
Perbincangan itu masih berlangsung beberapa saat ke depan, kemudian Akas kembali mohon diri.
“Buru-buru amat? Masih sore ini,” Munhar menahan, setelah, melihat arlojinya. Jam sebelas malam lewat dua belas menit.
“Kasihan istriku, hehehe...,” Akas ngeles.
Sebagian mereka ikut tertawa.
“Tapi, urusan Haji Dodot, gimana kesimpulannya, nih?" tanya Aman.
“Iya, gimana, tuh?" Echan menimpali.
“Nggak tahu aku. Kesimpulanku, nggak ada kesimpulan. Urus saja urusannya sendiri-sendiri dengan Tuhan. Wong baliknya nanti juga sendiri-sendiri, sama seperti datangnya. Walaqad ji’tumuunaa furaadaa kamaa khalaqnaakum awwala marratin wa taraktum maa khawwalnaakum waraa-a dzuhuurikum. Itu ayatnya, al-An'aam sembilan empat. Jadi, bagusnya sih kita jangan kebanyakan ngekerin orang. Teropong saja diri sendiri. Siapa tahu masih banyak borok diri yang belum ketahuan.”
Sebagian besar rekan melongo, termasuk Echan. Aman meringis, Amir manggut-manggut. Sementara, Haji "abidin” kembali tercekat. Beneran ini, banyak tahu ayat Akas sekarang. Tapi, mereka tidak tahu kalau teman Jawa ini bukan cuma hafal dalil, sebab paham sekalian maknanya. Jangan main-main dengan penjahat insaf. Kalau sudah insaf, si penjahat itu meningkat tajam kemampuannya. Saat belum insaf saja hebat,apalagi setelah bertaubat.
“Oo iya, Ustadz. Tentang dzikir tadi, sesuai dengan artinya, maka dzikir bermakna ingatannya. Bukan sekedar pengulangannya yang sekian ratus atau sekian ribu. Pengulangan itu bisalah dipandang sebagai sarana, tapi bukan tujuan. Sebab, tujuannya jelas yaitu ingat kepada-Nya. Ingat, itulah. Begitu, ya?” ujar Akas, sesaat sebelum beranjak pulang. Amir mengangguk. angguk.
Entah paham, entah tidak....
***
Kira-kira seminggu setelah pertemuan di rumah Munhar Akas kembali mendapat pengalaman spiritual “seru”. Ketika itu, malam belum terlalu larut, dia sedang duduk sendirian di beranda depan. Awalnya ditemani Asih, tapi kemudian istri tercinta undur diri. Mau bobo duluan katanya. Lelah mungkin karena siang tadi dia ikut jadi panitia syukuran di rumah tetangga yang anaknya lulus diploma kebidanan. Ada gelarnya, A.Md, ahli madya. Bukan ABRI masuk desa....
Saat Akas sedang melarut bersama dzikir Cahaya, yang dengan itu berarti bareng juga dengan dzikir Qalbi dan Kull-Jasad, tiba-tiba tak terbatas tasbih yang menggema dari segala maujud itu lenyap. Lenyap...? Ya, seketika berganti jadi hanya satu. “Bunyinya” sama, namun tunggal.
Di pendengaran hati Akas muncul semacam dengung panjang tak terputus. Kalau diambil hakikat rasanya, maka dengung ini berbunyi, “Allaaahhh...”. Dan, bukan hanya itu, di penglihatan hati pun demikian. Segala maujud itu kini bermakna tunggal, Allah. Tidak ada tanah, tidak ada pohon, tidak ada derik jangkrik, tidak ada bulan, tidak ada angin, tidak ada dingin, tidak ada semuanya. Yang ada hanyalah Dia, meliput segalanya. Qul huwallahu ahad, katakan Allah Tunggal.
Tentu Akas tersentak karena ini. Sampai-sampai pegangan kursi kayu jati yang didudukinya copot gara-gara terhentak keras oleh dorongan tangannya. Dua-duanya lepas, kiri dan kanan. Bukan cuma itu, kursinya pun gemerutuk karena yang mendudukinya bergetar. Untung sendirian dia malam ini, tidak ada orang lain yang melihat gempa lokal itu. Dan, untung tidak berlangsung lama karena Akas bisa segera mengendalikan diri.
Usai melantun doa khusus, getaran pun mereda, namun dengungnya tetap ada. Yang didengar Akas, yang dilihat, dan yang dirasa, tetaplah Tunggal. Bukan berarti pohonnya lenyap, derik jangkriknya senyap, pun yang lainnya tidak kelihatan atau tidak terdengar. Bukan begitu. Secara harfiah, secara lahiriah, mereka tetap ada. Makna keberadaannya yang “tiada”. Adanya, Allah Yang Maha Tunggal.
Demikian yang masih disampaikan sebatas kata-kata. Yang sebenarnya, tidaklah bisa digambarkan utuh. Bahasa manusia tidak akan sanggup melukiskannya. Ini, melampaui batas semesta. Sesaat tadi, semesta raya, tidaklah lebih dari sebutir debu dalam penglihatan rasa yang diizinkan oleh-Nya untuk Akas. Allahu Akbar, Allah Yang Maha Besar. Yang lain, remehnya remeh diremeh-remeh. Kecil yang semungil-mungilnya. Allah memaparkan pandangan mata hati ini sedemikian rupa, sesuai firman-Nya, Maa kadzabal fu-aadu maa ra-aa. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya (QS. an-Najm: 11).
Namun, di manakah kini tasbih tak terhingga? Maka, Jlep..., seketika setelah Akas bertanya ini dalam hati, serasa dirinya dibawa turun dari “suatu ketinggian”. Turun satu tingkat. Dan, di sini, kembali bergaung tasbih tak terhingga itu. Riuh rendah sebagaimana biasanya. “Allah, Allah, Allah...,” di mana-mana. Maka, Akas pun tersenyum pasrah. “Allahu Akbar,” desahnya syahdu. Di manakah wahai tasbih qalbu? Jlep..., turun lagi setingkat. Di situ, qalbunya berdenyut nyata, melantun asmaNya. Air mata pun merembes tanpa diminta. Lalu, dia memohon kembali ke semula. Sret. .., seketika semuanya kembali Manunggal. Maka, air mata yang lanjut menitik itu dipersilakan bertasbih mengagungkan-Nya.
__ADS_1
Melebur bersama Cahaya, waktu tidaklah lagi ada. Maksudnya, tidak terasa. Sungguh tidak terasa. Ketika demikian, tidak ada memandang tidak pula dipandang. Pun, tiada pandang-memandang. Siapa memandang siapa? Yang ada hanyalah Dia, Cahaya dan hanya Cahaya. Maka, saat mertua menyapa kala Subuh menjelang, serasa Akas “terjun bebas” dari suatu "ketinggian tak terkira” hingga mentok ke martabat manusiawinya. Juuss..., slep! Kaget sekejap, lalu tersenyum. Soalnya, ternyata pada martabat ini, dengung tunggal itu tidak hilang, walau lainnya telah kembali normal. “Senormal” yang mungkin disangka kebanyakan orang, yang pada segalanya ini seolah tiada tapak Sang Dia.
“Lagi apa, kamu?” tanya Kyai Sanusi. Seperti biasa, beliau telah berseragam lengkap hendak subuhan. “Di luar semalaman?"
“Iya, Pak,” jawab sang menantu, sambil nyengir sedikit.
“Ngapain?”
“Meresapi Keagungan-Nya....”
Kyai Sanusi memandang menantunya, lalu mengangguk-angguk pelan. “Mau subuhan di masjid?” beliau lanjut bertanya.
Akas mengangguk.
“Ayo, Bapak tunggu.”
Sang menantu pun segera bersiap diri. Sebentar kemudian, mereka telah berjalan bersama menuju Masjid Agung, seiring adzan mengalun...
Saat mereka kembali ke rumah bakda subuh, Akas bertanya, “Pak, tahu nggak rasanya Keagungan Allah?”
“Rasanya....”
Kyai Sanusi pun tersentak, dia memandang lekat menantu di sebelahnya.
“Kenapa? Kamu tahu rasanya?” beliau bertanya.
“Justru saya mau tanya ke Bapak,” Akas mengoper lagi bolanya.
Kyai Sanusi pun terdiam agak lama. “Kan, kamu tahu kalau rasa itu tidak bisa diucapkan? Susah ini....”
Akas manggut-manggut. Berarti.... Tapi, wa ilallaahi turja'ul umuur, kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan (QS. Ali Imran: 109). Maka, sang menantu mengalihkan obrolan ke topik lain. Bla bla bla..., akhirnya nyambung ke kisah masa lalu Kyai Khalil....
“Usia Kyai Khalil yang sebenarnya berapa sih, Pak?”
“Nggak ada yang tahu. Kyai sendiri tidak mau ngasih tahu. Yang jelas sepuh banget beliau itu. Saat pertama jumpa dulu, zaman para sinyo dan noni Belanda masih berkeliaran di sini, kira-kira Kyai Khalil ada empat puluh tahunan. Bapak sendiri waktu itu sekitar enam belas tujuh belas tahunlah.”
__ADS_1
“Lha, Bapak sekarang ini berapa umurnya?"
Kyai Sanusi menyebutkan usianya yang telah menjelang delapan puluh tahun itu. Kira-kira tujuh puluh delapan tahunan. Terpaksa kira-kira karena beliau tidak tahu persis tanggal dan tahun kelahirannya. Katanya, orang zaman dulu males nyatet beginian. Kalau bikinnya rajin, walau zaman susah, tapi tidak rajin mencatatnya. Soalnya, anak-anak itu dibutuhkan mendesak untuk penerus perjuangan bangsa. Urusan administrasi mah gampang. Nanti saja diberesin kalau sudah merdeka....
Akas mesem, sekilas teringat Mbah Bagyo dan Mbah Surti. Kayaknya beliau berdua pun dulu rajin bikin. Namanya juga pejuang. Tapi, ternyata yang jadi cuma satu. Memang sepenuhnya hak Allah. Bikin-membikin itu hanya ceritanya saja. Keputusan, mutlak berada di tangan-Nya.
"Jadi, umur Kyai Khalil sekarang ini lebih seratus tahun dong, Pak?”
“Iya. Bapak yakin sekali itu.”
“Tapi, kok..., kayaknya....”
Kyai Sanusi gantian mesem, “Kenapa? Awet muda?"
Akas mengangguk sambil nyengir. Memang ini yang hendak dia tanyakan. Cuma nggak enak sama mertua. Soalnya, kalau dilihat sekarang, kayaknya Kyai Khalil dan Kyai Sanusi sepantaran.
“Itulah. Hemat menuanya beliau, pelan mengeriputnya. Jadinya kesusul sama kita-kita. Lihat Kang Iyung, boros sekali, kan?”
Akas mengangguk, masih nyengir.
“Padahal, enam puluh juga belum dia. Waktu Kyai Khalil awal-awal tiba di sini, Iyung masih diayun-ayun pakai kemben yang digantungkan di pohon nangka di belakang rumah Kyai Khalil oleh emaknya. Masih suka ngompol. Kalau nangis, ngejernya nggak kira-kira. Sekarang, kelihatannya mudaan Bapak Iya, nggak?"
“Hehehe...,” Akas terkekeh.
“Iya, nggak?” Kyai Sanusi nembak lagi, kagok.
“Iya, Pak,” jawab menantunya. Memang iya sih.
“Nah, itulah,” Kyai Sanusi mengangguk-angguk. Tampaknya rada mekar juga beliau disanjung menantu kesayangan.
“Kayaknya, sakitnya Kyai Khalil belakangan ini sakit sepuh ya, Pak?"
Kyai Sanusi mengangguk, “Kelihatannya begitu. Dari dulu Kyai jarang sakit, paling cuma masuk angin atau flu-flu ringan. Nggak pernah aneh-aneh. Belakangan ini saja agak lamaan. Tapi, kata dokter juga cuma demam biasa.”
Akas pun manggut-manggut.
__ADS_1