
Beberapa saat kemudian....
Di ruang gudang, habislah AKim dikucek tantenya. Ternyata, dua angka yang diajukannya tadi, tidak ada yang kena. Meleset jauh semua. Belum lagi, dalam sidak ini ditemukan bahan-bahan produksi yang sudah tidak keruan wujudnya karena terlalu lama disimpan. Maksudnya, baru tampak lagi sekarang karena sebelumnya seolah lenyap tertimbun bahan lain. Sekian karung terigu apek, gula pasir meleleh, dan mentega membatu. Akas ikut geleng-geleng kepala. Soalnya, pasti besar ini nilai lossingnya
“Pak Kas, mulai besok bikin sistem baru itu,” perintah Enci, sambil manyun.
“Baik, Ci. Tapi, Ko AKim juga harus mendukung sepenuh hati. Kalau nggak, percuma. Mending nggak usah sekalian,” jawab Akas.
Enci manggut-manggut. “Sampai urusan ini selesai, Pak Kas yang pegang gudang sama pembelian. AKim, kamu membantu sambil belajar. Kalau macam-macam, laporkan ke saya, Pak Kas. Atau, langsung cemplungin saja ke Bengawan Solo.” Akas dan AKim terkekeh.
“Lho, beneran ini! Awas kamu AKim, kalau main-main!” gertak sang tante.
Akas masih nyerengeh, tapi AKim tampaknya gentar, langsung lenyap serengehan dari wajahnya, ganti mengangauk-angguk takzim. Takut mungkin kalau beneran dicemplungin ke Sungai Bengawan Solo....
__ADS_1
Selanjutnya, Akas mulai bergerak. Dengan kewenangan temporer yang diberikan Enci, dia merombak total mekanisme yang selama ini berlaku di bagian gudang dan pembelian. Bahkan, dua aktivitas operasional yang selama ini digabung itu, dipisah menjadi dua bagian yang berdiri sendiri. Bagian pembelian dan bagian gudang. Menurut Akas, tidak sehat “duit dan barang” digabung satu kendali. Sebab, peluang bermain terbuka sekali. Iya, kan?
Tentu, muncul guncangan-guncangan di awalnya. Maklumlah, namanya juga membongkar kemapanan. Tapi, Akas alan terus, apalagi Enci jelas-jelas mendukung. AKim juga, walau dengan nada-nada bingung. Lumayan ternyata pengalaman kerja praktik di pabrik farmasi semasa SMEA dulu. Waktu itu, Akas kebagian magang di bagian gudang. Prosedur gudang farmasi kan ketat, keluar-masuk harus selalu lapor. Jangan coba-coba main slonong boy.
Bulan pertama, belum terasa hasilnya. Bulan kedua, mulai ada. Bulan ketiga, lumayan. Bulan keempat bagus. Lalu, bulan kelima dan seterusnya stabil. Seperti itulah yang diharapkan Akas selaku penanggung jawab perombakan.
Enci tersenyum puas. Ternyata, total biaya bulanan untuk pengadaan bahan produksi bisa ditekan hampir setengahnya. Memang segitulah harusnya. Berarti besar lossing cost dari ketidaktermanfaatan bahan-bahan itu selama ini. Gagalnya masih di gudang pula, bukan di proses produksi. Gara-gara salah urus, rusak duluan sebelum sempat dipakai. Buntutnya, pasokan keuntungan usaha pabrik roti ini pun bertambah dari efisiensi yang berhasil diterapkan. Lalu, itunya Akas tahu-tahu nanjak lagi tanpa halo-halo. Alhamdulillah...
***
Di alam spiritual, Akas terus mencari sang guru. Amanat Mbah Bagyo, yang telah wafat empat tahun lalu itu, melekat kuat dalam benaknya. Tidak mau lepas, pun dilepaskan. Terus mencengkeram, dengan tekanan yang makin hari terasa semakin kuat. Di manakah dan siapakah? Maka, Akas pun lanjut menyusur. Namun, hingga detik ini, bisa dikata tidak ada kemajuan. Persis nihilnya dengan yang lalu-lalu. Boro-boro orangnya, tapaknya pun kosong.
Akas mengakui, hatinya gelisah. Serasa digulung sebentuk kegelisahan spiritual yang jelas bukan berakar pada sekadar ada atau tidaknya harta. Sebab, saat prihatin atau sedang longgar seperti sekarang, tetap saja gelisah ini ada. Awalnya dia bingung, sampai kemudian sadar sepenuhnya bahwa kegelisahan ini berkaitan dengan kebelum benaran shalatnya. Tegasnya, dia belum mampu mengkhusyukkan hati, sebagaimana yang dulu pernah dibahas bersama Kyai Sahlan. Lebih jauh dari itu, Akas belum mengenal Allah. Dia memang sujud, bermaksud menyembah-Nya, tapi tidak mengenal-Nya. Karena tidak mengenal-Nya, maka ada perasaan dalam dirinya, ini sedang menyembah apa? Atau, siapa? Bagaimana bisa dikatakan menyembah, kalau tidak tahu yang disembah?
__ADS_1
Ternyata, akar masalahnya balik lagi ke urusane hati, batiniah, atau hakikat. Maka, baginya pribadi, jelaslah bahwa syariat tanpa hakikat adalah batil, bohong. Tampilan luar yang indah namun dalamnya keruh, bukankah itu bermakna kebohongan? Semua yang indah, sejatinya bersemayam di dalam, lalu memancar ke luar. Luar adalah bayangan dalam. Kalau dalamnya indah maka terbawa indah. Tidak berlaku sebaliknya dalam dimensi spritual. Kalau dibalik, judulnya topeng. Dan, Akas tidak hendak bertopeng kepada-Nya.
Maka, Akas merasa wajib untuk mencari dan menemukan guru hakikatnya. Kalau tidak, bakalan gelisah terus karena si topeng ini tidak mau lepas. Dia berpikir, jangan-jangan sang guru tidak ada di Magelang. Soalnya, telah sekian lama dicari, tidak ketemu. Peraturan dan peraturan, ketemunya. Atau, amal-amalan. Baca ini baca itu sekian ribu kali. Bukan belum pernah dicoba ber-"amal-amalan” begitu. Kenyang sudah. Namun, sampai teler menghitung, tetap saja gelisah hatinya tidak mau pergi. Perasaan, si topeng sakti malah meledek di dalam sana.
Uang ada, waktu ada. Akas punya hak libur dan cuti di tempat kerjanya. Kalau perlu banget, minta izin ke Enci pasti dikasih. Maka, Rembang sampai Cilacap pun dia jajah demi sang guru. Kalau terdengar kabar tentang keberadaan kiai mumpuni di suatu tempat, Akas akan bertandang ke sana. Banyak sudah, terus terang dia tidak ingat semuanya. Tapi, tidak kurang dari Kyai Pangresa Gelar, Buya Armain, Kyai Dimyati, Kyai Bustami, Kyai Zakaria Cilewo, Kyai Nuh, sampai Kiai Syamsuddin, sudah dia sambangi. Tidak ketinggalan, Uyut Parang Kesuma yang nyentrik itu.
* * *
Tujuh bulan kembali terlampaui. Pabrik roti Enci, oke banget genjotannya. Duit mengalir seperti cashflow Sungai Bengawan Solo. Si Enci pun sudah tidak sungkan lagi kepada Pak Kasnya. Akas sudah bukan dianggap orang lain baginya. Percaya sekali dia. Soalnya, Akas pun tidak terlintas pikiran main “spanyolan”, sparo nyolong, walau tugasnya sekarang bukan hanya menangani keuangan saja. Dia juga diminta oleh Enci untuk memberi sentuhan khusus pada bagian-bagian lain. Sampai ke urusan strategi pemasaran.
Maka, walau tanpa SK, banyak yang percaya kala Akas adalah manajer pabrik roti ini. Para karyawan menghormatinya, dia menghargai mereka. Petugas pajak yang rajin menjenguk itu pun maunya dengan Akas daripada langsung dengan pemilik. Katanya, kalau sama “Pak Manajer” lebih bisa tersampaikan maksud dan tujuan. Lebih bebas minta rotinya, gitu.
Aya-aya wae...
__ADS_1
Namun, lain padang lain belalang. Di padang pencarian hakikat, Akas sudah babak belur. Ampun.... Bagaimana bisa sebanyak itu telah dia sambangi dan persis sebanyak itu juga tidak adanya? Sampai-sampai, kalau sedang jenuh, terlintas pikiran ragu. Benarkah ada guru hakikat itu? Kalau ada, alangkah langkahnya? Atau, jangan-jangan memang nggak ada? Sekadar karangannya Mbah Bagyo saja? Tapi, masak iya nggak ada? Bukankah bagian batiniah ini terasa adanya? Tidak mungkin manusia hanya bagian jasadnya saja, kan? Kalau iya, namanya bangkai. Tapi, siapakah engkau wahai guru? Di mana alamatmu?
Untungnya, di tengah keresahan batin ini, terselip kabar gembira. Asih sukses merilis album keempat. Dan, alhamdulillah sebangun dengan dirinya. Perempuan. Dijabah doanya yang pengen punya saingan itu. Berhubung cantik bagaikan bulan, maka ayah dan ibu sepakat memberi nama Wulan Puspasari kepada pendatang baru yang bakal jadi pesaing mamanya itu. Tampak jelas bahwa Asih bahagia sekali dikaruniai “Barbie” oleh Sang Maha Pemberi. lyalah, pasti suntuk sekian tahun menangani tiga “Power Rangers” badung yang tidak kenal lelah main pedang-pedangan. Belum lagi mengurus “Satria Baja Hitam”-nya....