Selamat Jalan

Selamat Jalan
78. penjelasan


__ADS_3

“Tanya hati, Ustadz. Yang terberat memang syirik khafi, syirik yang tersembunyi di dalam hati. Syirik majazi, bentuk-bentuk kemusyrikan yang terang-terangan, juga berat karena termasuk syirik. Tapi, kita nggaklah kalau sampai nyembah buta ijo, kan? Yang rumit, yang bercokol di dalam hati. Sabda Nabi, syirik dalam kehidupan umat ini lebih halus daripada rangkak semut hitam di atas hamparan batu hitam di kegelapan malam. Nah.”


Amir terdiam. “Diperjelaslah...,” dia meminta.


“Tanyalah hati, adakah yang lebih menakutkan dibanding Allah? Sebab, itulah tuhan baginya. Sanulqii fii quluubil ladziina kafaruu ru'ba bimaa asyrakuu billaah, akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut karena mereka mempersekutukan Allah. Lihat di surat Ali Imran ayat satu lima satu. Yang punya takut kepada selain Allah, berarti mempersekutukan-Nya dengan apa yang dia takuti itu. Takut miskin, maka tuhannya adalah kemiskinan. Takut neraka, maka tuhannya adalah neraka. Takut Allah, berarti tuhannya adalah Allah. Hanya yang terakhir inilah takut yang benar. Takut-takut yang lain, kerjaan setan.”


“Takut neraka juga?” Amir melongo.


“Iya,” Akas tersenyum. “Neraka adalah ciptaan. Maka, takutlah kepada Yang Menciptakan, jangan ciptaan-Nya. Masak sama ciptaan takut, tapi berani banget menentang Yang Menciptakan? Nggak ada dari sananya, ah....”


“Takabur itu!” Munhar menyela, wajahnya semakin memerah. “Yang bilang tidak takut neraka, jelas orang takabur!”


“Orang takabur adalah yang tidak takut kepada Allah. Mereka yang tidak kembali kepada Allah. Mereka yang buta mata hatinya, tuli telinga hatinya. Mereka yang tidak menempatkan Allah sebagai satu-satunya harapan. Mereka yang tidak menempatkan Allah sebagai satu-satunya pelindung. Mereka yang punya takut kepada selain Allah, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang ditakuti itu. Kalau Akang takut neraka, silakan. saya takut kepada Yang Punya neraka!" skak mat dari Akas. Sekalianlah, sudah waktunya teman lama ini ditekek lebih keras.


Teganglah suasana....


“Eem, Mas, boleh nanya lagi, nggak?” Echan membelah tegang.


“Boleh, Chan. Selama saya masih diperbolehkan ngomong oleh Yang Punya,” Akas nyengir.


Maka, Echan yang mungkin tidak paham maksud ucapan Akas itu pun menoleh ke arah Munhar. “Boleh nggak, pak?” dia bertanya.


Munhar diam merengut. Akas tertawa dalam hati. Payah juga “haji abiding” ini, kayak anak-anak saja. Tapi, Dia yang punya cerita, yang lain tiada daya.


“Boleh nggak nih, Pak?” Echan memaksa pula.


“Silakan...,” jawab Munhar malas-malasan.


Akas nyerengeh lagi. Aya-aya wae teman lama tua ini, macam dia yang punya saja. Merasa tuan rumah mungkin. Memang kalau sedang tidak ada Akas atau Aji Bugel, Munhar inilah narasumbernya. Mengangkat dirinya sendiri jadi narasumber, gitu. Suka-sukalah, tanggung jawab masing-masing.


“Lha, kalau takut sama setan gimana, Pak Kas?” Echan lanjut bertanya.

__ADS_1


“Hehehe.... Ya sama saja, Chan. Kamu macam-macam saja ah. Aku kira mau tanya apaan. Sudah siap-siap, nih.”


“Ee, sembarangan. Pertanyaan kelas berat ini. Kalau takut sama setan, berarti nggak berani melawan setan, kan? Gimana coba?”


Akas kembali terkekeh, “Echan, Echan.... Tanya Ustadz Amirlah.”


“Wah, nggak tahu aku,” sambar Amir. Rasanya samar-samar, kurang matang tahunya. Daripada salah, mending bilang nggak tahu. Aman.


“Oke, oke. Begini, kata kamu tadi, yang takut setan berarti nggak berani melawan setan, kan?” Akas mengambil alih.


“Iyalah. Namanya juga takut.”


“Terus, apa yang dia lakukan setelah tidak berani melawan?”


Echan terdiam, mikir kelihatannya.


“Apa hayo? Cepetan....”


“Hehehe.... Nah, itulah jawabannya.”


Maka, Echan pun tersentak, Ustadz Amir juga, berikut lainnya. Bahkan, termasuk Munhar, yang punya rumah.


“Seperti tadi sudah dibahas, semua bentuk takut kepada selain Allah, hakikatnya adalah setan. Ketika seseorang takut kepada setan, maka dia akan “berani” menentang Allah. Sebab, dia kebetot maunya setan yang memang bertugas menjauhkan kira dari jalan yang lurus, di bawah komando panglima besar iblis laknatullah. Makanya, kemarin Soleh bilang jangan takut sama setan, biarpun katakanlah mereka beranak seribu per detik. Kenapa? Sebab, tidak layak orang Islam takut setan. Blak-blakan nih, yang takut setan, belum paham Islam.”


Hening sejenak.


“Yang terakhir tadi, kok bisa begitu?” Amir kembali bertanya.


“Sebab setan adalah musuh kita. Ini kata Allah, bukan kata makhluk. Ayatnya tadi, surat Faathir ayat enam. Di surat al-A'raaf juga ada. Innasy syaithaana lakumaa 'aduwwum mubiin, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Kalau nggak salah di ayat dua puluh dua.”


“Terus, gimana caranya supaya mampu melawan setan?” Amir nembak lagi.

__ADS_1


“Nah, ini dia ketupat bengkulunya. Terus terang, cuma ada satu cara, Ustadz, tidak ada jalur lain. Kalau bahasa matematikanya, jika dan hanya jika...”


“Jika dan hanya jika, gimana?”


“Jika dan hanya jika kita kembali kepada-Nya. Itulah satu-satunya cara. Semua cara yang lain, hakikatnya adalah ini."


“Masak?”


“Iyalah. Yang mampu ngemplang setan, ya Yang Punya setan. Kita ini tiada berdaya. Rasakan baik-baik laa haula walaa quwwata illa billaah itu. Jangan cuma ngomong “Ia hola la hola" saja sambil mewek-mewek. Meweknya karena ingat harta lenyap pula, bukan ingat Allah. Padahal, Dia yang memberi, Dia pula yang mengambil. Saat diberi, lupa. Saat diambil, mewek. Nggak kepake, hehehe....”


“Buka-bukaannya, gimana?” Amir nguber. Sementara Munhar dan beberapa yang lain tambah merengut gara-gara kesentil mewek “Ia hola” barusan.


“Ya itu tadi, kembali kepada Allah. Wa lillaahi maa fis samaawaati wamaa fil ardhi, wa ilallaahi turja'ul umuur. Milik Allah segala yang di langit dan di bumi, dan kepada-Nya kembali segala urusan. Itu salah satu dalilnya, surat Ali Imran ayat satu kosong sembilan. Perhatikan, kembali kepada-Nya segala urusan. Maka, kembalikanlah semua, lahir dan batin. Jangan nyangkut ke mana-mana lagi.”


“Caranya bisa ngembaliin, gimana?” masih nguber juga Ustadz stamplas ini.


“Raihlah dulu iman hakiki. Innahuu laisa lahuu sulthaanun 'alal ladziina aamanuu wa 'alaa rabbihim yatawakkaluun, sesungguhnya setan tidak punya kuasa atas orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Rabb-nya. Itu dalilnya, Ustadz. Lihat surat an-Nahl ayat sembilan puluh sembilan. Kalau sudah ada iman, pasti bareng takwanya. Iman, itulah. Yang asli, jangan pakai barang imitasian.”


Maka, Amir pun menunduk terpekur.


“Pada suatu ketika, Ustadz, dengan karunia-Nya yang tanpa batas, kita akan mampu menyadari bahwa takut kepada Allah pun tidaklah tepat. Awalnya memang demikian, bermacam takut digulung menjadi hanya satu takut, yaitu kepada Allah. Lalu, kala ‘Azza wa Jalla berkenan membuka hati kita untuk merasakan betapa ar-Rahmaan dan ar-Rahiim bukanlah sekedar kata-kata, masih berlakukah ketakutan itu? Tidak, sebab limpahan Rahman dan Rahim-Nya setiap saat tercurah kepada kita, baik kita sadari maupun lalai. Sabda Baginda Nabi, Allah lebih penyayang terhadap hamba-Nya ketimbang seorang ibu kepada anaknya. Itulah gambarannya. Pahami bahwa harapan adalah wujud lathif dari ketakutan. Saat kira takut kepada Allah, maka sesungguhnya kita sedang menapak harapan kepada-Nya. Maka, jangan berputus asa dari Rahmat-Nya...."


Demikian ujung bincang-bincang malam itu. Akas mencukupkan sampai di situ. Sebab, ke sananya lagi harus dengan rasa. Sudah melampaui batas kata-kara. Saat pamitan, Munhar dan sebagian yang lain masih juga memperlihatkan wajah tidak suka atas telaahan tadi. Akas santai saja. Mengembalikan semua kepada-Nya, sebab segalanya Dia. Maka, haqqul yaqin ini pun juga.


Lalu, hubungan pun merenggang dengan sendirinya. Tidak ada lagi undang-mengundang. Dua tiga kali Akas bertandang ke sana, terasalah bahwa sebagian besar teman-teman lama itu tidak selepas dulu menerimanya. Kalau jumpa di jalan, say hello-nya sekadar basa-basi. Mulai dari Pakuncen sampai Ulekan, tidak ada teman lama yang bertandang kecuali Amir dan Echan.


Tapi, ada beda maksud antara Amir dan Echan. Kalau Echan, sekadar datang karena dia tidak merasa punya masalah dengan Akas. Dia tidak ingin menciptakan ganjalan dalam hubungan pertemanannya dengan mantan juragan roti ini.


Sedangkan Amir, diam-diam mengandung udang di balik peyek. Dia ingin tahu yang disebut iman hakiki itu. Hanya saja, saat di Pakuncen, sudah ada taufik namun belum bareng hidayah. Jadi, masih macet. Hidayah itu baru muncul dalam diri Amir saat Akas telah di Ulekan. Jadilah dia dibaiat di sana untuk menerima al-Irfan. Lalu, melejitlah Ustadz stamplas ini mengiring jejak langkah Agis, Asep, dan Azis. Jadilah triple “A" berganti kwartet. Agis, Asep, Azis, dan Amir. Termasuk juga sahabat Bail dan Soleh tentu, yang lebih dulu kecemplungnya.


Selanjurnya, setelah punya percikan-percikan rasa iman hakiki, tanpa segan-segan Amir mendatangi kumpulan teman lama. Kabarnya, di sana dia berkata lantang kepada mereka, "Makanya, jangan taklik!”

__ADS_1


Wuih, taklik men. Akas pun membenarkannya, “Taklid, Ustadz. Bukan taklik.” Tapi, ya gitu, bolak-balik diluruskan tetap saja melenting taklik. Sekali taklik tetap taklik. Ya sudahlah, yang penting bareng rasanya, tidak bermakna bohong apa yang diucapkan. Memang susah pelintiran lidahnya kalau mantan jeger stamplas jadi ustadz. Ono-ono wae...


__ADS_2