Selamat Jalan

Selamat Jalan
33. dihalaman lain


__ADS_3

Ringkas kisah, delapan tahun sudah Akas bertugas di Kidangan. Selama rentang waktu itu, anaknya nambah dua lagi, Ali Yusuf dan Farid Firdaus. Berarti, tiga lanang semua. Empat, kalau dihitung sekalian ayahnya. Maka, Asih tetap yang tercantik di antara mereka berlima, belum ada saingan.


Delapan tahun di Kidangan, boleh dikata pencarian sang guru di salah satu daerah kiai Magelang ini, nihil tanpa hasil. Dari sekian, tidak ada seorang pun yang mengajarkan hakikat agama. Hanya Kyai Misbah dan Kyai Sahlan yang nyerempet, tapi belum menabrak. Akas menganggap beliau berdua adalah gurunya di Kidangan, walau bukan guru sebagaimana yang diamanatkan Mbah Bagyo. Kyai Misbah dan Kyai Sahlan mengajarkan “syariat tinggi”, tapi belum menembus tabir hakikat. Sebab, dengan kebesaran jiwa masing-masing, mereka mengaku masih punya lupa kepada Allah walau tidak banyak. Kata Mbah Bagyo, orang yang paham sebenar-benarnya hakikat agama, maka ingatannya kepada Allah berwujud langgeng. Tidak kena lupa sekejap pun.


Di halaman lain, dalam rentang setengah tahun terakhir, bank tempat Akas bekerja sedang dilanda gonjang-ganjing. Tersiar kabar bahwa akan ada pengurangan karyawan di seluruh kantor cabang se-Indonesia. Bahasa kerennya, PHK besar-besaran. Sontak, kecemasan massal karyawan bank ini merebak di seantero negeri. Namun, tidak ada yang bisa berbuat banyak karena ini merupakan kebijakan dewan direksi. Ketika itu, belum seindah sekarang berdemonstrasi. Silakan, tapi mesti benar-benar siap dikepruk aparat tanpa basa-basi.


“Seperti itu...,” Akas menjelaskan situasi ini kepada istrinya.


Asih mengangguk-angguk, merenung sejenak, lalu tersenyum menatap suaminya. “Ya sudah, mau gimana lagi?” ujarnya, ditenang-tenangkan.


Akas menghela napas. “Tapi, belum pasti kok, Sih. Masih kabar kabur,” timpalnya, memperkukuh ketenangan.


Mereka pun sama-sama mesem. Mesem yang rada kecut rasanya....


Lalu, kira-kira dua bulan kemudian, kabar itu menjadi kenyataan. Pembabatan benar-benar dilaksanakan. Satu per satu rekan kerja Akas bertumbangan, beberapa petinggi kantor Cabang pun juntai dibabat pedang kebijakan pusat, yang katanya untuk mengurangi overhead cost. Entah iya entah bohong alasan ini. Soalnya, kenapa selalu recehan yang dikorbankan? Para jutawan di sana, bukankah mereka lebih buas memakan overhead? Gaji satu orang, cukup untuk mengupah dua puluh pekerja keras sekelas Akas di pelosok desa. Lebih pintar? Ah, belum tentu. Banyak kok yang tidak tahu caranya mengingat Tuhan.


Dan, hari ini Akas dipanggil atasan. Begitu duduk langsung disodori amplop tertutup berkop kantor pusat. “Jangan tanya ke saya, Pak Kas. Saya juga tidak tahu,” ujar atasan, tanpa senyum.


Akas mengangguk pasrah, “Iya, Pak. Saya mengerti,”


Sang atasan mengangguk-angguk, “Langsung selesaikan administrasinya hari ini di kantor cabang. Daripada nanti ada kebijakan macam-macam lagi.”


“Baik, Pak.”


Usai itu, Akas langsung ke kantor cabang untuk mengurus administrasi berkaitan dengan PHK-nya. Uang pesangon, surat keterangan paklaring, dan lain-lain. Selesai hari ini juga, sore. Saat balik ke Kidangan, serasa diri melayang-layang layangan lagi....


Alhamdulillah, Asih kuat. Sedih tentu, menitikkan air mata juga, tidak sampai meraung-raung misalnya. Yang ada, justru dia ceritanya berusaha menenangkan sang suami. “Sabar ya, Mas. Dulu kita pernah melewati yang lebih pahit dari ini. Sekarang juga pasti bisa,” ujarnya, sambil tersenyum sembab.


Akas membalas dengan senyuman sayang.


Hening sejenak....


“Selanjutnya gimana, Mas?” tanya Asih, memecah senyap. “Kita tetap di sini, apa balik ke Magelang?”


“Menurutku, balik ke Magelang. Kalau kata kamu, gimana?”


“Istri yang baik, nurut sama suaminya.”


Akas tersenyum lagi dengar model jawaban Aisyah Ra. Asih juga. Jadinya senyum-senyuman. Lalu, malam semakin larut. Sedang adem pula hawanya. Maka, urusan lain, besok sajalah....


* * *


Akhirnya, keluarga “pandawa lima” itu balik ke kota Magelang...


“Sudah, tinggal di sini saja,” Kyai Sanusi menawarkan kepada mereka untuk tinggal di rumahnya seperti dulu.


Tapi, Asih menolak. “Nggak ah, nggak enak. Kita ngontrak rumah saja, Mas,” ujarnya kepada Akas.


“Kenapa?”


“Nggak enak. Malu....”


Akas tersenyum, tentu paham. Siapa yang suka tinggal bareng mertua? Namun, mereka harus realistis. Pakai akal, seperti kata Kang Arkam dulu. Boleh dipakai karena ini urusan teknis. Bukan tentang cinta....


“Asih, jangan bilang aku nggak paham perasaanmu. Tapi, uang kita hanya segitu-gitunya. Bisa dipakai kontrak rumah setahun dua tahun, tapi gimana dengan kebutuhan lain yang lebih mendesak? Rumah penting, tapi kan ada tawaran dari Bapak? Malu ya malu, nggak enak ya nggak enak, cuma gimana dengan biaya anak-anak? Sekolahnya? Dan lain-lainnya?”


Asih diam menunduk.


“Gimana, Sayang?” tanya Akas lagi.


“Tapi, saya malu, Mas.”


“Malu sama apa? Bukan kita yang minta, Bapak yang menawarkan.”


“Malu sama orang-orang....”


Akas mesem. “Malu kok sama orang? Malu itu harusnya sama Allah. Masak malu ke makhluk, tapi nggak ada malunya ke Allah? Emang, siapa yang berkehendak?”


Asih terus menunduk.


“Kalau diakalin, aku juga malu sama orang. Tapi, jangan lantas semua-semua dikejar pakai akal, nanti jadi penuh khayalan. Ujungnya, malah beneran malu-maluin. Sudah, kita terima saja apa adanya. Adanya segitu, ya segitu. Jangan terlalu tinggi angan-angan. Gimana? Pilih kontrak rumah apa sekolahnya anak-anak”


Asih mengangkat wajah, menatap lekat suaminya.


Akas nyerengeh. Model-model serengehan cucune elang yang dulu sering “mengesalkan” Mas Tomo itu.

__ADS_1


“Gimana?” cacune elang itu mengirim kedipan, biar tambah mantep.


Asih pun tersenyum rada lain, yang kedua bola mata jernihnya agak berkejap-kejap itu. Serengehan Akas melebar....


“Kesimpulannya?” tembak sang elang.


Asih mengangguk. Senyum rada lainnya terus terpasang.


“Nah, gitu dong. Kata Aisyah, istri yang baik itu patuh sama suaminya, kan?” Akas mencandainya lagi.


“Ayo....”


“Apa?”


“Katanya pengen perempuan?”


Asih tertawa. “Nggak ah, males.”


“Kenapa?”


“Habis, jagoannya bokek.”


Akas tertawa, Asih juga, dan seterusnya....


Soalnya, Asih pernah bilang, katanya dia pengen punya saingan. Jadi, mudah-mudahan selanjutnya perempuan.


* * *


Kembali prihatin. Enam bulan berburu pekerjaan, nihil tangkapan. Kelihatannya banyak pekerjaan, tapi tidak ada yang tembus. Di-backup surat keterangan pengalaman kerja keluaran bank ternama pun nggak ngaruh. Perasaan, macam lawakan saja selembar surat yang dia sangka hebat itu. Seperti ini mungkin skala mungilnya yang dimaksud la haula wala quwwata illa billah...


Dana PHK tinggal setipis kertas. Iyalah, mana aslinya dulu pun tidak banyak, lalu dimakan enam bulan terus-menerus tanpa timbalan. Ya kering, menyusut ciut seperti jenglot yang kabarnya masih hidup. Entahlah, Akas tidak paham dunia perjenglotan. Tahunya, mati dan hidup itu deleg urusane Gusti Allah. Maka, dia pun maju terus. Berdoa dan berburu nafkah.


Sekian waktu terlewati lagi. Sekarang, pundi-pundi Asih sudah asli sekaratnya. Benar-benar entek, tidak cukup bahkan untuk dua tiga hari ke depan. Akas merintih dalam hati, melantunkan asma-Nya. “Tolonglah kami....”


Besoknya....


“Nah, ini dia manusianya,” celetuk Arkam, saat berjumpa suami adik sepupunya yang sedang duduk termenung di pelataran luar Masjid Agung.


Akas meringis kecut. “Apa, Kang?”


“Wah, hawa-hawanya seperti keluhan neraka, hehehe....”


“Ada apa sih, Kang?” dia bertanya lagi, supaya cepat beres. Soalnya, sedang nggak mood terkurung neraka....


“Ampun, ampun.... Kalau bukan kesayangannya Asih, nggak mau repot-repot aku nyari kamu dari kemarin,” gumam Arkam. “Kemarin ke mana?”


“Nyari nafkahlah. Mau ke mana lagi?”


“Dapat nafkahnya?”


“Boro-boro....”


“Hehehe.... Lain cerita pacaran dengan cerita ngempanin, ya?”


“Ampun paralun!” sembur Akas, agak keras.


Arkam lanjut terkekeh, terpaksa Akas juga ikutan. Pelan Saja.


“Kalau kamu mau, ada lowongan di pabrik roti...,” ujar Arkam, sesaat lewat.


Akas yang sedang menunduk, langsung mendongak.


“Pabrik roti mana?” dia bertanya, antusias.


Arkam mengatakan pabrik roti yang dimaksud. “Enci butuh orang administrasi keuangan katanya. Cocok buat kamu, kan?”


Akas pun berbinar, “Beneran ini, Kang?”


“Nggak, penuh kebohongan, hehehe...”


“Ah, seritus dong? Aku lagi panas nih. Awas meledak.”


Arkam lanjut terkekeh sebentar, lalu mengangguk.


“Terus gimana, Kang?” kejar Akas.

__ADS_1


“Terserah kamu, mau nggak? Tapi, jangan ah. Nanti malah malu-maluin.”


“Dijamin nggak bakal, Kang.”


“Jadi, mau? Hehehe....”


Akas langsung mengangguk.


“Beneran?”


Akas mengangguk lagi.


“Terus, mestinya bilang apa ke aku?” Arkam meringis.


Akas balas meringis, “Terima kasih, Kang Arkam Muharram, hehehe....”


Kakak sepupunya Asih itu pun ikut terkekeh.


Tidak tunggu besok, Arkam mengajak Akas menemui pemilik pabrik roti itu malam ini bakda isya. Akas minta waktu pulang dulu. Berbenah penampilan, sekalian menyiapkan berkas standar lamaran kerja. Sang kakak mempersilakan karena adiknya memang sedang berseragam masjid, bersarung dan berkopiah. Dia juga ikut ke rumah Kyai Sanusi, mantan penjaga tembok besar Cina masa lalu.


“Apa itu?” tanya Arkam, melihat map biru yang dipegang Akas. Usai dia berdandan tampan.


“Berkas lamaran,” jawab adiknya.


“Hehehe..., coba lihat.”


Akas menyerahkan bundel berkasnya. Arkam melihat-lihat sekilas sambil terus nyerengeh. “Nggak usah bawa beginian. Enci bilang butuh orang, bukan kertas,” ujarnya, sambil menaruh map itu di meja.


“Lho, ini kan pendukungnya, Kang?”


“Pendukung apa? Emangnya sepak bola? Sudah, sekali-sekali patuh kepadaku. Bawa otak sama hati saja. Ayo...,” ajak Arkam, tanpa ragu.


“Beneran nggak usah dibawa, nih?” Akas minta penegasan.


Arkam mengangguk, meyakinkan.


Akas garuk-garuk kepala. “Lha, Akang nggak ganti baju dulu?”


“Hehehe.... Enci percaya ke aku, sebagiannya justru gara-gara gaya begini. Cakep aku, kan? Kayak Kyai setengah matang.”


Akas nyengir. lyalah, daripada nggak ada.


Lalu, berangkatlah mereka ke sana. Akas tidak nenteng apa-apa, cuma bawa otak dan hati saja seperti dibilang kakaknya.


Ramah ternyata Enci pemilik pabrik roti ini. Akas hanya ditanya nama dan apakah benar mau bekerja di pabrik ini. Sudah, itu saja. Tidak pakai wawancara panjang lebar. Selebihnya, mereka ngobrol bebas. Arkam kelihatan dekat, saling percaya dengan Enci yang telah berusia lumayan lanjut ini. Sampai pulangnya, tidak ada bincang-bincang gaji. Akas pun tidak bertanya. Sudahlah, pasti ada upahnya. Berapa-berapa terserah. Baguslah itu, daripada tidak ada sama sekali.


“Besok Pak Kas mulai kerja, ya...,” ujar Enci, saat melepas mereka.


“Baik, Ci. Langsung ke pabrik?”


“Temui saya dulu di sini, nanti kita sama-sama ke sana.”


Akas mengangguk.


Mereka pun pamit pulang. Di perjalanan, Arkam berkata, “Bagus, Kas. Begitu caranya main hati, hehehe....”


“Main hati apa?”


“Bagus kamu tidak sibuk tanya-tanya gaji.”


“Oo, memangnya kenapa?”


“Aku lupa kasih tahu kamu kalau Enci suka ngetes cara begitu. Dia tidak suka orang yang belum kerja sudah ribut gaji. Enci nggak peduli cerita sekolahan atau ijazah. Biar sekolahnya hebat, kalau nggak bisa kerja, dibabat. Nggak punya sekolah, tapi kerjanya bagus, ngupahnya nggak ragu. Tenang saja, aku tahu gambaran upah di sana. Lumayanlah, yakin nggak kalah dari gajimu kerja di bank kemarin. Itu belum termasuk lebih-lebihannya lho...”


Akas manggut-manggut. Syukurlah jika memang begitu.


Hening sejenak.


“Kok kamu nggak tanya ke aku, sih?” Arkam memecah senyap.


“Tanya apa?”


“Berapa kira-kira pendapatanmu, gitu?”


“Lho? Katanya main hati?”

__ADS_1


“Oo iya, lupa aku, hehehe...,” Arkam terkekeh.


Akas juga. Pelan-pelan saja.


__ADS_2