Selamat Jalan

Selamat Jalan
68. Krisis moneter


__ADS_3

Lalu, tibalah masa gunjang-ganjing itu....


Dibuka dengan sababiah krisis moneter yang “tiba-tiba” melanda negeri ini, pabrik roti milik Akas pun goyah diterjang badai. Melonjaknya harga berbagai bahan kebutuhan pokok, termasuk terigu, gula, dan mentega, yang seakan menembus langit membuat usaha ini sulit bertahan. Sebab, biaya produksi lebih mahal dari harga jualnya. Diputar-puter, tetap jatuhnya lebih mahal. Tidak realistis secara bisnis.


Maka, syariatnya, setelah habis-habisan bertahan, akhirnya pabrik roti ini pun collapse dengan mewariskan SHU besar. “Sisa hasil utang”. Maklum, beberapa waktu sebelum krisis melanda, Akas menerima kredit dari sebuah bank swasta yang ketika itu memaksa agar diterima. Gigih sekali memaksanya. Kalah gaya Pak “kepala seksi” Yayang dulu.


Krisis moneter, semua sudah mendengar. Situasi sulit, semua sudah maklum. Namun, utang tetaplah utang. Jika tidak sanggup mengangsur atau melunasinya, maka jaminan akan disita sesuai kesepakatannya dulu. Iyalah, semua juga sudah tahu. Maka, Asih pun menunduk pilu....


“Asih, setahun dua tahun lalu tidak ada yang menyangka bakal ada kejadian begini, bukan?” Akas menenangkan istrinya. “Saat kita setuju menerima kredit itu juga belum ada tanda-tanda krisis. Tahu-tahu, inilah kenyataannya. Ditarik sedih, ya sedih. Ditarik kesal, ya kesal. Tapi, la haula walaa quwwata illa billah. Kita tiada berdaya, Dia yang punya cerita.”


Asih menghela napas, masih menunduk.


“Ceritanya, kita ini sedang disayang oleh-Nya. Percaya, nggak?"


Asih mengangkat wajah. Akas tersenyum.


“Percaya, nggak...?” dia memancing lagi.


Asih pun mengangguk-angguk.


“Gimana, coba?”


Sambil masih menatap suaminya, Asih menggeleng-geleng pelan.


Akas pun kembali tersenyum. “Dalil tadi, kalau tanpa rasanya, tetap saja sekedar dalil. Sesungguhnya, la haula walaa quwwata illa billah meliput segalanya. Segalanya ini aslinya tiada berdaya, hanya Dia Sang Maha Daya. Nah, sedikit-sedikit rasanya itu, diberitahukan ke kita lewat kejadian-kejadian semacam ini, Maka, bisalah dirasa, walau sedikit, bahwa kita memang tiada berdaya.”


“Nggak sedikit, Mas. Banyak banget ini."


“Apanya?”


“Utangnya....”


Akas tertawa pelan.

__ADS_1


“Ya, itu bagian dari ceritanya tadi. Kalau nggak ada utang, nggak tahu rasanya punya utang yang sumpek begini, Iya, kan?”


“He-eh, sumpek banget,” sahut Asih pelan, matanya membasah.


Akas merengkuh istrinya. Asih pun menangis...


Tapi, tidak berlama-lama. Mereka tidak ingin berlanjut larut dalam kesenduan semu semacam ini. Akas berkata, "Jangan khawatir dan jangan bersedih hati. Dia ada, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak ada kasih melebihi kasih-Nya, tidak ada Sayang melampaui sayang-Nya. Laa khaufumn 'alaihim walaa hum yabzanuun. Kita hanya diminta meneguhkan iman kepada-Nya....”


Asih mengangguk-angguk seraya menghapus sisa air matanya.


Alaa inna auliyaa-llaahi laa khaufun 'alaihim walaa hum yahzanuun. Alladziina aamanuu wakaanuu yattaquun. Lahumul basyraa fil hayaatid dunyaa wa fil aakhirah. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hari. Yaitu, orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan akhirat.... (QS. Yunus: 62-64).


Tidak berselang lama, Asih yang tadi sempat bersedih hati, kini sudah mampu meringis manis. Gawat nih, gejala teas babatoknya mulai tampil lagi. Maka, gantian Akas yang “khawatir” sekarang. Soalnya kalau sudah terpancing, teas babatok-nya itu bisa keras sekali. Seperti zaman dulu.


“Ya sudah, Mas. Ayo kita lunasi utang itu,” ujarnya mantap. “Sebal aku didatangi terus orang bank. Lupa apa kalau mereka dulu yang maksa-maksa....”


Akas nyengir. Benar, kan?


“Kan ada uang itu.”


“Uang apa?” Akas pura-pura tidak tahu.


“Yang itu...,” Asih menatap suaminya.


“Oo.... Terus, sekolahnya Wulan gimana?”


“Gimana nanti sajalah,” jawab Asih, dengan gaya cuek bebeknya.


Akas mesem, “Beneran, nih?"


Asih mengangguk. Suaminya menggeleng-geleng sambil tersenyum.


Tampaknya“peruntukan sejati” tabungan itu sudah mulai kelihatan. Namun, ternyata belum cukup menutup semua utang bank yang ada. Maka, Akas pun mengusulkan untuk melelang aset usaha mereka.

__ADS_1


“Kalau ada hak, insya Allah nanti kita bisa adakan lagi. Untuk sekarang, banknya sudah tidak bisa kasih toleransi. Mereka kan juga terkena imbas krisis ini, Asih, dan memang begini kesepakatan kita dulu. Bukan salah mereka. Lebih jauh, bukan salah siapa-siapa. Sudah garisnya demikian,” ujar sang suami.


“Iya, Mas. Bagusan begitu, daripada rumahnya yang disita. Malah jadi tambah repot nantinya. Rugi dua kali kita,” Asih menanggapi.


Akas tersenyum. Ada-ada saja putri bungsu almarhum Kyai Sanusi ini. Masak rugi sampai dua kali? Banyak amat?


Sejatinya, tidak ada kata rugi dalam urusan semacam ini. Rugi itu hanya bagi mereka yang gagal menjumpai “jalan lurus”. Mereka yang shiraathal mustaqiim-nya terhalang berbagai “senda gurau”. Jadinya, jalan yang lurus itu pun tampil melenyan-melenyun, bengkak-bengkok, atau bahkan buram sama sekali. Tidak tampak apa pun kecuali “kepalsuan yang berkilau”. Bukankah innal insaana lafii khusrin? Bahwa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian? Illal ladziina aamanuu, kecuali orang-orang yang beriman. Ini kata Allah, Tuhan Semesta Alam. Maka, adakah lagi yang pantas dipertanyakan?


Tapi, tadi itu kisah langit, kalau di cerita bumi tidak salah-salah amat analisis Asih. Hitung-hitungannya memang bisa “rugi dua kali” kalau tanah berikut rumah, sekalian aset pabrik yang serentak dijadikan jaminan kredit ini disita bank.


Maka, aset usaha itu pun dijual. Alhamdulillah, tidak sulit. Belum seminggu diumumkan, sudah ada pembelinya, seorang juragan besi tua. Jujur juga bos Madura ini. Dia bilang terus terang bahwa perkakas pabrik roti ini tidak untuk dibesi-tuakan, tapi akan dipakai oleh adiknya untuk suatu usaha. Entah usaha apa. Luar biasa, masih ada yang bicara usaha di tengah situasi seperti ini. Tapi, Allah Maha Pengatur, suka-suka Dia mengatur milik-Nya. Dan, karena akan dipakai lagi itulah maka harganya bagus Tidak dihitung tua-tua banget, gitu.


Namun, masih belum cukup juga ternyata. Masih kurang dana yang terkumpul dari tabungan Asih dan penjualan aset untuk menutup sekaligus beban utang itu. Sebenarnya bisa diangsur, tapi malah “rugi tiga kali” nantinya karena tergerus bunga mengingat sekarang nihil pemasukan. Memang tidak ada pilihan enak, full closed adalah yang terenak dari ketidakenakan. Aturannya hanya dikenai denda penalti, tidak pakai bunga-berbunga, Asal segitu duitnya ada.


“Tanggung, Mas, harus selesai sekalian. Kalau nggak malah tambah sumpek,” ujar Asih, mengomentari situasinya.


Akas mengangguk-angguk, sambil mencari ide pemecahannya.


“Kita jual saja rumah ini ke Kang Said...,” celetuk Asih.


“Dijual?” Akas menatap istrinya. Terus terang kaget juga karena itulah ide yang sedang melintas dalam benaknya barusan. Tentu tidak sepantasnya diceplos tanpa lihat-lihat situasinya, bukan? Sebab ini adalah rumah Asih dari warisan orang tuanya. Namun, ternyata....


“Iya, mendingan dijual ke Kang Said daripada disita bank. Paling tidak rumah Bapak ini nggak jatuh ke orang lain. Gimana, Mas?" tanya Asih, tegar.


Sesaat, Akas masih menatap sang istri. Lalu, mengangguk sambil tersenyum. Maka, Asih pun balas tersenyum. Senyum pasrah dua-duanya.


“Lucu ya, Mas. Seperti roda,” dia bergumam.


“Gimana itu?" Akas pura-pura tidak paham maksudnya


“Ya, kayak roda muter. Semasa di bawah, semasa di atas, turun ke bawah lagi, nanti kembali naik, hehehe....”


Akas jadi ikut tertawa mendengar kekehan istrinya. Luar biasa, Asih tidak terlihat gentar walau katakanlah bakal kembali ke bawah. “Allah, tidak ada yang luput dari-Mu. Engkau jugalah ini,” desah Akas dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2