Selamat Jalan

Selamat Jalan
67. ayat-ayat hijrah


__ADS_3

Wal 'ashr, demi masa. Bahwa segala yang diadakan-Nya ini berikut dengan masanya, bersama waktunya atau umurnya. Dan, Kyai Sanusi pun wafat pada usia kira-kira delapan puluh tiga tahunan. Beliau meninggalkan alam bermasa ini dengan tenang, seraya menitipkan wasiat pembagian harta warisan. Asih menerima setengah bagian dari rumah dan tanah di Kampung Kaum ini. Dia berbagi dengan seorang kakak laki-lakinya, yang selain menerima setengah bagian ini juga menerima bagian di tempat lain. Maka, perjalanan hidup bagi mereka yang masih punya sisa masa pun berlanjut dengan kisahnya masing-masing.


“Mas, gimana rencana beli rumah?" tanya Asih ke suaminya.


“Eem, gimana, ya? Kenyataannya, sekarang kamu dapat warisan dari Bapak. Malah sekalian sama tanah tempat usaha roti itu. Apa perlu beli rumah?” Akas mengembalikan bola.


Asih terdiam. Justru karena inilah perasaan dia jadi macet di tengah-tengah. Terus terang, tadinya sudah siap-siap menembus rumah idaman karena tabungan yang dikumpulkan sekian lama itu sudah mencukupi. Paling kurang-kurang dikit, bisalah pasti dinego.


“Jadi, gimana ini, Mas?” Asih kembali bertanya.


Akas tersenyum, “Kalau dilihat dalilnya, jelas bahwa jangan berlebihan. Berlebihan itu melampaui batas yang dibutuhkan. Kata Rasulullah, dunia nggak usah banyak-banyak, secukup jasad saja. Wong nantinya juga bakal ditinggalin. Sekarang, tanyalah hati, kita butuh rumah nggak pada kenyataannya kini? Jangan sekedar tanya sama akal, ya? Sebab, suka ngelunjak. Main iya saja maunya.”

__ADS_1


Maka, Asih pun kembali terdiam. Alisnya mengerung, bibirnya manyun dikit. Dan, masih sama dulu. Kalau sudah begini, uh-lah. Susah diceritakannya. Akas pun tidak mampu berkata-kata. Paling cuma meringis....


“Terus, uangnya buat apa dong?” masih nembak juga putri bungsu almarhum Kyai Sanusi ini. “Kan, sudah susah-susah dikumpulin?”


“Sesungguhnya, kita tidak tahu peruntukan uang itu. Benar bahwa syariatnya kamu yang mengumpulkan. Maksudnya, untuk beli rumah. Itu maksud kita, maunya kita. Tapi, mesti disadari bahwa belum tentu begitu maunya Allah. Daripada bingung-bingung, kembalikan saja kepada-Nya. Kalau kehendak-Nya jadi rumah, maka haqqul yaqin jadi rumah. Kalau yang lain, ya yang lain itu. Sudah, begitu saja. Enak, kan? Ngapain pusing-pusing? Nggak punya duit, pusing. Eee, giliran punya pusing juga ternyata. Mending jangan dipusingkan dua-duanya. Kata orang, biarkan kehidupan mengalir seperti sungai. Cailaa, bisaan ngomongnya euy. Entah pada kenyataan saat sungainya mampet, hehehe....”


Maka, Asih pun tertawa mendengar suaminya bilang “euy” barusan. Soalnya terdengar rada “oey”, mirip ey oey oey-nya Babah Oey Cing Sia, juragan terigu Pasar Baru. Maklum, elang Jawa peranakan Cina.


Barangkali uang itu memang bukan peruntukannya untuk membeli rumah, karena hingga kini belum juga menjadi kenyataan. Belakangan Asih malah membuat pengumuman bahwa uang itu akan dibeasiswakan. Dia ingin si Barbie bisa meraih gelar sarjana beneran. Soalnya, dua kakak badungnya milih gabung dengan ayahnya di usaha roti selepas SMA. Menggeleng semua saat diminta lanjut. Yang ketiga pun cenderung demikian. Memang susah mengarahkan Power Rangers. Mungkin karena mereka punya pedang sendiri-sendiri.


Akas tertawa. Ada-ada saja Asih tersayang ini. Cuma, perasaan kok jadi nggak beneran nih “sarjananya”? Padahal, dulu putri kerudung merah sendiri yang mengaku tekun berdoa agar berjodoh dengan “sarjana” yang rumahnya di belakang Masjid Agung. Iya, kan? Masak lupa? Kata Bung Karno, “Jasmerah!" Jangan sampai melupakan sejarah. Apalagi sejatining sejarah diri masing-masing. Sangat berbahaya yang ini. Very-very dangerous....

__ADS_1


Di halaman lain, “anak-anak hati” pun bertambah. Belasan orang mereka kini. Datang dengan beragam kisah pengantarnya, bermacam sababiah-nya. Namun, mereka punya kesamaan dasar, yaitu ingin meraih ketenangan jiwa. Semua mengaku belum tenang dan ingin merasakan sebagaimana yang tersurat dalam al-Fajr ayat 27, yaa ayyatuhaan nafsul muthma'innah. Hai jiwa yang tenang. Padahal, jawabannya telah nyata pada ayat berikutnya, Irji'ii ilaa rabbika radhiyatan mardhiyyah. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Hanya, bagaimanakah caranya itu? Ini persoalannya.


“Muslimkan nafsumu,” jawab Akas. Sesuai sabda Baginda Nabi Saw., “Nafsuku telah muslim.” Kuncinya memang ini. Sebab, jiwa tidak akan bisa tenang selama nafsunya masih merajalela.


Lalu, mereka pun lanjut mengejar. Bagaimana caranya?


“Kenalilah dirimu,” jawab Akas.


Mengapa? Sebab, yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Di tataran hakikat, tidak ada ketenangan sejati tanpa makrifatullah. Ketenangan sejati hanyalah bagi mereka yang mengenal Tuhannya. Mereka yang “bertali teguh” kepada Allah. Bentuk-bentuk akuan ketenangan diri yang bersandar bukan kepada-Nya adalah semu. Bagaimana tidak semu kalau sandarannya pun semu? Sebab, semua yang selain Dia adalah hawadits, ciptaan. Dan, semua ciptaan menyandang masa. Hanya Dia-lah Sang Maha Kekal. Lantas, bagaimana ceritanya yang bakalan habis itu mampu menjamin ketenangan sejati? Tidak ada dari Lautnya.


Setelah mendapat penjelasan dari Akas serupa di atas, yang tentu disampaikan tidak secara gamblang melainkan dengan siloka-siloka, sebagian mereka ada yang mampu menangkap pesan tersirat. Pada kejadiannya, ini tidaklah semata-mata tergantung kecerdasan akal. Ada faktor itu, terapi secara lathif lebih kepada kesiapan hatinya. Namun, sebagian yang lain kalahka lieur, malah jadi semakin bingung usai dipapar. Kepada yang “tidak kena” ini, Akas mengantarkannya kembali ke tatarannya. Bukan atau belum hak bagi mereka untuk menyibak tabir hakikat. Zhalim kalau dipaksakan. Pada tatarannya itu pun mereka akan menerima bentuk ketenangan diri di batas syariat. Allah menjanjikan surga firdaus atas ini.

__ADS_1


__ADS_2