Selamat Jalan

Selamat Jalan
64. antara roti dan soto babat


__ADS_3

Dua tahunan berlalu sejak wafatnya Kyai Khalil. Secara kasat mata, tidak ada yang berubah dari keseharian Akas. Masih juragan roti, masih sregep ke masjid, sesekali bersilaturahmi keteman-temannya, atau menerima kunjungan mereka, dan lain-lainnya sebagaimana setelan dulunya. Cuma, senyumnya saja yang sekarang makin banyak. Bawaannya senyum terus, kadang-kadang nyengir. Apalagi kalau sedang tidak ada temannya di masjid karena mereka sudah pada pulang. Jangan kaget, dia bisa cengengesan sendiri hingga menjelang tengah malam. Untung tidak ada yang menganggapnya edan karena jelas-jelas tidak gila. Masak wong edan bisa “gila” kalau nyumbang kenclengan masjid? Sekali memasukkan uang sanggup puluhan ribu, puluhan ribu kala itu Iho. Sekarang saja masih langka yang mau segitu, padahal mampu.


Selama rentang itu, Akas lanjut “berjalan sendiri” sebagaimana diamanatkan sang guru. Teguh juga dia memegang pesan beliau tentang “diam itu emas”. Maa yalfidzhu min qawlin illaa ladaihi raqiibun 'atiid. Tiada ucapan yang terucapkan, melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir (QS. Qaaf: 18). Bukan tidak boleh bicara, tapi mestilah ditimbang dulu segala apa yang akan diucapkan. Terlebih jika menyentuh tataran hakikat. Sebab, ini memang bukan bagiannya umum. Zhalim hukumnya dibuka sembarangan.


Dan, diam benarlah “emas” jika dikenakan pada pemahaman-pemahaman yang dikaruniakan-Nya. Afaman syarahallaahu shadrahu lil islaami fahuwa 'alaa nuurin min rabbihi, fawailul lilqaasiyati quluubuhum min dzikrillaah, ulaa-ika fii dhalaalim mubiin. Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima Islam kemudian ia menerima cahaya dari Tuhannya (sama dengan mereka yang membatu hatinya)? Maka, celaka besarlah mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata (QS. az-Zumar: 22). Namun, semakin hening semakin banyak datang. Semakin beragam rahasia yang dibukakan oleh-Nya. Disampaikan ini atas kebenarannya.


Selain hening, kini Akas telah sampai pada haqqul yaqin bahwa dirinya tidaklah berhak menghukumi segala tindak tanduk manusia lain. Baik maupun buruk dalam pandangan lahiriahnya. Tergantung derajat “peleburan rasa” masing-masing, namun bagi mereka yang telah paham hakikat Sang Dalang, pastilah tidak sanggup menghukumi ketetapan-Nya atas segala makhluk. Tapi, ini bukanlah berarti dia membiarkan kemungkaran dan kemaksiatan merajalela. Akas memberitahukan yang benar, namun tidak menghukumi. Setelah diberi tahu, ya sudah, kembali kepadaNya. Sebab, bahkan memberitahunya ini pun kehendak-Nya, bukan? Maka, bagaimana dia sanggup memvonis pahala-dosa? Bagaimana pula mampu membagi surga-neraka? Baginya ini jelas-jelas urusan Dalang, wayang tiada berdaya. Al-Qur'an diturunkan sebagai peringatan dan petunjuk. Bukan palu godam....


Waktu lanjut berputar. Unaning ning anung tetap pada martabatnya....


Hingga pada suatu ketika, sekian bulan berselang, Dayat, salah seorang yang rajin ke masjid mendatanginya. “Pak Kas, gumana sih caranya supaya orang bisa tenang?” dia bertanya.


“Kenapa, Yat? Kusut amat wajahmu?” Akas balik nanya.


Dayat tidak menjawab, menggeleng-geleng saja dengan wajah kusutnya.


“Kenapa? Bisnis sedang lesu?”


Dayat menjawab dengan gelengan kepala. Maksudnya, tidak. Usaha warteg soto babatnya yang mangkal di alun-alun itu, normal-normal saja. Malah cenderung rame.


“Sedang perang sama istri?” Akas meringis.


Dayat kembali menggeleng. Berarti, di rumah pun baik-baik saja.


“Terus, kenapa?”


Dayat menghela napas, lalu berkisah tentang nasib tragis seorang temannya yang tewas ditabrak mobil saat sedang lari pagi. “Olahraga kan bagus. Tapi, kok mati, ya?” dia bergumam. “Yang nggak olahraga, malah Selamat.”

__ADS_1


“Jangan heran, Yat. Ajal memang demikian,” jawab Akas. Dia sudah dengar kabar tragis beberapa hari lalu itu. Serombongan orang yang sedang lari pagi, diseruduk mobil yang dikendarai seorang pemuda mabuk. Ceweknya di mobil itu juga teler. Dua orang pelari pagi tewas, beberapa lainnya luka parah. Salah seorang yang tewas itu ternyata temannya Dayat. “Ada haditsnya. Innasu niyaamu fa'idzaa maa tun tabahuu. Manusia itu sedang tidur nyenyak, ia akan sadar apabila kematian datang. Begitu kata Baginda Nabi.”


“Itulah, Pak Kas. Jadi, gimana ini?”


“Gimana apanya?”


“Kalau ajal datangnya model begitu, kita kan harus selalu siap. Iya, nggak?”


“Ya iya dong.”


“Nah, gimana caranya biar bisa selalu siap? Kalau nggak siap kan nggak bisa tenang? Kalau saya sedang di warteg, lalu ada truk nyelonong, gimana?"


Akas nyengir. Ada-ada saja khayalan Dayat ini. Pakai acara truk nyelonong segala. Gimana kalau kompor meledak? Gimana kalau gunung meletus? Gimana kalau gempa bumi? Atau, gimana kalau tahu-tahu mati sendiri di tempat tidur?


“Gimana, Pak Kas?” Dayat masih menuntut jawaban.


Dayat memandang Akas. Tampaknya, dia belum puas atas jawaban ini, walau yang disampaikan itu Maha Benar....


Malamnya, Akas tidur cepat. Maksudnya, supaya nanti bisa bangun malam seperti biasa. Soalnya tadi siang lelah nian mengurus orderan roti yang makin padat. Lalu, “Kyai Khalil” datang berkunjung. Entah mimpi entah bukan, rasanya nyata sekali....


Dalam “pertemuan” itu, Akas diminta membantu beliau membersihkan jasad yang panjangnya sekitar tiga meteran. Jasad itu memakai pakaian ihram putih-putih. Mereka pun membersihkannya tanpa banyak bicara. Usai itu, Kyai Khalil langsung beranjak pergi. Akas bergegas mengikutinya.


“Kyai, itu jasad siapa?” Akas bertanya.


“Lihat saja sendiri,” jawab Kyai Khalil.


Maka, Akas kembali untuk melihat jasad tadi. Dan, kagetlah dia saat tahu ternyata “jasadnya sendiri”. Saat menoleh balik, ternyata sang guru sudah tidak ada di tempatnya tadi. Lalu, Akas pun tergugah bangun. Pukul kosong-kosong lewat tujuh belas menit. Tidak tidur lagi dia setelah itu, terus terjaga melantun asma-Nya. Bersama unaning ning anung yang tak pernah tidur....

__ADS_1


Sorenya, bakda ashar Dayat kembali muncul. “Pak Kas, gimana sih caranya supaya orang bisa tenang?” begitu katanya. Persis seperti yang kemarin dia tanyakan di sini.


Akas terkejut. Lalu, semakin terkesima saat perbincangan mereka kali ini serasa siaran ulang dari rekaman kemarin. Bahkan, sampai ke truk nyelonong itu. Dayat layaknya orang yang lupa kalau kemarin mereka telah membahas ini. Bukan pura-pura lupa, yakin bukan. Sebab, terlalu alami pembawaannya kalau ini sekadar akting karena dia jelas-jelas bukan aktor. Uniknya lagi, jawaban-jawaban Akas pun sama kemarin, kalau tidak boleh dibilang persis. Maha Suci Engkau, apa makna isyarat-Mu ini?


Dan, ternyata yang kemarin itu belum the end, masih ada sambungannya. “Pak Kas, katanya kalau orang mau tenang, harus kenal sama Allah, ya?” begitu kemudian Dayat bertanya.


Akas diam sekejap, lalu mengangguk.


“Benar ya, Pak Kas?"


“Iya,”


“Pak Kas tahu nggak caranya itu?”


Akas kembali terdiam, menatap pemuda yang telah beristri dan beranak satu ini. Tadi itu, bukanlah pertanyaan biasa bagi mereka yang benar-benar mencari. Itu pertanyaan pembuka hati, sebentuk “tanda”. Yang tidak mencari, dijamin segan pada pertanyaan serupa itu. Malah ada yang khawatir berlebihan terhadap “mengenal” ini. Khawatir musyrik katanya. Sebab, Allah itu Maha Gaib, tidak bisa “dilihat”. Jadinya tidak bisa “kenali”. Hanya bisa “diimani". Padahal, itulah....


Huwal awwalu wal aakhiru wadz dzaahiru wal baathinu, wa huwa bi kulli syai'in 'aliim. Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-Hadiid: 3).


“Gimana, Pak Kas? Tahu nggak?” kembali Dayat bertanya.


Akas yang sesaat itu sedang terpana mendapati sebentuk “tanda lain", selain bentuk ucapan tadi, pun tersadar. “Tanda lain” ini, dalam batas yang bisa disampaikan, seperti gemericik cahaya di atas kepala Dayat. Kecil, kira-kira seukuran bola bekel. Kelap-kelip serupa bunga kembang api. Warnanya hijau. Mungkin Kyai Khalil pun dulu melihat ini pada diri Akas. Sebab, saat awal Menantu Haji minta diajari ilmu "mengenal Allah”, beliau agak lama memandang bagian atas kepala calon muridnya sambil tersenyum penuh arti.


“Wah, Pak Kas kok malah bengong, sih?" Dayat protes. Maka, Akas sigap tersenyum, supaya tidak dituduh bengong beneran oleh pemuda yang mengaku belum tenang ini.


“Benar kamu ingin mengenal Allah?" dia ganti bertanya, Dayat mengangguk mantap.


Akas balas mengangguk-angguk, “Kalau benar-benar ingin, datang ke rumah saya malam nanti. Jam sebelas. Sendirian, jangan mengajak teman. Sebelum berangkat, shalat sunnah dua rakaat dulu di rumah. Jaga wudhunya, jangan batal sampai acara malam nanti selesai. Insya Allah. Gimana, bisa?”

__ADS_1


Dayat langsung mengangguk, tanpa ragu. Dan, tidak tanya-tanya “mengenal” lagi setelah itu. Mereka masih berbincang beberapa saat, tapi topiknya langsung ganti. Sekarang membahas dunia wirausaha. Antara roti dan soto babat....


__ADS_2