
Beberapa saat lewat, “Sebentar, sebentar. Kita mau membahas jin atau setan, nih?” Akas menyela, soalnya mereka terkesan mengocok keduanya. “Kalau jin, kalian lebih tahulah. Kan, bilangnya sudah pada lihat? Malah sudah kenalan sekalian. Saya belum kebagian dari dulu. Takut kayaknya mereka, hehehe....”
Nyerengehlah beberapa peserta.
“Emang ada bedanya, Mas?” Echan menimpali.
“Judulnya saja sudah beda, Chan. Jin ya jin, setan ya setan. Kalau jin kemasukan setan, namanya jin-setan. Manusia-setan juga ada,” Akas nyengir.
Teman-temannya melongo, termasuk yang nyerengeh tadi.
“Perasaan sama deh. Jin, ya setan. Betul, nggak?” Aman minta dukungan sejawat. Sebagian yang melongo itu ganti manggut-manggut.
“Hehehe..., terserah. Cuma, kalau jin sama dengan setan, ngapain kalian suka tanya-tanya ke mereka?” sentil Akas.
Maka, teman-teman lama pun kembali bengong.
“Hayo, kenapa? Apa belum tahu kalau setan itu musuh yang nyata? Berlimpah keterangan tentang ini di Qur'an. Innasy syaithaana lakum 'aduwwun, fattakhidzuuhu 'aduwwan. Itu salah satunya, lihat surat Faathir ayat enam. Bahwa, setan itu musuh, maka jadikan musuh. Ini firman Allah, bukan kata orang.”
Amir terlihat menghela napas, sementara yang lain lanjut melongo.
“Iya, sih. Tidak semua jin itu baik, ada juga yang jahat,” ujar Munhar. “Tapi, saya belum ngerti soal jin-setan tadi. Maksudnya, gimana?”
“Masak Kang Munhar belum paham? Jin-setan ya jin yang kerasukan setan, jadilah bersifat syaithaniyah. Setan adalah ruuhun syariirun, ruh yang sangat jahat. Ruh di sini maknanya sifat, hawa, atau kecenderungan untuk berlaku jahat. Jangan lupa bahwa si ruuhun syariirun ini bisa juga menyergap manusia. Dan, jangan melihat apa yang dikata jahat itu hanya dari lahiriahnya saja. Sebab, kejahatan yang tersembunyi jauh lebih berbahaya. Kenapa? Karena itulah aslinya jahat.”
“Tersembunyi di mana?” kejar Munhar.
“Di mana, coba?” Akas membalikkan bola.
Munhar terdiam, tampaknya berpikir. Lalu, menggeleng-geleng....
“Jangan jauh-jauh mikirnya, Kang. Tempat yang tersembunyi itu nggak jauh adanya dari setiap diri manusia,” pancing Akas.
Munhar menatap teman lamanya. Akas meringis Manis,
“Hayo, tahu nggak?”
Munhar kembali geleng-geleng. Maka, Akas jadi ikutan menggeleng-geleng. “Bener nih, Kang Munhar ngga tahu?” dia bertanya.
Munhar mengangguk.
“Hati, Kang, hati.... Masak lupa sama hati?"
Maka, Munhar pun terpekur kini. Sungguh, dia lupa barusan. Perasaan, tidak ada yang namanya hati, adanya akal doang.
“Tapi, yang merasuk ke manusia itu kan jin, Pak Kas?" tanya Haris.
“Iya, jin-setan. Yang jin saja, nggak pakai kerasukan setan, nggak mau bikin begituan, Ris. Kenapa, coba?"
Haris menggeleng-geleng.
“Sebab, ngapain? Nggak ada perintah-Nya. Adanya, mereka disuruh menyembah Allah, seperti halnya kita. Wama khalaqtul jinna wal insa illaa liya'buduun, dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Jelas, kan? Lihat itu di surat adz-Dzaariyaat ayat lima enam. Lalu, jangan mentang-mentang kita manusia yang sekarang sedang ngerumpi jin, lantas lupa kalau kita juga dikenai kewajiban itu. Awas jadi manusia-setan, hehehe....”
__ADS_1
Hening agak lama setelah ini.
“Eem, memangnya setan bisa beranak?” tanya Echan, memecah senyap.
“Hehehe..., kalau yang kamu maksud ini adalah beranak seperti tikus beranak, jelas tidak. Bagaimana sifat bisa beranak? Tapi, kalau yang kamu maksud adalah yang bersifat setan jadi membanyak, bisalah,” jawab Akas.
“Maksudnya, gimana?”
“Tanya Kang Munharlah, atau Ustadz Amir. ...”
“Aku nggak ngerti,” Amir buru-buru menyahut. Sementara Munhar diam saja, tidak menggeleng tidak mengangguk.
“Gimana, Kang? Kan kemarin Akang yang pertama bilang anak-anak setan?” Akas meringis.
“Yaa, sama kayak gitu. Yang bersifat setan makin membanyak,” bersuara juga Pak Haji ini, walau pelan dan terkesan setengah hati.
“Nah, itulah. Jelas kan, Chan?”
“Perasaan, belum...,” Echan menatap Akas. Tampaknya dia mengharap jawaban darinya, bukan dari Munhar.
“Wah, belum jelas katanya, Kang. Gimana, nih?”
“Sudah, Pak Kas saja yang menjelaskan. Sama sajalah.”
Akas mesem. Bisaan Kang Munhar ngelesnya euy. Padahal, kan jelas-jelas dia yang bikin gara-gara kemarin? Tapi, ya sudah. Maka, Akas pun memberitahukan apa yang dia ketahui tentang ini....
“Begitulah, Chan. Jadi, beranaknya si ruuhun syariirun ini tidak gaya ceprat-ceprot di klinik bersalin. Beranak yang dimaksud di sini adalah berlanjut mempengaruhinya. Semacam efek domino. Satu jin kena, maka dia akan narik temannya, lantas si teman ngajak temannya lagi, dan seterusnya.”
“Sama saja Ustadz, modelnya begitu juga.”
Amir manggut-manggut, lalu menunduk sambil lanjut mengangguk-angguk.
“Jin-setan tadi bisa narik manusia, nggak?” Haris gantian bertanya.
Akas mesem, “Bisa, tapi hanya mempan kepada manusia yang memang sudah punya benih setan dalam dirinya. Katakanlah sudah punya dasar, tinggal dibetot sekalian. Manusia-setan pun bisa menarik jin. Sama juga, kenanya ke jin yang punya benih setan. Pokoknya, setan nyambungnya sama setan. Kompak mereka memakmurkan majelis persetanan.”
Mendengar ini, Haris tampak terpekur. Tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Bingung mungkin.
“Jangan bingung-bingung, Ris. Allahumma inna a'uudzubika minal khubusi wal khabaa'its. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki maupun setan perempuan. Begitu sabda Baginda Nabi dalam bentuk doa.”
Lucunya, malah Amir yang mengangguk-angguk. Sementara Haris lanjut terus bengongnya.
“Tapi, kok dibilangnya setan laki-laki sama perempuan? Echan menyela.
“Kenapa?” Akas balik nanya.
“Katanya tadi setan nggak beranak? Lha kalau ada laki sama perempuannya, masak nggak bikin anak? Ngapain aja malam-malam?"
Tertawalah mereka....
“Kamu ini, Chan. Kalau ada jandanya, mau kenalan?”
__ADS_1
“Hahaha...,” lanjut tertawa mereka. Echan yang paling keras.
“Jadi, gimana penjelasannya itu?” kejar Aman, usai tawa mereda.
“Ya sudah jelaslah, Man. Bahwa, ruuhun syariirun itu bukan laki-laki bukan perempuan. namanya juga hawa atau sifat. Jadi, yang dimaksud laki-laki dan perempuan itu ya yang punya jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan yang dikenai kewajiban menyembah-Ku, kata Allah. Siapa, coba?"
Amir kembali mengangguk-angguk. Sesaat Aman masih diam.
“Hayo, tahu nggak? Kalau nggak bisa jawab, aku usulkan ke Kang Munhar supaya kamu dipecat jadi murid,” Akas nyengir.
Aman meringis. “Iya, iya. . ., jin dan manusia,” jawabnya pelan.
“Nah, itulah. Yang mengandung setan tentunya,” Akas tersenyum.
“Kalau kambing gimana? Kan ada laki sama perempuannya juga?” Echan nyodok lagi dari samping.
“Kita sate saja, Chan, hehehe....”
Kawan-kawannya ikut tertawa.
“Lho, serius ini, Pak Kas. Kalau binatang, gimana?”
“Binatang tidak dikenai hukum ini, tumbuhan juga. Firman Allah di surat adz-Dzaariyaat ayat lima enam jelas-jelas hanya menyebut jin dan manusia. Pada harinya kelak, semua yang selain dua bangsa berakal ini, tidak dimintai pertanggungjawaban hisab. Bles, langsung lebur ke hadirat-Nya.”
Manggut-manggut semua. Kayaknya penjelasan ini cukup jelas.
“Jadi, anak-anak setan dalam pengertian tadi benar adanya. Memang begitu tugasnya setan, tuwaswisu fiish shudur, membisiki hati untuk berlaku jahat. Kalau sukses, pelan-pelan lanjut yajri majraddam, katakanlah masuk ke aliran darah. Terus begitu hingga puncaknya, yaitu musyrik. Mereka yang berlaku syirik, menyekutukan Allah, mengada-adakan tuhan selain Dia. Bagi mereka, terhapuslah makna kekhalifahannya di muka bumi. Innallaaha laa yaghfiru ay-yusrak, Allah tidak mengampuni syirik. Maka, apa lagi yang diharapkan? Habislah sudah, sia-sia semua bagi mereka. Di sini maupun di sana.”
Yang tadi sempat ketawa-ketawa itu, kini kembali hening.
“Tapi, kita nggak musyrik, Pak Kas. Kita ini tetap menyembah Allah...,” ujar Munhar, wajahnya terlihat memerah gusar.
“Oo, sebentar, sebentar..., saya tidak menuduh siapa-siapa lho. Soal musyrik ini, tidak ada orang yang bisa tahu persis keadaan orang lainnya. Yang tahu ya dirinya sendiri dan Allah. Sekali lagi, saya tidak menuduh siapa-siapa, saya tidak punya hak atas itu. Siapa musyrik, siapa kafir, siapa beriman, sejatinya saya tidak tahu. Seperti kita bahas di depan tadi, kita ini hanya mengingatkan. Tidak punya hak menilai atau mengubah ketetapan-Nya. Allah yang membolak-balikkan hati, bukan kita.”
Hening lagi, lumayan lama. Terlihat bahwa Munhar tidak suka atas penjelasan Akas yang ujung-ujung itu. Entah kenapa.
“Ehem...,” Akas mendehem. “Rasanya sudah cukup ngobrolnya. Saya mau pamit dulu deh. Sudah malam.”
“Sebentar dulu. Masih ada yang mengganjal nih,” tukas Amir.
Akas meringis. Belum sempat dia menimpali, Amir lanjut nembak duluan, “Soal musyrik tadi, gimana kita bisa tahu kita ini musyrik apa nggak?”
“Waduh, berat ini, Ustadz. Beratnya, khawatir salah terima...”
“Nggak, nggak. Saya terima apa adanya dengan lapang dada.”
Akas lanjut meringis, belum menjawab.
“Jeblakin saja, Mas Kas. Aman-aman saja kok, dijamin,” tukas Echan sambil mengangguk-angguk. Sebagian ada yang ikut manggut-manggut, sebagian yang lain malah manyun. Termasuk Munhar.
“Janganlah, nggak enak saya. Silakan Ustadz telaah sendiri dial-Our'an dan hadits. Lengkap penjelasan tentang ini, banyak."
__ADS_1
Tapi, Ustadz stamplas itu terus memaksa. Echan dan beberapa yang lain juga. Ya sudah, sekalian tuntas sajalah....