
Hari berganti minggu. Minggu pun berganti bulan. Kangkung-tahu, kangkung-tempe, adanya. Sering malah tidak ada kangkung-kangkungan, sekalian tanpa tahu-tahuan berikut tempe-tempean. Hanya nasi ditabur garam, atau rebusan kentang. Tapi, cukup. Sabda Rasul saw., “Yang sedikit tapi mencukupi itu lebih baik daripada yang banyak namun melenakan.” Tidak ada anggota tim yang mengeluh, tidak pula busung lapar. Kalau langsing, iya. Tapi, malah bagus, kan? Banyak orang terpaksa bermahal-mahal demi langsing. Padahal, kalau tanya Asih, murah....
Di luar cerita dalaman rumah, tugas pembimbingan ruhaniah lanjut berjalan. Karena tempatnya belum ada, cukuplah di bawah pohon sukun belakang rumah untuk tempat muthalaah para murid. Menggelar tikar saja, Akas tidak merasa berhak membuat saung di sini misalnya. Sebab, ini rumahnya Kang Said. Namun, para murid tidak ada yang protes. Asyik-asyik saja bawaannya. Cuma ya gitu, “misbar”, gerimis bubar. Apalagi kalau langsung deras...
Hingga pada suatu malam, “Mas, saya hamil,” Asih berbisik.
Wuh? Akas surprise, lalu meringis manis. Kangkung tempe kangkung tahu, tahu-tahu dikasih bonus. Boleh juga sendu urau-Nya, hehehe,...
“Berapa bulan?” tanya sang suami yang masih meringis itu.
Maka Asih pun manyun karena melihat suaminya "manis" sekali. "Mas, sih.... Sudah dibilangin jangan...," dia protes kecil.
“Lho? Kenapa? Hehehe...."
Asih diam, masih manyun sedikit. Tapi, sebentar kemudian sudah ikut-ikutan meringis manis seperti suaminya.
“Kok baru bilang sekarang?" tanya Akas, usai meringi
“Baru ketahuan tadi siang, sudahnya diperiksa ke Bidan Suci. Tadinya nggak nyangka adiknya Wulan...,” jawab Asih, dan lanjut berkisah tentang kenapa dia tidak menyangka ini adiknya Wulan.
Akas manggut-manggut. "Jadi, berapa bulan ini?"
“Lima setengah....”
"Hah? Lima setengah?” sang elang mendelik.
Asih mengangguk mesem.
Akas menggeleng-gcieng. Lima setengah bulan di dalam rahim kok bisa nggak ketahuan? Apa nggak kerasa? Tapi, bagaimana pun ceritanya, alhamdulillah bakalan dikasih bonus.
Lalu, bulan berganti bulan. Sehat nadanya "sanak kangkung” ini, tidak macam-macam dalam kandungan. Mamanya pun adem ayem saja. Tidak ada kisah lanjutan periksa bidan, apalagi kontrol dokter. Tidak ada “kangkungnya”. Doa dan kepasrahan saya Yang mengiring pertumbuhan sang janin.
Hingga, tiba saat baginya menjelang lahir Enam ratus ribuan biaya bersalin di bidan, dan pasti lebih mahal kalau di dokter. Akas pun menghela napas, tidak tersedia uang segitu. “Allah datang dari-Mu, kembali pada-Mu," desahnya, di penghujung doa bakda isya ini. Bahkan, dia sudah mempersiapkan diri sekiranya harus jadi pelaksana teknis persalinan itu, walau jujur tidak tahu caranya. Tahunya, Allah Maha Ada. Ketiga ajudan pun telah siaga sambil deg-degan. Wulan belum dilibatkan karena masih terhitung anak bawang. Belum tembus ABG, sebentar lagilah. Mamanya juga tidak diberi tahu. Berempar lanang, tidak ada yang tega ngomongnya....
“Assalamu alaikum," seseorang menyapa.
Akas yang sedang mengenakan sandalnya hendak pulang ke rumah itu menoleh, lalu tersenyum melihat Tohari, “Waalaikum salam. Apa kabar, Har?"
Tohari balas tersenyum, “Baik. Pak. Bapak sendiri, gimana?"
“Alhamdulillah, sama baiknya. Gimana kabar bebek?" Akas menanyakan usaha Tohari yang beternak bebek pedaging. Dulu, dia salah seorang pengumpul roti kedaluwarsa untuk pakan bebeknya.
__ADS_1
“Sehat, cuma nggak bule sekarang. Nggak dikasih roti lagi sih. Makannya limbah restoran sama helm tentara terus, hehehe...."
Akas ikut tertawa.
“Helm tentara" adalah istilah gaulnya kulit kacang hijau yang dijadikan tauge. Cukup tersedia limbah “helm tentara" ini di pasar sana, tempatnya para bandar tauge. Makanan bergizi itu bagi bebek. Tapi, karena tujuannya pedaging, kata Tohari lebih bagus dikasih limbah roti. Lebih cepat gemuk dan dagingnya empuk, gembrot embruh-embruh. Kalau digeber “helm tentara”, jadinya model tentara juga. Langsing, otot semua. Aliasnya, alot. Makanya perlu dicampur limbah restoran yang menurut sang peternak, bisa memacu penggemukan. Entahlah.
Lalu, mereka pun lanjut berbincang....
“Begitulah ceritanya, Pak. Saya ingin berbagi dengan mereka yang telah membantu usaha saya,” ujar Tohari, sambil menyerahkan amplop cokelat.
Barusan Tohari berkisah bahwa dia barusan dapat untung besar karena bebek-bebeknya habis diborong restoran Jakarta yang khusus menjual menu masakan bebek. Berhubung belinya langsung, tanpa perantara, maka harga pasaran Jakarta itu jatuhnya bagus. Biasanya kesunat calo sih.
“Ini buat saya?" tanya Akas, sambil menerima amplop.
“Iya, Bapak kan salah seorang yang celah membantu saya. Tapi, jangan dilihat jumlahnya ya, Pak. Eem, hatinya, hehehe. ..”
Akas tersenyum, “Alhamdulillah. Terima kasih, Har”
“Sama-sama, Pak,” Tohari membalas senyum.
Perbincangan masih berlanjut beberapa saat, sampai kemudian Tohari pamit. Akas mengucap terima kasih sekali lagi sebelum mereka berpisah. Usai itu, dia naik lagi ke masjid. Shalat dua rakaat, mengucap syukur kepada-Nya, menyisihkan sebagian rezeki yang diterima tadi ke kotak amal, lalu beranjak pulang.
Malam itu juga Akas membawa istrinya ke bidan. Dan, lahirlah sang bonus menjelang subuh. Perempuan, cantik serupa kakak dan ibunya. Sehat, montok badannya walau hanya digeber kangkung. Tapi, jangan salah, kelas berat kangkung ini karena mengalir dzikrullah bersamanya. Lalu, ayah dan ibu pun sepakat memberinya nama indah, Laras Rabiah al-Adawiyah. Buah harapan, semoga selaras dengan akhlak Sayyidah Rabiah al Adawiyah Ra., sang sufi wanita....
"Ke sana lagi, Mas?” tanya Asih, sambil menyusui “sufi kecilnya”.
“Iya,” jawab Akas.
Asih menghela napas, “Nanti saya ke sana, pulang Wulan dari sekolah.”
Akas mengangguk lagi. Setelah mencium kening putri bungsunya, dan mengucap salam kepada istrinya, dia pun bergegas kembali ke rumah sakit. Hampir dua minggu Said Jubair dirawat di sana, diabetesnya semakin parah.
Unik juga kakak ipar yang baik ini. Selama dirawat, dia tidak mau jauh-jauh dari Akas. Pokoknya, adik ipar yang mantan musuh besarnya zaman elang itu mesti dekatan terus dengannya. Sebentar saja tidak kelihatan, langsung ribut menanyakan, Padahal, kalau ada, tidak ngapa-ngapain. Sekadar “ngobrol mati” seperti yang biasa mereka bincangkan dari dulu. Kayaknya, Kang Said ini terobsesi dengan tuturan Akas tentang antal mantu qablal mautu,“ matilah sebelum mati”. Maunya bab itu terus, tidak soal siaran ulangan. Namun, hari-hari terakhir ini Akas Justru mengarahkannya agar menghapus semua kisah. “Jangan terbebani bermacam cerita, Kang. Hapus semua. Hanya Allah yang ada,” ujarnya kemarin dulu....
Baru saja Akas melintas gerbang rumah sakit, putri sulung Said berlari tergopoh menyongsongnya. “Bapak, Kang..., Bapak...,” ucapnya terbata-bata. Sang paman pun paham situasi. Bergegas mereka menuju ke sana.
“Assalamu'alaikum,” ucap Akas kepada mereka yang sedang berada di kamar perawatan itu.
“Waalaikum salam,” sahut mereka. Tampak dua dokter, dua perawat, dan istri Said di situ. Tegang semua wajah mereka. Sang istri telah berlelehan air mata.
“Kas..., Kas...,” Said memanggil-manggil.
__ADS_1
Akas mendekat. “Iya, Kang,” ujarnya, sambil menyentuh tangan kanan sang kakak.
Said balik memegang tangan adik iparnya. Erat sekali, seakan enggan melepaskannya lagi. “Keluar semua..., keluar semua...,” pintanya megap-megap, sambil terus memegangi tangan Akas. “Sudah, keluar semua.... Percuma...,” lanjutnya terengah-engah.
Para dokter dan perawat pun beranjak keluar ruangan. Istri Said juga. Semua telah maklum bahwa secara medis, kondisi Said boleh dikata tidak ada harapan. Cuci darahnya sudah harus sehari sekali, bahkan sehari dua kali pada saat-saat tertentu.
“Keluar semua...," ujar Said lagi.
“Sudah, Kang. Sudah keluar semua, tinggal saya," sahut Akas.
“Kas..., Kas ..,” Said kembali berujar macam mengigau
“Iya, Kang Saya di sini ”
“Betul kamu, Kas, betul kamu. , “
“Allah Yang Maha Benar. Ada apa, Kang?"
“Tidak ada apa-apa. Hanya Cahaya... Cahaya di mana-mana..."
“Cahaya apa?”
“Cahaya, Kas.... Cahaya...”
“Astaghfirullah, innahuu kaana ghafar. Kang Said..., Kang...,” Akas mengguncang pelan tubuh kakak iparnya yang tiba-tiba melunglai itu.
“Iya, iya...,” Said merespons.
“Hapus semuanya. Semuanya. Rasakan Cahaya itu, rasakan....”
“Iya...” Said kembali merespons.
"Ayo saya temani dzikir. Allah, Allah, Allah....”
Sad merespons arahan Akas. “Allah..., Allah..., Alah...,” bibirnya bergetar mendesah asma-Nya, seiring air mata yang meruah tumpah.
Selama kurang lebih enam jam ke depan, Said Jubair terus berdzikir mengiring sakaratul mautnya. Akas menemani di situ karena tangannya tidak dilepas oleh sang kakak. Dipegang terus. Jadilah shalat zhuhur dan ashar ditunaikan secara daim, secara hakikat. Sebagaimana yang sedang dilaksanakan oleh Said, walau mungkin dia tidak sadar atau tidak mengerti ini.
Pihamilah bahwa bagi mereka yang telah sampai pada keadaan seperti Said sekarang, tidak lagi diberi kemampuan untuk menunaikan shalat syariat. Jangan kara berdiri, duduk dan sujud, sekadar mengedip atau menggeleng pun sudah tidak mampu. Padahal, shalat berhukum wajib. Tidak ada keterangan bahwa mereka yang sedang menghadapi sakaratul maut, diperbolehkan meninggalkan shalat. Maka, adanya daim, shalat hakikat. Asyhadu allaa laaha illallaah, wa asyhadu anna muhammad rasuulullaah itu, tidak boleh terputus dalam rasa. Sebab, sejatining shalat tidaklah terhalang oleh ruang, waktu, dan keadaan.
Inna shalaata tanhaa ‘anil fahsyai’iwal munkar, waladzikrullaahi akbar, wallaahu ya’lamu maa tashna’uun. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-Ankabuut: 45). Dzikrullaahi akbar. Masihkah pantas dipertanyakan?
__ADS_1
Satu jam terakhir, kondisi lahiriah Said semakin habis. Dzikirnya pun tinggal ******* halus, “Lah..., Lah..., Lah...,” saja, seiring tarikan dan hembusan napasnya yang tersisa sepenggal-sepenggal. Namun, situasi batiniahnya terus membaik, tidak gusrah-gusruh seperti di awal-awal. Wajahnya pun menenang, sesekali malah terlihat senyum-senyum. Entah sedang memandang apa. Tapi, sudah tidak bisa disapa, cuek saja kalau ditanya. Diam. Saat beberapa kali dokter memeriksa pun dia tidak bereaksi. Uniknya, tangan Akas tidak dilepaskan. Kalau dicoba melepaskannya, seperti tahu, dia “melawan”. Hingga pada akhir masanya, “Lah, Lah, Allaaah...,” Raden Haji Said Jubair pun berpulang...