
Dua tahunan berlalu, hingga tibalah akhir masa bagi lokasi pedzikiran ini di tanah Pakuncen. Pemilik lahan akan memanfaatkan kembali lahannya. Dia mau membangun bisnis rumah petak sewaan dan kamar kost-kostan di situ. Kabarnya, usaha ini memang nggak ada matinya di Magelang. Sempat melesu sebentar terimbas krisis moneter, sekarang tampaknya mulai bergairah kembali. Para karyawan pabrik yang kebanyakan pendatang itu butuh tempat tinggal, bukan?
“Sudah ada teman yang mau kasih modal untuk join usaha itu dengan saya,” ujarnya. “Tapi, perasaan saya jadi nggak enak nih ke Pak Kas....”
“Kenapa?” Akas mesem.
“Yaa, nggak enak sajalah Pak,” dia balas tersenyum.
Lalu, mereka berdua pun tertawa pelan. Tidak ada masalah karena memang tidak ada masalah. Uniknya, sehubungan dengan ini, si pemilik malah memberi “uang nggak enak perasaan” kepada Akas. Dia bilang terima kasih karena lahannya yang semula hanya sekadar lahan kosong dan bawaannya angker ini menjadi “hidup” tersiram dzikir. “Karena dengar dzikir di sini itulah makanya teman saya mau taruh modal. Katanya, lokasi yang sering dipakai dzikir, auranya bagus buat bisnis. Ini dia yang bilang sendiri lho, Pak,” ujar si pemilik.
Akas lanjut tersenyum, "Allah yang punya segala cerita. Bukan saya, bukan kita. Bukan siapa-siapa, bukan pula apa-apa.”
Si pemilik pun manggut-manggut. Mudah-mudahan paham.
Demikianlah. Maka, pedzikiran ini berpindah lokasi dari Pakuncen ke Ulekan. Sesuai kemampuan keuangan yang ada, para murid sepakat memindahkan pedzikiran mereka ke sebuah rumah kontrakan dalam kompleks perumahan sederhana yang masih terhitung anyar di daerah Ulekan. Belum banyak penghuni perumahan ini, pembangunannya pun belum seratus persen kelar. Bahan material bangunan masih bertumpuk di sana-sini. Itulah adanya, dan alhamdulillah.
Lalu, bergabunglah tiffi-tifli angkatan Ulekan. Salah seorangnya bernama Asep, tetangga selisih jalan dengan Akas di perumahan ini. Sababiah-nya, kambing. Ceritanya, ketika itu menjelang hari raya Qurban. Bingunglah Asep atas status seekor kambing yang telah dibelinya. Niat awalnya, akan dijadikan qurban untuk anak laki-lakinya. Harap maklum, tidak mudah baginya mengadakan ini. Perlu setahunan dia menyisihkan sedikit demi sedikit dari penghasilannya yang ngepas sebagai karyawan pabrik strata pada umumnya. Lalu, ketika kambing telah tersedia, dia mendapat kabar bahwa tidaklah dibenarkan berqurban sebelum aqiqah. Masalahnya, si anak ini belum diaqiqahkan....
Jadi, bagaimana sekarang? Aturan di penjual kambing itu jelas, “barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan”. Mau dipelihara, tidak memungkinkan tempatnya karena di sini perumahan. Akan dibelikan seekor lagi agar cukup untuk aqiqah anak laki-laki yang aturannya dua ekor, tidak ada dananya. Mau disembelih sebagai sekadar daging, rasanya berlebihan. Coba ditawarkan ke tetangga, tidak terjual walau sudah dikasih discount bagus. Terus, gimana?
Akhirnya, dia datang ke Akas. Kali-kali Pak Akas yang mengajar dzikir itu punya second opinion. Soalnya, ustadz-ustadz di sekitar perumahan ini sama opinion-nya soal tadi, mesti aqiqah dulu sebelum qurban. Dengan kata lain, tidak sah qurbannya tanpa aqiqah. Lalu, Akas pun tersenyum seperti biasanya...
“Di mana hatimu, Sep?” dia bertanya.
“Maksudnya, Pak?” Asep balik bertanya, belum jelas.
“Pada urusan ini, hatimu ada di mana?”
Asep terdiam, mikir kayaknya, “Niat saya, Pak?”
“Boleh,” Akas mengangguk.
“Ya untuk qurban. Dari pertama niatnya itu.”
“Ya sudah, laksanakan, hehehe....”
__ADS_1
Asep mendelik, “Emang boleh, Pak? Kan katanya harus aqiqah dulu?”
“Kalau begitu, aqiqahlah dulu,” Akas mesem.
“Lho, gimana sih Bapak ini? Kan tadi masalahnya sudah saya bilangin?”
“Hehehe..., Asep, Asep. Firman Allah, waman yu'min billaahi yahdi qalbah. Bahwa, siapa yang beriman kepada-Nya maka Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Lihat di surat at-Taghaabun ayat sebelas. Nah, petunjuk-Nya ada di hati, Sep. Bukan di tempat lain. Tanyalah hatimu dengan sepenuh keimananmu. Sudah, jangan pusing-pusing, nanti malah keseret nafsu. Ingat, saat kamu terlalu meributkan aspek luar, maka nafsumu ikut bermain di situ.”
Asep manggut-manggut, “Jadi boleh, Pak?”
Akas mesem, “Itu tadi, tanyalah hatimu. Sebab, hakikat semua perbuatan adanya di hati, bukan di jidat, hehehe....”
Maka, Asep pun ikut tersenyum.
Itu awalnya. Lalu, setelah urusan kambing beres, dia pun rajin bertandang ke rumah tetangganya. Tanya ini tanya itu yang jelas bukan kelas kambing karena dia banyak nembak soal insan kamil, manusia sempurna. Boleh juga pemuda Sumedang yang jari-jarinya “jempol semua” ini. Wajar karena Asep memang bertubuh besar dan mengaku bahwa masa lalunya banyak di sawah. Biasa, macul....
“Kamu tahu dari mana soal kamil-kamilan ini?” tanya Akas.
“Baca buku, Pak. Saya punya terjemahan kitab Insan Kamil, karangan Syekh Abdul Karim al-Jili.”
Akas manggut-manggut, “Kalau gitu, di kitab itu pasti sudah ada penjelasannya, kan? Judulnya saja Insan Kamil....”
Akas tertawa, “Coba ambil bukunya, saya pengen lihat.”
Asep mengangguk, lalu pulang ke rumahnya. Sebentar kemudian sudah balik lagi membawa kitab “memusingkan” itu. Akas membacanya sekilas, kemudian meringis. Terus terang, tidak salah-salah amat tuduhan Asep tadi. Terasa sekali bahwa penerjemah kitab ini tidak paham makna yang diterjemahkannya. Dia benar-benar hanya men-translate doang. Kering sekali bahasanya, berputar-putar gaya obat nyamuk bakar kualitas “BS”, below standard. Bikin pengap saja adanya, meracuni segala kecuali nyamuk.
“Gimana, Pak?” tanya Asep.
Akas mengangguk-angguk mesem.
“Bisa saya minta penjelasan?”
“Boleh, asal jangan banyak-banyak. Bahaya, hehehe....”
Asep mendelik sekejap, lalu nyerengeh. Selanjutnya, sibuklah dia menyerbu Akas dengan apa-apa yang belum dia pahami dari kitab luar biasa yang diterjemahkan ala kadarnya itu. Akas menjawab dengan bahasa dimudahkan. Kasihan kalau disusahkan, nanti malah semakin bingung. Lagi pula, apa yang dibahas Syekh Abdul Karim al-Jili itu sebagaimana yang dia rasakan selama ini. Sudah nggak aneh lagi bagi Akas. Ya, begitulah adanya.
__ADS_1
“Jadi, Pak, kesempurnaan manusia itu ada di tiupan Ruh-Ku?” tanya Asep.
Faidzaa sawwaytuhu wa nafakhtu fiihi min ruuhii faqa'uu lahuu saajidin. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (QS. al-Hijr: 29).
“Iya, karena ada itulah maka para malaikat diperintahkan sujud. Patuh semua, kecuali teman akrab kita, hehehe... Membangkang dia, merasa api lebih tinggi dari tanah. Dan, karena ini juga banyak dari kita yang menyangka bahwa tanah lelah mulia dari api. Padahal, tidak demikian. Tanah, api, air dan angin martabatnya sama, Asma-ming Allah. Yang meninggikan kita atas semua makhluk adalah itu tadi. Hakikatnya demikian. Lalu, gara-gara tidak menyadari martabat ini, jadilah kita kejeblos selokan bareng cacing. Hati-hati, hehehe....”
Tsumma radadnaahu asfala saafiliin. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (QS. at-Tin : 5)
“Kok tidak mampu menyadari, Pak? Bukankah sudah jelas bahwa manusia adalah yang paling sempurna?”
“Woo, bukan perkara gampang ini. Jangan kamu sangka hanya dengan dengar beritanya lantas sempurna. Mampu menyadari itu bermakna merasakan. Sebab, hanya dengan merasakan maka ada kesadaran. Kalau tidak merasakan, apa yang disadari? Cerita bukanlah sebuah kesadaran, kesadaran datang dari rasa. Begitu, Sep.”
Asep manggut-manggut.
“Setebal kitab ini, Syekh Abdul Karim al-Jili sekedar berkisah tentang dari satu kembali ke satu. Sudah, khatam ceritanya. Sebab, kesempurnaan memang adanya di situ, bukan di yang ke sekian. Coba, menurut kamu mana yang lebih benar antara dua pendekatan ini, adanya alam semesta membuktikan adanya Tuhan, atau adanya Tuhan membuktikan adanya alam semesta?”
Asep diam berpikir, “Kayaknya yang pertama, Pak. Adanya kursi membukukan adanya pembuat kursi. Iya, kan?”
“Hehehe..., tidak salah. Sebenarnya, dua pendapat itu mengandung kebenaran. Dua-duanya benar pada tingkatan masing-masing. Tapi, kalau menurut Syekh Abdul Karim, benar yang kedua lho. Terus terang, saya sepakat dengan beliau.Justru adanya pembuat kursi itulah yang membuktikan adanya kursi. Hayo, bingung nggak?” Akas tersenyum menggoda.
Asep bengong....
“Bahkan, Sep, pada suatu ketika, kursinya itu pun nggak ada lagi. Lenyap dia. Adanya hanya sang pembuat kursi, hehehe.... Hayo? Tambah bingung, kan? Sudah ah, kasihan saya kalau kamu jadi melongo begini, hehehe....”
“Sebentar dulu, Pak. Belum jelas ini persoalannya. Harus dituntaskan.”
Akas lanjut terkekeh. “Apanya yang belum jelas? Bukankah dari satu menjadi banyak lalu kembali satu? Di manakah yang banyak? Adanya di yang satu. Di manakah yang satu? Adanya di yang banyak. Gitu aja kok repot.”
“Repot, Pak. Gimana ceritanya ini?”
“Hehehe.... Ceritanya? Nggak ada dongengnya, Sep. Sebab, hanya Dia yang berhak mengatakan Aku. Yang disampaikan Syekh Abdul Karim itu, mulai alam ahadiyah, wahdat, wahidiyah, arwah, ajsam, mishal, sampai insan kamil, hanya gambaran proses saja. Proses dari tunggal kembali manunggal. Apa yang disebut beliau sebagai alam insan kamil adalah “wujud manusiawinya” alam ahadiyah. Suatu gambaran kesempurnaan sejati dalam wadah kemanusiaan. Manusia yang mampu mencapai martabat alam ke tujuh ini disebut kamil-mukamil. Sudah, habis perkara.”
Asep pun kembali bengong....
“Jangan jauh-jauh membayangkan alam-alam ini, ya? Sebab, memang tidak ada jauhnya. Wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid, Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Lihat di surat Qaaf ayat enam belas. Nah, sebelah mana lagi yang masih kurang jelas?”
__ADS_1
Maka, Asep menggeleng-geleng pelan sambil garuk-garuk kepala. Akas tersenyum melihat kemunculan “tanda” pada diri pemuda ini. Sudah datang taufik-Nya, tinggal menunggu hidayah-Nya, Mesti ada dua-duanya.
Lalu, besoknya Asep pun “KO” disodok Akas dengan pertanyaan, “Mau ilmunya atau ceritanya?” Jelas dia mau ilmunya. Saat ditanya, “Siap baiat?” Dengan tegas dia menyahut, “Siap!” Ya sudah, sebab taufik dan hidayah-Nya memang sudah lengkap. Bersinar terang....