Selamat Jalan

Selamat Jalan
46. dibatas kata


__ADS_3

Di batas kata-kata, apa yang sedang terjadi pada diri Akas dua hari terakhir ini memang di luar kendalinya. Dengan kata lain, dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Pusingnya luar biasa, seolah kepala akan rengkah, tapi dia tidak bisa menyudahi dzikirnya. Akas tidak mampu menyuruh dirinya untuk sekadar berhenti sebentar. Adanya, terus saja dzikir, terus digenjot. Terasanya, ada kekuatan lain yang mengambil alih kendali dirinya. Bahkan, untuk sekadar bergeser sedikit dari posisi duduknya saja dia tidak mampu. Seakan dipantek di situ dan dicecar oleh dzikir Cahaya.


Dia sudah tidak sadar waktu, sekarang siang atau malam. Tidak lapar, tidak haus, pun tidak ingin ke belakang. Secara “penglihatan dalam”, terlihat banyak bentuk cahaya disitu. Ada yang menggumpal, melarik, atau menghampar seperti tikar. Bermacam warna, tapi didominasi ungu dan hijau. Bahkan, ada sebentuk cahaya ungu yang seakan memancar dari keningnya ke depan, segelombang-segelombang. Dari arah depan, menyambar balik cahaya yang entah apa warnanya. Timbal balik, saling menyambar di tengah “alunan ruh” yang sedang berdzikir....


Waktu terus bergerak maju. Sekarang sudah tengah malam Asih terlihat gelisah, duduk gulung-gusah di kursi tamu, menanti suaminya yang tidak kunjung keluar. Terakhir diintip masih sang keadaannya, angguk-anggukan dan muter-muter kencang. Ayahnya menemani di situ. Tadi bareng anak-anak juga, tapi kemudian satu per satu mereka beranjak tidur.


“Sudahlah, Sih. Tidak apa-apa, tenang saja. ..,” ujar Kyai Sanusi.


Asih tidak menjawab, hanya mengangguk-angguk pelan.


“Ayo, istirahat sana. Nanti malah kamu yang jadi sakit.”


“Bapak duluan saja. Saya masih pengen di sini.”


Kyai Sanusi menggeleng-geleng pelan. Sebenarnya, rada gelisah juga sih, tapi Kyai Khalil sudah menjamin tidak apa-apa. Masak tidak percaya? Bukankah kolega, adik ipar, sekaligus guru hakikatnya itu tidak pernah berkata bohong?


Dulu zaman Belanda, saking jujurnya, sampai-sampai Tuan Residen Magelang pun bingung. Dan, makin bingung Juragan Londo itu karena tidak tahu mesti diapakan inlander ini. Kyai Khalil bilang hanya mau dikurung sehari atas “kesalahannya”. Dan, benar-benar sehari karena besoknya sang jawara putih sudah terlihat jalan-jalan lagi di luaran, tanpa ada yang tahu siapa yang mengeluarkannya dari penjara yang dijaga ketat itu. Ditangkap kembali? Hehehe..., tidak ada yang kuat, mental semua yang akan menangkapnya. Senapan pun macet kalau diarahkan kepadanya. Wallahu a’lam, tapi ada saksinya kisah ini, termasuk Kyai Sanusi sendiri.


“Ya sudah. Kalau gitu, Bapak duluan ya,” ujar sang ayah.


Asih mengangguk.

__ADS_1


Kyai Sanusi mengangguk-angguk, menghela napas panjang, kemudian berlalu. Tinggallah kini sang istri sendirian bergulung resah di ruang tamu. Namun, menjelang pukul tiga dini hari, Asih sudah tidak kuat menahan kantuk. Setelah mengintip sekali lagi, dia pun beranjak tidur di kamar si bungsu Wulan....


Seiring kejadian luar, di dimensi dalam, Akas sedang termangu takjub. Berangsur, cahaya-cahaya melenyap, kecuali yang menyambar-nyambar wajah. Yang satu ini malah semakin nyata. Lalu, nuansa cahaya itu berganti dengan nuansa bintik-bintik memenuhi seluruh ruangan. Semua yang terlihat, bintik-bintik adanya. Seperti gambar brintik di layar di TV kalau kurang pas menangkap sinyal atau kena gangguan cuaca. Tapi, bintik-bintik yang ini jauh lebih rapat dan halus. Ngareuyeuk, kalau istilah Sundanya. Riuh....


Kemudian, keriuhan itu semakin menjadi, terus menebal. Kini, wujud-wujud benda di dalam kamar itu, yang tadinya masih bisa terlihat walau samar-samar karena digulung bintik-bintik, sekarang benar-benar lenyap. Seperti kerumunan lebah yang melingkup suatu benda. Tidak kelihatan lagi bendanya, hanya “lebah”. Pusing kepala itu, wuuh..., sudah tidak bisa dikata-katakan lagi. Air mata mengucur deras, batok kepala seakan berdenyut kembang kempis. Rasanya, Akas sudah akan mati saat itu. Sang maut seakan telah berdiri di hadapannya. Maka, dalam kepasrahannya yang murni, dia berucap di dalam hati, “Allah, jika sekarang waktuku, ambillah. Ambillah aku, selagi ingat kepada-Mu....”


Lalu, Jlab! Semua bintik itu lenyap seketika. Sekejap berganti dengan cahaya yang sama dengan yang menyambar-nyambar wajahnya. Hanya itu yang ada, tidak terlihat wujud lainnya. Cahaya dan hanya Cahaya ini, seluas tiada bertepi. Dinding kamar, lemari, tempat tidur, sajadah, dan lainnya, tidak tampak. Akas bahkan melihat dirinya pun tiada, melebur bersama Cahaya.


Sekejap, hanya sekejap, lalu... Byar.... Cahaya tiada tara ini pun lenyap bersamaan dengan “bobolnya” batok kepala sang jaka. “Allah” Akas tersentak sadar. Cepat-cepat dia meraba ubun-ubun, namun tidak apa-apa ternyata. Masih utuh kepalanya. Hanya, dari situ, dia merasa ada segumpal hawa panas yang mencelat ke luar, lalu berganti masuk aliran hawa sejuk lewat “lubang” yang sama. Seperti kucuran air pegunungan yang mericik mengisi tempayan.


Seiring kucuran itu, Akas merasa tubuhnya lemas, tapi nyaman. Seperti terbang di awang-awang. “Allah...,” dia kembali mendesah syahdu, meresapi sejuk yang merasuk ke dalam jiwa, Dzikir Cahaya terus melantun bersama ruhnya. Sampai kemudian dia menyadari kalau pusing yang telah menetap lebih dua tahun itu hilang. Ringan sekarang kepalanya.


Akas mengusap wajahnya, menghela napas panjang, lalu menafakkuri apa yang barusan dia alami. Cahaya-cahaya itu, bintik-bintik, panas yang pergi, dan sejuk yang mengganti. “Allah, segalanya Engkau...,” batinnya mendesah.


Sesaat lewat, dia kembali terkesima menyadari ada sebentuk denyutan lain dalam dirinya kini. Bukan pusing, yang itu sudah lewat, ringan terasa kepalanya sekarang. Yang baru ini lain, denyutnya lain. Lembut nan syahdu. Tidak seperti pusing, yang ketika awal datang langsung menyerang. Apakah ini? Akas pun menyusur dirinya dengan rasa. Mencari sumber denyutan. Dapat, ternyata datang dari dada kiri bagian bawah. Secara jasmaniah, di situ letaknya hati....


“Allahu Akbar, Allahu Akbar....”sayup-sayup terdengar suara adzan.


Akas melihat jam dinding di kamar itu. “Eh, adzan apa setengah lima?” gumamnya dalam hati. Dia sangka itu adzan ashar. Sebab, “tadi” masuknya kan bakda zhuhur. Akas bangkit, menyibak tirai jendela, lalu terkejut. “Kok gelap? Subuh! Wah, iya kayaknya. Berarti lama juga aku di sini, kebablasan....” dia meringis sendiri. Perasaannya sih, sebentar saja semua ini. Paling sejam dua jamlah.


Lalu, dia bergegas keluar kamar. Begitu nongol langsung kepentok istrinya yang juga baru sampai di depan pintu kamar ini. Akas segera meringis lagi, Asih manyun model mengundang. Sang suami pun terkekeh sayang.

__ADS_1


“Maaf, kebablasan nih, hehehe.... Sudah subuh, ya?” katanya, tanpa dosa.


“Sudah subuh, sudah subuh...,” Asih menggerundel, dan tampaknya akan berlanjut. Untung “Pangeran Diponegoro” cepat tiba di lokasi. Sudah berseragam lengkap, mau subuhan ke masjid....


“Ee, sudah bangun kamu?” beliau bertanya ke menantu bengalnya.


“Sudah, hehehe...,” Akas kembali terkekeh.


Kyai Sanusi manggut-manggut sambil agak melotot. Melotot sayang. “Ayo ke masjid,” ajaknya.


“Iya, Pak. Sebentar,” Akas bergegas menuju kamarnya, ganti baju. Lalu, mengejar langkah mertua yang sudah agak di depan sana.


Asih geleng-geleng kepala. Tadi, sebelum kabur, elangnya sempat kirim kedipan yang entah apa maksudnya. Lalu, putri bungsu ini pun tersenyum sendiri. Alhamdulillah, suaminya tidak apa-apa. Normal juga rada-rada nyebelinnya.


Sepanjang perjalanan ke masjid, Kyai Sanusi melirik-lirik menantunya yang senyum-senyum terus itu. Tentu Akas merasa kalau dirinya sedang dapat perhatian lebih dari sang kiai.


“Ada apa sih, Pak?” dia bertanya, sambil nyerengeh.


“Nanti saja, pulang dari masjid....”


“Oo, hehehe...,” Akas tertawa pelan. Maklum dia, paling juga mau ditanya ngapain aja di kamar. Gampanglah itu. Bukan ujian Arab gundul ini....

__ADS_1


__ADS_2