
Malamnya, sepulang shalat Isya dari masjid, Akas ngobrol dengan beberapa temannya di batas pagar rumah...
“He, cacune elang! Sini kamu!” panggil Sutomo, dari dalam rumah.
Akas meringis, mengundurkan diri dari teman-temannya, lalu beranjak masuk memenuhi panggilan polisinya tentara itu. Ada Rani juga di ruang tamu, tersenyum manis seperti biasanya.
“Apa, Mas?” tanya sang adik.
“Duduk!” ujar Sutomo, suaranya diserem-seremin. “Ini orangnya, Ran? Yang mengaku-ngaku cacune elang?” dia bertanya canda ke istrinya.
Rani tertawa pelan, Akas nyerengeh.
Sutomo menatap adiknya, pakai gaya melotot yang biasanya itu.
“Sebelah mana elangnya? Nggak ada samanya, ah. Yang kayak gini dekatnya emprit,” ujar sang letnan, lalu ngakak.
Rani tertawa lagi, agak keras. Akas juga. Sialan....
Setelah berbalas canda sejenak, akhirnya emprit-empritan ini sampai juga ke intinya. Apa lagi kalau bukan tentang Asih tersayang.
“Aku nggak bermaksud melarang,” ujar Sutomo. “Cuma, mungkin ada baiknya kamu timbang-timbang lagi, mumpung belum terlalu jauh. Asih kan anaknya Kiai Sanusi, kita sama-sama tahu siapa beliau. Bukan apa-apa, Mbakmu ini Kristen. Nanti pasti sampai ke situ.”
Akas menghela napas. Rani agak menunduk.
“Gimana?” Sutomo bertanya, sesaat kemudian.
Akas masih diam, terus terang susah menjawabnya. Apa yang dibilang suami kakaknya barusan, bisa jadi benar. Tetap ada kemungkinan kelak nyasar-nyasar sampai ke soal kekristenan Rani. Namanya juga keluarga pemuka Islam.
“Tapi, yang jatuh cinta kan aku? Bukan Mbak Rani. Apa masalahnya? Aku kan Islam? Aku ke masjid, aku shalat, aku baca al-Qur’an. Apa lagi? Kalau yang dipermasalahkan adalah aku adiknya Mbak Rani, ya nggak fair-lah. Siapa yang milih dan siapa yang menentukan? Kenapa aku bukan adiknya Kang Idung, hayo?” celoteh Akas dalam hati. Berargumen dengan dirinya sendiri.
“Waktu aku milih Mbakmu, terus terang nggak gampang urusan. Keluarganya Rani, aman. Cuma Mas Yono yang tanya-tanya sedikit. Sekali kujawab, beres. Segan mungkin karena aku punya pistol,” Sutomo nyerengeh.
__ADS_1
Rani mesem. Akas juga ikutan meringis sedikit.
“Keluargaku yang runyam, Kas. Ampun, hampir setiap hari nyiram ancaman terus. Kayak ditembaki senapan mesin. Iya kan, Ran?”
Sang istri mengangguk pelan.
“Kalau aku, nggak mempan. Nggak tembus ancaman-ancaman begitu. Pokoknya, Rani. Mau Islam mau Kristen, tetap Rani pilihanku untuk jadi istri. Tapi, itu aku, yang tentara. Jelas lain sama Mbakmu yang lembut kayak gini. Nangis teruslah tiap hari,” Sutomo manggut-manggut, agak menerawang.
Rani tersenyum tipis sambil mengejap-ngejapkan matanya. Mungkin menahan tekanan air mata.
“Singkatnya begitu, Kas. Intinya, nggak gampang,” tegas Sutomo.
Akas menghela napas, “Terus, aku mesti gimana, Mas?”
“Terserah kamu, kamu yang mau menjalani. Maksudku bercerita ini, supaya kamu punya gambaran. Bukan bikin takut. Kamu laki-laki. Ambil keputusanmu sendiri, sekalian tanggung resikonya.”
Akas mengangguk-angguk. “Iya, Mas, aku mengerti. Dulu, Mbah Bagyo juga pernah cerita. Katanya, zaman bapak sama ibu juga nggak gampang....”
“Nah, itu kamu tahu,” tukas Sutomo.
“Benar kalau soal itu. Semua tahu, tapi nggak semua mau tahu. Masalahnya ya tadi, Mbakmu Kristen. Kayaknya, bakal sampai ke situ nantinya. Syukur kalau tidak, tapi ambil kemungkinan jelek, jangan bagusnya.”
“Eem..., kalau buat Mbak sih nggak apa-apa. Mbak sudah biasa, wong sudah kejadian nekat nikah sama Masmu yang Islam. Sekarang, tinggalnya juga di tengah-tengah kampung Islam. Buat kamu, kayaknya juga nggak terlalu apa-apa, wong kamu lanang seperti kata Masmu tadi. Tapi, Asih gimana? Kalau benar begitu kejadiannya nanti, dia pasti ditekan keluarganya. Jangan lupa, dia perempuan. Sakit rasane itu, Kas. Apa kamu nggak kasihan” ujar Rani, agak mendesah.
Akas kaget mendengar penyampaian Rani. Terus terang, dia sendiri belum sempat berpikir sampai ke situ. Beneran halus perasaan mbaknya ini, seperti kata suaminya tadi. Bisa-bisanya meninjau dari arah Asih. Padahal, kenal pun belum. Salut Akas, tahu kalau kakaknya benar-benar memikirkan Asih. Bukan sekadar basa-basi. Suaminya pun terpekur, kagum juga kelihatannya.
Hening agak lama setelah itu.
“Tapi, ini kan baru kira-kira, Kas. Belum tentu kejadiannya begitu. Kamu jangan merengut, dong. Nanti tambah jelek,” celetuk Rani, memecah hening.
Sutomo tertawa, Akas meringis. Soalnya, tambah jelek. Duh....
__ADS_1
“Sudah. Sekarang, yang mestinya dikerjakan, ya kerjakan. Yang nanti, gimana nanti. Yang penting, kamu sudah punya gambarannya. Iya kan, Mas?” Rani minta penguatan dari suaminya.
Sutomo mengangguk.
“Eem, kalau yang nanti itu ternyata justru kejadiannya begitu, gimana?” Akas bergumam tanya. Seperti kata kakak iparnya, ambil kemungkinan buruk.
“Kalau begitu, ya itulah adanya. Harus ditanggung, wong sekarang saja sudah kebaca resikonya. Iya, kan?” Rani menatap sayang adiknya.
Sutomo manggut-manggut.
“Modalnya nekat. Kalau kamu nggak punya barang ini, bagusan mundur sekarang. Kemungkinan jeleknya, seperti tentara luka yang sendirian terkepung musuh. Kalau dia masih punya nekat, pasti maju terus. Walau tipis, kalau dia maju masih ada harapan mati harapan hidup. Kalau diam, ya sudah, mati di tempat,” dia berkomentar gaya militer.
“Ah, Mas Tomo ini. Mati-matian segala,” Rani protes.
“Lho? Hidup itu kan memang tentang mati, Yu? Iya, nggak?”
“Nggak ah, tentara saja sing senenge mati-matian. Sudah siap mati, apa?”
“Ya harus sudah dong. Perwira....”
“Beneran?” Rani memainkan jurus “maut”-nya.
Sutomo meringis. “Belum ding, hehehe.... Nanti sajalah, kapan-kapan. Susah aku kalau lihat kamu.”
Selanjutnya, mereka pun saling menatap, berbalas senyum. Sesaat, Akas serasa jadi embe deh. Mana Asihnya jauh pula.
“Mbak...,” ujarnya, agak keras.
“Apa, Kas?” wajah Rani terlihat agak merona merah.
“Kok apa, Kas? Terusannya gimana ini?” Akas mendelik mesem.
__ADS_1
“Hahaha...,” Sutomo tertawa. “Terusannya, cari sendiri.”
Akas tambah mendelik. Rani mesem. Sutomo lanjut terkekeh.