
Maka, jadilah sekarang Akas seorang Islam. Pertama-tama, sang kakek memperbaiki kesalahan cucunya yang bertaburan dalam rukun shalat, bacaan, maupun gerakannya. Kacau juga cucu bungsu ini, jumlah rakaat pada masing-masing shalat fardhu pun lupa-lupa terus. Maklum, campuran....
“Sialnya”, dengan sukarela Ngatijo menawarkan diri untuk membantu membenahi shalatnya Akas. “Sialnya lagi’, sang kakek menerima pula tawaran itu dengan senang hati. Maka, jadilah si tengil semacam asisten dosen. Lagunya langsung melampaui profesor. Sedikit-sedikit nyentak, sedikit-sedikit, mendelik. Kayaknya sih dia sedang main politik aji mumpung.
“Salah lagi!” semburnya, kapan waktu sambil melotot. “Sudah dibilangin bolak-balik, masih salah-salah terus. Dengerin, Allahu Akbar bukan Alahu Akbar. Ngerti, nggak? Kalau nggak ngerti tanya!” Lalu, “Jangkrik!” Akas balik nyembur. Ngatijo pun terkekeh riang. Senang betul kelihatannya.
Demikianlah. Hingga akhirnya, shalat sang cucu dinyatakan “lulus” oleh Subagyo, merujuk syarat rukunnya. Ngatijo juga sudah kesulitan menemukan kesalahan saudara angkatnya dalam pelaksanaan kewajiban syariat itu. Sebab, sebagai asisten dosen tugasnya memang mencari-cari kesalahan, hehehe....
“Shalatmu sudah benar. Sekarang, kamu belajar baca Qur'an di masjid bareng Ngatijo. Kurang apik kalau orang Islam nggak bisa baca kitabnya. Nanti, ngajinya sama Mbah di rumah,” ujar sang kakek.
“Baca sama ngaji itu apa beda, Mbah?” tanya Akas.
“Ya jelas beda, Le. Baca ya baca, ngaji ya ngaji. Ngaji itu mengkaji, kalau baca ya membaca.”
Akas manggut-manggut. Kirain sama, habis kesannya sama sih....
“Tapi, Mbah minta kamu ketemu Pater Jo dulu. Bilang ke beliau kalau kamu sudah punya keputusan. Pater Jo datang ke sini baik-baik, kita harus balas baik-baik juga. Soal keputusanmu, itulah adanya,” sambung Subagyo.
“Iya, Mbah. Kapan?”
“Secepatnya. Nggak enak kalau Pater Jo lama lagi menunggumu.”
Akas mengangguk-angguk.
Besoknya, pagi-pagi, Akas berangkat ke Sedayu. Sampai di sana, langsung menuju rumah Pendeta Joshua. Saat melintas depan toko meubel Tuan Kasim, dia menelisik sebentar dari seberang jalan. Kali-kali terlihat batang hidung Yamani yang mancung itu. Tapi, tidak kelihatan barangnya, entah nyelip di mana. Ya sudah, nanti saja pulangnya singgah.
Lanjut....
Ada di rumahnya sang pendeta kali ini. Gembira sekali dia menyambut kedatangan bakal calon gembalanya itu. Akas dipeluk erat, penuh kasih.
“Hahaha..., Akas anakku, anaknya Haryati. Tadinya aku kira kamu nggak mau,” ujarnya riang. “Ayo, masuk, masuk....”
Akas pun melangkah masuk sambil meringis bingung. Duh, gimana ini? Gimana ngomongnya? Mati aku....
Maka, begitu ada celah pada putaran pertama, Akas langsung nembak intinya bahwa dia memilih Islam sebagai pegangan hidup. Sungguh, ini bukan situasi yang mudah bagi seorang Akas. Bayangkan, Pater Jo begitu yakin kalau anak bungsu Haryati menerima tawaran. Tanpa tanya-tanya dulu, beliau langsung berkisah panjang lebar mengenai warna-warni masa depan nan gemilang.
Maka, sang pendeta pun terperangah....
“Apa maksudmu?” beliau bertanya dengan kening berkerut tebal.
“Saya memilih Islam, Pater,” jawab Akas, ditenang-tenangkan.
“Islam? Bukannya kamu ini Kristen?” nada suara Pater Jo meninggi.
Akas diam, tidak menjawab.
“Akas, apa nama baptismu?” sang pendeta bertanya lagi.
“Saya belum dibaptis,” Akas menjawab pelan.
__ADS_1
“Hah? Belum?” Pater Jo kaget.
“Iya, Pater.”
“Jangan bohong! Seingatku sudah.”
Akas menggeleng, “ Kakak-kakak saya yang sudah.”
Pendeta Joshua menghela napas dalam-dalam, menatap lekat anak bungsu Haryati ini, lalu menggeleng-geleng sambil agak menunduk.
Hening lumayan lama, setelah itu...
“Pater, yang harus saya sampaikan, sudah saya sampaikan. Saya mohon diri,” Akas memecah hening. Soalnya, bingung mau ngomong apa lagi.
Pater Jo mengangkat wajahnya, lalu pelan-pelan tersenyum.
“Saya pamit...,” Akas bangkit berdiri.
“Tunggu,” sahut sang pendeta. “Kamu tidak buru-buru, kan?”
Akas menggeleng. Memang tidak sih.
“Kalau gitu kita bisa ngobrol-ngobrol sebentar, ya?”
Duh, gimana ini? Tapi, akhirnya Akas mengangguk, sebab tidak mungkin baginya untuk menggeleng. Ya sudah, dia kembali duduk.
“Akas, waktu kita bicara dulu, apa kamu sudah jelas apa-apa yang saya sampaikan?” sang pendeta membuka topik.
Akas mengangguk.
“Waktu itu, kalau tidak salah aku bilang bahwa keputusannya adalah keputusanmu, bukan?”
“Iya, Pater.”
“Nah, apakah ini keputusanmu?” Pater Jo menatap tamu mudanya.
Akas balas menatap sopan, lalu mengangguk mantap.
“Oo, keputusanmu?” sang pendeta tampak tercekat.
“Iya, Pater.”
“Benar?”
Akas mengangguk lagi.
“Tidak adakah yang mempengaruhimu?” selidik Pater Jo.
“Maksudnya gimana, Pater?” Akas pura-pura tidak, paham.
__ADS_1
“Yaa, mungkin kamu bincang-bincang dulu dengan seseorang misalnya?”
“Oo iya, Pater. Saya bicara sama Mbah Bagyo.”
Akas memutuskan untuk tidak “menyertakan” Arabi. Bukan apa-apa, sahabatnya itu kenal baik dengan Pater Jo, pun sebaliknya. Sebagai satu-satunya pendeta di sini, Pater Jo juga saling mengenal dengan Tuan Kasim yang bisa dikata salah seorang tokoh Islam Sedayu. Maka, lebih baik tidak dibawa-bawa. Salah-salah bisa jadi merembet ke mana-mana.
Pater Jo manggut-manggut. “Kalau aku boleh tahu, Mbah Bagyo bilang apa?” beliau lanjut bertanya.
“Mbah tidak menahan kalau memang saya mau jadi pendeta. Cuma bilang, kalau saya masuk Kristen berarti nasab Islamnya habis. Tidak ada lagi keturunannya yang memeluk agama Islam. Begitu, Pater.”
Pater Jo berkerut kening. “Kok begitu? Apa Pak Nafi anak tunggal?”
Akas mengangguk.
“Oo...,” Pater Jo kembali manggut-manggut, kayaknya memang baru tahu soal ini. “Terus, Mbah Bagyo bilang apa lagi?”
“Cuma itu, Pater. Selanjutnya malah saya yang banyak nanya.”
“Oh, ya? Nanya apa?” Akas memandang Pater Jo, tidak langsung menjawab.
“Nanya apa, Akas? Kok kelihatannya ragu-ragu?” Pater Jo mesem.
“Tapi, Pater jangan marah ya...,” pinta Akas, sungguh-sungguh.
“Marah? Pendeta nggak boleh marah,” Pater Jo lanjut tersenyum.
Akas ikut tersenyum.
“Ayo bilang, kamu nanya apa?” Pater Jo memaksa lagi.
“Soal Tuhan, Pater...,” ujar Akas, pelan.
“Oh ya? Gimana itu?” Pater Jo tampak antusias, senyumnya nempel terus.
Maka, Akas pun membeberkan “soal Tuhan” yang dulu dia bahas bareng Yamani itu. Berikut penjelasan kakeknya tentang berpikir dengan hati. Tersentaklah sang pendeta, senyumnya langsung meredup.
“Begitulah, Pater. Saya mengikuti hati...,” ujar si bungsu, menutup sesi.
Pendeta Joshua mengusap-usap keningnya sambil agak menunduk, matanya tampak menyipit. Sesekali dia mengangkat wajah, memandang lekat anak bungsu salah seorang jemaat favoritnya itu, lalu menunduk lagi dengan helaan napas yang terdengar berat. Hening pun lama menyergap.
“Pater, saya mohon pamit,” pinta Akas kemudian.
Terus terang, sungguh tidak nyaman perasaannya melihat Pater Jo berkerut kening seperti itu. Soalnya, Akas tahu kalau beliau ini sayang kepadanya, seperti juga dirinya yang sayang kepada sang pendeta. Namun, ini soal keyakinan agama. Dan, keyakinan agama itu jelas-jelas urusane hati, bukan bagiannya yang lain.
Pater Jo mengangkat wajah, memandang Akas, lalu pelan-pelan mulai tersenyum kembali. Mumpung ada celah, adik bungsu Ping Haryono ini bangkit berdiri dari duduknya. Pater Jo juga ikut berdiri. Si bungsu segera menyalami dan mencium tangan sang gembala.
Pendeta Joshua Sedayu memeluk syahdu Akas. Lebih lama dan lebih rapat dibanding saat awal tiba tadi. Lalu, dekapan berlimpah kasih itu ditutup dengan sebait bisikan “ayah” yang sungguh meresap, “Anakku, jadilah orang Islam yang baik. Jangan setengah-setengah.”
Demikian....
__ADS_1