Selamat Jalan

Selamat Jalan
56. gosip lokal


__ADS_3

Jadilah selanjutnya Akas punya kegiatan “seru” yang tidak ketahuan orang-orang. Pandang-memandang. Awalnya memandang, kemudian dipandang, sekarang pandang-memandang. Di batas ucapan, luar biasa.... Bayangkan, pandang-memandang dengan yang hitam manis saja kabarnya tak jemu, apalagi ini? Yang ini tidak kena hukum jemu terhadap waktu. Bagaimana bisa bosan kalau tidak kena tua, tidak kena rusak, tidak kena mati, dan tidak ada jeleknya. Kalau yang hitam manis itu, lama-lama pasti entek alias beak. Boleh taruhan....


Pandang-memandang ini, dalam dimensi kesejatiannya, adalah perwujudan dari janji “ingat-diingat” itu. Akas mengingat-Nya lewat berbagai maujud, yang pada hakikatnya dia sedang “membaca” ayat-ayat Qauniyah, ayat-ayat semesta. Inna fikhtilaafil laili wannahaari wamaa khalaqallaahu fis samaawaati wal ardhi la aayaatil liqaumiy yartaquun. Sesungguhnya pada bertukaran malam dan siang, dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Yunus: 6). Kemudian, atas kehendak-Nya juga, dia menerima hakikat rasa “diingat balik” oleh-Nya. Fadzkuruunii adz-kurkum wasykuruulii walaa takfuruun. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku pun ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari-Ku (QS. al-Baqarah: 152).


Ajaibnya lagi, seperti kata Kyai Khalil, si penjahat itu kini berganti wajah jadi kyai puseur dayeuh. Berputar haluan 180 derajat, kompak dengan hati. Selaras. Apa kata hati, sama kata akal. Wayaj'alur rijsa 'alal-ladziina laa ya'qiluun. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya (QS. Yunus: 100). Maka, akal harus di-taslimkan dulu agar layak dipergunakan. Jangan sampai pemakaiannya tidak dapat nilai gara-gara berbedak nafsu. Mempergunakan akal bukanlah semata-mata berpikir. Berpikir yang bagaimana? Yang bukan-bukan? Kalau sekadar itu, jelas nafsu. Akal harus dipakai dengan ilmunya, yaitu iman. Sebab, mempergunakan akal itu sejatinya bermakna “temukanlah Aku”. Kalau tidak dipergunakan untuk ini, maka sampai botak pun tidak ada harganya di mata Allah. Innazh zhanna laa yughnii minal haqqi syai'an. Sesungguhnya, persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran (QS. Yunus: 36). Kebenaran tidak bisa digapai lewat keseolah-olahan...


Hingga pada suatu hari, “Mas Kas, waduh..., ke mana aja, Bos?” sapa Echan, saat jumpa Akas di tempat cukur rambut.


Akas yang sedang duduk membaca koran, menunggu giliran dipangkas, tersenyum. “Ada, Chan. Di sini-sini saja. Apa kabr?”


“Aku sih baik-baik saja. Bos yang gimana kabar?”


“Hehehe..., sama. Sedang-sedang saja. Gimana teman-teman?”


“Ini dia, semua pada nanyain tuh. Ceritanya, sudah lupa sama kita-kita? Habis manis sepah dibuang, gitu?”


“Nggak, Chan. Rugi aku kalau buang kamu. Kamu kan masih boleh bodinya. Ada sih penyok-penyok, tapi wajar. Dempul-dempul sedikit, mulus lagi. Yakin masih laku dijual paksa ke janda-janda pusing itu, hehehe....”


“Sialan,” Echan tertawa.


Pak Madura dan pelanggan yang sedang dipangkas itu ikut tertawa. Entah siapa nama aslinya Pak Madura ini. Nama gaulnya begitu dari dulu karena dia orisinal Madura. Dan, karena sudah jadi trade mark, ya dibablas saja sampai sekarang.


Bincang-bincang Akas dan Echan pun berlanjut. Tapi, tidak bisa lama-lama lagi karena muncul seorang “gadis” sekitar empat puluh tahunan di tempat cukur rambut itu dari toko sebelah. Rupanya, gebetan baru Echan. Dari dulu dia memang suka macarin janda. Pacaran normal sih, bukan jenis yang tidak normal, tapi hobinya senior. Sudah gitu, tidak ada yang langgeng. Sebentar-sebentar saja kisahnya, macam pacaran anak SMP. Namun, tidak bermasalah karena Echan memang belum menikah. Aliasnya, bujang lapuak....


“Gitu saja ya, Mas. Sedang buru-buru nih. Pokoknya, besok malam ditunggu di rumah Pak Munhar. Kalau sampai nggak datang, jangan ngaku teman lagilah,” ujar Echan sambil nyerengeh.

__ADS_1


Akas balas nyengir. Soalnya, gebetan baru Echan juga meringis. Busyet, garang hawanya. Kutek-nya hitam men, dipadu lipstik merah darah. Pakai celana jeans ketat pula. Bajunya corak daster model kedodoran. Seperti yang biasa dipakai turis Hawai sebelum berjemur di pantai Tahiti. Mungkin dari sini mau langsung berjemur juga di pantai alun-alun Magelang.


“Gimana?” Echan minta ketegasan.


“Iya, insya Allah,” jawab Akas, masih nyengir.


Echan mengangguk puas. Setelah uluk salam, dia dan pacarnya pun berlalu. Akas memandang sejoli yang sedang menyeberang jalan itu, terlihat seperti angka 10. Cowoknya tongkat, ceweknya telur. Klop-lah...


Maka, besok malamnya Akas bertandang ke rumah Munhar. Rindu juga dia sama teman-teman gaibnya. Sudah lumayan lama tidak jumpa, sejak kira-kira sebulan sebelum kerusuhan Alin. Soalnya, sejak itu Akas jumpa yang seru-seru terus. Tapi, bukan berarti dia lupa kepada mereka. Entah teman-teman itu masih senang main dunia pergaiban atau tidak belakangan ini.


“Assalamu'alaikum,” sapanya di batas pagar. Di teras, tampak teman-teman telah berkumpul.


“Wa'alaikum salam,” sahut mereka.


Akas mesem, berjalan melintasi halaman. Tampaknya Echan sudah berkisah kepada para kolega tentang perjumpaan dengannya kemarin. Bujang lapuak itu memang tipikal rame, demen senior plus hobi berkicau.


Lalu, teman-teman pun menyambut rekan lama. Biasa, intro dulu. Tanya-tanya kesibukan, kabar roti, kabar istri, kabar anakanak, dan kabar lainnya yang bernilai basa-basi. Ujung-ujungnya, “Tapi, rokok kritis nih, Mas...,” celetuk Echan, melengkapi bagian “D”. Itu Iho, “UUD”, ujung-ujungnya duit. Macam kebiasaan lama dunia pergaiban, yang hampir selalu buntutnya nyangkut ke duit.


Akas nyerengeh, yang lain juga. Bukan tidak mau, bukan juga pura-pura lupa, tapi Akas memang dilarang teman-temannya membawa itu. Maksudnya, kasih “Pak Harto”nya saja. Biar nanti Echan yang mengurus. Soalnya rokok mereka beda-beda. Lain bibir lain merek, tidak pas rasanya kalau seragam walau diseragamkan pada rokok papan atas. Akas tidak hafal itu, Echan yang ngelotok luar kepala. Hafal dia sampai bandrolnya masing-masing. Nyebelin juga bujang lapuak ini. Untuk janda selalu ada, tapi buat rokok langsung kere, hehehe....


Echan pun langsung melesat naik motornya usai terima setoran modal. Banyak ini, bisa sekalian martabak telor dan gorengannya. Sementara menunggu dia, obrolan khas bapak-bapak pusing di teras rumah Munhar itu pun berlanjut....


“Pak Aji nggak datang, Kang?" tanya Akas.


“Tadinya mau, tapi barusan telepon katanya ada pasien mendadak. Jadi terhalang demi kemanusiaan," jawab Munhar.

__ADS_1


Akas mengangguk-angguk. Di tempatnya sana, Pak Aji memang berpraktik paranormal. Maklum, namanya juga jagoan khadam. Kabarnya dia dikawal bermacam jajaden, mulai harimau leluhur sampai arwah badak. Entahlah, urusane dewe-dewe. Habis, susah dikasih tahunya.


Berhubung “suhu” tidak hadir, maka acara pun bergulir suka-suka. Ngobrol kesana-kemari sekenanya. Lalu, ngadu bako itu makin hot saat rokok, martabak, dan gorengan datang. Ketambahan istri Munhar menyediakan minuman bandrek sepanci penuh.Ya sudah, tambah lieur-lah mereka. Macam badaknya Pak Aji itu...


“Buat apa, coba? Pergi haji kok sampai setahun sekali?” Aman membuka topik baru di forum lieur ini.


Disimak-simak, ajaib juga. Bagaimana obrolan yang awal-awalnya membahas industri batik Jogja gara-gara pameran batik tulis Ustadz Amir yang katanya beli di sana itu, kok bisa sampai ke Makkah? Nyambung nggak nyambung, nyatanya terhubung. Unik mekanisme ketersambungannya ini.


“Beneran Haji Dodot mau naik haji lagi?” Echan bertanya. Di luaran santer kabar kalau Pak Haji yang lagi naik daun itu hendak kembali menyambangi tanah suci. Sebagaimana tiga tahun terakhir, sejak bisnis kirim-mengirim TKW-nya sukses mendulang dolar.


“Bukan kabar itu sih,” timpal Aman, rada ketus nadanya.


“Emang kenapa kalau naik haji lagi, Man?” Munhar terpancing masuk. Soalnya dia juga haji, walau “baru” sekali dan sudah lama banget. Saat masih berdinas di sebuah instansi pemerintah. Berangkatnya juga “abidin”, atas biaya dinas.


“Yaa, nggak apa-apa, sih....”


“Terus, apa yang kamu ributkan?” kejar Munhar. Sesaat merasa di atas angin seperti Haji Dodot “TKW” itu. Cuma anginnya kecil ini, bukan ****** beliung.


Aman nyerengeh. “Nggak ah,” ujarnya.


“Kan kamu yang buka halaman? Mesti dijawab dong,” Haji “abidin” itu terus nguber. Penasaran mungkin.


Sesaat, Aman masih nyengir. Tapi, kemudian menjawab juga karena ditatap Munhar, “Nggak ada masalah. Masalahnya cuma nggak cocok saja gelar hajinya dengan kelakuan. Itu doang.”


Munhar mendelik, tapi kemudian meredup. Sebab, menurutnya iya juga sih. Walau dia bukan tetangga Haji Dodot seperti Aman yang se-RW dengannya, namun bisik-bisik miring tentang kepelitan Haji Dodot sudah jamak diketahui orang. Termasuk kabar-kabur mengenai sikapnya yang kurang berperikemanusiaan terhadap para “komoditi ekspor nonmigas" itu. Entah benar, entah bohong, namun demikianlah terdengar sayup-sayup kencang di pasaran gosip lokal.

__ADS_1


__ADS_2