SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 100 : Pesta Berakhir (end)


__ADS_3

"Paman, aku tak mau berbasa-basi lagi, apa maksud paman dengan semua ini?"


"Baiklah, anak pungut. Paman nggak akan pernah rela dengan apa yang diberikan kakekmu pada Ana dan Haydi. Mereka tak ikut bersusah payah membesarkan perusahaan, tapi ikut menikmati."


"Aku tak tahu menahu masalah itu. Yang kutahu hampir 70 % paman yang pegang. Hanya 30% untuk mommy Ana dan Mami Haydi. Lalu kenapa paman menginginkan yang kecil itu?"


"Aku belum puas kalau kalian semua belum hancur sehancur-hancurnya."


"Mengapa, apa salah kakek dan keluarga mami?"


"Satu kesalahannya.Karena mamimu menolak lamaranku hanya karena aku anak pungut. Sakit sekali." Dia mencoba menegaskan perasaannya yang sangat terkoyak.


Pandangannya menerawang seakan-akan minta dikasihani. Dia berguman dengan agak keras. Sehingga Zaidan mendengar dengan jelas.


"Handoko, si anak pungut."


Mendengar kata itu, Zaidan agak terpengaruh. Namun sedetik kemudian Zaidan sudah kembali kepada kesadaran dan kewaspadaannya.


"Lalu menjauhkan Mayasa dari mami. Ingin membunuh keluargaku. Apa hubungannya dengan dendam paman yang tak beralasaan itu."


"Mau tahu alasannya?"


"Karena kamu menolong mereka. Sedangkan kita sama-sama anak pungut. Mengerti sekarang kamu Zaidan?"


"Sama sekali aku tak mengerti. Yang aku tahu paman tak punya hati. Aku setuju kalau saat itu mami menolak paman. Bagaimana mungkin orang yang punya hati, akan mampu membunuh anak kecil. Menjauhkan dari orang tuanya. Jadi pantas kalau paman mendapatkan itu semua."


Jawaban Zaidan sangat menohok, hingga Handoko menjadi berang.


Dia mencoba menyerang Zaidan dengan tangan kosong. Zaidan menyambut dengan tenang. Dan menangkisnya dengan mudah.


Handoko tak mengira akan mendapatkan perlawanan. Untuk mengalahkannya saja sulit, apa lagi melumpuhkannya.


Sebenarnya dia sudah menyiapkan seorang anak buahnya untuk menembak Zaidan. Tapi sampai dia di hajar oleh Zaidan, tak jua dilakukannya. Adakah sesuatu terjadi dengannya?


Zaidan tak membiarkan Handoko berfikir, dia terus menyerang, hingga Handoko kelelahan.


Mau tak mau, akhirnya dia menarik pistol yang sudah dia persiapkan, dari dalam jas. Mengarahkan pada Zaidan.


Melihat hal itu, Zaidan segera menendang pistol yang ada di tangannya, hingga terlempar cukup jauh. Handoko berlari hendak mengambil pistol itu kembali. Meski harus melewati Zaidan yang sedang berdiri.


Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Zaidan. Dia menendangnya kembali, hingga terjungkal jatuh dari panggung. Zaidan bersalto turun dari panggung. Ingin menuntaskan aksinya.


Tapi terlihat, Anya dan Tifa yang berlari-lari memasuki ruangan dengan riang tanpa tahu yang terjadi. Sementara Dinda dengan susah payah mengejar keduannya. Dia mengurungkan niatnya.


Langkah keduanya terhenti, mana kala melihat tante Mayasa saling tendang dan pukul dengan seorang pria yang berbadan kekar. Meski wanita tapi mampu mengimbangi serangannya.


Hingga pria itu kuwalahan. Dan seperti yang Handoko lakukan, dia juga mengeluarkan pistolnya.


"O la la ..."ujar Mayasa seolah-olah terkejut.


Dia menendang tangan itu ke atas, menyebabkan pistol itu terlempar dan jatuh tepat di depan Anya.


Anya yang tak mengerti akan benda itu segera memungutnya. Laki-laki itu menghampiri meninggalkan Mayasa dengan temannya yang lain lagi.


" Adik kecil yang manis. Tolong berikan benda itu pada kakak!" dia mencoba merayu.


"Tidak!" jawab Anya tegas. Sambil mengarahkan pistol itu padanya.


Pria itu menunduk mendekati berlahan.

__ADS_1


"Jangan dekati Anya." dia berteriak dengan lantang.


Tapi itu tak menyurutkan niat pria itu. Tak ada jalan bagi Anya selain mencoba menarik pelatuk pistol, agar lelaki itu tidak semakin mendekat. Seperti yang pernah dia lihat di film-film action bersama ayahnya.


Dinda yang melihat aksi putrinya, menahan nafas, sambil mendekap Tiva yang sudah berhasil di raihnya. Tubuhnya gemetar.


Untunglah Zaidan sudah semakin mendekat. Hanya sayang ....


Dor ....


Satu tembakan berhasil dia lepaskan, membuat semuanya terkejut. Termasuk Anya . Seketika duduk lemas dengan pistol masih berada di tangannya. Zaidan meraih tubuh putrinya. Mengantarkan pada Dinda yang masih gemetar.


Tak hanya Anya, laki-laki di hadapannya juga terkejut dibuatnya. Meski berhasil menghindar namun dia tak bisa menolak manakala peluru itu melewati ketiaknya. Hingga membuatnya sedikit terluka.


Sedangkan peluru itu sendiri, melesat jauh. Hingga mengenai kue pengantin yang dibuat setinggi satu meter oleh Hani. Ujung kue yang penuh dengan buttercream terlempar pada muka orang yang akan menyerang Layla.


Apa yang dilakukan Anya ternyata memberikan ide bagi Hani, Silfi, Yeyen, Haidar dan teman-teman Dinda yang masih ada di sana, untuk melawan.


Dengan bahan dan peralatan seadanya.


Entah itu bumbu dapur, masakan-masakan atau kue-kue yang masih tersisa.


Tak ayal, terlihat buttercrem melayang-layang di udara mengenai satu persatu orang-orang yang dibawa Handoko.


Dengan sedikit usaha keroyakan, yaitu dengan adik-adik SMA dari panti asuhan, akhirnya semua dapat diringkus. Dan menghadiahi muka mereka dengan buttercreem. Kecuali yang sudah terkena saos sambal.


Dan tak lupa mereka mengambil pistol-pistol orang-orangnya Handoko. Sebagian diberikan pada yang biasa menggunakan. Sebagian dimasukkan ke dalam minuman jus jeruk yang masih tersisa.


Hanya satu yang terlewat, yaitu yang didapat oleh Rizki. Maksud hati melemparkannya pada Haidar yang berada di sisi jus itu. Tapi terlalu jauh. Hingga sampai pada panci yang berisi kuah bakso.


Membuat Hani berteriak.


Haidar bengong, melihat pistol itu sudah masuk ke dalam panci. Mana mendidih lagi!


Keduanya segera menghindar, takut kalau panci itu meledak. Untunglah tidak terjadi apa-apa.


Melihat anak buahnya sudah dilumpuhkan. Handoko mendekati Zaidan dengan cepat. Mengarahk pistol pada Zaidan. Sambil menarik Layla yang berhasil di raihnya untuk dijadikan sebagai tameng.


"Lemparkan senjatamu!"


Berlahan Zaidan meletakkan senjatanya di lantai. Lalu menendang dengan ujung kakakinya ke arah Handoko kehendaki.


Handoko mengambilnya dan meletakkan ke dalam jas. Dengan masih memegang Layla dengan erat.


Lalu mengarahkan senjatanya pada Zaidan.


Tak menyangka kalau pamannya akan mengambil keputusan seperti itu. Dia terkesiap....


Zaidan hanya bisa pasrah terhadap apa yang terjadi. Dia memejamkan mata dan berdo'a.


Tak lama kemudian, bunyi tembakan terdengar sangat dekat dengannya. Tapi Dia tak merasakan apa-apa. Hanya terikan Layla yang terdengar amat keras.


"Kakak ...."


Dia beranikan membuka mata dan mendapati Handoko terkapar bersimbah darah.


Dan Ryan, orang yang dulu menculik Anya dan Dinda sekarang setengah berdiri bersimpuh di hadapannya beserta mami Haydi yang berdiri di sampingnya.


Dia tak berani menatap Zaidan. Hanya tangisan lirih yang terucap dari bibirnya.

__ADS_1


"Maafkan papa, Nak."


Zaidan menoleh pada maminya.


"Mam, siapa dia?"


"Ya, Zaidan. Dia papamu."


Zaidan diam membisu menatap Ryan yang masih menangis.


"Hanya itu yang bisa papa lakukan untuk menebus kesalahan papa."


Setelah sekian lama terdiam dan menatap langit-langit. Dengan lirih Zaidan berucap,


"Papa ..."


"Terima kasih, Nak. Kamu mau menyebut diri ini dengan sebutan papa."


"Tapi Zaidan sulit melupakan perlakuan papa pada Anya dan Humairah. Termasuk pada Mayasa."


"Papa mengerti, papa siap untuk itu."


Tak lama kemudian 1 regu polisi datang bersama dengan Aldo.


Semua barang bukti yang ada diserahkan pada mereka.


"Maafkan aku, Haydi." kata Ryan sebelum melangkah mengikuti polisi yang membrogolnya.


Yang membuat polisi sedikit tertawa adalah waktu melihat orang-orang yang membantu Handoko. Tangannya terikat, sedangkan mukanya penuh buttercream yang berwarna dengan sedikit saos sambal di dahinya.


Salah seorang polisi ingin membersihkan muka orang itu.


"Pak ...pak...pak, jangan." teriak Hani.


Tapi pak polisi sudah terlnjur menyapunya. Hingga tak sadar kalau saos cabe merata di seluruh muka.


"Aaaaggghhhrrr..... Perih....!" teriaknya.


"Tuh kan pak pol. Jadi 'wedangen' tuh muka." kata Hani memarahi pak polisi di hadapannya. Membuat polisi itu tertawa terbahak-bahak.


"Terima kasih semuanya. Assalamu'alaikum...," kata komandannya sebelum meninggalkan tempat itu.


"Wa'alaikum salam ..." jawab mereka serentak.


Sedangkan Zaidan masih berdiri mematung, setelah sekian lama polisi itu pergi. Dinda menepuk bahunya.


"Mas, mas tak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, Humaira ... Mana putri kita."


Baru ditinggal sebentar, mereka sudah menghilang entah kemana. Kembali- kembali muka sudah penuh buttercream dan tertawa gembira. Zaidan dan Dinda berteriak.


"ANYA ...."


_______________________________


Terima kasih pada readers yang senantiasa memberi dukungan hingga saya bisa menyelesaikan Novel ini.


Dan mohon dukungannya pula untuk Novel selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2