
“Capek?” tanya Rani, yang belum lama melahirkan anak keduanya. Laki-laki, plek dengan bapaknya. Ibunya cuma kebagian kupingnya yang mungil. Kuping bapaknya kan rada nyablak, seperti cantelan ketel.
“Lumayan, Mbak,” jawab Akas, yang barusan balik dati keliling mencari “kursi”. Kata siapa gampang? Biar lulusan SMEA....
“Gimana? Ada yang kena?”
“Belum, padat merayap lalu lintasnya,” Akas nyerengeh kecut.
Rani mesem. “Sabar, semua bakal dapat bagiannya kelak. Nggak ada yang kelewatan.”
Akas manggut-manggut. Entahlah....
“Sebentar ya, Mbak ambilkan minum,” ujar Rani.
“Nggak usah, Mbak, nanti aku ambil sendiri.”
“Biarin. Sudah disiapkan kok,” ujar Rani, dan langsung beranjak.
Akas meringis. Baik sekali mbaknya ini. Iya, kan?
Usai meneguk minuman dingin yang sepertinya sengaja disiapkan oleh sang kakak, Akas bermain-main dulu dengan keponakannya yang belum bisa apa-apa ini. Yang sulung, umur menjelang tiga tahunan, sedang pulas di sofa.
“Kas...,” Rani mendesah pelan.
Akas memandang kakaknya. “Apa, Mbak?” dia bertanya, sebab Rani lantas terdiam setelah desah “Kas” barusan.
“Tadi, Kyai Sanusi ke sini...,” lanjutnya.
Akas terperanjat, “Kyai Sanusi ke sini?”
Rani mengangguk. “Pesannya, kamu ditunggu di rumahnya habis isya.”
Akas menghela napas. Haduuh, apa lagi sekarang?
Hening agak lama....
“Ada apa, Kas?” tanya Rani kemudian. “Tadi Kyai Sanusi nggak bilang, katanya perlu bicara dulu sama kamu.”
Akas menghela napas lagi, belum menjawab.
“Kas, ada apa?”
“Eem, anu, Mbak...,” Akas pun menceritakan kejadian Jati Alas beberapa hari lalu. “Itu yang terakhir. Yang sebelumnya, Mbak sudah tahu semua.”
Rani mengangguk-angguk, lalu menunduk.
Hening lagi beberapa saat.
“Ya sudah, kamu harus selesaikan urusan ini. Cuma, Mbak minta kamu jangan marah. Kalau misalnya dimarahi Kiai Sanusi diam saja. Pokoknya jangan melawan. Kalau sudah selesai, cepat pulang. Ya?”
Akas mengangguk-angguk. Habis, mau gimana lagi.
Lalu, sesaklah perasaan sang elang selanjutnya. Waktu terasa berputar cepat dan berat. Tahu-tahu ashar, tahu-tahu maghrib tahu-tahu tembus isya. Tibalah jadwal. “Haaahh...,” Akas mengeluh panjang dalam hati, tapi dia tetap maju ke medan juang Rani melepas adiknya di batas pagar, sambil kembali berpesan soal cepat pulang. Mas Tomo belum lepas dinas pula. Sedang ikut menangani kasus di Jogja. Kota pelajar itu sedang kacau, gara-gara kematian warga negara asing di Kedutaan. Kabarnya yang melakukan itu adalah biangnya preman Jogja. Kini biang preman itu sedang diburu alias menjadi DPO.
Berat terasa langkah kaki Akas saat berjalan ke sana. Seperti penjahat abad pertengahan yang kakinya dibanduli bola besi. Sampai di batas tembok besar Cina, darah sang jaka berdesir melihat Kyai Sanusi sendiri yang berjalan menyongsong kedatangannya. Tampaknya beliau sudah menunggu di teras karena bahkan Akas belum mengucap salam. Maka, cucune elang Batu Raden ini pun bersiap diri sekiranya dapat kemplangan langsung sekarang. Tapi..., tidak ternyata. Kiai Ahmad Sanusi malah tersenyum kepadanya. “Wa’alaikum salam,” ujarnya menjawab salam sang jaka yang berpeluh dingin itu. “Ayo, masuk...,” ajaknya ramah.
__ADS_1
Wuih sebentar..., sedang mimpi apa bukan, sih? Bukan ah, asli ini....
Lalu, dengan keramahan bukan dibuat-buat, Kyai Sanusi mempersilakan tamu mudanya duduk di kursi ruang tamu. Tempatnya dulu ujian Arab gundul itu.
“Mau minum apa?” beliau lanjut bertanya.
Uuh, minum apa, ya? Waktu Arab gundul dulu, tidak pakai minum segala sih, kelupaan mungkin. Langsung main kitab saja.
“Apa yang ada saja, Kyai...,” jawab Akas, pelan.
Kyai Sanusi kembali tersenyum, lalu memanggil salah seorang putrinya.
Akas meringis dalam hati. Soalnya, putri yang dipanggil ini yang paling angker kalau mengawal Asih. Kelihatannya, dia juga yang paling sebal kepada sang elang, walau tidak jelas alasannya. Iya, kan? Apa coba alasannya?
Tidak selang lama, sang putri angker muncul kembali membawakan minuman. Sambil menunggu tadi, Kyai Sanusi mesam-mesem saja. Belum nembak.
“Makasih, Mbak,” ujar Akas, manis.
Sang Mbak mengangguk, tapi bibirnya maju satu senti. Akas cuek saja. Dia kan tamu sekarang, jelas-jelas diundang Kyai Sanusi lho. Jangan main-main....
“Ehem, Akas...,” Kyai Sanusi memecah senyap.
“Iya, Kyai....”
“Tolong kamu ceritakan, siapakah kamu ini,” lanjutnya.
Akas terdiam sejenak. Apa maksudnya?
“Asal-usul saya, Ma?” tanya sang jaka.
“Oo,” Akas mengangguk, lalu mulai berkisah. Langsung saja tanpa tedeng aling-aling. Dia bilang “muncul” di Sedayu, ayahnya bernama Hanafi, ibunya Haryati. Ayahnya Jawa, ibunya Cina. Ayahnya Islam, ibunya Kristen. Yatim piatu kini. Sebelum ke sini, ikut dulu dengan Mbah Bagyo di Batu Raden. Termasuk juga kisah dirinya yang hampir masuk sekolah pendeta. Pokoknya, semua. Kecuali, bahwa dia mengemban amanat kakeknya soal pencarian guru “urusan hati”. Bagian ini tampaknya tidak kena kepada Kyai Sanusi. Sudah diselidiki sekian lama, kan? Maka, biarlah tetap jadi rahasianya.
Kyai Sanusi manggut-manggut mendengarkan.
“Bu Tomo itu kakakmu yang ke berapa?” beliau bertanya.
“Yang kedua, Kyai. Kami lima bersaudara, saya bungsu. Kakak saya pertama laki, kedua ketiga keempatnya perempuan. Mbak Rani ini yang kedua. Semua kakak saya Kristen, cuma saya yang Islam,” Akas menjawab tegas. Sudahlah, sekalian nekad. Sekalian habis, kalau memang harus habis.
Kyai Sanusi manggut-manggut lagi. Akas pun siap siap jawaban “urusan hati”. Soalnya, dia menduga ayahnya Asih akan lanjut bertanya, “Kenapa kamu Islam?” Tapi, meleset jauh ternyata, beliau langsung melambung ke sang putri merah muda yang sedang melara di Jati Alas sana. “Kamu mencintai anak saya?” demikian pertanyaannya. Uuh....
“Iya, Kyai,” jawab Akas. Busyet, mantap nian jawabannya. Tidak pakai nada ragu sedikit pun.
“Hmm...,” ayahnya Asih ber-"hmm” dulu, biar serem, baru lanjut penembakannya. “Langsung menikah, tidak pakai pacaran lagi.”
Hah? Akas serasa mencelat ke nirwana. Jadinya, bengong....
“Gimana?” tanya Kyai Sanusi. “Kamu siap?”
“Siap, Kyai,” jawab sang jaka, bulat bundar nadanya.
“Langsung nikah, ya?”
Akas mengangguk dalam.
Kyai Sanusi pun tersenyum, lalu balas mengangguk-angguk.
__ADS_1
Sesaat Akas kembali bengong, lalu pelan-pelan kebawa mesem. Terlihat gagah ternyata ayahnya Asih ini. Kemarin-kemarin juga gagah sih, seperti Pangeran Diponegoro, tapi sekarang terasanya lebih tampan gitu.
Beneran....
Di rumah, usai “sidang kabinet terbatas” itu, Rani memeluk adiknya setelah mendengar cerita Akas tentang apa yang terjadi di sana. Menangis sang kakak. Dia bilang, sempat berpikir adiknya gimana-gimana. Digimana-gimanain, gitu. Ternyata, gimana selanjutnya ini? Soalnya, langsung nikah kata Kyai Sanusi. Akas juga kepalang nekat bilang iya. Tidak pakai dalil akal dulu.
“Tenang, Mbak. Besok dipikirinnya. Sekarang aku mau tidur dulu ah. Capek nih, hehehe...,” jawabnya santai. Santai-santai bingung.
Rani geleng-geleng kepala, tersenyum.
Akas balas mesem, lalu beranjak tidur. Perasaan, film mimpi indahnya sudah diputar walau mata masih terbuka. Apalagi nanti, kalau sudah terpejam pulas. Dan benar, dia mimpi indah sekali malam itu. Susahlah diceritakan. Pokoknya main kejar-kejaran mesra sama Asih, di taman yang bunganya merah muda semua.
Paginya, “He, sini kamu!” panggil sang kakak ipar. Wajahnya disetel kereng PM yang pura-pura itu. Rani mesem seperti biasa.
“Apa, Mas?” tanya Akas, berlagak tanpa dosa.
“Duduk!” perintah Letnan Sutomo.
Akas pun duduk, lanjut meringis sambil garuk-garuk kepala.
“Katanya, kamu mau kawin?” tembak sang letnan.
“Iya Mas, hehehe....”
“Ee, masih bisa ngguyu adikmu ini, Ran?” Sutomo meringis.
Rani tertawa pelan. Sang adik lanjut ber-"hehehe”.
“Kas, benar cerita mbakmu ini?” Sutomo bertanya lagi, mulai serius.
“Iya, Mas. Begitulah adanya.”
“Begitulah adanya, begitulah adanya...,” gerutu Sutomo. “Terus, kamu mau kasih makan apa istri sama anakmu?”
“Belum tahu aku, Mas, hehehe..,.”
“Ee, ngguyu meneh adikmu, Ran? Sudah edan apa?”
Rani tertawa, Akas juga. Akhirnya, Sutomo pun ikutan.
Selanjutnya, pembicaraan yang mestinya serius itu jadi tidak bisa dibawa serius, karena mau gimana lagi? Seperti kata Akas, begitulah adanya.
“Tenanglah, ada Pak Letnan ini...,” kata Akas. Bercanda, tapi serius juga bisa.
“Enak saja. Aku nggak kasih segala utangan,” balas kakaknya. Bercanda beneran kalau yang ini. Masak iya tidak membantu?
"Ya sudah. Kalau nggak mau ngasih, aku ambil lagi Mbak Rani. Hayo?”
Sutomo mendelik.
“Banyak yang mau sama Mbak Rani. Kalau sama Mas Tomo, yang mau kan cuma Mbak Rani, hehehe. ..,” ujar Akas, langsung melesat kabur.
“Sialan!” Sutomo mengepal tangan ke arah adik tengilnya.
Akas lanjut kabur sambil terus terkekeh. Yakin, Mba Rani pasti sedang tertawa di sana. Mas Tomo juga....
__ADS_1