
Akibatnya, peninglah Akas. Sebulan terakhir, rongga kepalanya serasa dipadati “pandangan Cina”. Menara-nari di situ, makin hari makin hot aja tarian bisnis ini. Busyet, terus terang, belum pernah terlintas gagasan tak terkira macam ini sebelumnya. Dagang batik dulu, langsung nungging. Masak sekarang ceritanya mau nungging lagi? Pasti lieur kan?
“Jangan ah, Mas...,” Asih langsung membenteng, usai sang suami menyampaikan gagasan tak terkira itu.
“Kenapa, Say?” pancing Akas, ingin tahu pendapat istrinya.
“Nggak kenapa-kenapa. Pokoknya, jangan.”
“Nggak bisa begitu, dong. Mesti mengandung alasan.”
Asih pun terdiam. Kedua alis matanya mengerung, bibirnya melinting maju. Akas meringis sayang. Soalnya, kalau sedang berpose demikian, putri bungsu Kiai Ahmad Sanusi ini bawaannya mengundang nian, hehehe....
“Kenapa, Say?” pancingnya lagi.
“Kita kan nggak bakat, Mas. Bukan Cina,” jawabnya, sambil memandang sang suami dengan pose mengundangnya itu.
“Hehehe...,” Akas terkekeh. Lupa mungkin Asihnya ini.
Sesaat, Asih belum sadar, posenya masih mengundang. Sekejap lewat, sadar tampaknya. Manyun pun berganti senyum. “Cina juga lain ah...,” ujarnya, malu-malu ketahuan. “Kan, cuma setengah?”
“Hahaha...,” Akas ngakak.
Pelan-pelan, Asih ikut tertawa. Nadanya berkata, Maaf, Sayang, tadi saya kelupaan sebentar....
Lalu, perbincangan mengandung perdebatan itu pun berlanjut. Lumayan lama, ada satu setengah jam. Kesimpulannya, “Nggak!” sahut Asih. Waduh, sedang tampil prima teuas babatoknya. Sekali nggak, tetap nggak. Pokoknya, nggak!
Namun, Satria Baja Hitam juga mengandung unsur keras kepala. Mana ada baja yang tidak keras? Sudah baja, hitam, satria pula. Yaa, keras bangetlah itu. Maka, Akas tidak hendak menyerah. Pada celah-celah berikutnya, dia terus memberi pengarahan “pandangan Cina” kepada istrinya. Bukan ngomong doang, dia juga membuatkan hitung-hitungannya untuk Asih. Anggap saja analisis finansialnya, biar lebih jelas gambarannya bagi sang putri.
Masih membenteng usai dipapar angka-angka, tapi mulai ada goyahnya. Ada pertanyaan balik dari Asih usai menyimak hitung-hitungan. Sebelumnya, emoh pokok e emoh. Boro-boro bertanya, bawaannya mau kabur saja kalau sedang diceramahi “pandangan Cina”. Trik selanjutnya, Akas menaruh kertas hitung-hitungan itu di atas meja. Pura-pura lupa. Besoknya, pulang kerja, kertasnya lenyap. Tersenyumlah sang elang. Sebab, hilangnya tidak mungkin disabot Power Rangers atau dicomot si Barbie. Pasti ini perbuatan mamanya.
Beberapa hari tidak ada kabar. Sampai pada suatu sore, Asih menghampiri suaminya yang sedang duduk di beranda depan. “Mas...,” sapanya.
“Hem?” Akas menoleh, lalu mesem melihat gulungan kertas matematika yang dipegang istrinya.
Asih duduk di kursi sebelah, lalu diam. Tampaknya sedang menyusun kata-kata yang enak untuk membuka perbincangan.
“Ada apa, Sayang?” Akas memancingnya.
“Eem, rencana bikin usaha roti itu gimana?”
“Gimana apanya?”
“Kelanjutannya gimana?”
__ADS_1
“Lho, katanya nggak mau?” Akas pura-pura balik nanya.
Asih diam lagi sejenak, lalu berujar, “Kemarin saya ngobrol sama Enci Toko Anyar. Ngomongin usaha. Kata Enci, bagus....”
Akas senyum. Ya pasti bagus jawabannya. Habis, nanyanya sama Cina totok sih. Tapi, beneran bagus kok. Ini jelas kabar baik sehubungan dengan itu.
“Terus?” pancing sang suami lagi.
“Yaa, terusnya ini gimana kata Mas?”
“Maksudnya, setuju, nih?”
Asih menghela napas sambil memandang suaminya, belum menjawab.
“Tapi, saya takut Mas...,” desahnya kemudian.
“Takut apa?”
“Kalau gagal, gimana?”
“Kalau berhasil, gimana?” Akas nembak balik, sambil meringis.
Asih pun kembali terdiam. Agak lama yang sekarang....
Asih menghela napas, “Modalnya, tabungan kita?”
“Iya sayang. Mana lagi?”
“Kalau gagal, nggak jadi dong beli rumah?”
“Wah, balik lagi ceritanya. Kalau berhasil, mau rumah yang mana?” Akas tersenyum sayang. Tentu, dia sangat maklum perasaan istrinya. Selama ini, Asih telaten menabung. Dari dulu dia memang ingin punya rumah sendiri. Sebuah keinginan manusiawi yang wajar sekali.
Hening lagi sejenak....
Akas memandang istrinya, lalu kembali tersenyum.
“Kita yang memutuskan, Sih. Kalau memang tidak, ya nggak apa-apa. Biarlah begini, walau terus terang aku pengen. Untuk kamu juga, sama anak-anak. Bukan semata-mata untukku. Banyaknya untuk kalian berempat, aku secuil saja.”
Asih manggut-manggut, “Ya sudah, Mas. Ayo....”
“Maksudmu?”
“Ayo kita bikin usahanya. Kata Enci Toko Anyar, memang selalu ada resiko. Kalau nggak berani ambil resiko, bagusan jangan bikin usaha.”
__ADS_1
Akas meringis kecut, “Enci Toko Anyar bilang begitu?”
“He-eh. Malah dia bilang, kalau nggak punya usaha sendiri, mending sudahan saja hidupnya...,” Asih meringis manis.
Wuih? Akas mendelik. Rada kelewatan kayaknya pendapat terakhir itu. Tapi, terserah pandangan masing-masinglah. Kata Enci roti juga begitu.
“Jadi, kesimpulannya gimana?” Akas minta penegasan.
“Ayo kita bikin, Mas. Tapi, hati-hati, ya? Soalnya, cuma segini-gininya modal kita,” Asih mewanti-wanti, lalu menghela napas panjang.
Terus terang, sekejap Akas merasakan bulu kuduknya agak merinding. Bukan karena takut gagal. Ada sih, tapi kebanyakan karena terharu melihat kenekatan putri kerudung merahnya, yang sekarang sudah berbuntut empat....
Maka, selanjutnya Akas mulai bergerak dengan visi barunya itu. Hati-hati tentu, sesuai pesan sang istri. Untuk langkah awal, dia sekarang lebih menyimak semua proses yang ada di tempat kerjanya. Tidak apa-apa, contek-menyontek adalah hal biasa dalam dunia bisnis. Enci sendiri yang bilang itu kepadanya, kapan waktu lalu. Jadilah kini Akas beneran menjiplaknya. Tapi, lucu juga, serasa sedang nyontek sebagian karyanya sendiri.
Setelah yakin semuanya tuntas tercontek, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa dari management tripods pabrik roti ini, produksi - pemasaran - keuangan, yang paling vital adalah aspek pemasaran. Bukan berarti dua yang lain gampangan, tapi memang lebih mudah dibanding pemasaran. Produksi, ya begitulah, seperti bikin roti biasa cuma skalanya massal. Keuangan, Akas paham sekali. Nah, pemasaran yang terasa benar interaksinya dengan faktor “X” dari luar. Maka, langkah selanjutnya, dia intensif memuluskan ini. Biasa, bisik-bisik duluan ke target pasar. Tidak apa-apa juga lho. Jangan dipandang sebuah kecurangan. Beneran, sekadar hal biasa dalam bisnis. Alhamdulillah, responnya positif. Dengan kata lain, pasar siap menerima. Para pemilik toko itu, kan temannya juga selama ini.
Langkah ketiga, presentasi ke “komisaris” Asih. Akas membeberkan rencana unggulan ini, tanpa ada yang ditutupi. Pokoknya transparan, termasuk peluang risiko yang ada, bukan cuma cerita indah-indahnya doang. Beres itu, bagian “komisaris” ambil keputusan. Hari itu, Asih belum mengiyakan atau menolak. Dia minta waktu, Akas mempersilakan. Memang bukan perkara mudah bagi mereka yang bisa dikata tidak berdarah pedagang. Kecuali mungkin setitik tapak dari “Dewi Kwan Im” yang terayu se-Sedayu itu....
Lalu, selang hampir seminggu kemudian, Asih menghampiri suaminya yang sedang leha-leha sore di teras belakang. “Mas...," sapanya renyah.
Akas menoleh, tersenyum membalas senyum istrinya. Sepiring pisang goreng tampak mengebul di tangan Asih. Usai menaruh piring penganan itu di atas meja, Asih duduk di kursi sebelah.
“Lama nunggunya ya, Mas?” dia membuka obrolan.
“Nunggu apa?” Akas pura-pura tidak mengerti.
“Ah, Mas ini. Pura-pura lupa segala.”
Akas nyerengeh, mengambil sepotong pisang goreng itu, lalu melahapnya. Asih memandang dari samping. “Mas...,” dia mendesah lagi.
“Apa, Sayang? Bilang saja kalau mau, hehehe....”
“Ah, Mas ini. Serius dong.”
“Lho, di mana nggak seriusnya?” Akas masih nyerengeh.
Asih pun manyun gaya mengundang. Akas yang sedang nyerengeh jadi kembali terkekeh. Pelan-pelan, Asih juga ikut tertawa....
“Mas, ayo kita bikin,” ujarnya, sesaat setelah tawanya reda.
Akas menghela napas, “Beneran, nih?”
Asih mengangguk mantap. Akas menatapnya sejenak, Jalu balas mengangguk. Mereka pun saling menebar senyum termanis.
__ADS_1
Semanis angan roti susu....