
Obrolan pohon randu pun berlanjut....
“Menurut Islam, ada empat nabi yang kepadanya diturunkan kitab suci. Artinya, mereka ditugaskan menyampaikan agama. Pertama, Nabi Musa, kitabnya Taurat, umatnya disebut Yahudi. Disusul Nabi Daud dengan kitab Zabur yang isinya mendukung Taurat. Jadi, keduanya itu untuk umat Yahudi. Lalu, datang Nabi Isa atau Yesus Kristus. Kepada beliau diturunkan Injil, umatnya disebut Nasrani. Terakhir, Nabi Muhammad dengan al-Qur’an, umatnya disebut Muslim.” lanjut Arabi.
“Terus?” tanya Akas, soalnya Arabi agak lama berhenti.
“Hehehe..., mau diterusin?”
Akas balas nyerengeh sedikit untuk mengimbangi serengehan manis Arabi, yang rada nyebelin itu.
“Waktu adanya Taurat dan Zabur, berarti Allah menghendak ajaran Yahudi sebagai agama. Waktu turun Injil, berarti Allah berkehendak Kristen menjadi agama. Nah, saat diturunkan al-Qur’an, berarti Islam yang dikehendaki-Nya. Cuma, kenapa jadi pada bingung, ya?” Arabi nyengir lagi.
Boro-boro ikutan nyengir, Akas melotot bundar. Soalnya yang dibilang Arabi barusan, gawat sekali menurut penalarannya. Sebab, sama maknanya dengan membatalkan semua ajaran agama yang lain, kecuali Islam.
“Hehehe..., sudah ah. Kamu sudah melotot begitu, sih.”
“Sebentar, maksudmu gimana ini?” Akas masih melotot.
“Ya begitulah. Masak nggak paham?” Arabi nyengir nyebelin lagi.
“Jadi, maksudmu, yang benar cuma Islam? Gitu?” Akas mengejar, tetap bulat melototnya.
“Kan, kamu tadi yang bilang sumbernya sama? Lupa, ya?” tangkis Arabi.
Akas terdiam, terus melotot.
“Tuh, kan? Susah.... Tadi maksa-maksa minta diterusin, giliran diterusin malah ngambek. Matanya melotot-melotot. Payah, hehehe....”
Terpaksa Akas mengendurkan ketegangan otot matanya.
“Bukan gitu, Rab. Kamu jangan marah dong....”
“Lho, siapa yang marah?” tangkis Arabi sambil menggerak kan alis matanya, bibirnya tetap disetel nyebelin. “Tapi, sudah ah. Cukup segini dulu buat yang hobinya melotot. Takut aku, hehehe.... Lagian, kamu kenapa nggak tanya saja langsung sama Mbah Bagyo? Beres.”
__ADS_1
“Emangnya Mbah Bagyo tahu?” Akas agak kaget.
“Yee, sembarangan kamu. Kakekmu itu kan orang pesantren? Jauh tahuan dia dibanding aku,” tukas Arabi.
“Ah, yang bener?”
Arabi berkerut kening. “Kamu ini nggak tahu, apa nggak percaya? Kakekmu itu pengetahuan Islamnya dalam. Aku kebanting terus kalau debat sama Mbah Bagyo di masjid, pas dia sedang kunjung ke sini. Soal-soal kayak tadi, kecil. Dibabat habis sama kakekmu. Kalau nggak percaya, coba saja sendiri.”
Akas melongo. Mbah Bagyo? Apa iya? Selama ini kelihatannya tidak menggebu-gebu, kalem-kalem saja bawaannya.
Dan, beneran. Arabi tidak mau ceramah lagi. Dipancing-pancing, tetap tidak mau. Cengengesan saja. “Tanya Mbah Bagyo” terus, jawabannya. Ya sudah, mereka lanjut ngobrol masa lalu dan kisah-kisah masa kini di posisi masing-masing. Antara Batu Raden dan Sedayu.
Hingga akhirnya, waktu yang dimiliki Akas untuk tidak sampai menginap di sini pun habis. Dia harus pulang sekarang. Kalau telat, dijamin kehabisan bus. Sementara, Pater Jo belum juga terlihat pulang....
“Sudah sore, Rab. Aku mesti balik sekarang,” ujarnya.
“Nggak nunggu Pater Jo dulu? Siapa tahu sebentar lagi pulang.”
Akas menghela napas. “Nggak sempat. Tadi aku sudah janji ke Mbah Bagyo, nggak pakai menginap di sini.”
“Oke, aku balik dulu ya,” ujar Akas, setelah hening sesaat.
Arabi mengangguk, “Perlu diantar ke jalan?”
“Ah, kamu ini. Kayak putri saja main antar-antaran.”
“Lho, iya kan? Putri malu sudah ada, yang ini putri bingung, hehehe...”
“Sialan kamu,” Akas nyerengeh.
Kedua karib itu pun terkekeh-kekeh sebentar....
Kemudian, sulit bagi Akas menolak lembaran yang disodorkan anaknya Tuan Kasim ini. Soalnya, perlu itu. Berhubung Arabi dari dulu sukanya main paksa dalam hal ini, maka “terpaksalah” dia kantongi juga duitnya. Lagian, siapa yang nggak mau? Ngatijo pun demen, yakin.
__ADS_1
Saat menuju jalan raya, dia melintasi lagi rumahnya yang dulu. Waktu datangnya juga lewat sini, tapi yang tadi tidak se-nyereset ini. Mungkin ketutup rasa senang mau bilang yes ke Pater Jo soal tawarannya. Sekarang lain sekali, hatinya serasa diperas jemari tangan raksasa.
Sambil terus berjalan, bayangan sang ibu seakan hadir di pelupuk mata. Ibunya yang cantik, yang putih kulitnya, yang panjang rambutnya, dan yang baik hatinya. “Dewi Kwan Im” itu tersenyum anggun. Sungguh, Akas ingin membalas, namun tidaklah sanggup karena seketika itu matanya dipenuhi bening berkaca-kaca. Lalu, dengan tetap menebar senyum, perlahan-lahan “sang dewi” pun memudar sambil melambai. “Ibu...,” Akas mendesah pelan. Setetes bening terlepas dari kelopaknya. Bergulir jatuh....
***
Dua hari sejak balik dari Sedayu, Akas banyak termenung. Perasaannya kembali melayang-layang serupa layang-layang. Kalau dipikir pakai akal, bolak-balik sampai mules, tetap saja kesimpulannya goblok menolak tawaran itu. Seperti membuang emas yang sudah tergenggam. Tapi, kalau dipikir pakai hati, lalu dia mesti menentang hatinya sendiri, kesimpulannya lebih goblok lagi. Bagaimana hati bisa ditentang? Jadinya, dia seperti buah simalakama kepentok lampu kuning di perempatan jalan. Maju kena, mundur kena. Diam juga kena....
Pater Jo memang sudah mengingatkan bahwa kadang-kadang perlu pengorbanan. Bukan hanya kadang-kadang, sering malahan katanya. Jujur saja, Akas sudah siap menempuh itu kalau hatinya tidak menentang. Katakanlah hatinya setuju, lalu kakek neneknya tidak setuju, maka dia akan berkorban. Tapi, yang ada ini justru hatinya yang menentang, hatinya yang tidak menerima. Kalau dipaksakan, apakah begitu yang disebut pengorbanan? Menurutnya, jelas bukan. Mana ada pengorbanan macam itu? Pengonyolan mungkin.
Akas menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya yang terpejam, pelan-pelan membuka. Ee, Ngatijo sudah bercokol lagi di depannya seperti tumor. Dari kemarin anak angkatnya Mbah Bagyo ini terus ngerecokin ketermenungannya. Tanya-tanya “ada apa” melulu.
“Apa to, Jo?” sentaknya, mendelik.
“Oalah, galaknya. Cuma mau ikut duduk kok,” timpal Ngatijo tanpa dosa, tapi bibirnya nyerengeh.
Akas mendengus pelan, Ngatijo lanjut nyerengeh.
Hening sejenak.
“Ada apa sih, Kas?” Ngatijo mulai lagi.
Akas geleng-geleng kepala. Entah yang ke berapa kalinya Ngatijo ini tanya-tanya terus “ada apa” sejak kemarin. Bawaannya, ngeselin bener.
“Kas, ada apa, sih?” dia mengulang pertanyaannya. Sama, hanya bergeser tempat saja kata-katanya.
“Angel, Jo, angeeel...,” jawab Akas dengan nada gusar.
“Oo, yang dulu nggak angel, ya? Sekarang baru susah, hehehe...”
Maka, Akas bergerak meraih sandalnya. Tapi, saudara angkat yang baik ini sigap ngacir duluan. Kepalang tanggung, Akas mengejarnya sampai agak jauh ke sebelah sana.
“Iya, iya..., yang mau jadi pater...!” seru Ngatijo, sambil lari ngepat-ngepot.
__ADS_1
Heh? Akas kaget, dan langsung mengerem mendadak. Apa katanya? Mau jadi pater? Kok bisa tahu? “Hoei, Jo! Jo...! Tunggu...!” Akas memintanya berhenti. Tapi, Ngatijo lanjut ngepot sambil terkekeh-kekeh. Akas geleng-geleng kepala. Segan mengejarnya lagi karena si tengil itu lari ke arah sawah yang jelas licin pematangnya karena semalam turun hujan. Baiknya ditunggu saja di rumah. Nanti kalau lapar, pasti dia nongol sendiri...
Akas pun kembali ke rumah dengan ketambahan satu bingung lagi. Kok dia bisa tahu, ya?