Selamat Jalan

Selamat Jalan
6. derah air mata


__ADS_3

Di alam luar, baik-baik semuanya. Kehidupan rumah tangga Hanafi dan Haryati berjalan sebagaimana mestinya. Memang tidak berlebih harta. Soalnya, sang ibu tidak hendak begitu. Sebenarnya bisa kalau mau. Maksudnya, sebagai pedagang, Haryati punya peluang untuk membesarkan usahanya. Tapi, itulah, dia tidak hendak. “Harta memakan cinta,” katanya kapan waktu dulu ke suaminya. Mungkin ini berdasarkan pengalaman pribadi. Sialnya, sang suami sepakat pula. Ya sudah, mentok di garis secukupnya saya taraf ekonomi keluarga mereka.


Namun, damai senantiasa. Sejuk hawanya. Anak-anak pun, sesuai kemampuan nalar masing-masing, bisa merasa bahwa ayah dan ibu mereka terikat kuat dalam jalinan cinta. Tentu sesekali ada beda pendapat, ada pertengkaran rumah tangga, tapi tidak pernah dibiarkan membesar. Kalau sedang jotakan,? paling banter ayah dan ibu hanya manyun-manyunan. Tidak ada kisah bentak-bentakan, apalagi sampai tampar-tamparan. Lalu, besoknya atau paling lama lusanya, sudah mesra-mesraan lagi di teras belakang. Saling pandang saling goda. Kalau kepergok anaknya, wajah sang ibu yang putih itu langsung bersemu merah. Terus pura-pura menyuruh ambilkan ini ambilkan itu. Sang ayah mesam-mesem saja....


Tapi, begitulah. Ayahnya Islam, ibunya Kristen. Maka, spiritualitas anak-anak mereka pun terbagi dalam ketidakseimbangan mutlak. Dimulai dari si sulung Haryono, yang adalah lazim anak pertama laki-laki lebih dekat ke ibunya dibanding ayahnya, memilih Kristen. Disusul kemudian tiga adik perempuannya. Mungkin karena melihat contoh dari sang kakak. Terakhir, si bungsu Akas pun demikian. Bablas lima-limanya ke Kristen, tidak ada yang nyangkut di Islam. Haryati merasa tidak enak juga tentang ini. “Gimana, Mas?” dia bertanya kapan waktu.


Hanafi tersenyum kecut. “Mau gimana lagi? Inilah kenyataannya. Kita membebaskan mereka memilih, maka mereka memilih.”


Saling mendiamkan karena ada masalah.


“Iya sih. Tapi, kan saya jadi nggak enak ke Mas Nafi....”


“Lho, malah nggak benar. Ini soal agama, bukan undian arisan,”


“Mas Nafi nggak apa-apa?” Haryati memandang syahdu suaminya.


“Hehehe..., ya apa-apalah. Masak nggak? Tapi, inilah kenyataannya. Diajeng jangan jadi merasa bersalah atau gimana-gimana. Nanti malah jadi salah beneran.”


Haryati tersenyum penuh cinta ke suaminya. Dia yang dulu menuntut kebebasan, sekarang rasanya malah ingin berbagi. Tapi, memang tidak bisa karena ini soal keyakinan agama. Bukan bagi-bagi angpao. Yang katakanlah masih bisa dia lakukan adalah mendorong si bungsu untuk lebih dekat ke ayahnya sedari kecil. Pokoknya, gimana caranya agar Akas rapat dengan ayahnya, dibanding masa kecil kakak-kakaknya. Akibatnya, si bungsu ini shalat dan puasa Ramadhan seperti ayahnya, tapi nebeng juga ke gereja bareng ibu dan kakak-kakaknya. Jum’atan ayo, misaan oke. Lebaran senang, Natalan pun riang. Nuansanya campuran.


Nun jauh di sana, tidak kelihatan dari Sedayu, nenek Surtiyah geleng-geleng kepala. “Oalah, Nafi, Nafi..., sudah dibilangin jangan anggap enteng perempuan, kok nggak percaya,” gumamnya pelan. Maka, kakek Subagyo pun tersenyum. “Tenang saja, Bu, Allah itu meliput segalanya,” ujarnya dalam kepasrahan. Namun, sang nenek lanjut geleng-geleng kepala. Getun nian kelihatannya....


***

__ADS_1


“Hoei, Pak Nafi! Bengong saja...,” tegur Kasman, tetangga kanan rumah.


Hanafi yang sedang melamun itu tersadar, lalu nyerengeh ke tetangga baiknya. “Mau ke mana, Pak Kasman?” dia balik bertanya.


“Mancing, yuk? Daripada jadi bujangan Minggu?” canda Kasman.


Hanafi tertawa. “Bujangan Minggu” adalah ledekan canda bapak-bapak di sini untuk dirinya, yang kalau hari Minggu ditinggal keluarga ke gereja.


“Ikut nggak? Pak Sobar sama Pak Sapri sudah di sana.”


Hanafi menimbang sejenak. “Ayolah. Tunggu sebentar,” ujarnya, lalu beranjak ke rumah untuk mengambil perlengkapan memancing.


Tidak lama kemudian, kedua bapak itu pun berjalan menuju sungai yang jadi perbatasan dengan desa tetangga....


Hari itu, Akas sedang belajar seperti biasa di kelasnya. Lalu, datanglah pesuruh sekolah menyampaikan pesan kepada Bu Guru yang sedang mengajar. Usai berbincang sejenak, pesuruh sekolah itu beranjak kembali.


“Akas, ada kakakmu di ruang tunggu. Kamu ke sana dulu, katanya penting,” ujar Bu Guru, memberi izin sambil menatap lekat muridnya itu.


“Baik, Bu,” jawab Akas, lalu bergegas ke sana.


Ternyata, Sulis yang datang. Belum sempat Akas bertanya, kakak ketiganya itu duluan menghambur dan memeluk. Menangis pula....


“Ada apa, Mbak?” tanya sang adik, cemas.

__ADS_1


“Ibu, Kas..., Ibu...,” jawab Sulis tersendat.


Akas langsung tercekat, beberapa hari ini ibunya memang sedang terbaring sakit. Tapi, ada apa?


“Ibu meninggal...,” sambung sang kakak, parau.


“Hah?!” Akas terperanjat, lalu melesat pulang. Kencang sekali larinya, sampai-sampai kakaknya pun terlupakan.


Dan, demikianlah. Haryati binti Liow Chou meninggal dunia. Beberapa hari terakhir dia mengeluh sakit di bagian ulu hati. Kata dokter tidak apa-apa, hanya kelelahan saja. Diminta istirahat dan minum obat yang diberikan.


Namun, itulah faktanya.


Sepeninggal Diajengnya, Hanafi mengalami sakit-sakitan. Mungkin karena kuatnya jalinan cinta di antara mereka. Sehingga, ketika salah seorang berpulang, yang lain seolah kehilangan lebih tiga perempat hasrat hidupnya. Keprihatinan pun menyergap cepat dari sisi keuangan keluarga, karena selain sakit-sakitan, sang ayah tidak sukses berdagang sendirian. Selama ini, tugasnya memang “hanya” menemani Diajengnya berdagang. Namun, jangan dikata Hanafi tidak bekerja sebab dia jelas-jelas bekerja, itulah pekerjaannya. Dulu, Haryati pun sering memuji, “Mas Nafi ini suami yang baik,” katanya. “Tidak ada duanya bagi saya....”


Bukan belum pernah dicoba, banyak sudah. Haryono sampai Akas, semua sudah pernah mencoba berdagang seperti ibunya. Tapi, tegas-tegasnya tidak ada yang bisa. Tampaknya bakat dagang Haryati tidak menurun kepada putra-putrinya. Maka, selepas sekolah, Haryono dan Rani memilih bekerja biasa. Bukan dagang, maksudnya. Mereka bekerja di sebuah toko besar di kawasan Malioboro, Jogjakarta. Sulis yang juga sudah lulus SMEA sedang mencari pekerjaan lagi, yang sebelumnya tidak betah. Sementara, dua buntut paling belakang masih sekolah. Saat ibunya meninggal, Wati duduk di kelas tiga SMEA, adiknya kelas satu SMA.


Sakit sang ayah pun berkepanjangan. Kalau awalnya masih sakit sembuh sakit sembuh, akhir-akhirnya sakit menerus. Maka, cepat dan pasti, tabungan keluarga yang tidak seberapa itu pun tersedot untuk biaya pengobatan. Tindakan darurat pun diambil. Wati dan Akas merelakan sekolahnya diputus karena sudah tidak ada biaya. Haryono dan Rani habis-habisan mencari tambahan pemasukan. Ketiga adik pun tidak hendak tinggal diam, kerja serabutan. Apa yang bisa dikerjakan untuk mendapatkan uang, dikerjakan. Intinya, mereka berusaha bertahan.


Namun, sulit tampaknya.


Hingga akhirnya, “Jual lah rumah ini. Kalian butuh makan...,” ujar Hanafi di hadapan anak-anaknya.


Haryono menundukkan wajah sambil terisak saat sang ayah mengambil keputusan itu. Ketiga adik perempuannya juga. Semua menangis, kecuali Akas. Tentu dia sedih, nyesek betul rasanya dalam hati. Bagaimanapun, dia dan kakak-kakaknya tumbuh dan besar di rumah ini. Tapi, entah mengapa Akas tidak bisa menangis. Bukan tidak ingin, tidak bisa. Tidak mau keluar air matanya. Jangan kata menangis, terisak pun tidak. Hanya diam termangu saja.

__ADS_1


Maka, rumah kenangan itu pun ditawarkan di bawah harga. Jual butuh, supaya cepat laku karena situasi keuangan yang ada sudah sangat mencekik. Belum seminggu lewat, datanglah tetangga lain RW melihat-lihat. Ujungnya, dia bilang berminat membeli rumah ini asal dia yang menentukan harganya. Maksudnya, harga yang sudah rendah itu masih minta diturunkan lagi. Tampaknya, dia paham keterpepetan keluarga Hanafi saat ini, sekaligus cerdik memanfaatkannya. Atau, culas mungkin. Tapi, bagaimana lagi, dengan berat hati akhirnya lepas sudah rumah ini ke orang lain. Sang pembeli memberikan waktu seminggu untuk segera meninggalkan rumah ini.


__ADS_2