
Seiring “turunnya” ayat-ayat hijrah, yang bingung para murid. Sebab, beberapa hari terakhir sang guru tidak tampil. Ke manakah beliau? Saat ditanya ke Bu Akas, katanya sedang ada keperluan. Tapi, tidak bilang keperluannya apa dan di mana posisinya. Dihadang di masjid pun tidak ada. Waduh, ada apa ini?
Tidak ada apa-apa, sekadar sang guru sedang kejar tayang di Pakuncen sana. Maklum, rumah kenangan ini akan segera ditempati oleh pemilik barunya. Polemik tinggal polemik, hak milik jalan terus. Mau diusung sampai Mahkamah Agung pun, tetap saja jual-beli itu sah menurut hukum negara ini. Dan, berhubung diburu tenggat, Akas shalat di surau dekat lokasi istananya. Itulah mengapa dia tidak kelihatan di Masjid Agung. Sama saja sebenarnya. Di sini atau di sana, shalat bermakna sama saja sepanjang ditinjau dari kedalaman hati. Bukan semara perkara tempat.
Tapi, mana ada murid merasa nyaman "kehilangan" gurunya? Maka, hari ini empat tifli boncengan dua motor kembali menyambangi kediaman sang guru. Lalu, kaget mereka saat mendapati rumah itu telah kosong. Tanya-tanya tetangga, katanya pindah ke Pakuncen. Cuma, tidak jelas Pakuncennya sebelah mana. “Coba tanya ke Bu Said,” saran salah seorang tetangga. Mereka pun ke sana. Tapi, sama saja. Bu Said pun tahunya Pakuncen doang. Ya sudah, daripada makin simpang siur, bagusan tembak langsung ke Pakuncen. Mudah-mudahan jumpa.
Namun, setelah disusur di kawasan “kotanya” Pakuncen, tidak ketemu. Tanya-tanya ke orang pun tidak ada yang tahu. Sebagian tahu Pak Akas yang pernah punya pabrik roti itu, tapi tidak tahu kabar bahwa dia pindah ke sini. Duh, mesti dicari ke mana lagi? Maka, setelah yakin sang guru tidak berada di “kotanya” Pakuncen, para tifli ini bermaksud balik. Supaya cepat, ambil jalan memotong lewat kawasan kebun dan sawah. Lalu, terperangahlah mereka mendapati yang dicari sedang asyik mendandani atap istananya. Dan, terisaklah mereka setelah tahu bahwa benar di sini gurunya tinggal. Tidak ada yang menyangka....
Tapi, Akas sigap melarang, “Jangan menangis. Sesungguhnya, tidak ada yang pantas ditangisi baik alam sini maupun alam sana. Bahkan, jangan menangisi Allah tanpa makna. Dia meminta iman, bukan air mata."
Mendengar sentilan ini, para murid meng-cancel tangisnya. Susah juga karena direm mendadak, untungnya bisa.
Akas mesem, “Tidak dilarang menangis, asal menetesnya bareng iman. Jangan deras bercucuran, tahu-tahu badai nafsu. Sekedar menangisi kehilangan aliyah duniawi misalnya. Kalau cuma begitu, namanya air mata buaya, hehehe...."
Maka, keempat murid pun meringis. Siapa mau jadi crorodile dunia?
“Ibnu ke mana, Pak?" salah seorang bertanya. Biasa, Pengalihan topik.
“Pergi sama Ali. Paling ke pasar."
Dia manggut-manggur, “Farid?”
“Belum pulang sekolah, Wulan juga.”
__ADS_1
Dua lanjut manggut-manggut, “Tadi, kenapa atapnya, Pak?”
“Mungkin kurang rapat posisi rumbianya. Jadi, agak gerimis di dalam waktu hujan semalam,” Akas tersenyum lagi.
Para murid ikutan mesem.
“Mari kamu bantu ...”
Akas makin tersenyum. Bisaan muridnya ini ngajak muter dulu sebelum nembak sasaran. Tapi, ayolah. Maka, mereka pun gotong royong mendandani bagian-bagian istana yang belum pas. Namanya juga hasil kerja kejar tayang.
Di sebelah sana, Asih pun tersenyum melihat suami dan para muridnya bahu-membahu. Di dalam ayunan jarit yang digantung pada dahan pohon jambu biji itu, si “sufi keci” juga ikutan tersenyum. Sudah bangun dia, matanya bulat sipit, sementara bibir mungilnya meringis-meringis. Entah karena apa....
Menjelang siang, salah seorang murid menghilang sebentar. Rupanya dia pergi membeli makan. Soalnya, dari tadi tidak ada yang disuguhkan Bu Akas selain air putih. Tidak juga terlihat kegiatan masak-memasak. Maklumlah dia bahwa situasi ini karena tidak ada bahan yang bisa dimasak. Sekiranya ada, tidaklah begini biasanya Bu Akas bersikap. Pun suaminya.
Usai makan, karena istana sudah beres didandani, mereka duduk berbincang ilmu di atas batu tempat nangkringnya para “burung”. Ini tempat paling enak di situ, teduh ternaungi dahan pohan sawo. Ilmu yang dibincang sesuai taraf rasa yang telah dirasakan para murid lewat perjalanan ruhaniahnya. Tampaknya belum ada di antara mereka yang merasakan getaran qalbu. Soalnya, kalau dipancing oleh sang guru, semuanya masih pada bengong. Namun, tidak mengapa karena memang demikianlah prosesnya. Yang penting, dzikir Cahayanya dimujahadahkan terus. Insya Allah kelak akan membuka karena rutenya benar, “Cahaya ketemu Cahaya".
Selang beberapa waktu, mulailah berdatangan para murid yang lain. Rupanya, sekalian membeli makanan tadi, murid itu memberi tahu temannya tentang keberadaan sang guru. Informasi pun menyebar di antara mereka, saling memberi tahu satu sama lain. Maka, bermunculan tifli-tifli itu ke sini. Uniknya, walau terlihat roman tatapan tidak percaya di wajah mereka melihat situasi duniawi gurunya, namun tidak ada yang sampai mengeluarkan air mara. Paling hanya berkejap-kejap saja. Tampaknya mereka sudah didoktrin untuk jangan mewek. Sebab, menurut kabar nyata, yang mewek atas nama kehilangan aliyah duniawi tergolong crorodileman. Uniknya lagi, selain tidak ada yang gembeng, hampir semua membawa bahan-bahan kebutuhan pokok. Asih pun tertegun melihat istananya yang semula lowong, tiba-tiba dipadati beras berikut kawan-kawannya. Min haitsu laa yahtasib, dari arah yang tiada disangka. Bukankah telah dijanjikan? Dan, rezeki Allah meliput segalanya. Bukan hanya itu.
Makin sore, murid yang datang semakin banyak. Yang sudah duluan datang pun merasa enggan pulang. Selepas maghrib, boleh dikata hampir semua murid telah berada di sini. Beberapa memang tidak bisa hadir karena terhalang jadwal kerjanya di pabrik yang ber-shift. Lalu, entah siapa yang memulai, ujug-ujug mereka telah terlibat dalam rembukan yang antara lain membahas rencana pembuatan saung untuk tempat berdzikir bersama. Selama ini, memang belum ada tempatnya itu.
“Gimana, Pak?" tanya salah seorang mereka.
Akas tersenyum. Perasaan, "jalan sendiri" rencananya nih.
__ADS_1
“Bagus, tapi saya harus minta izin dulu ke yang punya lahan. Kemarin izinnya ikut numpang tinggal, bukan membuat majelis dzikir,” ujarnya.
Setuju semua murid.
“Eem, tentang dananya gimana?" tanya sang guru.
“Gampang itu mah, Pak. Biar kami yang tangani,” jawab salah seorang murid. Lainnya mengangguk-angguk sepakat.
Akas kembali tersenyum. Urusan yang semula terhitung “berat” ini tiba-tiba menjadi mudah. Sayaj'alullaahu ba'da 'usrin yusraa, Allah kelak akan memberi kelapangan sesudah kesempitan (QS. ath-Thalaaq: 7).
Besoknya, pagi-pagi, belasan murid yang ada waktu telah stand by di lokasi. Dana siap, bahan material siap, tenaga pun siap. Tinggal izin pembangunannya. Maka, Akas menemui pemilik lahan untuk meminta izin....
“Tempat dzikir?” tanya sang pemilik.
“Iya, Pak. Saya meminta izin membuat saung untuk itu," jawab Akas.
Pemilik lahan mengangguk-angguk, “Silakan. Bagus kalau ada yang berdzikir di sana. Tapi, ada saatnya kelak saya akan memakai lahan itu...”
“Oo iya, Pak. Kami paham sepenuhnya,” Akas tersenyum.
Pemilik lahan balas tersenyum ramah.
Maka, “IMB” pun terbit. Lalu, dua hari berselang, saung dzikir itu telah berdiri anggun nan bersahaja, sederhana di sebelah istana. Namun, demikian besar maknanya itu bagi seorang Akas. Di “tempat yang enak" inilah dia bisa lebih berfokus diri membimbing perjalanan ruhaniah para muridnya. Fii maq'adi shidqin 'inda maliikin muqtadir. Di tempat yang disenangi, di sisi Tuhan Yang Berkuasa (QS. al-Qamar: 55). Fainnahu ya’lamus sirra wa akhfaa. Dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi (QS. Thahaa: 7). Alhamduliilah....
__ADS_1