
Tiga hari kemudian, di ruang kerja Enci, “Begitulah, Ci...,” Akas mengakhiri penyampaian keputusannya.
Enci mengangguk-angguk. “Jadi, ceritanya Pak Kas mau meninggalkan saya?” dia bertanya canda, sambil mesem.
Akas balas tersenyum, “Nggak, Ci. Sekedar saya pengen ngerasain jadi Cina, hehehe.... Enci juga sih yang bikin gara-garanya.”
Enci tertawa pelan. “Tapi, saya belum mau menyetujui pengunduran diri ini, sebelum saya ketemu Asih,” ujarnya kemudian.
“Oo, apa harus?”
“Wajib itu buat saya.”
Akas nyerengeh, “Buat apa, Ci?”
“Nggak buat apa-apa. Urusan perempuan,” Enci balas meringis.
Akas garuk-garuk kepala, “Kapan Enci ada waktunya?”
“Besok, jam seginian.”
“Baik, Ci. Nanti malam saya siapkan dulu Asihnya.”
“Iya, siapkan yang baik. Jangan sampai ketahuan akting bohongnya, ya?”
Akas nyerengeh, lalu izin kembali ke ruang kerjanya...
Malamnya, Akas melapor ke “komisaris” tentang bincang-bincangnya dengan Enci siang tadi. Asih menyimak serius.
“Begitulah, Enci pasti paham keputusan kita. Orang dia juga yang bikin gara-garanya dulu. Cuma, Enci belum bisa kasih keputusan soal pengunduran diriku, dia bilang perlu ketemu kamu dulu....”
“Buat apa, Mas?”
“Nggak tahu, katanya sih urusan perempuan.”
Kening Asih sedikit berkerut, “Kira-kira apa ya, Mas?”
“Lho, yang perempuan siapa? Hehehe.... Jangan khawatir, paling mau tanya apa benar ini keputusan kita bersama. Nggak bakal jauh dari situ.”
“Oo...,” Asih manggut-manggut.
“Sudah, nggak usah dipikirin. Bilang saja iya, beres. Memang iya, kan?”
Asih lanjut manggut-mangegut.
Hening sejenak.
“Mas...,” Asih kembali berdesah.
“Apa?”
“Kira-kira, dapat pesangon nggak?”
Akas tersenyum kecut. Soalnya, pas juga dia sedang mikirin ini.
“Jujur, aku nggak tahu. Ini kan pengunduran diri, bukan PHK. Setahuku, kalau mengundurkan diri, aturannya nggak pakai pesangon. Tapi, sebenarnya sih tergantung Enci. Kalau dia mau kasih, nggak ada yang melarang. Cuma baiknya kita nggak usah berharap. Anggap saja tidak ada,” ujarnya, tegas pahit.
Asih menghela napas panjang, lalu mengangguk-angguk sambil agak menunduk. Sesaat lewat, dia kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum kepada suaminya. Akas membalas senyum. Pahamlah rasanya....
“Tenang, kita tempuh bersama dengan doa. Ya?” ujar sang suami, menenangkan istrinya. Sekalian dirinya sendiri.
__ADS_1
Asih mengangguk. Senyumnya pun semakin manis.
“Jadi, besok bisa, kan?” tanya Akas.
Asih mengangguk, “Ke sananya bareng, ya?”
“He-eh, nanti aku jemput.”
Asih mengangguk-angguk pelan, “Ada yang lain, Mas?”
Akas menggeleng, “Sementara, cukup.”
“Ya sudah, saya mau ngurusin Wulan dulu,” ujar Asih, langsung beranjak.
“Papanya?” celetuk sang elang, sambil nyerengeh.
Akas melihat Asih tersenyum, tapi cuek. Lanjut melenggang ke kamar si Barbie yang sedang agak demam. Triple Power Rangers sudah off semua sejak bakda isya tadi. Kini, tinggal Satria Baja Hitam yang on sendirian.
Ampun paralun....
* * *
Besoknya, Akas menjemput Asih pada jam yang disepakati. Setibanya di pabrik, mereka langsung menuju ruang kerja Enci.
“Selamat siang, Ci,” sapa Akas. Asih mengangguk ke arah Enci.
“Selamat siang, silakan masuk,” sahutnya ramah.
Mereka pun melangkah masuk. Setelah duduk, Enci Pandang-pandangan sejenak dengan Asih, lalu sama-sama tersenyum. “Yang merasa laki-laki, kita persilakan keluar saja ya, Sih?” ujarnya.
Akas tertawa pelan, Asih lanjut tersenyum.
“Kalau merasa laki-laki...,” timpal Enci, meringis.
“Iyalah, nggak bakal menang dua lawan satu,” sahut Akas, lalu beranjak ke luar sekalian menutup pintu.
Terdengar, Asih dan Enci tertawa di dalam sana....
Ya sudah, Akas balik ke tempat kerjanya. Menunggu hasil sidang paripurna kedua wanita pengambil keputusan itu.
Tidak lama, AKim datang menghampirinya.
“Pak Kas, katanya mau keluar, ya?” dia bertanya lantang.
“Kata siapa?”
“Tante yang bilang tadi malam.”
Akas manggut-manggut.
AKim menatapnya. “Beneran mau keluar?” dia bertanya lag.
“lya, tapi keputusan akhirnya tergantung hasil rapat.”
“Rapat apa?”
“Rapatnya Enci sama istriku, hehehe....”
“Ah, aku kira apaan,” AKim nyengir. “Duluan Pak Kas ternyata...,” dia lanjut bergumam.
__ADS_1
Karena sudah tahu “pandangan Cina”, Akas mesem mendengar keluhan AKim ini. “Kalau Engko, kapan?” dia bertanya, iseng-iseng.
“Belum tahu nih. Perasaan belum cukup PD-ku.”
“Nggak usahlah. Di sini kan sudah enak?”
“Yah, enak nggak enak. Yang pasti, lebih enak punya sendiri.”
“Kok bisa?”
“Iyalah, lebih bebas. Iya, nggak?”
“Wah, nggak tahu saya. Belum pernah punya usaha sendiri, sih.”
“Sama, hehehe.... Tapi, pasti lebih enak, yakin,” AKim mengangguk-angguk.
Akas mesem. Mudah-mudahan.
Lalu, muncul juga AMeng dan Alin hampir berbarengan. Mereka pun lanjut berbincang ringan tentang segala angan cita-cita dan masa depan. Seolah sudah tahu apa yang bakal terjadi kelak....
Sekitar tiga perempat jam kemudian, seorang karyawan memberi tahu bahwa Akas diminta ke ruangan Enci. Maka, ke sanalah dia. AKim, AMeng, dan Alin juga ikut. Kayaknya mau sekalian perpisahan.
“Masuk, Pak Kas,” ujar Enci dari dalam, setelah Akas mengetuk pintu.
Akas dan ketiga koleganya pun masuk. Asih terlihat senyum-senyum. Berarti baik-baik saja sidangnya tadi....
“Pak Kas, saya sudah ngobrol panjang sama Asih. Kesimpulannya, tidak ada rekayasa,” Enci tersenyum.
Akas balas mesem.
“Jadi, Pak Kas sama Asih sudah paham bahwa keputusan apa pun selalu disertai resikonya, termasuk ini. Tapi, bagi usahawan, resiko itu bukan barang yang menakutkan. Sekedar variasi saja. Tidak ada hak saya menahan Pak Kas dari keputusan Anda sendiri. Apalagi tadi Asih juga sudah jelas-jelas bilang kalau dia mendukung ini. Ya sudah, tinggal saya yang sedih, hehehe...”
Mereka semua tertawa. Pelan saja.
“Alin, tolong dibereskan,” pinta Enci kepada putrinya.
Alin mengangguk, lalu menyerahkan dua lembar cek yang diambil dari selipan buku agenda, kepada Akas. Salah satunya bernilai tiga kali lipat upah “sang manajer”. Yang lain, senilai hampir sama dengan tabungan Asih. Wuih....
“Yang ini apa, Ci?” Akas bertanya untuk cek yang besar.
“Hadiah dari kami. Bukan buat Pak Kas, itu khusus buat Asih. Soalnya, tanpa Asih, Pak Kas pasti sedih. Iya, kan?” Enci menjawab canda.
Tertawa lagi mereka semua. Asih tersipu-sipu.
“Sudah, jangan dipikir panjang-panjang. Terima saja,” ujar Enci lagi.
Akas mengangguk haru. “Terima kasih, Ci,” ujarnya. Asih juga berucap sama. Lalu, bergantian mereka menyalami Enci. Asih sekalian memeluknya erat, sambil agak terisak.
Sudah. Usai menyalami AKim, AMeng, dan Alin, habis acara. Sesederhana itu. Karena tidak ada SK pengangkatan, maka tidak ada juga SK pemberhentian. Tapi, duitnya gede. Perasaan Akas, bagusan gaya begini daripada yang model banyak kertas dulu. Berangkap berkas mesti ditandatangani, namun duitnya pas-pasan. Dan, bisik-bisik, masih kena pungli. Uang berkas, katanya....
“Nggak nyangka, ternyata Enci baik ya, Mas,” ujar Asih dj perjalanan pulang. “Padahal Cina...,” sambungnya bergumam.
Akas langsung tertawa.
Namun, sesaat Asih tampaknya belum sadar. Mungkin sedang melamunkan dua lembar cek dalam tasnya. Sampai, “Eh. ..,” dia tersentak, lalu memandang suaminya dengan tatapan mohon maaf.
“Asih, Asih.... Emangnya Laksamana Cheng Ho bukan orang baik? Sembarangan. Baik banget beliau itu, kata sejarah. Bayangkan, sudah laksamana, Islam, Cina lagi, hehehe....”
“Iya, iya, maaf. Nggak sengaja kok,” Asih merengut sebentar, lalu tersenyum sendiri. Mungkin mikir, kok bisa sampai dua kali lupa kalau yang setia menemani di sebelahnya ini Cina juga. Walau setengah adukan Jawa.
__ADS_1