
Dan, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Demi kebenaran yang bersandar kepada-Nya, wal fajri itu langsung tek jes bukan matahari terbit lagi bagi Akas. Begitu “disentuh dengan rasa”, ayat pertama surat al-Fajr itu bermakna melampaui sekadar matahari terbit di pagi hari. Jauh melampaui itu. Benar kata Kyai Khalil, Yang Maha Kekal tidaklah kena bersumpah atas nama sesuatu yang “tidak ada”. Bagi Akas kini, wal fajri-Nya kekal. Sekekal kebenarannya....
Laa tuharrikbihii lisaanaka lita’jalaabih, jangan kamu menggerakkan lisanmu untuk (membaca) al-Qur’an karena ingin cepat-cepat (menguasai)nya. Inna ‘alainaa jam’ahu wa qur’aanah sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Faidzaa qara’naahu fattabi’ qur’aanah, apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Tsumma inna ‘alainaa bayaanah, kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya (QS. Al-Qiyaamah: 16-19).
Lalu, seperti disampaikan Kyai Khalil, pun sebagaimana telah ditegaskan dalam ayat 16 surat al-Qiyaamah, “Jangan buru-buru...!” maka Akas tidak hendak memaksa yang belum membuka untuk membuka. Pokoknya, pada ayat-ayat suci yang belum langsung tee-jess, Akas sadar sepenuhnya bahwa untuk yang demikian berarti dia belum diberi hak paham oleh-Nya. Sebab, “Aku yang menanggung penjelasannya,” kata Allah.
Jadi, jangan coba-coba....
Soalnya, kalau dibukakan sedikit saja pintu coba-coba, si penjahat langsung datang membawa beragam gambaran. Wajahnya dipasang tampan, macam salesman surga. Kemudian, berjajarlah produk-produk semisal boneka cantik dari India yang memakai gaun sutra tembus pandang itu. Kabarnya permanen pula, perawan terus, hehehe.... Kalau nggak kuat, si imin bisa jebol beneran tuh.
Atau, seperti saat Akas tiba di ayat Cahaya. Eee, si penjahat itu nyelonong ke tengah kemacetan sambil koar-koar.
Katanya, yang dimaksud “pohon zaitun yang tumbuhnya tidak di timur dan tidak pula di barat” itu, adanya di negeri-negeri Arab. Kan, di sana disebutnya Timur Tengah?
Hah?! Akas mendelik. Timur Tengah, Mbahmu! Jelas-jelas “tidak di timur tidak di barat”, kenapa jadi nongol di Timur Tengah? Maka, Buk! Sang elang menonjoknya keras dengan dzikir Cahaya dan dzikir Qalbi. “Pergi kau setan!” bentaknya dalam hati. Penjahat kambuhan itu pun berlalu dengan wajah muram....
Demikianlah. Pada bagian al-Qur’anul karim, ada yang sudah membuka, ada pula yang belum. Tapi, pada al-Qur’anul azhim, yang maujud dari Yang Wujud itu, terus terang semua belum membuka. Semutnya masih semut, ayamnya masih ayam, batunya masih batu, gunungnya pun masih gunung. Indah memang, tapi masih sebatas itu. Sebatas “rasa keindahan”, belum jumpa dengan “rasa sejatinya”.
Namun, sesuai amanat sang guru, dan dengan terus mengontrol tindak tanduk muslihat si penjahat, Akas lanjut memandang. Dan, berhubung memandangnya pakai hati walau dalam hal ini bukaannya belum cukup untuk menembus, tampilan luarnya sudah boleh. Mata sang elang terlihat agak meredup syahdu, bibirnya senyum-senyum terus. Memandang roti, senyum. Memandang api, senyum. Memandang para ngampaser yang rada-rada nyebelin karena tidak kenal lelah minta tambah jatah itu pun senyum. Maka, Asih tidak tahan untuk tidak buka suara....
“Kenapa sih, Mas?” dia bertanya manja, rada mendesah.
Awalnya Akas bertahan, tapi kewalahan juga karena digencet Asih kan jagoan neken. Berat urusan kalau sedang on teuas babatok-nya. Dulu, Kiai Amad “Pangeran Diponegoro” Sanusi pun kalang kabut dibuatnya.
Namun, setelah Akas memberi keterangan tentang itu, sebatas yang bisa disampaikan, Asih manyun. Cemberut beneran kali ini. Soalnya, ternyata skandal syahdu ini disebar merata oleh suaminya ke banyak pihak. Masak dikasihkan ke rumput, kerikil, semut, dinding rumah, ayam pelung, bahkan ke orang-orang lewat dijalanan. Termasuk juga ke suara oven mengukus, suara desah angin, suara derai hujan, kerik jangkrik, deru knalpot motor, dan lain-lain. Wuih, apa-apaan ini? Sekian lama tak terdengar kisah potong bebek angsa serong kiri serong kanan, tahu-tahu “Selingkuhnya” ngeri sekali....
Sang suami tersenyum sayang. “Kecuali jika dibandingkan dengan-Nya, tetap Adinda yang tercantik di antara semuanya. Percayalah,” bisiknya mesra.
Mendengar ini, tidak pakai pelan-pelan, cemberut asli sang putri pun meluruh. Langsung berganti jadi manyun yang uh lagi. Maka, Asih pun tersenyum manis. Manis sekali, seperti saat-saat awal mereka saling melirik di pelataran Masjid Agung dulu. Yakin kalau elang Batu Radennya tidak bermaksud main potong bebek angsa. Lagian, masak cemburu ke ayam pelung sama knalpot motor, sih? Haduh, haduh....
***
Di alam bisnis, Edi teguh juga. Tidak kenal lelah dia merayu juragan agar mau memperbesar skala usahanya. Diam-diam, Asih pun dibisikin. Taktik lama ini, sudah dikenal sejak zaman Nabi Ibrahim alaihi salam. Kalau mentok di lakinya, coba lewat perempuannya. Tapi, Asih tidak mani paksa, sekedar nanya “Kenapa sih, Mas?” begitu. Maksudnya, makin gede kan makin enak?
“Ini, Pak...,” Edi menjajarkan beberapa roti yang beredar di pasaran Magelang dan sekitarnya. “Harga boleh sama, tapi yang sini penampilannya paling rapi. Rasanya juga paling enak,” lanjutnya.
__ADS_1
Akas membuka roti keluaran pabriknya Enci, lalu dicoba. Eemh, benar ternyata. Merosot drastis kualitas roti keluaran almamaternya itu. Akas menghela napas panjang, lalu menggeleng-geleng pelan.
Enci sudah meninggal hampir empat tahun lalu. Saat dia masih ada, Akim sudah pindah ke Sidoarjo. Kabarnya, di sana dia bikin pabrik kerupuk udang. Istrinya memang orang sana, mertuanya juragan tambak. Sepeninggal Enci, AMing mencelat ke Palembang. Kecantol amoy warisan Kubilai Khan yang kabarnya molek-molek di tapak Kerajaan Sriwijaya itu. Di sana, dia bisnis bioskop. Jauh memang dari latar belakang rotinya. Apa boleh buat sebab mertuanya bos layar lebar. Tinggallah di sini si manis Alin bareng suaminya. Dia yang mewarisi pabrik roti berikut isinya itu. Sang kakak milih bagian duitnya saja.
Namun, rumah tangga si manis tampaknya tidak berjalan manis. Suaminya yang Cina juga itu memang tampan, tapi kelewat manja. Masih bagusan Akim kalau dibandingkan. Pantaslah dulu Enci nggak sreg kepadanya. Dan, gara-gara ini Alin baru bisa menikah dengannya setelah sang mama meninggal. Sialnya, setelah nikah baru ketahuan jelas bahwa jalu Cina itu doyan mabuk sekalian madon. Entah kenapa dulu Alin bisa jatuh cinta pol-polan kepadanya.
Beberapa kali Akas berkunjung ke tempat Alin. Sekadar menjenguk, sekalian mungkin ada yang bisa dibantu. Namun, tampaknya tidak ada yang bisa dia perbuat kecuali menemani Alin bersabar. Mesti gimana? Terlalu rumit masalahnya. Kasihan Alin, sendirian dia sekarang bersama suami yang tidak bermutu itu. Sudah tidak bermutu, keluarganya tipe belagu pula. Mungkin, Cina-cina macam begini yang merecok hubungan dengan pribumi. Mungkin lho. AMing memang selalu mendukung adiknya, tapi dia jauh di Palembang sana....
“Gimana, Pak? Peluang bagus, kan?” Edi membuyarkan lamunan juragan.
Akas menghela napas, lalu menggeleng-geleng lagi. Maksudnya, menggeleng untuk Alin yang manis.
“Yah, Pak. Kenapa, sih? Padahal, ada bank yang mau kasih modal Iho....”
“Heh? Bank apa?” Akas tersadar.
Edi pun menjelaskan bank yang katanya bersedia meminjami modal untuk pengembangan usaha itu. Akas pun tertawa. Ternyata, banknya yang dulu....
“Apa kabar Pak Yayang?” dia bertanya.
“Hehehe...,” Akas tertawa. “Kamu kenalnya gimana?”
Edi menjelaskan kronologisnya. Rupanya tidak langsung ke Pak Yayang, lewat seorang marketing landing dulu, penjaja kredit bagi para debitur potensial. Dari situ naik tiga kali baru sampai ke Yayang, yang dulu staf akuntansi seperti halnya akas saat jadi karyawan. Sekarang, dia menjabat kepala seksi di bagian kredit kantor cabang. Kata Edi, pabrik roti skala mungilnya Akas ini sudah masuk daftar UKM potensial yang layak diguyur dana. Lucu juga, mereka tidak kenal yang punya. Pasti ini karena para marketing landing itu orang-orang baru yang masih Fresh graduate. Kalau senior-seniornya yang sekarang sudah jadi atasan, pasti kenallah. Termasuk Pak Yayang “dendi” itu....
“Garis celananya Pak Yayang masih ngajepat, nggak?” Akas bertanya. Dulu, teman satu ini pakaiannya necis senantiasa. Celana panjangnya tersetrika rapi. Garis lipatannya manunggal, ogah pindah-pindah posisi.
“Oo iya, Pak, rapi sekali. Rambutnya klimis sekali. Rapet nempelnya, susah goyang biar dibawa lari-lari. Model serepet jebret.”
“Hehehe...,” Akas terkekeh lagi. Masih berlaku ternyata istilah serepet jebret ini. Itu Iho, gaya rambut Elvis Presley. Rapat di kedua sisi, bagian depannya ditarik maju. Jadinya, serepet pinggir lalu jebret ke depan.
Edi juga ikut tertawa. Kelihatannya, ada nada-nada peluang nih.
“Jadi, gimana terusannya ini, Pak?” dia nembak.
“Kamu dapat persenan berapa, sih?” Akas balik nembak.
__ADS_1
“Oo nggak, Pak...,” Edi agak gugup.
Akas nyerengeh, “Kamu ini, ngibul ke yang tahu. Kamu kira, gimana caranya aku kenal sama Pak Yayang, coba?”
“Wah, saya nggak tahu. Mungkin kenal di acara-acara apa gitu?”
“Acara apa? Dia itu dulu teman saya hadap-hadapan meja. Saya tahu hampir semua kartu As-nya, hehehe....”
“Lho? Bapak pernah kerja di bank itu?” Edi kaget beneran.
Akas mengangguk nyengir.
Sesaat Edi masih mendelik, tapi kemudian nyerengeh, “Kalau gitu, urusannya bisa lebih gampang ini. Iya, kan, Pak?”
Tenang saja, fee 2,5 %-nya jalan terus. Tidak terpengaruh kisah lama..
“Hehehe..., nggaklah. Buat apa, sih? Segini juga masih cukup.”
“Cukup sih cukup, Pak, tapi peluang kan wajib ditangkap? Nggak setiap hari lewat itu,” Edi sigap menyanggah. Ngampaser satu ini memang terhitung cerdas dan lincah, bergaulnya juga tidak minderan. Makanya, nggak heran kalau dia bisa sampai kenal Pak Yayang “dendi” segala
“Ed, hidup ini bukan Cuma tentang duit. Ngerti nggak?”
“Paham, Pak. Tapi, kalau nggak ada duit, artinya nggak makan. Kalau nggak makan, sama dengannya mati.”
“Ah, kamu ini. Sembarangan ngomong mati. Sudah siap, apa?”
Edi nyengir, “Teorinya kan first in first out, Pak?”
Akas tertawa. Enak saja, first in first out katanya, duluan datang duluan pulang. Apanya? Yang barusan nongol langsung balik, ada. Yang belum nongol sudah pulang duluan, pun banyak. Uniknya, giliran kakek-nenek yang sudah keriput kuadrat rindu kampung halaman “azali” malah nggak dipanggil-panggil.
“Jadi, bagaimana kesimpulannya ini, Pak?” tembak Edi, Sesaat kemudian.
“Ya tetap tidaklah, hehehe.... Terima kasih.”
Edi mendelik, geleng-geleng kepala. Busyet, ditinjau dari Segala arah tidak ketemu kecoaknya ini. Bagus semua. Peluang ada, modal ada, sistem usaha pun telah tersedia. Apa lagi? Maka, pusinglah ngampaser itu melihat juragan nyerengeh. Soalnya, 2,5 % dari nilai kredit yang dijanjikan Pak Yayang itu lumayan. Bisa dipakai nebus seperangkat meubel atau motor bebek baru.
__ADS_1