
Alhamdulillah, beres juga akhirnya. Akas berhasil lulus jadi “sarjana SMEA”. Tentulah Rani dan Sutomo ikut senang melihat prestasi “kuliah” adiknya yang rampung tepat waktu itu. Nilai ijazahnya apik. Raportnya pun biru semua, tidak pakai acara ketumpahan tinta merah. Pokoknya ini kabar menggembirakan bagi sepasang kakak yang telah bersusah payah menyekolahkan adik mereka di masa yang masih terhitung zaman susah.
Selanjutnya, tinggal rebutan pekerjaan yang baik dan benar, sekalian halal. Tidak salah dugaan Akas, tetap harus rebutan ternyata. Tidak ada yang datang sendiri seperti pedagang asongan. Tapi, tidak apa-apa karena memang demikian harusnya. Maka, mulailah dia kasak-kusuk cari informasi, lalu menebar surat lamaran ke berbagai instansi yang sudah ketahuan alamatnya. Instansi apa saja, pokoknya kantor atau pabrik, baik negeri maupun swasta.
Seiring perjuangan ini, perjuangan Randu Alas jalan terus. Tidak bisa tidak, namanya juga love always. Di surat terakhir, Akas mendongeng bahwa dirinya kini telah “sarjana”. Lalu, datang balasannya minggu ini. Asih bilang, katanya dia berdoa agar diperkenankan oleh-Nya berjodoh dengan “sarjana” yang rumahnya di belakang Masjid Agung. Hoho, tidaklah sanggup Akas mendongeng lagi. Habis kata-kata, tergulung dalam untaian doa kekasih....
“He, bengong saja...!”
Idung menepuk pundak Akas yang sedang melongo di posisi strategisnya. Biasa, nonton Asih dalam angan-angan. Tapi, Akas tidak kaget kali ini, sudah kelihatan tadi datangnya calon pengacau. Lalu, paman yang baik itu nggelosor duduk di sebelahnya, sambil menatap sisi wajah sang keponakan yang nyerengeh itu. Anu, Asih belum selesai menarinya. Tanggung, hehehe....
Hening sejenak. Idung mulai mendelik, Akas lanjut nyerengeh.
“Wah, edan ini. Gila, gila, gila...,” gumam sang paman.
Akas terkekeh, bersamaan dengan tuntasnya tarian angan-angan itu.
Idung menggeleng-geleng. “Saiki wae wes edan, piye sesok?” dia bergumam lagi. Pelan, tapi terdengar.
Akas yang sedang terkekeh, lanjut tertawa. Sialan nggak tahu yang barusan ternikmati sih. Kalau tahu, pasti sama gilanya, hehehe....
“Bagaimana si Adek?” Idung membuka front.
“Baik selalu, cantik senantiasa. Barusan hadir...,” Akas meringis.
Idung menatap keponakannya, lalu nyerengeh. Tuh, kan? Kesambat gila juga, padahal baru sekadar dengar. Gimana kalau ikutan nonton?
“Kang, kalau mau ke Randu Alas, caranya gimana?” Akas balik melempar tanya. Terserah kalau dianggap gila. Emang sedang iya sih.
“Hehehe..., mau apa?”
“Mau mancing cah ayu di sana, hehehe....”
Lalu, mereka terkekeh-kekeh sejenak, macam sepasang pendekar gila.
“Gampang itu,” jawab Idung kemudian. Dilanjut pembenaran dalil kegampangan menuju Pesantren Randu Alas Solo. Naik ini naik itu, lewat sini lewat situ, dan seterusnya. Hingga mestinya sampai di sana.
“Tapi, buat apa ke sana?” dia balik bertanya setelah pembenaran ini.
__ADS_1
Akas terperangah. Ora mutu sekali pertanyaannya? Siapa yang sebenarnya bloon, sih?
“Buat apa?” Idung nembak lagi, macam bloon beneran.
“Yee, Kang. Kan, sudah dibilang mau mancing?” sembur Akas.
“Alaah alasan, jauh-jauh ke sana. Sudah di sini saja, hehehe....”
“Wah, nggak beres Kang Idung ini. Apa maksudnya? Aku jangan lanjut sama Asih, gitu? Ora iso!” gerutu Akas dalam hati. Kalau tampilan luarnya, joko Jowo ini melotot menatap sang paman.
Idung tertawa. “Payah adiknya Pak Tomo.... Masak kakaknya PM, adiknya nggak ngerti intelijen?” ujarnya nyaring.
Akas terperangah lagi. “Apa-apaan Kang Idung ini? Sudah bawa-bawa Mas Tomo, nyebut-nyebut intelijen segala. Bahaya itu, salah-salah bisa kena sambar Kopkamtib. Sedang tegas-tegasnya Pak Soemijo sekarang. Nggak tahu, apa?” celoteh hatinya, dengan mata yang tambah membulat.
“Tenang, Bujang, lusa pulang,” celetuk Idung, setelah puas terkekeh.
Akas makin terperangah, “Siapa yang pulang?”
“Siapa lagi?” Idung balik nanya sambil membuka lebar kedua telapak tangannya. “Kata Kyai Sanusi, cukup dulu mesantrennya.”
Sekejap, Akas masih terkesima, lalu bersorak riang. Tanpa sadar pakai tepuk tangan pula, seperti penonton bioskop “misbar” (bila ada gerimis langsung bubar) kalau jagoannya muncul. Idung pun tampak senang. Di mata Akas, paman Masjid Agungnya itu jadi tampan lagi sekarang. Tadi sempat elek sebentar. Soalnya, melibatkan Pak Soemijo segala sih. Busyet.
* * *
Indah, indah, indah..., sampai kira-kira dua bulan. Masuk bulan ketiga, keindahan ini mulai redup. Perlahan tapi pasti, tabir mendung membentang usai purnama. Hubungan Asih dengan Akas mulai terendus keluarganya. Memang tidak mungkin ditutupi terus. Teman-teman Asih pasti tahu keakrabannya dengan sang jaka saat mereka di masjid dan sekitarnya. Awalnya sekadar gosip kawula muda, lalu merembes tembus ke kawasan orang tua.
Selanjutnya, mendung pun semakin kelam....
Asih tidak lagi hadir pada pengajian gadis-gadis bakda ashar. Datangnya ke masjid untuk jamaah shalat Maghrib, itu pun sudah dekat-dekat waktu. Dikawal pula oleh saudaranya. Usai shalat, langsung ditarik pulang tanpa jeda. Ketika jamaah shalat Subuh lebih ketat penjagaannya. Akas pun terpana. Kenapa? Mengapa?
Tentu dia bertanya baik-baik. Namun, ternyata Asih tidak diberi hak bicara, yang menjawab pengawalnya. “Nggak ada apa-apa!” sahutnya ketus, sambil memandang sepet kepada sang jaka. Kesal sekali Akas diperlakukan begitu. Terus terang, sekiranya pengawal ini bukan perempuan dan bukan “calon kakak ipar”, ingin rasa dia mengembatnya sekalian. Tapi, tidak terjadi itu. Seperti pesan Ebiet, “Semua tak kulakukan, kata orang cinta mesti berkorban.”
Berkorban? Oke ...!
Maka, dimulailah pengorbanan itu. Dan, makin hari tambah runyam. Seolah mereka menganggap Akas ini sebangsa virus yang harus dicegah sedini mungkin. Tidak disisakan celah sama sekali. Bukan hanya saudara kandung, yang no kandung pun kini turut berpartisipasi menjaga Asih darinya. Lengkap bodyguard-nya, perempuan ada, laki-laki tersedia. Untung yang batangan nongolnya belakangan. Kalau muncul sebelum Ebiet..., jadi kayaknya.
Datang ke rumahnya? Kenyang. Di batas pagar, Akas langsung dipalang pengumuman berbunyi Asih tidak ada, Asih sedang pergi, Asih sedang bobo, Asih tidak mau diganggu, dan lain-lain sejenisnya. Atau, sekalian tidak ada pengumuman sama sekali. Diacuhkan saja, sampai pergi sendiri “virus”-nya.
__ADS_1
Tapi, tidak semua berujung demikian. Yang terakhir, Akas dipersilakan masuk. Kata pengawal, Kyai Sanusi hendak bertemu dengannya. Sang jaka menghela napas, menegarkan diri, lalu melangkah maju....
Selang sebentar setelah Akas duduk di kursi ruang tamu rumah Asih, Kyai Sanusi muncul. Sang jaka bergegas mengucap salam dan mencium tangan beliau seperti biasa. Walau sedang diterjang “sejuta topan badai”, Akas tetap ikutan majelis fiqh Kyai Sanusi. Kalau di masjid, sikap beliau biasa-biasa saja kepadanya. Sebagaimana biasanya yang adil sekali. Datar, sama rata. Seolah tidak sedang terjadi acara “sejuta topan badai”-nya Kapten Haddock, temannya Tin Tin.
“Silakan duduk,” ujar beliau, usai menjawab salam dan menerima “ciuman”.
Akas pun kembali duduk.
Hening sejenak....
“Kamu bisa mengaji?” Kyai Sanusi bertanya, memecah senyap.
Akas terdiam. Mengaji atau membaca? Kalau mengaji, merujuk definisi kakeknya, terus terang dia belum merasa sanggup. Kalau membaca, bisalah.
“Eem, maksud Kyai, membaca al-Qur’an?” Akas balik bertanya, sambil memandang ayahnya Asih ini.
Kening Kyai Sanusi terlihat agak berkerut. “Iya,” jawabnya kemudian.
“Oo, bisa, Kyai....”
Kyai Sanusi mengangguk-angguk, lalu balik masuk sebentar ke dalam rumah. Keluarnya lagi membawa kitab yang tampilan luarnya seperti al-Qur’an. Akas menghela napas, memenangkan diri. Tampaknya akan ada pengetesan....
Kyai Sanusi membolak-balik halaman kitab itu. “Coba kamu baca mulai sini,” beliau meletakkan kitab itu di atas meja, dalam posisi terbuka.
Maka, Akas terkesiap. “Duh! Mate aku...” serun dalam hati. Matanya membulat, darahnya terasa mendesir cepat dan kedua dengkulnya langsung lemes. Bagaimana tidak? “Arab gundul” ternyata! Entah apa judul kitab mencengangkan itu, yang jelas gundul-gundul pacul gembelengan hurufnya. Huruf hijaiyah, yang tidak bertajwid. Gaya minimalis, polos plontos.
Selanjutnya, Akas hanya mampu terdiam....
“Bisa?” tanya Kyai Sanusi, sesaat kemudian.
Akas memandang sendu kepada ayah Asihnya ini tatapan mohon dispensasi. “Saya belum bisa kalau Arab gundul, Kyai. Biasanya huruf Arab biasa,” ujarnya pelan, kemudian menunduk.
“Hmm...,” Kyai Sanusi manggut-manggut, lalu menutup kitab itu.
“Mohon waktu untuk belajar,” pinta sang jaka, sangat.
Kyai Sanusi lanjut manggut-manggut, namun tidak member jawaban. Setelah hening sejenak, beliau menyuruh tamu mudanya pulang. Ujian telah usai.
__ADS_1
Rela tidak rela, Akas pun beranjak pulang. Langkahnya terayun gontai, kepalanya menunduk dalam. Rasanya, melayang-layang layangan lagi. Sesaat, lenyap elangnya. Beneran....