang protes...."
Akas pun kembali tertawa.
Tidak lama, AKim kembali membawa buku tebal kumal gaya general ledger akuntansi dulu, sekalian kalkulator. Akas nyengir, gelagatnya tidak bakal clear. Pokoknya kalau masih pakai model begitu, dijamin banyak melesetnya. Tapi, dia diam dulu, melihat perkembangan situasi.
“Ayo, berapa sisa terigu sekarang?” Enci langsung nyerang.
“Sabar, sabar. Semua kebagian tanda tangan,” AKim bergumam gaya selebriti, mencandai tantenya.
Akas tertawa kecil, AKim juga. Enci melotot. Lalu, sang keponakan pun mulai berhitung. Semenit, dua menit, tiga menit..., belum keluar angkanya.
“Mana?” tembak sang tante.
“Sabar, Tan. Ini kan lagi dihitung,” tangkis si keponakan.
Akas terkekeh lagi, Enci geleng-geleng kepala. AKim masih bisa nyerengeh sebentar sebelum kemudian dahinya mulai berkeringat. Sudah mulai naik panas mungkin otaknya.
“Mana?” kejar sang tante lagi, sesaat kemudian.
AKim diam saja, terus menghitung sambil manyun.
“Hah, kelamaan. Orang sudah berangkat piknik ke bulan, kamu masih main becek-becekan,” ujar Enci, sambil mesem ke arah Akas.
Akas balas meringis manis.
“Nih,” AKim menyerahkan kertas cotretannya. “Nggak sabaran banget, sih.”
Enci melihat teraan angka-angka di kertas buram itu.
“Benar segini?” dia menantang.
“Iya,” jawab keponakannya, diyakin-yakinkan.
“Beneran?” tantang tantenya lagi.
AKim mengangguk.
“Kalau gitu, ayo kita periksa sama-sama,” gertak sang tante.
“Oo, Tante mau ke sana?” tanya AKim, tertangkap nada cemas dalam tekanan suaranya.
“Iya, kenapa?”
“Ya nggak apa-apa. Cuma, kalau mau diperiksa ke sana, harus dihitung ulang dulu. Biar pas betul gitu, hehehe...”
“Hah, alasan. Bilang saja kalau kamu nggak yakin,” sanggah Enci.
“Lho? Bukan soal yakin nggak yakin, Tan. Ini tentang check and recheck.”
“Halah, cambah panjang saja dalihmu.”
“Hehehe...,” AKim nyerengeh, dan langsung menghitung lagi.
Karena check and recheck itu sudah maling start, terpaksalah Enci memberi waktu bagi keponakan protesannya untuk menuntaskan dalih. Lalu, buntutnya AKim malah bingung sendiri karena angka yang didapat sekarang beda dengan yang awal. “Kok bisa, ya?” dia menggerutu. Akas terkekeh, Enci tertawa. Gantian AKim yang kini merengut.
__ADS_1