
“Gimana menjelaskannya, ya?” gumam Kyai Kholil. “Hal ini mudah kalau kamu sudah dapat ilmunya. Tidak usah dijelaskan, kamu akan paham sendiri. Coba, waktu itu kakekmu kasih penjelasan apa mengenai ini?”
“Nggak ada, Kyai. Waktu saya mau nanya, Mbah Cokto duluan bilang, simpan pertanyaanmu, ini bukan bagiannya tanya jawab. Begitu.”
Kyai Kholil tertawa. “Boleh juga kakekmu. Dia yang buka, terus suruh yang lain menjawab. Lempar batu sembunyi tangan, hehehe....”
Akas nyerengeh.
“Cuma, gimana menjelaskannya?” Kyai Kholil bergumam lagi.
“Yaa, sedikit saja, Kyai. Biar nggak terlalu penasaran.”
Kyai Kholil manggut-manggut. “Tapi, tolong dipahami bahwa untuk sekarang, yang sesungguhnya belum bisa dijelaskan kepadamu. Sebab, urusan lintas-melintas ini telah melampaui batas kata-kata. Kecuali dengan rasanya, maa yahrujuu baina syaitan illa isyarat wal i’tibar. Bahwa, apa yang keluar dari buah bibir, apa yang masih bisa diucapkan, hanyalah isyarat dan iktibar. Gimana? Mau?”
Akas mengangguk.
Kyai Kholil menghela napas, lalu terdiam sejenak.
“Baiklah. Perhatikan..., kamu ini, sejatinya kamu, aslinya kamu..., terkurung dalam batasan-batasan semu. Keberadaan hijab-hijab atau batasan-batasan itu adalah kehendak-Nya juga. Itulah barzakh. Kalau mau dalilnya, lihat ayat Cahaya, an-Nuur tiga lima. 'Tugasmu, tugas kita semua, adalah menembus tabir kesemuan tadi agar bisa menggapai kesempurnaan, al-insan al-kamil. Tugas ini hanya dikenakan kepada manusia yang dikabarkan sebagai ciptaan paling mulia. Manusia, yang sesungguhnya datang dari Kesempurnaan, diminta oleh-Nya untuk kembali kepada martabat kesempurnaannya. Dalam Our'an, menembus barzakh diisyaratkan lewat kisah Nabiyullah Khidir faya bin malkan melubangi perahu,” ujar beliau, pelan.
__ADS_1
Akas bengong....
“Bingung, ya?” Kyai Kholil tersenyum.
“Iya, Kyai. Rasanya, belum jelas ini.”
“Hehehe..., salah. Bukan rasanya yang belum jelas, tapi memang belum ada rasanya padamu. Belum jadi ilmu. Rasa itu selalu jelas dan selalu jujur. Lain dengan akal. Yang barusan bermain tadi akalmu, bukan rasamu. Tapi, tidak apa-apa bingung. Nabi Musa alaihi salam pun bingung awalnya, hehehe....”
Akas meringis.
“Kalau dikejar pakai akal, nanti perahunya Nabi Khidir jadi seperti gesek. Disebutnya perahu sih, bukan kapal pesiar, hehehe.... Terus, lautnya terbayang seperti Samudra Hindia. Batas pertemuan air laut dan air tawarnya jadi sekedar muara sungai di lautan. Wah, melenyot filmnya. Jelek, hehehe....”
“Jadi, harusnya gimana, Kyai?” dia lanjut bertanya.
“Harusnya, ya seperti bagaimana rasamu nanti. Nanti, kalau sekarang belum jadi,” Kyai Kholil tersenyum. “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun, bolak-balik Dia. Wal awwalu wal akhiru, tiada berbatas.”
“Gambarannya dong, Kyai? Sedikit saja....”
“Tidak akan pernah bisa digambarkan. Laisa kamisylihi syai’un, tidak serupa dengan apa pun. Bagaimana menggambarkan yang tidak serupa dengan sesuatu pun? Dan, tidak akan bisa dipilah-pilah. Qul huwallahu ahad, katakan Allah Tunggal. Bukan banyak, bukan pula sedikit. Gambaran sedikit, tidak ada. Gambaran banyak pun tidak ada. Adanya, Dia se-Ahad-nya. Habis perkara.”
__ADS_1
Akas nyerengeh. “Iya, Kyai. Masih main akal barusan,” mengaku dia.
Kyai Kholil pun kembali tersenyum.
Adzan ashar berkumandang syahdu. Perbincangan ini disudahi. Mereka menunaikan shalat Ashar berjamaah. Usai itu, tiba-tiba Akas menangis tanpa sebab. Tidak kuasa dia menahan air mata yang tumpah sendiri dalam sungkemnya kepada sang guru. Kyai Kholil menepuk-nepuk pundak muridnya. “Bahkan tangismu ini, Dia juga,” ujarnya lembut. Kyai Sanusi mengangguk-angguk. Maka, air mata Akas pun semakin meruah....
***
Itulah pertanyaan terakhirnya. Untuk selanjutnya, Akas tidak hendak bertanya lain-lain dulu kepada gurunya, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan perjalanan ruhaniahnya. Apa. apa yang dia rasakan dalam “mendzikirkan ruh”. Sebab, seperti ditegaskan Kyai Kholil, tanpa muttaqin dan yu’minun, bohong jadinya. Dan, Akas tidak hendak “berbohong dalam kebenaran”. Dia tidak hendak menempatkan al-Qur'an setingkat dongeng. Dia tidak mau memandang al-Qur'an hanya sekadar kumpulan dalil dan kisah para nabi. Dia ingin, ayat-ayat suci itu benar-benar menjadi petunjuk suci baginya. Sebagaimana telah Dia janjikan.
Banyak hal yang dirasakan Akas saat menjalankan dzikir ini. Di antaranya, selain pening kepala, adalah meredanya keinginan-keinginan duniawi. Bukan direda-redakan, atau ditahan-tahan. Susah itu.... Yang ini, menurun dengan sendirinya. Hasrat-hasrat aliyah duniawi itu mengendur dengan sendirinya tanpa dipaksa. Bahkan, sampai ke urusan makan dan tidur.
Makannya menyedikit, tidurnya pun mengurang. Hadits Nabi yang menganjurkan makan saat benar-benar lapar dan berhenti sebelum kenyang itu, pelan-pelan mulai bisa dirasakan “adanya”. Dulu, sabda Baginda Rasul itu hanya sekadar hafalan baginya tanpa mampu menerapkannya. Sering dicoba, dia memaksa diri menerapkannya. Dapat sehari dua hari, paling lama tiga hari, selanjutnya bablas lagi. Sekarang, menyelaras sendiri tanpa dipaksa. Bisalah barangkali dikatakan semacam efek samping. Akas menjalankan dzikir Cahaya, lantas efek sampingnya antara lain ini. Makanya, tidak pakai ngeden kayak sebelumnya.
Demikian pun dengan tidur. Terus terang, muncul sebentuk perasaan rugi kehilangan waktu malam hanya untuk tidur. Sebab, itu justru saat-saat malamlah yang dia nantikan untuk berdzikir. Dzikir Cahaya memang tidak terhalang ruang dan waktu, bisa dilaksanakan kapan saja dan di mana saja. Namun, tetap baginya bahwa waktu malam lebih syahdu, lebih nyecep meresapnya. Jam tidurnya dia geser ke saat antara ashar—maghrib. Dan, ternyata cukup dengan satu dua jam saja. Itu pun kalau sudah mengantuk sekali. Kalau belum, ya bablas melotot. Dia mampu melek tiga hari tiga malam tanpa jadi seperti orang kekurangan istirahat. Uniknya, sama seperti urusan makan, tanpa upaya pemaksaan. Sungguh....
Di alam luar, hubungan dengan teman-temannya tetap terjalin baik. Akas masih sering main ke sana, atau mereka yang datang ke sini. Ngobrol, ketawa-ketawa, dan sebagainya. Hanya saja, Akas tidak aktif lagi kalau mereka sedang membahas dalil. Sebagai teman, dia ikut mendengarkan, namun tanpa urun pendapat. Terus terang, ngeri euy. Jerih dia membahas ayat suci tanpa ilmunya. Baginya pribadi, sudah mulai terasa “tidak pasnya” cara begitu. Soalnya, sementara ini wal fajri masih terpampang matahari terbit, perahu Nabiyullah Khidir faya bin malkan As. pun masih terbayang getek. Berarti belum kena itu, dia sadar belum dapat ilmunya. Belum “punya” iman hakiki. Maka, sesuai amanat sang guru, dia menawakufkan dulu dalil-dalil itu. Nanti dibuka lagi kalau sudah bareng “rasanya”.
Bayangkan, bicara kebenaran tanpa “rasa kebenarannya”, apakah tidak bermakna kebohongan bagi yang ngomong? Ibarat seseorang berkata, roti “A” rasanya manis, tapi dia belum pernah merasakan manisnya roti “A”. Jangan kata merasakan, melihatnya pun belum. Tahunya baru sampai tingkatan resep. Dan, jelas bahwa resep roti bukanlah rotinya, apalagi rasanya. Masih jauh itu, walau punya kaitan.
__ADS_1
Selain urusan “resep”, Akas juga menolak ajakan “bermain bola”. Selain karena hal ini jelas-jelas dilarang oleh Kyai Kholil, kini dia pun merasa kegiatan itu keterlaluan. Bukan salah pergi berziarah kubur, dikenal kegiatan ini dalam khazanah Islam.Cuma, niatnya itu lho. Masak di sana minta-minta kepada sang Wali? Lha, Walinya saja dulu tidak mau, kan? Ada waliyullah yang kesengsem gemerlap dunia? Kalau ada, berarti sekadar wali-walian. Terus, akuan-akuan bisa menghadirkan arwah sang wali atau khadam-nya itu lho. Haduh, nggak tau lagilah begituan. Ogah dia. Namun, sekali lagi, pandangan ini untuknya pribadi Akas tidak hendak menghukumi orang lain. Seperti pesan sang guru, tataran hakikat itu melampaui batas hukum-hukuman. Hakikatnya, manusia adalah sendiri-sendiri. Datang sendiri, baliknya juga sendiri. Maka, tanggung jawabnya pun sendiri-sendiri. Ayah ibu hanyalah sababiah bagi turunnya dia dari alam kesempurnaan ke alam fana. Bukankah Allah telah memperlihatkan kejadian tanpa ayah? Dua yang pertama bahkan tanpa ayah-ibu. Maka, secara hakikat, urusane dewe-dewe....