
Selain Asep, tokoh yang juga melejit dari angkatan Ulekan adalah Azis. Yang ini penganut paham heningisme, langka bicara. Awal datangnya dulu pun “bergaya gaib”, tahu-tahu nongol dari negeri antah berantah. Begitu jumpa, langsung nembak, “Pak, saya minta dibaiat,” katanya. Maka, Akas pun tertawa. Sebab, calon tifli ini bahkan tidak pakai repot-repot menyebutkan namanya. Tapi, at the first time, dia sudah mengandung lengkap taufik dan hidayah-Nya. Secara teknis tidak dibutuhkan waktu menunggu lagi. Ya sudah, setelah tahu nama dan alamatnya, Akas pun membaiatnya tanpa acara repot-repot juga....
Beberapa hari setelah baiat, barulah sayup-sayup rasanya Akas mengenal “wajah tanpa dosa” ini. Maka, bertanyalah dia, “Zis, apa kamu dulu pernah dagang asongan di kereta api?"
“Iya, Pak,” jawab Azis, apa adanya. “Kok Bapak tahu?”
Akas tertawa kecil, “Jadi, bocah asongan itu benar kamu, ya?”
“Waktu itu saya memang masih kecil, barusan datang dari Sawahlunto. Tapi, kok Bapak tahu?" Azis mengulang pertanyaannya.
“Nggak, cuma menduga saja,” Akas mesem. “Sudahlah, istiqamahkan dzikir Cahayamu, ya? Jangan putus....”
Azis mengangguk dan tidak bertanya-tanya lagi.
Tidak ada apa-apa, sekadar Akas teringat bocah asongan di kereta api Jakarta-Jogja yang berdagang “tanpa suara”. Gayanya santai, tidak pakai sibuk teriak-teriak menawar kan dagangannya. Seolah paham betul bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Lucunya, walau tanpa megaphone, banyak orang yang beli ke dia daripada ke asongan lain. Demikian yang selalu terlihat oleh Akas pada setiap kali dia bepergian naik kereta api ini. Itu makanya berkesan. Dan, kesan ini ternyata punya cerita sambungan di belakangnya kelak....
Karena keheningannya itu, sulit bagi teman-temannya untuk memperkirakan taraf kemajuan ruhaniah yang telah dicapai pemuda ini. Tidak ada datanya, sebab dia tidak pernah cerita-cerita. Memang ikutan nimbrung saat mereka sedang “ngerasani” Allah, tapi cengar-cengir saja tanpa urun suara. Namun, satu hal yang pasti darinya, teguh dia memujahadahkan dzikir Cahaya. Patuh pada arahan sang guru. Pokoknya dzikir, dzikir, dan dzikir. Urusan cerita, nanti saja.
Hingga pada suatu ketika, tiba saat baginya untuk berkisah. Lalu, terkesimalah kawan-kawan. Ternyata, derajat kebeningan hati si hening ini telah jauh melampaui mereka. Ibarat, umumnya masih berkisah seputaran Sungai Ciliwung zaman sekarang, Azis telah mampu bertutur syahdu tentang Sungai Venesia di Italia sana. Memang belum mereguk keindahan “sungai-sungai surga”, tapi terus terang sudah jauh skala kejernihan antara Ciliwung lawan Venesia. Maka, Akas pun tersenyum melihat sebagian muridnya bengong gara-gara kabar bening dari si hening.
Itulah Azis, pemuda perantauan berdarah Minang yang tidak sungkan mengakui kalau dirinya tidak sempat menyelesaikan pendidikan dasar. Selain unsur alamiah, mungkin juga karena ini dia jadi sependiam itu. Bukan malu, sekadar tidak tahu mesti ngomong apa. Soalnya, masyarakat cenderung hi-tech kalau bicara. Hi-tech urusan duniawi pula. Maka, daripada bikin pusing mendingan diam. Tapi, jangan sembarangan, sebab dia sekarang juragan toko sepatu yang terhitung besar di bilangan Pasar Baru, Magelang. Padahal, bermula itu dari sekotak asongan. Benar kata gurindam, urang awak sudah pedagang sejak dalam kandungan. Tidak masalah kalau pun repot cuap-cuapnya. Yang penting, patuh!
__ADS_1
Siapa lagi? Oo iya, Ustadz Amir. Benar, Ustadz Amir teman lama yang mantan jeger stamplas itu. Datang juga dia ke sini setelah hubungan Akas dengan teman-teman lama tidak lagi mesra gara-gara “anak-anak setan”.
Ceritanya, kilas balik ke saat-saat akhir di Kaum sebelum pindah ke Pakuncen, sore itu Sulaeman datang ke rumah. Biasa, dia ngajak kumpul-kumpul di rumah Pak Munhar nanti malam bakda isya. Akas menyanggupi. Malamnya, saat dia akan pergi ke sana, datang Soleh tanpa rencana. Jadilah mantan murid "Sunan Kalijaga” ini ikut terbawa ke perkumpulan teman-teman lama.
Awalnya lancar-lancar saja. Akas yang telah maklum atas belum bergesernya dimensi teman-teman ini dari dunia perjinan, menanggapi kilah obrol mereka dengan ketawa-ketawa saja. Soalnya, susah dikasih tahu. Sudah bolak-balik diluruskan, bolak-balik juga kembali bengkoknya. Melenting lagi melenting lagi seperti per dumb track diluruskan. Ya sudah, urusane dewe-dewelah.
Tapi, lain adanya dengan Soleh. Saat forum sedang asyik membahas ketakutan tentang dugaan makin banyaknya “anak anak setan”, tiba-tiba dia nyembur, “Salah! Mau setan beranak berapa, mangga wae! Jangan takut barang begituan. Masak Islam takut setan? Jangan anaknya, bapak sama emaknya sekalian bawa sini. Aku bakalan hajar semua!” ujarnya, dengan gayanya yang khas itu.
Waduh....
Lalu, berkembanglah perdebatan sengit antara Soleh dengan Munhar Cs. soal itu. Suasana pun menegang. Cepat sekali hawa amarah melingkup forum ini. Tampak jelas bahwa teman-teman lama tidak rela dikuliahi “anak-anak setan” oleh anak muda bernama Soleh yang gaya ngomongnya nyebelin. Apa boleh buat, demikian adanya dia. Bukan dibuat-buat, dari dulu setelannya sudah begitu. Untung bahwa sekarang yang diomongkan mengandung nilai kebenaran. Dulu, sudah nyemburnya kencang, salah pula. Ono-ono wae memang mantan muridnya "Sunan Kalijaga” ini.
Tentu Akas berusaha menengahi, namun tidak mudah. Bensin banyak, api pun terus berkobar. Sambar-menyambar. Maka, daripada menjalar ke mana-mana, Akas undur diri untuk maksud menarik pulang si trouble maker yang tidak ada gentarnya itu. Soleh memang tidak bisa sembarangan digencet. Salah-salah malah dia yang balik menggencet. Saat pamitan, Munhar berbisik, “Kita tunggu di sini besok malam. Urusan ini harus dituntaskan. Tapi, jangan ajak anak itu....”
“Jelas apanya? Sudah, pokoknya besok malam. Jangan nggak,” ujar Munhar rada ketus, masih emosi.
Maka, Akas pun mengangguk. Di sebelah sana tampak Soleh meringis manis. Mungkin dia mendengar bisik-bisik barusan.
Besok malamnya, Akas kembali bertandang ke sana sesuai janji. Sidang paripurna ternyata, pesertanya mencapai kuorum. Setelah basa-basi sejenak, “tawuran” pun dimulai. Satu lawan sekian. Sebab, mereka tahu kalau Akas kini membimbing orang, walau tidak tahu bidang apa. Dan, si menyebalkan kemarin itu pasti salah seorang muridnya, maka sang guru ceritanya mesti bertanggung jawab. Begitu kira-kira bunyi mereka....
“Soal benar, apa yang dibilang Soleh kemarin menurut saya benar. Kalaupun ada yang katakanlah harus disalahkan, paling sekedar gaya ngomongnya,” Akas menanggapi keberatan dengan soal style badaknya Soleh kalau bicara.
__ADS_1
“Tapi, kan nggak adab cara begitu,” Munhar menimpali, ketus.
Akas nyengir, “Terus terang, Kang, saya juga pengennya tidak begitu. Tapi kalau adanya begitu, mau gimana?”
“Ya diubah dong. Anda kan gurunya?”
“Ah, ngarang Kang Munhar ini. Emang siapa saya berhak mengubah-ubah? Nabi Nuh tidak berhak mengubah anaknya. Nabi Muharnmad pun demikian atas diri pamannya. Hak Allah itu. Apa yang ada, itulah. Kalau mengingatkan, iya. Wajib kita mengingatkan, memberi tahu yang benar, tapi jangan merasa punya hak mengubah harkat seseorang. Kalau sanggup, ubah diri sendiri saja dulu,” sentil Akas. Sodok sedikitlah, soalnya haji abiding ini belakangan memang rada ngelunjak.
Hening sejenak.
“Begini saja, kalau sekarang kita hanya mau membahas Soleh, lebih baik saya pulang. Sebab, bagi saya tidak penting urusan itu. Saya lebih suka orang yang bicara kasar tapi benar daripada yang halus tapi bohong. Kalau ada yang benar dan halus, tentu lebih baik. Tapi, kalau nggak ada ya nggak apa-apa, karena bagi saya yang perlu isinya. Bukan bungkusnya,” Akas kembali menyodok.
Lanjut hening....
“Ya sudah. Saya pamit, ya?” Akas berdiri.
“Tahan dulu. Ada hal yang harus kita bincang,” sahut Munhar.
Akas masih berdiri, “Sepanjang perbincangan untuk mencari kebenaran, ayo. Asal jangan sekedar ngomongin Soleh.”
“Oke, masih ada hubungannya dengan topik kemarin, tapi bukan ngomongin Soleh. Mari kita membahas setan,” ujar Munhar.
__ADS_1
Akas meringis sambil kembali duduk. Ceritanya, mau ada diskusi setan nih. Boleh juga. Lalu, diskusi setan itu pun dimulai....