Selamat Jalan

Selamat Jalan
5. lembar kain baru


__ADS_3

Dan, benar ternyata. Tidak perlu mencari waktu lama-lama karena sosoknya Haryati kembali hadir di Baturaden. Masih pagi, sekitar jam tengah delapan. Wajah cantiknya terlihat lelah, pucat, dan kuyu.


“Oalah, Cah Ayu, kenapa ini? Sakit? Ayo masuk, masuk...,” sambut Surtiyah, yang pertama menjumpainya.


Haryati memeluk ibu kekasih dan langsung menangis sesenggukan di pundaknya. Surtiyah mengusap-usap punggung dara Cina yang sedang didera nestapa itu....


Besoknya, Subagyo pergi ke Banjumari menemui Liow Chou. Setelah mendengar kisah nyata yang dituturkan Haryati kemarin, pada prinsipnya tidak ada pilihan lain baginya kecuali menikahkan gadis itu dengan putranya. Untuk ini, tentu perlu bincang-bincang dulu dengan ayah sang dara. Tadinya Hanafi hendak ikut, tapi dilarang ayahnya. Khawatir malah gimana-gimana.


Ternyata, “Terserah! Dia mau kawin sama siapa, terserah! Mau jadi apa juga terserah! Keluarga ini sudah tidak punya urusan dengan anak perempuan pembangkang yang bernama Haryati itu!” Liow Chou bersabda tegas dalam amarahnya. Inilah yang didapatkan Subagyo dari Banjumari.


Ya sudah, Subagyo pun kembali ke Baturaden dengan membawa keyakinan hati bahwa demikianlah yang dikehendaki-Nya. Pernikahan beda agama.


Ringkas cerita, setelah mendapat restu dari para tetua kampung yang akhirnya bisa paham duduk persoalannya, pernikahan Hanafi dengan Haryati pun terlaksana tanpa pesta. Usai menikah, mereka langsung honey moon ke Sedayu. Maksudnya, sekalian pindah ke sana. Sebab, ada kesepakatan antara Subagyo dengan para tetua bahwa setelah menikah, anaknya harus ke luar dari kampung di Baturaden ini atas nama “perbedaan”. Apa boleh buat. Namun, tidak apa-apa karena kebetulan Hanafi dan Haryati memang punya rencana pindah saat mereka mulai menempuh hidup baru. Lalu, kenapa Sedayu? Entahlah, itu sepenuhnya pilihan Haryati. Anggap saja kado pernikahan dari suami Jawanya.


Prihatin; namanya juga pengantin baru. Apa-apa belum tersedia, sendok garpu pun belum punya. Tapi, layaknya ketemu mainan baru, indah saja bawaannya.


Di sana, mereka mengontrak sebuah rumah kecil jelek. Bisa dikata satu strip saja di atas gubuk. Uang Hanafi dari Ko AMeng masih sisa, Haryati juga membawa sedikit bekal, ditambah tidak seberapa dari mertua yang jelas-jelas bukan tergolong kaum berpunya. Dikumpul, itulah modal cash awalnya. Tapi, Haryati malah minta Mas Nafi tersayang untuk tidak usah buru-buru mencari kerja.


“Nanti sajalah, Mas. Sekarang kan masih ada...,” bisiknya manja, sambil mendekap mesra jagoannya.


Bingung juga pertamanya sang jagoan. Soalnya, terus terang tidak lazim ini. Biasanya kan dituntut segera dapat pemasukan. Atau, bubar, hehehe....


“Kenapa, Diajeng?” bertanyalah dia.


Haryati térsenyum manja. “Sekarang, saya butuhnya cinta,” dia mendesah.


Hanafi nyerengeh, “Oo iya, aku juga. Tapi, uang kan perlu?”


Uniknya, Haryati menggeleng sambil mengejap-ngejapkan mata jernihnya yang seperti milik aktris Dilraba Dilmurat itu. Maka, Hanafi melayang di awang-awang. Ya sudah, mari kita bercinta saja. Habis, maunya sang putri demikian....


Begitulah. Dua bulan lebih sedikit, bercinta terus makanannya. Sampai dana talangan yang tersedia telah sungguh-sungguh kritis.


“Diajeng, kayaknya sudah waktunya nih. Uang kita sekejap lagi habis,” bisik Hanafi, di akhir sebuah pertandingan.


Haryati mesem, “Rencana Mas, gimana?”


Hanafi nyengir. Waduh, baru sekarang adinda tersayang mau mikirin rencana. Saat anggaran dasar rumah tangga tinggal setarikan lagi. Ampun,....


“Waktu itu, Ko AMeng bilang aku boleh balik kerja di sana kalau situasi sudah reda,” jawab Hanafi. Inilah yang terlintas di benaknya.


“Di Banjumari? Jangan ah,” Haryati langsung tidak setuju.


“Kenapa?”


“Pokoknya jangan....”

__ADS_1


Hanafi tersenyum paham, “Ya sudah, kalau gitu aku cari di sini saja.”


“Jangan...,” Haryati mendesah lagi.


“Lho, kenapa lagi? Di sini kan aman?”


Haryati tersenyum. “Jangan jadi pekerja...,” bisiknya mesra.


“Lah? Terus gimana?” Hanafi terkejut juga mendengar permintaan ini.


“Kita dagang saja, yuk?” ajak sang istri yang berhawa menggemaskan itu.


Hanafi bengong. Dagang? Tidak terlintas ini. Lagian, apa bisa?


“Memangnya bisa?” bertanyalah dia.


Haryati tertawa renyah, lalu mencium lembut suaminya.


“Masak dapat anaknya pedagang bisa, dagangnya nggak bisa?” dia menggoda.


“Hehehe...,” Hanafi terkekeh. “Habis, anaknya enak sih....”


Haryati memukul mesra dada suaminya. Lalu, ciuman lagi deh. Seolah dunia ini milik berdua saja.


* * *


Dan, terbukti. Dua hari Haryati kasak-kusuk di komunitas pedagang Sedayu, Cina maupun pribumi, tahu-tahu dia punya modal. Pinjaman lunak yang lunak sekali. Renyah banget, gitu. Hanafi mendelik. Bagaimana bisa? Pinjam duit kan nggak gampang? Ini, empuk nian


“Kok bisa sih, Diajeng?” tanya Hanafi, penasaran.


“Bisa apa, Mas?”


“Ini lho, pinjam duit kok seperti bercanda saja....”


Haryati tersenyum, “Gampang ah, tinggal ngomong.”


Hanafi geleng-geleng kepala, masih bingung kelihatannya.


Dilraba Dilmurat itu lanjut mesem. “Sudahlah, jangan dipikirkan. Besok Mas Nafi tolong cari motor. Beli saja, ada uangnya. Terus, sesuai kesepakatan kita, Mas temani saya berdagang. Jangan malu, pedagang nggak boleh punya malu, hehehe....”


Hanafi meringis. Duh, nggak boleh punya malu, ya?


Ya sudah. Besoknya, tanpa malu-malu, Hanafi berburu motor seken di seputaran Sedayu. Walau belum pernah punya motor, tapi dia lumayan tahu tentang ini. Namanya juga laki-laki. Putar-putar, akhirnya dapat menjelang ashar. Setelah dites-tes secukupnya, motor merek Honda itu pun berpindah tangan.


Di rumah, Haryati menyambut. “Tuh, bisa dagang...,” candanya.

__ADS_1


Hanafi nyerengeh. Kalau soal beli sih gampang asal ada duitnya, yang susah bagian menjual. Acara menjual tidak semudah membeli. Iya, kan?


“Besok, kita ke Solo,” ujar Haryati, setelah suaminya menaruh motor.


“Solo? Mau apa, Diajeng?” tanya Hanafi.


“Cari kain di Pasar Klewer.”


“Oo,” Hanafi manggut-manggut.


“Naik motor...,” pinta sang istri lagi.


“Hah? Naik motor ke Solo?” Hanafi kaget.


Haryati mengangguk-angguk manja.


“Solo kan jauh dari sini, Diajeng?”


“Iya...”


“Kok, Naik motor?”


“Biarin. Emangnya nggak boleh ?”


“Ya, boleh sih. Cuma, nantinya capek?”


“Ah, masak Mas Nafi capek? Kemarin-kemarin nggak ada capeknya?” Haryati menggoda. Bibirnya mesem, mata Dilraba Dilmuratnya menyipit. Gaya, gimana gitu.


Lusanya, dini hari, mereka berangkat ke Solo. Perjalanannya pakai gaya kalem saja. Kencang nggak, pelan juga nggak. “Santai...,” kata Rhoma Irama. Kalau lelah, istirahat di tempat-tempat teduh tepian jalan. Banyak tempat istirahat macam itu di sepanjang jalan. Ujung-ujungnya, pakai menginap semalam di losmen daerah Klaten gara-gara kemalaman saat lihat barang di Jogja.


Akhirnya, sampai juga di Pasar Klewer yang ternama itu. Sebenarnya, di Pasar Beringharjo, Jogja, juga ada. Tapi, Haryati punya udang lain rupanya, itulah alasan kenapa mesti bablas ke Klewer. Di sana, dia menjumpai kerabat jauh keluarganya. Cina juga tentu.


Kaget tampaknya sang keluarga jauh itu mendengar kisah Haryati tentang cintanya. Namun, mereka tidak hendak ikut campur. Malah maunya menolong pasangan muda yang katanya mau dagang batik dan kain-kain ini. Tentu bisa, karena keluarga jauh Haryati itu salah satu mafioso-nya kain di Pasar Klewer. Kesimpulannya, lancar. Sang keluarga jauh akan mengirim paket kain dagangan ke Sedayu. Haryati tinggal terima di sana. Segala peruangan nanti, kalau usaha putri terbuang Liow Chou itu sudah berputar stabil. Wuih, mantap sekali.


Saat akan pamit balik, tetua keluarga jauh itu berpesan ke Hanafi, “Jaga baik-baik istrimu. Tadinya mau aku minta ke Ko Liow buat si ADong.”


Haryati tersenyum. Suaminya nyerengeh agak mendelik. “Enak saja, nggak bisa dong! Langkahi dulu mayatku...,” gerutunya dalam hati. Tapi, Hanafi tidak marah beneran, tahu kalau ini hanya bercanda. Lagian, kan sudah jelas pemenangnya?


Dan, berhubung berangkatnya dari Klewer telah masuk sore, maka perjalanan balik ke Sedayu kejatahan dua kali bermalam. Pertama di Klaten, kedua di Jogja.


* * *


Demikianlah, Haryati pun berdagang batik dan kain-kain lainnya. Hanafi yang mengantarkan dan menemaninya. Kompak betul mereka mengisi hari-hari perjuangan awal kehidupan rumah tangga mereka itu. Tidak menyewa tempat berdagang, Haryati bilang tidak butuh. Dia lebih suka berdagang bebas, pindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain atau mendatangi para pelanggannya dari rumah ke rumah. Katanya, cara begitu lebih mengikat hati antara penjual dan pembeli. Entahlah, tapi faktanya mereka cepat dikenal sebagai sepasang pedagang kain di Sedayu.


Gerak cepat, awal-awalnya. Haryati dan Hanafi sama-sama sadar bahwa mereka punya tanggungan utang. Itu mesti dibereskan dulu supaya terjaga kepercayaan. Lalu, satu per satu utang pun lunas. Selanjutnya, mereka ingin punya rumah sendiri. Keinginan yang wajar dan manusiawi. Siapa yang tidak ingin? Maka, target lanjut digeber. Setahap demi setahap, dana tabungan mengumpul. Hingga akhirnya, masuk tahun ketiga pernikahan, mereka mampu membeli rumah sederhana yang dipandang cukup untuk melengkapi kebahagiaan yang telah tertata.

__ADS_1


Selanjutnya, mulailah pengisian. Sebenarnya tidak ditahan, dari awal mereka sudah ingin punya anak. Namun, entah mengapa, baru setelah punya rumah sendiri proses pengisian itu berjalan sukses. Ceritanya, makin bulat dan semakin bulat, hingga akhirnya lahirlah produk perdana. Laki-laki. Ayah dan ibu berkenan memberi nama Haryono kepadanya.


Seperti main voli atau badminton, setelah nolnya pecah, yang selanjutnya tidak sesulit yang pertama. Tahu-tahu dua, tiga, empat, dan seterusnya. Demikian pun mereka dalam hal ini. “Tahu-tahu” datang Rani, Sulis, dan Wati, dengan interval rapat. Terus terang, terhitung tokcer. Dan, belum habis ternyata, masih ada bonusnya. Lahirlah si bungsu Akas. Diberi nama indah begitu karena ayah-ibunya bertekad tidak nambah lagi. Cukup lima, banyak itu. Dibuka laki, ditutup laki, tiga perempuan ngumpul di tengah semua. Pegal, kan? Lumayan ngempaninya, tapi seimbang dengan bahagianya.


__ADS_2