Selamat Jalan

Selamat Jalan
48. cermin hati


__ADS_3

Seminggu Akas mencari “yang lain” dalam denyutan itu, tidak ketemu. Ditelusur, disidik-sidik, tidak jumpa. Adanya, hanya denyutan. Lewat minggu kedua, sama saja. Tiba di pertengahan minggu ketiga, Akas sudah capek mikirin ini. Habis, setiap saat dipikirinnya. Jadi neken. Maka, ceritanya dia mau mengistirahatkan sejenak otaknya yang panas. Nanti disambung lagi, kalau sudah rada adem. Sekarang diresapi saja, tidak di-inceng-inceng....


Besok malamnya, ketika dia sedang syahdu meresapi denyutan hati itu seiring dzikir Cahaya, tiba-tiba terasa kalau denyutannya “berbunyi”. Tapi, hanya sekejap, lalu melenyap bersamaan dengan sadarnya dia atas ini. “Ya Allah, apa itu?” Maka, dia pun sigap mengejar yang barusan lewat, tapi tidak dapat. Dikejar dan terus dikejar, tetap tidak terkejar. Kenapa pergi? Ke mana larinya?


Sekejap tadi, nyata terasa bagi Akas bahwa denyutan hatinya itu berbunyi “Allah”. Tentu bukan bunyi secara harfiah melainkan “bunyi rasa”. Di batas kata-kata, tersebutlah asma-Nya pada setiap denyut yang ada. “Allah, Allah, Allah,” begitu. Demi kebenaran, tidak ada dusta di sini. Seperti itulah adanya.


Kemudian, bunyi itu lenyap. Kenapa? Ke mana...?


Akas pun menafakkurinya. Sesaat, sadarlah dia, Tampaknya, kuncinya ada pada inceng-incengan itu. Jangan diinceng-inceng, jangan dipaksa-paksa, jangan dikejar dengan nafsu. Bebaskan, lepaskan, resapkan saja. Gunakan bagian hati itu sendiri, jangan menunggang akal. Maka, jelaslah kini baginya petunjuk Kyai Khalil yang “jangan berharap dan jangan diharap-harap” itu. “Allah,” Akas mendesah pelan. Lalu, mulai meresapi lagi denyutan itu dengan apa adanya. Dzikir Cahaya, terus mengalun bersama ruhnya....


Dan, benar. Tidak butuh waktu lama, “Allah, Allah,” itu kembali menggema dalam denyut hatinya. Luar biasa, situasi ini sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahasa manusia tidak akan mampu menggambarkan keagungan rasa yang sedang melingkup sejati diri Akas. “Allah, Allah,” itu berdenyut sendiri tanpa diminta. Menakjubkan, bahwa denyut “Allah” ini jalan seiring dengan dzikir Cahaya. Tidak untel-untelan, adanya malah saling menguatkan. Kini, ada dua macam dzikir yang nyata berkumandang dalam diri sang elang.


Allahu Akbar....


Besoknya, Kyai Khalil memeluk Akas, usai sang murid menyampaikan apa yang dia alami tadi malam dan menerus hingga kini itu. “Dzikir Qalbi, hati yang bergetar menyebut asma-Nya,” ujarnya pelan. Setelah menepuk-nepuk pundak murid termudanya ini, beliau kembali ke posisi duduknya semula sambil tersenyum lebar. Matanya lekat memandang Akas yang juga tersenyum. Jadinya, sesaat mereka saling tersenyum dalam hening.


“Nah, Akas, pada tingkatan ini, dzikir Cahaya telah membuka qalbumu. Hakikatnya, sejatinya, qalbu setiap manusia memang berdzikir, senantiasa menyebut asma-Nya. Tapi, tidak semua mampu merasakan ini. Sebab, dibutuhkan keselarasan lahir terhadap batin yang bukan sekedar ucapan. Tanpa itu, sampai kapan pun tidak akan terbaca. Tidak terlihat intan yang tersembunyi dalam timbunan sampah,” ujar Kyai Khalil, memecah senyap.


Akas mengangguk-angguk, “Pengertian qalbu itu apa sih, Yai?”


Kyai Khalil tersenyum, “Sebagian ada yang berpendapat bahwa qolbu adalah hati. Tidak salah. Hati dalam wujud rasa, memang bagian dari qolbu. Tapi, pengertian yang lebih benar, qolbu atau qolbi adalah hatinya hati. Intinya hati atau ruhnya hati. Segala sesuatu punya inti, bukan? Itulah. Dalam adanya, qolbu adalah sebentuk rasa yang termurni. Istilah lainnya, amrun dzanqy....”


Akas mengangguk-angguk lagi. Amrun dzanqy, dia sudah kenal istilah ini dari pemaparan kakeknya dulu.


“Mereka yang hatinya bergetar menyebut nama Allah,” Kyai Khalil mendesah, lalu tersenyum sendiri. “Sebagian, ada yang berpendapat bahwa dzikir yang dilantun dalam hati, disebut dzikir Qalbi. Dzikir lisan yang diucapkan dalam hati, seperti kamu membaca dalam hati, disebut dzikir Qalbi. Di batas istilah, silakan. Tapi, bagimu kini pasti berbeda, bukan?” beliau mesem lagi.


Akas mengangguk, “Lain sekali, yang ini bunyi sendiri. Bukan sengaja diucap dalam hati seperti membaca dalam hari itu,” ujarnya.


“Hehehe..., itulah. Tapi, jangan lantas gampang menghukumi, ya? Semua kita sedang bermujahadah menuju-Nya. Kamu yang telah diizinkan oleh-Nya merasakan kebenaran ini, bersyukurlah dan senantiasa bersyukur. Jangan malah merasa di atas angin, lantas memandang rendah saudara-saudaranya. Nanti diambil lagi rasanya oleh Yang Punya Iho, hehehe....”


Akas meringis.


“Selanjutnya, asahlah rasamu. Mulailah belajar menajamkan rasa dengan terus berdzikir Cahaya dipadu dzikir Qalbi itu. Akalmu sudah takluk, tapi belum tunduk sepenuhnya. Seperti penjahat sedang cari-cari kesempatan, hehehe.... Maka, di tataran Spiritual hakikat, untuk sementara jangan ngajak-ngajak si akal dulu. Acuhkan saja dia, sampai benar-benar kapok.”


Akas ikut tertawa. Habis, penjahat kata Kyai Khalil...


“Oo iya, bukalah kembali al-Qur’an. Bacalah ayat-ayat suci dengan rasamu,” beliau lanjut berwejang.

__ADS_1


Akas yang sedang terkekeh, ganti mendelik, “Boleh , dibaca lagi, Yai?”


“Siapa yang melarang?” Kyai Khalil tersenyum.


Yang mendelik pun lanjut nyerengeh. Habisnya, Kyai Khalil pakai acara “nggak ngaku” segala sih.


“Maksudnya, dibaca dengan rasa tadi, gimana?”


“Baca dengan ilmunya, baca dengan iman. Kakekmu dulu pernah mengajarkan bahwa iman adalah sesuatu yang benar adanya dan dapat dirasakan, bukan?”


“Iya, Yai.”


“Nah, gunakan rasamu yang telah ber-Allah itu. Kamu membaca kitab-Nya, maka bersamalah dengan-Nya. Jangan membaca Kitabullah tanpa Dia....” Akas mengangguk-angguk.


“Rasa ketemu rasa. Pahamilah bahwa al-Qur’an itu sepenuhnya hakikat rasa. Maka, bacalah dengan rasa juga. Dengan sejati rasamu, dengan imanmu. Bagaimana bisa menjadi petunjuk kalau membacanya tidak didasari oleh keimanan kepada Yang Memberi Petunjuk?”


Akas lanjut mengangguk-angguk.


“Jangan memandang kitab-Nya ini serupa kitab biasa. Sebangsa buku kumpulan resep atau lainnya. Al-Qur’an, dalam wujud lahiriahnya, memang sama dengan kitab biasa. Berkertas, berhuruf, dan dicetak di percetakan. Maka, bisa robek, bisa rusak, bahkan bisa dibakar atau terbakar. Ini, yang “benda” lho. Kalau yang sejatinya, tidak kena begituan. Sebab, al-Qur'an adalah azhim, bagian dari Kitabun Mubbin, Kitab Sejati Yang Bercahaya. Nah, yang ini tidak pakai kertas-kertasan, tanpa huruf-hurufan, dan tidak ada percetakan yang mampu mencetaknya, hehehe, ...”


“Yang seperti apa itu?”


“Oo, gitu ya, Yai? Jadi, nggak usah dikejar-kejar?”


“Apa yang dikejar-kejar?” Kyai Khalil mesem.


“Katanya, kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina?”


“Hehehe..., yang kejar-kejaran sampai ke Cina itu persiapannya. Kalau ilmunya tidak ke mana-mana. Yang ditusuk jarum kan badanmu sendiri? Badanmu di sini dengan waktu di Cina, sama saja. Ilmunya ada dalam badanmu. Cuma, persiapannya mesti ke sana. Gurunya ada di Cina sih, hehehe....”


Akas ikut tertawa. Entah tuh. Tapi, perasaan boleh juga ini.


Setelah ber-haha-hehe sejenak, Kyai Khalil lanjut memberi tahu murid termudanya ini tentang teknisnya “membaca dengan rasa” tadi...


“Mohon izin kepada-Nya, tempelkan rasamu pada ayat yang akan kamu baca. Lantunkan dzikir Cahaya dan Qalbi dengan syahdu. Lalu, iqra bismi Rabbika, bacalah atas nama Tuhanmu. Jika rasanya atau imanmu sudah cukup untuk menerima kandungan ayat suci itu, maka sang ayat akan membuka makna. Terimalah, itu petunjuk-Nya. Jangan kaget kalau misalnya kamu mendapati keterangan makna yang mungkin tidak sama dengan yang selama ini kamu kira. Bahkan, pada ayat-ayat yang kabarnya muhkamaat, ayat-ayat yang jelas. Sampai di sini, paham?”


Akas mengangguk.

__ADS_1


“Kalau misalnya, ternyata ayat yang kamu baca itu bercerita, maka pahamilah bahwa dalam hal ini rasamu belum cukup untuk menerima kandungannya. Iman itu bertingkat-tingkac. Tingkatanmu saat itu, belum cukup untuk ini. Maka janganlah kamu memaksakan diri untuk memahaminya. Kamu panteng dan memaksanya membuka. Percuma. Kalaupun membuka, itu hanya seolah-olah. Bukan sejati maknanya. Kenapa? Sebab, kamu melibatkan nafsu di situ, bermain sekedar akal. Jadinya akal-akalan, penuh dengan khayalan. Nanti, bidadarinya tampil seperti boneka cantik dari India yang bergaun sutra tembus pandang, hehehe....”


Akas nyerengeh. Asyik juga tuh. Eh, nggak ding....


“Rasa ketemu rasa, sifatnya spontan. Kalau tidak tek-jess, berarti belum selaras. Maksudnya, rasamu belum cukup untuk menampung rasanya. Bukan tidak boleh, mungkin nanti. Sabarlah, besok atau lusa, insya Allah petunjuk itu akan datang berkunjung. Seribu tahun pun tak lama, bukan? Ada lagunya itu, hehehe...,” Kyai Khalil tertawa pelan, lalu bersenandung mesra, “Seribu tahun tak lama, hanya sekejap saja, kita kan berjumpa pula....”


“Hahaha...,” Akas terpaksa ngakak. Soalnya, khusus bagian akhir tadi, para masjiders Masjid Agung tidak bakalan percaya kalau dia bercerita bahwa dirinya menyaksikan Kyai Khalil jadi “biduan seribu tahun”. Mertua pun yakin susah percaya ini. Kyai Khalil menyanyi? Yakin deh....


Usai ketawa-kerawa sebentar itu, Kyai Khalil lanjut lagi, “Selain ayat-ayat yang tersurat, bacalah juga ayat-ayat yang tersirat.”


“Ayat yang mana?”


“Yang ini, yang segalanya ini. Pahamilah bahwa ayat-ayat Allah bukan hanya sebatas al-Qur'an kitabi. Sejagat alam, bagian zhahir berikut batinnya, yang nyata maupun yang gaib, adalah ayat-Nya. Inilah Kitabun Mubbin tadi, Kitab Sejati Yang Bercahaya Qur'an yang ini...” Kyai Khalil menepuk-nepuk pelan kitab al-Qur'an yang ada di dekatnya, “adalah al-Qur’anul karim. Yang itu, al-Qur'anul azhim. Karim bagian dari azhim. Jangan dibalik.”


Akas menghela napas, lalu mengangguk-angguk.


“Eem, caranya yang ini gimana, Kyai?” dia bertanya.


“Prinsipnya, sama. Mohonlah izin kepada-Nya, tetapkan rasamu, lalu bacalah atas nama-Nya. Cuma, membacanya dengan dipandang. Pandanglah bermacam maujud dari Yang Wujud ini.”


“Memandangnya itu, dipandang?”


“Iya. Pandang dengan matamu, selaraskan dengan rasa dalam hatimu...,” Kyai Khalil diam sejenak. “Pada hakikatnya, kamu memandang dengan hati.”


Akas manggut-manggut.


“Kalau maujud dari Yang Wujud tadi, maksudnya apa?”


Kyai Khalil mesem. “Sederhananya, semua makhluk yang ada ini, baik makhluk hidup maupun benda-benda mati. Pengertian mudahnya, begitu. Kalau bagian susahnya, nanti kamulah yang jelaskan ke saya. Kamu kan masih muda.”


Akas nyengir, “Misalnya, ayam sama batu?”


“Semut sama gunung juga boleh,” Kyai Khalil balas nyerengeh.


Akas mendelik. Jauh Kyai skalanya? Tapi, tidak salah sih.


Itulah intinya. Pembicaraan ini masih berlangsung beberapa saat lagi, sampai Akas mohon diri. Soalnya Mang Iyung sudah mondar-mandir terus di seberang pintu, kirim kode “cepetan dong” kepada menantu Kyai Sanusi. Biasa, tamu-tamu lain sudah ngumpul. Nggak enak sama angpao, kalau kelamaan.

__ADS_1


“Sekarang, asahlah rasamu itu. Kata para aulia, menggosok cermin hati. Itulah,” Kyai Khalil menutup sesi.


Akas mengangguk paham....


__ADS_2